Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Alarm berbunyi nyaring menembus heningnya pagi di apartemen. Farra terbangun lebih dulu, mendapati Rexy dan Cia masih tertidur lelap di celah kaki mereka. Setelah mengusap lembut dahi Barra yang masih memeluknya erat, Farra beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan praktis berupa sandwich dan susu hangat. Tak lama kemudian, Barra menyusul dengan seragam SMK yang sudah rapi, menyapa istrinya dengan kecupan hangat sebelum mereka menikmati makan pagi bersama.
Perjalanan ke sekolah berlangsung mulus. Seperti biasa, Barra menurunkan Farra di titik aman 20 meter sebelum gerbang agar tidak memancing kecurigaan murid lain. Bel masuk berbunyi nyaring, mengawali jam pelajaran teori farmakologi yang menguras konsentrasi hingga bel istirahat akhirnya mengudara.
Di kantin, Barra dan Farra duduk satu meja bersama Gabriella, Amelia, Farraz, dan Ben. Di tengah riuhnya gelak tawa mereka, sosok Vanessa tiba-tiba muncul. Dengan pakaian seragam yang ketat dan senyum yang dibuat-buat, Vanessa melangkah mendekati meja mereka, memegang sebuah buku catatan.
"Barra..." sapa Vanessa dengan suara mendayu-dayu, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Farra dan teman-teman lainnya. "Aku masih nggak paham sama materi kalkulasi dosis tadi. Kamu bisa tolong ajarin aku sebentar nggak?"
Barra menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Vanessa dengan pandangan dingin dan tak tersentuh. "Nggak bisa. Aku lagi makan sama cewek aku, dan aku bukan guru les kamu. Minta ajari yang lain aja."
Penolakan telak itu membuat wajah Vanessa merah padam menahan malu, sebelum akhirnya ia berlalu pergi dengan menghentakkan kaki. Teman-teman mereka langsung bersorak menggodai Barra, namun Farra justru terdiam. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba mencubit dadanya—melihat betapa beraninya Vanessa mendatangi suaminya secara terang-terangan.
Bel masuk jam pelajaran berikutnya berbunyi. Farra melangkah keluar dari kantin lebih dulu dengan raut wajah sedikit cemberut, enggan menyejajarkan langkah dengan Barra. Namun saat berbelok di koridor menuju laboratorium, langkah Farra terhenti mendadak.
Seorang siswa jangkung berwajah tampan dengan almamater OSIS berjalan dari arah berlawanan.
"Farra?" sapa cowok itu dengan senyum manis yang sangat familiar.
Mata Farra membelalak kaget. "Aron?!"
Aron adalah kakak kelas sekaligus cinta pertama Farra sewaktu awal masuk SMK yang dulu sempat ia kagumi secara diam-diam sebelum akhirnya Aron pindah fokus ke kegiatan magang luar kota.
"Wah, lama nggak ketemu ya, Far. Kamu makin manis aja," ujar Aron ramah, mengacak pelan rambut depan Farra seperti yang dulu sering ia lakukan. Farra hanya bisa tersenyum canggung dengan pipi merona, mendadak lupa dengan rasa kesalnya pada Vanessa.
Namun dari jarak beberapa meter di belakang, Barra berdiri membeku. Tatapannya mendadak membedah tajam ke arah tangan Aron yang baru saja menyentuh rambut Farra. Rahang Barra mengeras seketika, dan rasa cemburu yang membakar langsung membakar dadanya jauh lebih hebat dari apa pun yang dirasakan Farra tadi di kantin.
Tanpa memberi peringatan sedikit pun, Barra melangkah lebar menerobos koridor yang mulai sepi. Sebelum tangan Aron benar-benar terlepas dari kepala Farra, jemari tegap Barra sudah mencengkeram pergelangan tangan Aron dengan sangat kuat dan memelintirnya ke belakang dalam satu gerakan cepat.
"Arahin tangan kamu ke tempat lain kalau masih sayang sama jari-jari kamu," dorong Barra dingin dengan nada suara menakutkan yang sanggup membekukan atmosfer koridor.
Aron meringis kesakitan, refleks mengaduh sambil berusaha melepaskan cengkeraman sakti ketua OSIS tersebut. "Agh! Apa-apaan sih kamu, Barra?! Lepasin!"
"Barra, lepasin!" pekik Farra panik setengah mati. Ia langsung mendorong dada Barra untuk memisahkan mereka berdua sebelum keributan memancing perhatian guru piket.
Barra menghempaskan tangan Aron kasar. Aron yang meringis memegangi pergelangan tangannya hanya bisa menatap Barra dengan sengit, lalu melempar pandangan bingung ke arah Farra sebelum akhirnya memilih melangkah pergi meninggalkan koridor.
Farra menatap Barra dengan napas terengah-engah dan mata membelalak penuh amarah. "Kamu apa-apaan sih, Barra?! Kenapa harus pakai kasar segala?!"
"Dia pegang rambut kamu, Farra," jawab Barra tegas, matanya berkilat menahan cemburu yang membakar dada. "Aku nggak suka ada cowok lain yang sentuh kamu kayak gitu."
"Tapi Aron itu cuma bercanda! Dia cuma menyapa aku!" bentak Farra pelan tapi menohok, tidak bisa menahan kekesalannya lagi. "Kamu cemburunya udah kelewat batas dan berlebihan banget! Ini di sekolah, Barra, kalau sampai pak guru lihat gimana?!"
Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut dari Barra yang terpaku di tempatnya, Farra memutar badan dan melangkah pergi meninggalkan suaminya dengan rasa kesal yang membuncah di dada.