"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Matahari Maladewa mulai menanjak tinggi di balik gumpalan awan putih, memancarkan sinar hangat yang menyapu permukaan laut. Namun, di sudut area teras belakang water villa yang tersembunyi dari pandangan publik, atmosfer terasa begitu membeku dan mencekam—seolah gelombang es dari samudra terdingin mendadak menyelimuti tempat itu.
Lean berdiri tegak menatap hamparan laut lepas. Tubuh tegapnya kaku bagaikan patung batu perunggu. Ponsel terenkripsi khusus di genggaman tangan kanannya terperas begitu kuat hingga casing logamnya berdecit pelan.
Buku-buku jari kekarnya memutih, sementara urat-urat hijau bertonjolan hebat di sepanjang lengan hingga lehernya.
Di seberang panggilan telepon, suara gemetar dan penuh ketakutan dari dua orang kepercayaan utamanya di New York—Marco dan Eric—terdengar samar di tengah hembusan angin laut.
"BAGAIMANA BISA BANGSAT ITU LOLOS DAN SUDAH BERDIRI DI DEPAN ISTRIKU?!" bisik Lean dengan nada rendah yang begitu mematikan. Suaranya tidak keras, namun mengandung tekanan penindasan luar biasa yang sanggup membuat pimpinan mafia paling berdarah dingin sekalipun berlutut ketakutan.
"Tu—Tuan muda...," suara Eric terdengar gagap dari balik sambungan telepon sejauh ribuan mil. "Kami... kami benar-benar tidak menyangka pria itu akan senekat itu menyusul sampai ke Maladewa..."
"Aku tidak membayar kalian berdua berbilun-bilun dolar hanya untuk mendengar alasan tidak berguna!" murka Lean, iris mata birunya menyipit sangat tajam dan berkilat dingin. "Kalian berdua adalah kepala keamanan! Tugas kalian sederhana: Bika perlu kunci pria brengsek itu di dalam ruang bawah tanah Lucifer sampai aku kembali ke New York, atau pastikan dia tidak bisa melangkah keluar satu meter pun dari distriknya! Tapi apa yang kalian lakukan?! Dia berjalan santai di Maladewa bersama kakak perempuannya dan mengganggu ketenanganku!"
Marco, yang biasanya paling tenang dalam menangani urusan eksekusi dan pembersihan lapangan, kini ikut menyela dengan nada suara yang bergetar menahan kepanikan.
"Kami minta maaf, Tuan Ashford! Kami benar-benar minta maaf, Tuan..." seru Marco memelas. "Situasi di New York kemarin sangat kacau. Kami sedang fokus penuh membereskan masalah penggerebekan dermaga lima oleh pihak kepolisian dan otoritas federal itu kemarin. Kami harus memindahkan puluhan ton aset, mematikan jaringan intelijen lawan, dan memotong semua jejak yang mengarah ke markas utama... sehingga kami benar-benar sampai lupa soal pria itu, Tuan! Kami pikir dia sudah tidak punya akses penerbangan karena paspornya kami tahan..."
"Sialan kalian!" umpat Lean tajam, memotong kalimat Marco tanpa ampun. Suara dengus napas kasar pria itu memenuhi saluran telepon. "Kecerobohan amatir! Jika sekali lagi hal konyol seperti ini terjadi dan membuat orang luar mengganggu jalannya hari-hariku di sini, aku sendiri yang akan menguliti kalian berdua dan melempar sisa tubuh kalian ke jurang Hudson! Paham?!"
"Paham, Tuan! Sangat paham!" jawab Marco dan Eric serentak dari seberang sana dengan nada penuh kelegaan karena kepala mereka masih menempel di leher untuk hari ini.
"Bereskan sisa kasus di New York, lalu kirim tim pembersih privat untuk menyeret Leonardo dan kakak perempuannya keluar dari kepulauan ini sebelum matahari terbenam. Jika mereka masih menampakkan hidungnya di sekitar villa ini dalam waktu dua jam... kalian tahu konsekuensinya."
KLIK.
Lean mematikan panggilan secara sepihak tanpa menunggu jawaban. Pria itu menghembuskan napas berat, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kasualnya, lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Rahangnya masih mengeras menahan sisa rasa amarah yang membakar dada.
Namun, kejengkelan Lean bukan hanya bersumber dari ketidakmampuan anak buahnya di New York. Ada hal lain—sesuatu yang jauh lebih mengusik ketenangan pikirannya sejak dua jam lalu.
Kalimat gila yang dilontarkan Glow di depan Leonardo dan kakaknya di dermaga tadi pagi.
‘Lihat ini! Di balik kaus sederhananya ini, otot-ototnya terbentuk sempurna! Dan lihat tangan-tangan kekarnya ini! Ini adalah tipeku! Dia sangat hebat di ranjang!’
