Olivia Kania Smith mati dengan tragis ditangan adik angkatnya.
Olivia tidak tahu selama ini, kenapa keluarga kandungnya begitu sangat membencinya, dan bahkan juga teman-temannya sangat membencinya.
Mereka lebih percaya, dan perhatian kepada adik angkat Olivia.
Hingga pada detik terakhir Olivia akan mati, barulah ia tahu kenapa semua orang sangat membencinya.
Suara hati adik angkatnya dapat didengar semua orang, kecuali dia!
Siapa sangka, setelah kematian tragisnya, ia dapat mengulang kembali kehidupannya, dan dapat mendengar suara hati adik angkatnya.
Bagaimana sikap Olivia menghadapi keluarga kandungnya, setelah kehidupan ke duanya untuk membalas sakit hatinya pada kehidupan sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Par 9.
Dengan tenang Olivia mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
"Halo, kak Vincent! aku lagi ada masalah di sini, tolong datang sebentar ke mari, ya!"
Mariana yang tengah merangkul lengan Lydia, bersama dengan Lydia memandang Olivia tidak percaya memanggil nama seseorang, yang terdengar begitu familiar.
Sedangkan Albert, matanya membulat mendengar nama yang disebutkan Olivia.
"Vincent Sebastian??"
Di luar gedung.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam, diikuti beberapa mobil hitam lainnya di belakang mobil tersebut, memasuki area gedung, dan berhenti di depan pintu lobby gedung.
Begitu mobil hitam yang berada di belakang mobil mewah itu berhenti, pintu mobil terbuka, dan beberapa pria berseragam formal serba hitam keluar dari dalam mobil tersebut.
Para pria itu bergegas setengah berlari menuju mobil mewah di depan mereka, lalu membuka pintu penumpang mobil mewah itu.
Seorang pria mengenakan kacamata hitam, dengan stelan jas mewah hitam keluar dari dalam mobil.
Raut wajahnya yang tampak datar dan dingin, ia terlihat menguarkan aura mendominasi yang kuat.
Salah satu pria yang membantu membuka mobil, menyampirkan mantel ke bahu pria itu, setelah pria tersebut melangkah satu langkah berdiri tegak di luar mobil.
Pria itu membenarkan letak mantel yang di sampirkan pada bahunya, lalu kemudian melangkah memasuki lobby gedung.
"Vincent Sebastian satu-satunya cucu keluarga Sebastian! keluarga Sebastian itu rajanya dunia bawah!" Albert kenal betul dengan nama yang disebutkan Olivia.
Sorot mata Albert kembali tajam memandang Olivia, sembari tangannya kembali teracung menunjuk wajah Olivia.
"Olivia! kau berani sekali sembarangan membawa nama keluarga Sebastian! kau sebenarnya mau apa, Hah?!!"
"Albert Smith! kalian berupaya menginjak kepalaku dengan memasukkan ku ke penjara! kalian pikir aku diam begitu saja kalian tindas??" sorot mata Olivia tajam memandang manik mata Ayahnya.
"Bagaimana pun kamu tidak boleh memanggil orangnya keluarga Sebastian ke sini!!!" teriak Albert merah padam.
"Kenapa tidak boleh?!!!" teriak Olivia lebih kencang dari suara Albert.
Albert memandang Olivia dengan geram, mengatupkan mulutnya dengan erat, sembari jari telunjuknya terayun gemetar menunjuk wajah Olivia saking emosinya.
"Dulu Nenekku berjuang membantu keluarga Sebastian dari nol!!"
Mata Albert berkedip.
"Vincent Sebastian sebagai satu-satunya pewaris keluarga Sebastian, sudah resmi jadi kepala keluarga Sebastian! sebelum Nenekku meninggal, dia meninggalkan Vincent Sebastian untuk jadi pelindungku!!!"
Jari telunjuk Albert yang teracung menunjuk Olivia, perlahan mundur dengan gemetar.
Raut wajah emosi Albert seketika perlahan meredup mendengar apa yang dikatakan Olivia.
Dikehidupan sebelumnya, aku begitu ingin sekali mendapat kasih sayang dari keluargaku! aku terus menerus memberi penjelasan pada mereka, dan terus bersabar pada mereka! bisik hati Olivia memandang Albert yang tampak sedikit terhuyung.
Aku pikir kalau aku mengalah, aku akan mendapat perhatian orang tuaku! ternyata aku salah! di kehidupan ku kali ini, aku akan melawan mereka dengan cara yang lebih keras!
Mata Olivia memandang satu persatu keluarganya, "Kalian bilang aku ini gila, kan? sekarang aku akan tunjukkan kepada kalian kegilaan ku!!"
Olivia perlahan merentangkan ke dua tangannya dengan lebar, dengan sorot mata mengintimidasi memandang Ayahnya.
David menahan tubuh Ayahnya yang terhuyung.
Di koridor menuju aula, langkah kaki beberapa pria tampak melangkah dengan langkah mendominasi menuju aula.
Pria yang memakai mantel melepaskan kaca mata hitamnya, saat langkah mereka akan memasuki aula pesta.
Begitu mereka memasuki aula, aura yang menguar dari pria yang melangkah paling depan, terasa mencekam memenuhi aula tersebut.
Olivia menyunggingkan senyuman puas di sudut bibirnya melirik lelaki yang melangkah memasuki aula.
Saat lelaki itu berdiri tiga langkah di samping Olivia, pria itu menyingkirkan mantel yang tersampir di bahunya, dan salah satu pria yang berdiri dibelakangnya, dengan cepat meraih mantel yang akan jatuh tersebut.
Raut wajahnya terlihat begitu dingin dan datar, aura yang menguar dari dirinya semakin terasa begitu mendominasi.
Pria itu mengibaskan tangannya pada ujung jasnya, lalu perlahan ia berlutut menghadap pada Olivia.
Bersambung........
..