Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

undangan makan malam

Dua minggu berlalu sejak janji yang mereka ikrarkan di ruang tamu sederhana itu, dan selama itu pula Raka serta Laras menjalani hubungan mereka dengan hati-hati, seperti menjaga nyala lilin di tengah angin. Mereka bertemu di tempat-tempat yang jauh dari lingkaran keluarga Raka—taman kota, bioskop kecil di pinggiran, atau sekadar duduk di halte bus sambil menunggu hujan reda.

Namun sore itu, ketika Raka pulang ke rumah, ia mendapati ibunya sudah menunggu di ruang keluarga dengan wajah yang tidak biasa—lebih tenang dari biasanya, namun justru ketenangan itu yang membuat Raka waspada.

"Raka, duduk sebentar," kata ibunya, menepuk sofa di sebelahnya.

"Ada apa, Ma?"

"Minggu depan Ibu mau adain makan malam kecil. Keluarga Pak Hartono mau datang."

Raka mengerutkan kening. "Pak Hartono yang mana?"

"Kolega bisnis Ayahmu. Anak perempuannya baru pulang dari Singapura, ambil master di sana." Ibunya menjawab dengan nada seolah sedang membicarakan hal biasa, meski Raka tahu betul ke mana arah pembicaraan ini. "Namanya Melati. Cantik, sopan, dari keluarga baik-baik."

"Ma, aku sibuk minggu depan."

"Sibuk apa? Kamu belum tau tanggalnya aja udah bilang sibuk."

"Aku... ada urusan penting."

Ibunya menatapnya tajam, senyum di wajahnya sedikit memudar. "Urusan penting apa yang lebih penting dari keluarga, Raka?"

Raka terdiam, tidak menemukan jawaban yang aman. Ibunya melanjutkan sebelum ia sempat bicara lagi.

"Ibu cuma minta kamu datang makan malam. Nggak lebih. Kalau kamu nggak cocok sama Melati, ya sudah, nggak usah dilanjutkan. Tapi setidaknya kasih kesempatan."

"Ma, aku—"

"Raka." Suara ibunya menegas, meski nadanya tetap terjaga. "Ibu nggak minta banyak. Cuma satu makan malam."

Ada jeda panjang sebelum akhirnya Raka mengangguk pelan, meski hatinya penuh keberatan. "Baik, Ma. Aku datang."

Ibunya tersenyum puas, menepuk pundak Raka sebelum berdiri dan berjalan ke arah dapur, meninggalkan Raka yang duduk termenung di sofa, memikirkan bagaimana cara menyampaikan hal ini kepada Laras tanpa membuat gadis itu khawatir berlebihan.

Malam itu juga, Raka mengajak Laras bertemu di taman dekat kosnya, tempat yang biasa mereka datangi ketika ingin bicara tanpa terburu-buru. Laras datang dengan jaket tipis, tangannya menggosok-gosok lengan menahan dingin.

"Kamu keliatan aneh dari tadi," kata Laras begitu duduk di bangku taman. "Ada apa?"

Raka menghela napas, memutuskan untuk langsung saja. "Ibuku ngadain makan malam minggu depan. Ngundang keluarga kolega bisnis."

"Terus?"

"Ada anak perempuannya. Katanya disuruh kenalan."

Laras terdiam sesaat, ekspresinya berubah meski ia berusaha menyembunyikannya. "Dijodohin, maksudnya?"

"Nggak dijodohin. Cuma... makan malam biasa."

"Raka." Laras menatapnya lurus. "Aku bukan anak kecil. Aku tau apa artinya 'makan malam biasa' kalau yang ngundang ibu kamu, dan yang diundang anak kolega bisnis."

Raka tidak membantah, karena memang tidak ada yang bisa dibantah dari kalimat itu.

"Aku udah bilang aku bakal coba nolak," katanya pelan. "Tapi Ibu maksa. Aku nggak enak kalau langsung nolak keras."

"Terus kamu setuju?"

"Aku setuju dateng. Bukan setuju buat—"

"Sama aja, Raka." Laras memotong, suaranya mulai bergetar. "Kamu dateng, terus apa? Kenalan basa-basi, terus pulang? Atau ibumu bakal terus-terusan dorong sampai kamu beneran deket sama perempuan itu?"

"Aku nggak akan biarin itu terjadi."

