Indonesia
NovelToon NovelToon
SHADOWS OF THE THRONE

SHADOWS OF THE THRONE

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Iblis / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: IΠD

Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

After Day

Hari-hari berlalu sejak Miyura meninggalkan kota dan menginjakkan kaki keluar dari bayang-bayang istana yang telah hancur. Ia berjalan seorang diri menelusuri lebatnya hutan, tersesat di antara pepohonan raksasa yang tertutup kabut tebal. Langit seolah tidak pernah berpihak kepadanya; badai dan hujan lebat kerap kali turun tanpa kenal waktu, menghantam tubuhnya yang rapuh tanpa ampun.

​Sesekali, ketika petir menyambar dan air hujan turun begitu deras, Miyura mencoba mencari perlindungan dengan meringkuk di dalam gua-gua batu yang gelap dan lembap. Namun, tidak jarang pula ia hanya bisa pasrah berteduh di bawah rindangnya tajuk pohon, membiarkan tetesan air hujan tetap menembus dedaunan dan membasahi seluruh pakaian serta tubuhnya yang mulai menggigil.

​Kondisi fisik yang buruk, kurangnya asupan makanan, dan terpaan cuaca dingin yang ekstrem akhirnya meruntuhkan ketahanan tubuhnya. Miyura jatuh sakit. Demam tinggi menyerangnya, disertai batuk parah dan flu yang membuat pernapasannya terasa sesak. Tubuhnya terasa remuk redam, terbakar panas sekaligus membeku dalam waktu bersamaan.

​Kendati kesadarannya kerap kabur dan sekujur tubuhnya menjerit kesakitan, Miyura menolak untuk berhenti. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki dan tekad yang didorong oleh rasa bersalah yang teramat dalam, ia memaksakan kakinya yang pincang dan gemetar untuk terus melangkah maju menembus lebatnya hutan.

​"Aku harus terus berjalan..." bisik Miyura pada dirinya sendiri dengan suara parau dan serak, napasnya tersengal-sengal di tengah keheningan hutan yang basah. Ia mencengkeram erat dada gaun pelusuhnya yang basah kuyup. "Ini adalah janji... aku harus hidup, seperti yang kau inginkan, Aragoto..."

​Di tengah deru angin dan suara gemerisik daun yang basah, bayangan sang kakak yang tersenyum tenang di atas panggung eksekusi berkelebat di benaknya, memberinya kekuatan semu untuk terus mengayunkan kaki, melangkah entah ke mana, demi membayar sisa umur yang telah ditebus dengan nyawa saudara kembarnya.

Rasa sakit di dadanya terasa begitu nyata, bukan hanya karena hantaman flu dan demam yang membakar tubuhnya, melainkan karena sesak emosional yang tak pernah mereda. Di tengah perjalanan panjangnya di dalam hutan, Miyura sering kali berhenti seorang diri di dekat aliran sungai kecil. Sembari menahan isak tangis yang tersangkut di tenggorokannya, ia berulang kali memukul dadanya sendiri dengan lemah, mencoba meredam nyeri batin yang menyiksa setiap kali bayangan kematian Aragoto melintas di benaknya.

​Suatu sore, ketika ia sedang membersihkan diri dan membasuh luka-lukanya di tepi sungai yang jernih, suara derap kaki kuda mendadak terdengar mendekat. Refleks, Miyura segera bangkit, menyambar jubah lusuhnya, dan merunduk cepat untuk bersembunyi di balik lebatnya rumpun semak-semak berduri di tepi air.

​Beberapa orang pemburu berpakaian tebal tampak melintas di seberang sungai sambil membawa hasil buruan mereka. Sambil beristirahat sejenak di dekat aliran air, mereka mulai bercakap-cakap dengan suara yang cukup nyaring, memecah kesunyian hutan dan berhasil mencuri perhatian Miyura dari tempat persembunyiannya.

​"Wah, cuaca hari ini benar-benar bagus untuk berburu," ujar pemburu pertama sambil melepaskan kantong air dari pinggangnya. "Ngomong-ngomong, rasanya seperti mimpi melihat perubahan drastis di ibu kota belakangan ini. Sejak Ratu tiran Miyura dihukum pancung beberapa waktu lalu, Negara Hikari benar-benar berubah total."

​Pemburu kedua mendengus setuju, meneguk air dari kendi kecilnya sebelum ikut berbicara. "Benar katamu. Aku tidak menyangka di bawah kepemimpinan Youra sekarang, kedamaian bisa dirasakan begitu cepat oleh rakyat kecil seperti kita. Pajak diturunkan, keamanan perbatasan diperketat dari bandit, dan tidak ada lagi ketakutan akan eksekusi sewenang-wenang seperti zaman raja dan ratu terdahulu."

​"Pemerintahan yang dipimpin Youra dan orang-orang pilihannya itu benar-benar membawa harapan baru," timpal pemburu pertama lagi dengan nada penuh antusias. "Negara Hikari akhirnya benar-benar damai dan adil. Siapa sangka kematian sang Ratu keji justru menjadi awal kebangkitan negeri kita?"

​Mendengar percakapan itu dari balik semak-semak, tubuh Miyura bergetar hebat. Air mata hangat kembali tumpah membasahi pipinya yang pucat pasi karena demam. Ia mendekap mulutnya rapat-rapat agar isak tangisnya tidak terdengar oleh para pemburu di luar sana.

​Di dalam hatinya yang hancur, Miyura menyadari sebuah kebenaran yang pahit sekaligus melegakan: kedamaian yang kini dinikmati oleh seluruh rakyat Hikari telah dibayar lunas dengan nyawa saudara kembarnya sendiri—satu-satunya orang yang paling menyayanginya di dunia ini.

