Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Darah Daging yang Hilang
Angin malam yang membekukan menerpa wajah Arthur Summers saat ia berdiri di bibir pintu helikopter tempur yang melaju dengan kecepatan penuh membelah awan badai. Di bawah sana, gemerlap Kota Khanh mulai terlihat sebuah kota yang menyimpan memori paling menjijikkan dan menyakitkan dalam hidupnya.
Tangan kanan sang Jenderal mencengkeram erat ponselnya, menatap layar yang menampilkan foto seorang gadis kecil berusia lima tahun di tengah reruntuhan panti asuhan yang terbakar. Mata gadis kecil itu, bulat dan tajam, adalah cerminan dari matanya sendiri.
Pikiran Arthur berkecamuk dalam pusaran kekacauan. Amarah yang mendidih berbenturan dengan kebingungan yang menyesakkan dada. Pikirannya terlempar kembali pada malam jahanam itu. Enam tahun yang lalu, ketika ia diusir dari Summer Manor, ia dibiarkan begitu saja berkeliaran di jalanan Kota Khanh dalam kondisi hancur. Malam itu, ingatannya sangat kabur karena ia dibius oleh seseorang yang tidak ia kenal, dan dalam keadaan tanpa daya tersebut, ia akhirnya berhubungan dengannya.
Arthur selalu mengira malam itu hanyalah bagian dari siksaan fisik dan mental yang dirancang keluarganya untuk menghancurkan harga dirinya. Ia tidak pernah menyangka, dari malam keputusasaan itu, lahir sebuah kehidupan. Darah dagingnya.
Sebuah insting purba yang belum pernah ia rasakan sebelumnya tiba-tiba meledak di dalam dadanya. Insting seorang ayah. Gadis kecil itu tidak tahu apa-apa tentang perang ini, namun Gideon menggunakannya sebagai pion untuk dihancurkan.
"Panglima Clifford," suara Arthur memecah deru baling-baling, baritonnya bergetar oleh niat membunuh yang belum pernah setebal ini. "Berapa lama lagi?"
Di layar komunikasi helikopter, wajah hologram Clifford Hann muncul. "Kita telah memasuki wilayah udara Kota Khanh, Jenderal. Pasukan Lima Raja sedang menembus perimeter darat. Sisa pasukan Kekaisaran Utara dan Black Vipers membangun barikade berat di sekitar panti asuhan Sektor Barat!"
"Jangan tunggu perimeter darat terbuka. Bawa aku tepat ke atas mereka sekarang!" perintah Arthur.
Sementara itu, ratusan kilometer dari sana, di ruang komando logistik ibu kota.
Mia Zimmer berdiri di depan deretan monitor satelit dengan headset komunikasi terpasang di telinganya. Jari-jarinya yang lentik bergerak cepat di atas keyboard, meretas sistem kamera lalu lintas Kota Khanh untuk memberikan panduan visual bagi pasukan Phantom.
Tiba-tiba, Silas Mercer yang berdiri di sebelahnya memproyeksikan sebuah gambar ke layar utama foto gadis kecil yang dikirimkan oleh Gideon.
"Nona Mia, kami baru saja memecahkan enkripsi pesan Gideon," lapor Silas dengan suara tertahan. "Target yang disandera di titik nol... adalah putri kandung Jenderal Arthur."
Jari-jari Mia terhenti di atas keyboard. Napasnya tercekat. Ia menatap foto gadis kecil bermata tajam itu. Rasa terkejut menghantam dadanya seperti gelombang pasang. Arthur... memiliki seorang anak?
Untuk beberapa detik, ada rasa nyeri yang asing di hati Mia. Namun, kecerdasannya dengan cepat merangkai kepingan waktu. Enam tahun yang lalu... itu adalah masa di mana Arthur dibuang dan disiksa. Arthur sendiri tidak pernah tahu keberadaan anak ini. Pria itu adalah korban dari kekejaman keluarganya.
Membayangkan Arthur yang selama ini memikul luka sendirian kini harus melihat darah dagingnya sendiri diancam oleh api, rasa nyeri di hati Mia seketika berubah menjadi tekad yang membara. Rasa cintanya pada Arthur mengalahkan ego apa pun yang mungkin muncul.
"Silas," panggil Mia, suaranya berubah menjadi sangat tegas dan berwibawa, memancarkan aura seorang pendamping raja sejati. "Retas sistem pemadam kebakaran kota. Alihkan seluruh tekanan air ke Sektor Barat! Buka jalur udara untuk helikopter Jenderal, retas setiap rudal anti-udara musuh dan matikan sistem penargetannya. Tidak ada satu pun peluru yang boleh menyentuh Arthur malam ini!"
Di langit Kota Khanh, rentetan tembakan peluru pelacak (tracer bullets) menyala merah membelah kegelapan, mengarah ke helikopter Arthur dari barikade musuh di darat. Berkat peretasan Mia, misil anti-udara musuh gagal mengunci target, namun hujan peluru kaliber besar tetap mengancam.
"Jenderal, kita belum bisa mendarat! Zona pendaratan terlalu panas!" teriak pilot helikopter.
