Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jalan jalan tengah malam
Kyo berdiri di samping Rin sambil tersenyum. "Kau berhasil."
Ia menggenggam tangan Rin dan membantunya berdiri.
"Terima kasih sudah membantu."
Rin tersenyum malu. "Aku senang bisa membantu."
Mereka kemudian sedikit menundukkan kepala kepada para pengunjung. Tepuk tangan kembali terdengar. Setelah turun dari panggung, Kyo masih menggenggam tangan Rin. Ia membawa Rin melewati beberapa pekerja dan memperkenalkannya kepada teman-temannya di kafe.
"Ini Rin."
Beberapa orang langsung menyambutnya.
"Suaramu bagus."
"Benar. Tidak menyangka tadi kau pertama kali tampil di sini."
Rin hanya tersenyum malu sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu, ia mendekat kepada Kyo.
"Aku harus pulang."
Kyo menoleh. "Jangan sekarang. Nanti aku antar pulang."
Rin hendak menjawab, tetapi pandangannya kembali tertuju kepada Takumi. Pria itu masih berada di tempat yang sama, hanya saja ia tidak lagi memandangnya. Rin menatapnya beberapa saat. Kyo mengikuti arah pandangan Rin.
"Oh..."
Ia baru menyadari keberadaan Takumi.
"Aku sudah dijemput," ujar Rin pelan.
Kyo mengangguk. "Baiklah. Ayo."
Tangannya masih menggenggam tangan Rin ketika mereka berjalan mendekati Takumi.
Semakin dekat mereka, pandangan Takumi semakin jelas tertuju pada tangan Kyo dan Rin. Ia tidak mengatakan apa-apa, namun matanya berhenti pada jemari Kyo yang masih menggenggam tangan Rin.
Entah kenapa, pemandangan itu membuatnya tidak nyaman—terlebih ia masih mengingat jelas kejadian beberapa hari lalu saat Kyo bersama seorang wanita dan merangkulnya dengan begitu santai.
Dan sekarang, pria itu melakukan hal yang sama kepada Rin.
"Rin aman bersamaku, Kurosawa-san. Aku akan mengantarnya pulang sebentar lagi," ucap Kyo.
Takumi tidak lagi bersandar. Ia melangkah maju, dan tangannya bergerak menuju tangan mereka. Takumi menyelipkan jarinya di antara genggaman Kyo dan Rin, lalu menarik tangan Rin agar bergeser mendekat ke sisinya.
Rin menatap Takumi dengan bingung. Takumi lalu melihat jam di pergelangan tangannya yang satu.
"Sayangnya sudah masuk jam tidur Rin. Aku harus membawanya pulang."
Kyo menghela napas kecil. "Hm... Baiklah." Ia menoleh kepada Rin. "Rin. Suaramu bagus. Para pengunjung juga menyukainya."
Rin tersenyum. "Aku pulang dulu."
Rin membungkuk kecil sebagai salam, namun sebelum ia sempat berjalan sendiri, Takumi sudah menarik tangannya pelan menuju pintu keluar.
Begitu keluar dari kafe, udara malam terasa jauh lebih dingin. Rin berjalan di samping Takumi dalam diam; tangannya masih berada dalam genggaman pria itu. Ia beberapa kali melirik ke arah tangan mereka, tetapi Takumi seolah tidak menyadarinya—atau mungkin sengaja tidak memperhatikannya.
Sesampainya di mobil, Takumi membuka pintu untuk Rin.
"Masuk."
Rin menurut, duduk di kursi penumpang, lalu memasang sabuk pengaman. Takumi berjalan mengitari mobil, masuk ke kursi pengemudi, dan menyalakan mesin. Cahaya dari Kafe Aozora perlahan menjauh ketika mobil mulai meninggalkan tempat itu.
Rin menyandarkan tubuhnya ke kursi dan memandang keluar jendela. Pikirannya kembali teringat pada panggung, pada tepuk tangan para pengunjung, pada Kyo yang duduk di sampingnya sambil memainkan gitar, dan—tanpa ia inginkan—pada sosok Takumi yang berdiri menatapnya dari antara kerumunan.
Takumi sendiri tidak mengatakan apa pun; ia hanya fokus mengemudi. Namun suasana di dalam mobil terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.
Rin akhirnya melirik ke arahnya. Takumi tetap menatap jalan, membuat Rin segera kembali melihat keluar jendela.
Malam itu, tidak satu pun dari mereka membicarakan apa yang sebenarnya terjadi.
***
Di dalam mobil, suasana masih terasa canggung. Rin duduk sambil memandang keluar jendela, sesekali melirik Takumi yang sedang fokus mengemudi. Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Takumi bersuara.
"Aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan pria itu."
Rin langsung menoleh.
"Dengan Kyo?"
Takumi tetap menatap jalan. "Ya."
Rin mengernyit.
"Kenapa? Kyo baik kepadaku."
"Aku tahu."
