Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Rekening Milik Koh Kelvin

"Nggak."

Jawaban Kelvin datang begitu cepat sampai Rayhan menduga sambungan telepon sempat terputus.

"Dengerin dulu."

"Lo masih enam belas tahun dan baru nelepon tengah malam buat pinjam rekening. Bagian mana yang perlu gue dengar?"

Rayhan duduk di kursi plastik halaman, menjauh dari jendela kamar Mbah Surti.

"Gue punya uang sendiri. Angpau, THR, hadiah lomba, sama tabungan sejak SMP. Gue nggak minta uang lo."

"Terus mau lo apain?"

"Beli saham."

Kelvin mengeluarkan bunyi seperti orang tersedak bantal. "Besok ketemu. Jangan sentuh aplikasi apa pun malam ini."

Mereka bertemu sepulang sekolah di warung dekat terminal. Kelvin datang membawa Om Hendra, pamannya yang bekerja di perusahaan sekuritas. Pria itu tidak langsung duduk. Ia memandang seragam Rayhan, lalu menatap Kelvin dengan wajah yang membuat sepupunya pura-pura sibuk membuka menu.

"Kamu tahu risikonya?" tanya Om Hendra.

"Harga bisa turun. Modal bisa habis."

"Dan rekening atas nama orang lain berarti pemilik rekening yang menanggung urusan administrasi dan pajak. Kamu tidak boleh mengambil keputusan diam-diam."

Rayhan mengangguk. Ia sudah menyiapkan catatan modal, batas kerugian, dan daftar perusahaan yang ingin dipelajari. Om Hendra membaca dua halaman pertama, lalu menarik kursi.

"Siapa yang mengajarimu?"

"Baca laporan, forum, sama buku perpustakaan."

"Forum bukan guru."

"Makanya saya minta diperiksa."

Kelvin memandangnya kesal. "Gaya ngomong lo sopan banget kalau butuh sesuatu."

"Gue bisa kasar kalau itu bikin lo lebih nyaman."

Om Hendra mengetuk meja agar mereka diam. Ia tidak mengizinkan Rayhan memakai seluruh tabungan. Bila Kelvin bersedia membuka rekening efek atas namanya sendiri, setiap transaksi harus diketahui Kelvin, modal Rayhan dicatat terpisah, dan kerugian tidak boleh ditutup dengan utang.

"Keuntungan dibagi setelah biaya," kata Kelvin. "Gue yang repot, gue dapat bagian."

"Sepuluh persen."

"Dua puluh."

"Lima belas."

"Deal."

Om Hendra menghela napas. "Kalian belum melakukan apa-apa sudah bagi untung. Dengarkan dulu: tidak ada hasil pasti. Kalau uang sekolah atau uang obat masuk ke sini, saya tutup rekeningnya."

Ia lalu membalik catatan Rayhan dan menunjukkan bagian yang masih kosong. Rayhan belum menghitung biaya transaksi, belum memisahkan dana darurat, dan menilai perusahaan hanya dari kenaikan harga beberapa bulan terakhir.

"Angka yang naik bukan alasan membeli," kata Om Hendra. "Kamu harus tahu usaha mereka, utangnya, dan dari mana labanya datang."

Rayhan menerima pulpen yang disodorkan. Ia mencoret separuh daftar pilihannya sendiri.

"Mulai kecil," lanjut Om Hendra. "Kelvin pegang akses, kamu kirim alasan sebelum transaksi. Kalau alasanmu cuma firasat, jawabannya tidak."

Kelvin menyeringai. "Akhirnya gue punya hak bilang nggak ke dia."

"Hak itu datang bersama tanggung jawab," kata Om Hendra. "Kalau kalian sembunyikan ini dari saya atau mencampur uang orang lain, selesai."

Rayhan menulis aturan itu di bagian atas halaman. Ia tidak suka orang lain memegang rem, tetapi kali ini ia membutuhkannya.

"Modalnya uang gue sendiri," kata Rayhan.

"Dan kamu harus siap kehilangan uang itu."

Rayhan menatap angka yang sudah ia tulis. Ia teringat kuitansi obat Mbah dan buku tabungan yang berhenti menerima kiriman.

"Gue siap."

Setelah Om Hendra pergi menerima telepon, Kelvin menyandarkan punggung.

"Ini gara-gara Mbah sakit?"

"Bukan cuma itu."

"Terus?"

Rayhan memutar gelas teh yang belum disentuh. Ada banyak hal yang tidak pernah ia ceritakan lengkap, bahkan kepada Kelvin.