Langkah kaki Miyura yang gontai dan dipenuhi rasa lelah akhirnya menuntunnya keluar dari belantara hutan yang menyesakkan. Saat tirai kabut pagi tersingkap, terbentanglah Pelabuhan Midori di hadapannya—sebuah kawasan pesisir yang sibuk, dipenuhi suara riuh para pedagang, deburan ombak yang menghantam dermaga, serta tiang-tiang kapal layar yang menjulang tinggi ke langit bebas.

​Dengan mengenakan jubah lusuh yang menutup rapat sebagian wajahnya untuk menghindari perhatian, Miyura berjalan pelan, membaur di antara kerumunan buruh pelabuhan dan para pelancong yang hilir mudik. Tubuhnya masih terasa panas akibat sisa demam, namun tekadnya untuk melangkah jauh dari bayang-bayang masa lalunya jauh lebih kuat.

​Ia mendekati sebuah kapal dagang besar yang sedang bersiap merentangkan layar, hendak bertolak menuju wilayah seberang. Seorang awak kapal bertubuh tegap tampak berdiri di dekat papan titian, memeriksa karpet barang muatan sambil meneriakkan instruksi.

​Miyura menghampiri pria itu dengan ragu, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan suaranya yang serak.

​"Permisi..." ucap Miyura pelan, nyaris tenggelam di tengah kebisingan pelabuhan. "Apakah kapal ini menerima penumpang? Aku... aku ingin ikut berlayar ke seberang."

​Awak kapal itu menoleh ke bawah, menatap sekilas sosok berpakaian lusuh dan berwajah pucat di hadapannya. Ia mengerutkan dahi, menilai penampilan Miyura yang tampak seperti seorang pelarian malang.

​"Hanya penumpang kelas geladak belakang, gadis muda," jawab sang awak kapal dengan nada datar namun tidak ketus. "Kau punya koin untuk tiketnya? Kami tidak menerima penumpang gelap atau amal gratis."

​Miyura terdiam sejenak. Ia merogoh saku bagian dalam gaun pelayannya, mengeluarkan beberapa koin perak terakhir—satu-satunya sisa harta yang ia miliki saat kabur dari istana. Ia menyerahkannya kepada pria itu tanpa ragu.

​Awak kapal tersebut menerima koin-koin itu, menimbangnya sebentar di telapak tangan, lalu mengangguk singkat. "Baiklah, itu cukup untuk tempat kecil di lambung kapal. Cepat naik sebelum kami melepas tali jangkar. Kau tidak mau ditinggal, kan?"

​Miyura mengangguk lemah. "Terima kasih," bisiknya.

​Tanpa menoleh sekali pun ke arah daratan Negara Hikari yang kini telah damai di bawah kepemimpinan baru, Miyura melangkah menaiki papan titian. Ia memasuki lambung kapal, membiarkan deburan ombak laut membawa pelan-pelan dirinya pergi, memulai lembaran hidup baru di tempat asing, menepati janji terakhir untuk terus bernapas demi Aragoto.

Suasana di dalam kabin geladak kapal dagang terasa pengap dan dipenuhi oleh suara kayu yang berderit seiring hantaman ombak pelan di lambung kapal. Di dalam ruangan yang remang-remang itu, Miyura duduk meringkuk di sudut bangku kayu, mengenakan kemeja putih rapi berbalut jubah gelap serta topi pet yang ditarik rendah untuk menyembunyikan wajahnya.

​Bersamaan dengan itu, tepat di hadapannya, duduk seorang wanita misterius dengan rambut putih bersih yang diikat ekor kuda tinggi. Wanita itu menatap Miyura dengan sorot mata yang begitu tenang, tajam, dan dingin—seolah mampu menembus topi dan jubah yang menyelimuti identitasnya.

​Di tengah keheningan yang canggung di antara mereka, beberapa penumpang lain yang duduk tidak jauh dari sana mulai membuka percakapan, memperbincangkan kabar-kabar terbaru yang mereka dengar dari daratan.

​"Kalian dengar berita terbaru dari Negara Hikari?" ucap seorang pedagang paruh baya kepada rekannya dengan nada takjub. "Negara itu benar-benar berubah drastis sekarang. Sejak sang ratu tiran dihukum mati beberapa waktu lalu, Hikari menjadi jauh lebih damai, makmur, dan adil di bawah pemerintahan baru."

​"Ah, benar sekali," sahut penumpang lainnya mengiyakan. "Pajak rakyat kecil diringankan, dan para bandit dibersihkan tanpa ampun. Rasanya seperti keajaiban melihat sebuah kerajaan bangkit begitu cepat dari abu kehancuran."

​Percakapan dan desas-desus tentang kedamaian Hikari itu terus mengalir memenuhi sudut kabin. Namun, wanita berambut putih di hadapan Miyura sama sekali tidak ikut bersuara. Ia tetap bergeming, kedua tangannya saling bertumpu di atas pangkuannya, sementara manik matanya yang jernih terus mengamati setiap gerak-gerik Miyura dalam diam yang mencekam.

​Miyura sendiri memilih untuk tidak mengangkat wajahnya. Ia tetap menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan helaian rambut hitamnya menutupi sisi wajah, sementara jemarinya mencengkeram erat ujung jubahnya sendiri. Setiap kata tentang "kedamaian Hikari" yang diucapkan orang-orang di sekitarnya terasa seperti belati tajam yang berputar di dalam dadanya—mengingatkan bahwa kedamaian itu dibeli dengan harga nyawa kakak kandungnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!