"Dia juga yang membantuku tadi. Kalau bukan karena dia, aku tidak mungkin berani naik ke panggung."
Takumi diam beberapa saat.
"Rin, kau terlalu mudah percaya kepada orang lain."
Rin mengerutkan dahi.
"Apa maksudmu?"
Takumi menarik napas pelan.
"Seorang pria biasanya tahu bagaimana pria lain berpikir. Mana yang benar-benar baik, mana yang hanya berpura-pura. Mana yang suka bermain dengan perempuan dan mana yang bisa dipercaya."
Rin menatapnya dengan bingung. Takumi melanjutkan dengan suara tenang:
"Gadis polos sepertimu belum tentu bisa melihat hal-hal seperti itu."
Rin langsung tidak terima. "Memangnya Kyo seperti itu?"
Takumi tidak menjawab. Rin menunggu beberapa detik, tetapi pria itu tetap diam.
"Takumi."
Tidak ada jawaban. Rin kembali menatap jalan di depan, mencoba mengingat apa saja yang sebenarnya ia ketahui tentang Kyo.
Oh...
Ia memang tahu Kyo mengikuti aplikasi perjodohan dengan banyak wanita, bahkan dirinya sendiri adalah salah satu wanita yang masuk dalam aplikasi perjodohan. Rin kembali menoleh.
"Sebentar... Takumi."
Takumi tetap diam.
"Jangan-jangan kau melihat Kyo bersama wanita lain, lalu mengira dia seorang playboy?"
Takumi tidak memberikan jawaban. Rin memperhatikan wajahnya beberapa detik; sepertinya tebakannya benar.
"Lagian, hubunganku dengan dia murni berteman. Aku tidak keberatan kalau dia mau jalan dengan wanita lain. Itu juga bukan urusanku."
Rin kembali bersandar.
"Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya."
Takumi masih diam.
Mobil terus melaju. Beberapa saat kemudian, Rin mulai mengenali jalan yang mereka lewati. Ia melihat rumah neneknya dari kejauhan, namun anehnya, Takumi tidak memperlambat mobil.
Rin menoleh ke depan saat rumah itu semakin dekat, lalu mereka melewatinya begitu saja. Rin langsung mengangkat tubuhnya sedikit dari kursi.
"Hei, Takumi... kita mau ke mana?"
Takumi tetap mengemudi.
"Aku ingin jalan-jalan."
Rin menatap jam di ponselnya. "Jam segini?"
Ia kemudian mengingat perkataan Takumi kepada Kyo sebelumnya.
"Tadi kau bilang kepada Kyo kalau ini sudah jam—"
"Diamlah."
Suara Takumi membuat kalimat Rin terhenti. Rin langsung terdiam dan menoleh kepada pria itu. Wajah Takumi berbeda dari biasanya—bukan wajah kesal karena rumah berantakan, bukan pula wajah dingin yang biasa ia tunjukkan ketika sedang menegurnya. Ada sesuatu yang sulit ia baca.
Rin perlahan mengeratkan kedua tangannya pada kain celananya, lalu memilih kembali melihat keluar jendela. Mobil terus bergerak meninggalkan jalan menuju rumah, dan tak satu pun dari mereka berbicara lagi.
Beberapa menit kemudian, jalan mulai menanjak.
Pepohonan di sepanjang jalan membuat suasana semakin sepi. Akhirnya Takumi memperlambat mobil dan berhenti di sebuah jembatan kayu yang cukup terkenal di kawasan Taman Kenroku-en.
Rin melihat sekeliling. Tidak banyak orang yang berada di sana pada malam hari. Takumi mematikan mesin. Tidak ada percakapan. Rin akhirnya menoleh kepadanya.
"Kenapa kita ke sini?"
Takumi diam sesaat. Ketika akhirnya menjawab, nada suaranya sudah tidak sedingin sebelumnya. "Aku ingin mencari udara segar."
Rin langsung mendengus kecil.
"Kalau begitu, lebih baik tadi aku tetap di kafe bersama Kyo."
Takumi meliriknya. Ia menghela napas pelan, kemudian membuka pintu mobil. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Takumi turun. Ia berjalan ke bagian depan mobil dan bersandar di kap, lalu menyalakan sebatang rokok. Tak lama kemudian, asap tipis mulai mengepul di udara malam.
Rin hanya memperhatikannya dari balik kaca. Ia tidak berniat turun. Takumi menoleh ke arah mobil, dan tatapan mereka bertemu. Takumi mengetuk kap mobil dengan jarinya, memberi isyarat agar Rin keluar.
Rin menggeleng. Takumi kembali memberi isyarat, tetapi Rin tetap tidak bergerak. Ia malah menurunkan jok sedikit, menarik tudung hoodie hingga menutupi sebagian kepalanya, lalu melipat kedua tangan di dada sambil menutup mata.
Takumi berdiri beberapa saat menatap tingkahnya. Ia menghela napas, kemudian berjalan menuju pintu sisi Rin.