"Nyokap gue dulu dekat sama laki-laki kaya karena uang," katanya. "Waktu hamil, dia pikir laki-laki itu bakal pilih dia. Ternyata nggak."

Kelvin tidak menyela.

"Setelah gue lahir, dia masih nunggu. Begitu sadar gue nggak akan diakui, gue ditinggal ke Mbah. Lalu dia pergi sama Steven, bule yang kerja di luar negeri."

"Bapak lo siapa?"

"Orang yang punya cukup kuasa buat pura-pura gue nggak pernah ada."

"Lo pernah cari?"

Rayhan mengangkat mata. "Pernah."

Nada itu membuat Kelvin tidak bertanya lagi. Ia hanya mengambil kertas kesepakatan sederhana dan menulis nama mereka di bawahnya.

"Gue bantu karena lo keluarga," katanya. "Bukan karena gue percaya lo calon Warren Buffett Gang Mawar. Kalau keputusan lo mulai gila, gue berhenti."

"Kalau untung, jangan sok suci."

"Kalau rugi, jangan nangis ke Mbak Laras."

Rayhan menandatangani kertas itu. "Gue nggak pernah nangis."

"Iya. Mata lo cuma bocor kalau urusannya dia."

Ponsel Rayhan bergetar. Laras mengirim foto Mbah Surti sedang duduk di warung dengan kaki terangkat, lengkap dengan pesan bahwa obat siang sudah diminum.

Rayhan memperbesar foto itu, lalu menyimpannya.

"Modal pertama baru masuk setelah hadiah lomba cair," putusnya. "Tabungan lain tetap di rekening biasa."

Kelvin mengangkat alis. "Ternyata lo bisa juga nurut."

"Gue nurut sama aturan yang masuk akal."

"Beda tipis sama bilang cuma nurut sama diri sendiri."

Rayhan tidak membalas. Ia memotret lembar kesepakatan mereka dan menyimpan kertas aslinya di dalam map lomba. Untuk pertama kalinya sejak melihat buku tabungan Mbah, ia merasa punya arah, meski arah itu masih penuh risiko.

Beberapa hari kemudian, Galih pulang ke Gang Mawar dengan lebam yang mulai menguning. Bu Yayuk membuat semua orang tahu anaknya "dikeroyok preman kampus", meski Galih berkali-kali meminta ibunya berhenti bercerita.

Ia datang ke bengkel saat Laras sedang membongkar karburator. Di tangannya ada kotak kecil berwarna krem.

"Buat lo," katanya.

Laras mengusap tangan pada kain lap. "Apaan?"

Galih membuka kotak itu. Sebuah jepit mutiara terbaring di dalam, lebih halus dan lebih mengilap daripada jepit murah pemberian Nadia yang tersimpan di laci.

"Gue lihat ini di toko, terus kepikiran lo."

"Kenapa lihat barang begini malah kepikiran anak bengkel?"

"Karena sekali-sekali lo boleh kelihatan seperti manusia yang nggak tidur sama kunci Inggris."

Laras menyikut sisi tubuhnya yang tidak lebam. Galih tertawa, kemudian menahan pipi.

"Itu balasan karena gue teleponin lo semalaman," kata Laras.

"Justru gue datang mau bilang terima kasih. Kalau lo nggak cerewet, mungkin gue nggak ke klinik."

"Simpan ucapan terima kasihnya. Jepit begini gampang hilang di bengkel."

"Bawa pulang. Mau dipakai atau nggak, terserah."

Galih memasukkan kotak itu ke saku depan tas kerja Laras sebelum ia sempat menolak lagi.

Dari seberang jalan, Kelvin baru turun dari angkot. Ia hendak mengantar salinan pembukaan rekening kepada Rayhan, tetapi langkahnya berhenti ketika melihat Galih berdiri terlalu dekat dengan Laras.

Kotak krem terbuka di antara mereka. Galih mengambil jepit itu dan, sambil bercanda, mengangkatnya di dekat rambut Laras untuk melihat kecocokan warna.

Laras menepis tangannya. Namun Kelvin sudah mengangkat ponsel.

Klik.

Foto itu menangkap Galih tersenyum, Laras memegang kotak hadiah, dan jepit mutiara berkilau di antara wajah mereka.

Kelvin mengetik satu kalimat sebelum mengirimkannya kepada Rayhan di asrama.

Saingan lo sudah mulai bagi hadiah. Gue cuma kurir berita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!