Setiap kali ingatan akan jeritan histeris dan tanpa rasa malu dari istrinya itu terlintas di kepala, leher dan daun telinga Lean mendadak panas kembali. Pria berdarah dingin yang tak pernah terguncang oleh ancaman senjata api atau ledakan bom itu kini dibuat mati kutu hanya oleh bualan tanpa saringan dari seorang Pearl Glow Hurt.
Dengan langkah lebar dan raut wajah yang masam, Lean kembali melangkah menuju area ruang santai villa.
Sejak saat itu, ada perubahan drastis dan sangat absurd pada diri seorang Orion Leander Ashford. Pria yang biasanya irit bicara, hanya mengeluarkan dua atau tiga kata berdingin ria setiap harinya, kini mendadak berubah menjadi sosok yang sangat rewel dan banyak bicara.
"Kenapa kau meminum air dingin itu secepat itu?" tegur Lean begitu melihat Glow sedang menyesap segelas jus mangga dingin di tepi kolam renang privat. Lean melangkah menghampiri, merebut gelas tersebut, lalu meletakkannya di atas meja. "Lambungmu bisa kaget. Kau belum makan karbohidrat sejak pagi."
Glow yang sedang mengoleskan sunscreen di tangannya menoleh dengan dahi berkerut heran. "Aku cuma minum dua teguk, Lean! Kenapa kau jadi cerewet sekali?"
"Aku tidak cerewet, aku sedang menggunakan logika," sahut Lean cepat, mendudukkan tubuh tegapnya di kursi santai di sebelah Glow. Tangannya terlipat di dada. "Lalu kenapa kau memakai gaun pantai dengan punggung terbuka seperti itu? Angin laut di jam segini mengandung kelembapan tinggi. Kalau kau masuk angin, jangan menyusahkanku untuk mengusap punggungmu dengan minyak hangat."
Glow membelalakkan matanya, menatap suaminya dengan pandangan tak percaya. "Hah?! Ini gaun pantai, Lean! Kita sedang di Maladewa, bukan di pegunungan es Alaska! Kau ini kenapa, sih? Dari tadi mengoceh terus seperti ibu-ibu yang kehilangan dompet!"
Lean membuang muka ke arah laut, namun bibirnya tetap tidak bisa diam. "Aku cuma memastikan kau tidak melakukan hal-hal konyol lagi. Seperti mengucapkan kalimat-kalimat tanpa saringan di depan umum. Kau tahu betapa menggelikannya ucapanmu tadi pagi? Kau menyebutku hebat di ranjang. Berani sekali kau mengarang cerita fiksi murahan seperti itu di depan dua lalat pengganggu itu!"
Glow menghembuskan napas panjang, memutar bola matanya malas. "Astaga, Lean! Soal itu lagi?! Kau sudah membahasnya lima kali sejak kita keluar dari restoran! Bisakah kau melupakannya saja?!"
"Bagaimana bisa aku melupakannya kalau kau mengatakannya dengan wajah polos tanpa rasa dosa?" balas Lean dengan nada cepat dan ketus—sangat berbeda dari gaya bicaranya yang biasa datar dan tenang. "Kau menyeret nama baikku, Pearl. Jika berita itu tersebar, orang-orang akan berpikir kalau aku..." Lean menghentikan kalimatnya seketika, lehernya kembali memerah tipis.
"Berpikir kalau kau apa? Berpikir kalau suamiku memang perkasa?!" potong Glow sambil terkekeh geli. "Harusnya kau berterima kasih padaku! Aku mengangkat derajatmu di depan mantan tunanganku yang tidak berguna itu dan kakaknya yang sok berkelas!"
"Terima kasih?" Lean menoleh tajam, menatap istrinya dengan raut wajah jengkel yang terlihat sangat menggemaskan di mata Glow. "Kau mempermalukanku! Kau membuat leherku terasa terbakar seharian ini! Dan lagi, kenapa kau menunjuk-nunjuk otot dadaku di depan wanita itu? Kau pikir tubuhku ini barang pameran yang bisa kau promosikan sembarangan?!"
Melihat Lean yang terus mendumel, mengomel, dan mengoceh tanpa henti sepanjang pagi hingga siang hari ini, siapapun yang mengenal sosok pria ini pasti akan menggosok matanya berkali-kali karena tak percaya.
Jika saja sang ayah, Giovanni Ashford—sang penguasa tertinggi dinasti bisnis dan dunia hitam Ashford—serta sang Mommy Tessa, berada di sini dan menyaksikan putra sulung mereka yang terkenal paling dingin, kejam, dan berwibawa kini sedang mengomel tanpa henti hanya karena celotehan seorang gadis... kedua orang tua itu dipastikan tidak akan mau mengakui Lean sebagai putra mereka!