"Aku tidak butuh zona pendaratan," desis Arthur.
Tanpa memakai parasut, Arthur melompat dari ketinggian lima puluh meter. Di udara, ia memfokuskan seluruh tenaga dalam-nya ke kedua kakinya, menciptakan perisai energi padat.
BOOOOOOM!
Sang Jenderal mendarat tepat di tengah barisan pertahanan Black Vipers yang menjaga gerbang panti asuhan. Hantaman pendaratannya menciptakan kawah sedalam satu meter, mementalkan tiga mobil SUV lapis baja ke udara dan menghancurkan formasi musuh seketika.
Asap dan debu mengepul tebal. Puluhan tentara bayaran dan sisa pembunuh Kekaisaran Utara mengarahkan senjata mereka ke tengah kawah.
Dari balik debu, sesosok bayangan melesat dengan kecepatan cahaya.
Arthur tidak lagi bertarung dengan teknik efisien atau perhitungan taktis. Malam ini, ia mengamuk. Pisau bergerigi di tangan kanannya menari memotong hujan. Lengan kirinya yang masih dibalut perban merembeskan darah, namun ia sama sekali tidak memedulikan rasa sakitnya. Setiap kali seseorang mencoba menembak, Arthur telah mematahkan leher mereka atau merobek dada mereka sebelum pelatuk ditarik.
"Hentikan monster itu!" jerit komandan musuh panik melihat pasukannya dibantai layaknya rumput yang disabit.
Darah membasahi jas Arthur. Ia bergerak menembus barikade api dan puing-puing bangunan, membantai lebih dari empat puluh pasukan elit elit musuh sendirian dalam waktu kurang dari lima menit. Tidak ada satu pun yang dibiarkan hidup. Jika mereka berani menghalangi jalannya menuju putrinya, mereka harus mati.
Akhirnya, Arthur menembus halaman belakang panti asuhan yang dikelilingi api yang berkobar hebat.
Di sana, di bawah sisa-sisa tembok bata yang runtuh, gadis kecil itu meringkuk gemetar. Wajahnya cemong oleh jelaga, tangannya yang mungil memeluk erat sebuah boneka kelinci yang kotor dan robek. Gadis itu menangis tanpa suara, terlalu syok oleh ledakan dan kematian di sekelilingnya.
Langkah Arthur yang awalnya dipenuhi oleh kecepatan membunuh, tiba-tiba melambat. Pisau berlumuran darah terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas lumpur.
Jantung Arthur berdebar sangat keras hingga rasanya ingin meledak. Ia berjalan tertatih mendekati gadis kecil itu. Saat bayangan Arthur menutupi tubuhnya, gadis kecil itu mendongak. Mata besar yang berurai air mata itu menatap langsung ke dalam jiwa Arthur.
Ada keakraban yang mengiris hati dari tatapan itu. Itu benar-benar darah dagingnya.
"P-paman... paman siapa...?" isak gadis kecil itu, meringut ketakutan melihat pria berlumuran darah di hadapannya.
Air mata, sesuatu yang tidak pernah keluar dari mata Arthur selama enam tahun ia membantai musuh-musuhnya di medan perang, tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya.Ia jatuh berlutut di atas lumpur, tak peduli pada kotoran yang menodai setelan jasnya.
"Aku..." Suara Arthur tercekat di tenggorokan, tak mampu merangkai kata. Tangannya yang gemetar terulur, ingin merengkuh gadis kecil itu ke dalam pelukannya untuk melindunginya dari seluruh kekejaman dunia.
Namun, sebelum jari-jari Arthur menyentuh pipi putrinya, sebuah titik laser merah yang sangat terang tiba-tiba muncul tepat di dahi gadis kecil itu.
Diikuti oleh suara tawa yang menggema dari pengeras suara di reruntuhan bangunan.
"Sebuah reuni keluarga yang sangat menyentuh," suara Gideon Summers terdengar penuh kemenangan. "Jangan bergerak, Kakak. Ada tiga penembak runduk dengan peluru penembus baja yang saat ini membidik kepala putrimu dari jarak seribu meter."
Napas Arthur terhenti. Ia seketika mematung, menempatkan tubuhnya condong ke depan untuk siap menjadi tameng, namun ia tahu peluru penembus baja kaliber .50 bisa menembus tubuhnya dan tetap membunuh putrinya.
"Kau mungkin berhasil menghancurkan pasukan kecilku di bawah sana," lanjut Gideon dengan nada sinis. "Tapi kau harus berterima kasih padaku. Berkat aku, kau bisa melihat putri harammu ini. Namun sayang sekali, Arthur... tepat lima menit sebelum kau mendarat, aku telah menyuntikkan enzim dari Formula Somatik ke dalam tubuhnya."
Mata Arthur membelalak ngeri.
"Dalam waktu satu jam, jantung kecilnya akan meledak karena kelebihan beban mutasi," tawa Gideon semakin gila. "Satu-satunya penawar ada di tanganku. Serahkan kekuatan Istana Phantom padaku, patahkan kedua kakimu sendiri sekarang juga, atau lihat anakmu mati di hadapanmu!"
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...