"Kamu bilang gitu, tapi kamu juga bilang tadi kamu nggak enak nolak Ibu kamu. Gimana kalau nanti Ibu kamu maksa lebih jauh? Kamu bakal tetep nggak enak juga?"

Raka terdiam, tidak bisa menjawab dengan cepat. Pertanyaan itu menohok bagian dari dirinya yang selama ini enggan ia akui—bahwa ia memang tidak pernah benar-benar berani melawan ibunya secara terbuka.

"Aku nggak akan ninggalin kamu," katanya akhirnya, meski terdengar lebih seperti meyakinkan diri sendiri daripada meyakinkan Laras.

"Aku percaya kamu," Laras menjawab pelan, "tapi aku juga takut, Raka. Aku takut posisiku di hidupmu cuma jadi rahasia yang disembunyikan terus-terusan, sementara di depan, kamu tetep harus nurutin apa maunya keluarga."

"Itu nggak akan terjadi."

"Kamu nggak bisa janjiin itu. Nggak sepenuhnya."

Raka meraih tangan Laras, menggenggamnya erat. "Aku tau aku nggak bisa kontrol semua hal. Tapi aku bisa janjiin satu hal—apa pun yang terjadi di makan malam itu, hatiku tetep di kamu. Nggak akan berubah."

Laras menatapnya lama, matanya berkaca-kaca menahan berbagai perasaan yang campur aduk. "Kamu harus bilang ke Ibumu, Raka. Cepat atau lambat, dia harus tau soal aku."

"Aku tau. Tapi belum sekarang. Belum waktu yang tepat."

"Kamu selalu bilang 'belum waktu yang tepat'." Laras menarik napas panjang, mencoba menahan diri agar tidak terdengar terlalu emosional. "Kapan waktunya bakal tepat, Raka? Setelah kamu nikah sama orang lain karena kepaksa?"

"Itu nggak akan terjadi."

"Kamu nggak tau itu."

Mereka berdua terdiam, hanya suara angin malam yang menyapu dedaunan di sekitar taman yang mengisi kesunyian. Raka menggenggam tangan Laras lebih erat, seolah ingin meyakinkan lewat sentuhan apa yang tidak bisa sepenuhnya ia yakinkan lewat kata-kata.

"Aku minta waktu," katanya akhirnya. "Aku janji, setelah semuanya lebih stabil, aku bakal cerita ke Ibu. Aku cuma... butuh cara yang tepat biar nggak langsung ditolak mentah-mentah."

"Dan sampai saat itu tiba, aku harus terus jadi rahasia?"

"Bukan rahasia selamanya. Cuma sementara."

Laras tidak menjawab, hanya menundukkan kepala, membiarkan Raka merangkulnya perlahan. Dalam pelukan itu, ia menutup mata, mencoba percaya pada janji yang diucapkan, meski jauh di dalam hatinya, ada bagian kecil yang sudah mulai meragukan apakah "sementara" itu benar-benar akan berakhir seperti yang diharapkan.

"Aku sayang kamu," bisik Raka pelan.

"Aku juga," jawab Laras, suaranya nyaris tidak terdengar. "Makanya aku takut, Raka. Karena aku sayang kamu, aku takut kehilangan ini semua."

Malam itu berakhir dengan pelukan yang lebih lama dari biasanya, seolah keduanya sama-sama merasakan firasat bahwa sesuatu yang lebih besar sedang menunggu di depan—sesuatu yang tidak akan bisa mereka kendalikan sepenuhnya, betapa pun kuatnya janji yang mereka ucapkan malam itu.

Sementara itu, di rumah besar keluarga Raka, sang ibu duduk sendirian di kamarnya, menatap layar ponsel yang menampilkan foto putranya bersama seorang gadis asing—hasil laporan diam-diam dari sopir pribadi yang selama ini diam-diam memperhatikan gerak-gerik Raka atas permintaannya sendiri.

Wajahnya mengeras, matanya menyipit menatap gambar itu lama-lama.

"Jadi ini alasannya," gumamnya pelan, sebelum akhirnya mengunci layar ponsel dan menaruhnya di meja dengan gerakan yang jauh lebih keras dari biasanya.

Angin malam yang sama yang menyapu taman tempat Raka dan Laras berpelukan, kini juga menyapu jendela kamar itu—membawa firasat buruk yang, bagi salah satu dari mereka, baru saja mulai berubah menjadi rencana yang nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!