Daddy Giovanni mungkin akan menggelengkan kepala penuh keheranan dan menganggap putra kebanggaannya telah kerasukan roh bisikan tetangga, sementara Mommy Tessa pasti akan tertawa terbahak-bahak mengejek ket ketidaksanggupan anaknya mengatasi pesona sang istri.
°°
Sinar matahari perlahan bergeser memancarkan warna jingga keemasan di ufuk barat. Sore hari telah tiba, membawa angin sepoi-sepoi yang menenangkan.
Glow menyandarkan punggungnya di kursi santai, memiringkan kepalanya sedikit untuk mengamati raut wajah Lean yang masih saja menatap lurus ke depan dengan bibir yang sedikit memanyun ketus.
Meskipun Lean terus mengomeli hal-hal kecil sepanjang hari—mulai dari cara Glow berjalan di atas kayu dermaga yang dianggap licin, pilihan gaunnya, hingga jus buahnya—Glow sama sekali tidak marah. Sebaliknya, di balik semua kehebohan dan ocehan absurd pria itu, Glow justru menunjukkan sikap yang sangat dewasa dan tenang.
Glow paham betul. Di balik sikap sok jual mahal dan omelan tanpa henti dari Lean, pria itu sebenarnya sedang menutupi rasa canggung dan rasa malu yang sangat besar.
Lean adalah tipe pria yang mungkin saja suka memegang kendali atas segala hal, namun ketika dihadapkan dengan spontanitas dan keliaran sikap glow, pria tegap itu mendadak kehilangan kompas pertahanannya.
Glow tersenyum tipis—sebuah senyuman manis, penuh kehangatan dan kedewasaan yang jarang ia perlihatkan. Ia memperbaiki posisi duduknya, menopang dagunya dengan sebelah tangan, lalu menatap Lean dengan pandangan lembut yang dalam.
"Lean," panggil Glow pelan dengan suara yang begitu lembut.
Lean tidak menoleh, namun telinganya bergerak tipis menandakan ia mendengarkan. "Apa lagi? Kau mau mengarang cerita bohong apa lagi sekarang?"
Glow terkekeh pelan. Ia melangkah mendekati kursi Lean, lalu mendudukkan dirinya tepat di pembatas kursi santai tempat pria itu duduk. Jarak mereka kini begitu dekat.
"Jangan menatapku seperti itu, Lean," ucap Glow halus, iris matanya yang jernih menatap langsung ke dalam manik mata biru Lean yang bergetar pelan. "Aku khawatir kau akan jatuh cinta pada pesonaku kalau kau terus-terusan memperhatikanku dan memikirkan ucapanku seharian ini."
DEG.
Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Hembusan angin sore seolah berhenti berbisik.
Lean tersentak pelan. Tatapan mata Glow yang begitu teduh, dewasa, dan penuh rasa percaya diri itu mendadak menghentikan semua rentetan omelan yang tersusun di dalam kepalanya. Jantung Lean memberi respon aneh—sebuah debaran asing yang begitu kencang dan tak terkendali.
Namun, sebagai seorang Ashford yang memiliki harga diri setinggi langit dan gengsi yang tak tertembus, Lean dengan cepat memasang kembali topeng dingin dan kelakarnya.
Pria itu menarik napas panjang, membuang pandangannya ke arah samudra luas di depannya dengan dengusan napas yang sangat meremehkan, lalu menyipitkan matanya sinis.
"Jatuh cinta padamu?" sahut Lean dengan suara rendah, dalam, namun penuh nada ejekan yang dibuat-buat. Pria itu menyilangkan tangannya di dada tegapnya, menatap Glow kembali dengan senyum tipis yang penuh provokasi.
"Aku lebih baik mendaki gunung Everest sendirian tanpa tabung oksigen dan memakai celana pendek daripada harus jatuh cinta pada gadis cerewet dan liar sepertimu, Pearl."
Glow membelalakkan matanya seketika. Rasa haru dan sikap dewasanya yang baru saja bertahan selama dua menit mendadak sirna tak berbekas, berganti dengan rasa jengkel yang membara!
"Kau...!" jerit Glow sambil mengambil bantal kursi santai dan memukulkannya tanpa ampun ke bahu tegap Lean. "Awas saja ya! Jangan sampai kau menjilat ludahmu sendiri! Jika suatu hari nanti kau berlutut padaku dan menangis memohon cintaku, aku akan menyuruhmu benar-benar mendaki Gunung Everest sampai ke puncaknya!"
BUK! BUK!
Lean hanya terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang sangat langka keluar dari bibirnya—seraya menangkis pukulan-pukulan bantal dari istrinya dengan santai. Tangan kekarnya dengan mudah menangkap kedua pergelangan tangan Glow, menghentikan amukan gadis itu, lalu menatapnya dengan kilatan jenaka di matanya.
"Kita lihat saja nanti, Istriku," bisik Lean pelan, membuat Glow terpaku di tempatnya dengan jantung yang mendadak berdesir hebat.
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