Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:496
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Suara gemuruh badai di luar kediaman utama Blackwood Manor perlahan mereda, menyisakan deru angin dingin yang bersiul menembus celah-celah jendela kaca lantai tiga yang porak-poranda.

Bau jelaga mesiu dan racun kontak yang telah dinetralkan oleh tim pembersih masih mengendap tipis di udara, beradu dengan aroma minyak cat kayu yang baru dioleskan untuk menutupi bekas tembakan di dinding.

Di aula keluarga lantai satu, Lady Eleanor duduk di kursi kayu berukir berhantarkan bantalan beludru merah. Tongkat kayu berkepala naga miliknya berdiri tegap di antara kedua lututnya.

Di sekelilingnya, suasana manor tampak bagaikan markas militer yang siaga satu. Puluhan pengawal bertaktis ketat lalu-lalang membawa peti amunisi dan memeriksa setiap sudut kamera pengawas yang sempat diretas.

Dominic berdiri di dekat perapian besar, membelakangi ruangan. Kemeja hitamnya yang sedikit basah telah berganti dengan pakaian berlapis ketat berkerah tinggi, diselimuti coat panjang berwarna kelabu gelap.

Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi wiski pekat terpegang kaku, namun tak setetes pun cairan itu menyentuh bibirnya.

Langkah kaki Evangeline terdengar pelan saat ia melangkah turun dari tangga melingkar. Ia telah berganti pakaian menggunakan celana kain serba hitam, mantel wol tebal berwarna abu-abu, dan sepatu boot kulit ber-sol tebal.

Wajahnya dipoles sempurna dengan raut kepucatan yang pas menampilkan sosok 'Evie Thorne' yang masih terguncang oleh insiden pembantaian di kamar utama, namun berusaha keras mempertahankan martabatnya sebagai Nyonya Blackwood.

Dominic memutar tubuhnya seketika begitu mendengar gesekan langkah sepatu Eva. Iris kelamnya mengunci figur wanita itu, memperhatikan setiap detail pergerakannya dengan kewaspadaan yang beradu rapat dengan rasa posesif yang makin tak terkendali.

"Bagaimana bahumu?" suara Dominic bergaung rendah, memotong keheningan aula.

"Hanya luka goresan kecil. Dokter sudah mengobatinya," sahut Eva pelan, menghentikan langkahnya tiga meter di hadapan Dominic.

Tatapan hazelnya melirik singkat pada kotak kayu berukir mawar peninggalan Lady Vivienne yang kini tergeletak di atas meja batu di samping Lady Eleanor.

Kotak itu masih terkunci rapat. Gembok empat roda kuningan berukir simbol kuno tersebut tetap tak tersentuh, menyembunyikan rahasia besar manifes St. Jude 2012 dan foto masa lalu Clara Cross yang sempat dilihat Eva secara sekilas.

Lady Eleanor mengetukkan tongkat naganya ke lantai batu dengan satu pukulan berat.

"Serangan malam ini adalah bukti mutlak bahwa pertahanan Blackwood Manor sudah tidak lagi steril, Dominic," buka Lady Eleanor, suaranya tenang namun mengandung ketegasan mutlak seorang penguasa yang telah memimpin keluarga ini melewati dua generasi perang darah.

"Penyusup bertopeng The Five Thorns bisa menembus ventilasi sektor tiga karena ada pengkhianat di tingkat tertinggi yang memberikan peta enkripsi utama."

Dominic memicingkan matanya tajam. "Aku sudah memerintahkan Viktor untuk mengunci seluruh batas distrik. Don Sergio dan Vincent Valenti sedang ditahan di kediaman masing-masing di bawah pengawasan ketat."

"Menahan mereka di kota ini tidak akan menghentikan pemicu sinyal dari luar," potong Eleanor cepat.

Matanya yang tua namun sangat tajam beralih menatap Eva, lalu kembali pada Dominic. "Ordo Lima Duri menginginkan dua hal malam ini, mereka ingin memusnahkan kotak peninggalan Vivienne, dan mereka ingin membunuh Evie untuk menghancurkan fokusmu."

Dominic mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga gelas kristal di tangannya berderit pelan. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh satu helai pun rambutnya."

"Maka dengarkan nenekmu," tegas Eleanor seraya memajukan tubuhnya.

"Bawa Evie keluar dari manor ini sekarang juga. Sebelum faksi Rossi atau Valenti memobilisasi sisa pasukan mereka untuk mengepung benteng utama."

Dominic mengangkat alisnya tipis. "Ke mana?"

"Ke Villa Mistral di tebing selatan," jawab Lady Eleanor.

"Kediaman peristirahatan tua milik Vivienne. Tempat itu tidak terdaftar di dalam manifes publik Konsorsium dan terisolasi oleh jurang kabut alami. Hanya ada satu jalur darat menuju ke sana, dan pertahanan perimeter di tempat itu dibangun secara independen oleh ibumu sebelum ia wafat."

Eva menahan napasnya di balik mantel abu-abunya. Villa Mistral. Sebuah lokasi terisolasi di tebing selatan yang dibangun oleh Lady Vivienne sendiri.

Tempat itu bisa jadi menyimpan petunjuk tambahan atau arsip rahasia yang ditinggalkan oleh almarhumah ibu Dominic dan ibunya sendiri, Clara Cross.

Dominic menatap kotak kayu berukir di atas meja batu, lalu melirik Eva. "Membawa kotak itu keluar dari manor sama saja memancing serigala-serigala di luar untuk mengejar kita."

"Justru itu tujuannya," bisik Lady Eleanor dengan senyum dingin yang misterius.

"Umpan yang bergerak jauh lebih mudah dikendalikan daripada menunggu musuh merobohkan dinding rumah ini satu per satu. Bawa kotak itu bersamamu, Dominic. Buka sandinya di tempat yang aman bersama istrimu."

Dominic membisu selama beberapa detik, menimbang risiko taktis dari keputusan tersebut. Akhirnya, pria itu mengangguk pelan. Ia melangkah menuju meja batu, menyambar kotak kayu mawar itu, lalu memasukkannya ke dalam tas kulit yang kedap air.

Dominic berbalik menatap Eva, mengulurkan tangan kanannya dengan telapak terbuka.

"Kita berangkat sekarang, Evie," kata Dominic seraya menatap lurus ke dalam mata hazel Eva.

"Hanya kita berdua dan dua kendaraan pengawal taktis tanpa penanda."

Eva menatap tangan terulur Dominic. Ada kehangatan tersembunyi yang ditawarkan oleh jemari jemari besar pria itu, namun di bawah permukaan sutra kehangatan tersebut, Eva tahu ia sedang melangkah masuk ke dalam jebakan isolasi yang lebih berbahaya.

Berada di villa terisolasi hanya bersama Dominic berarti batas pengawasannya akan makin mempersempit ruang gerak Eva sebagai agen Ghost Rose.

Namun, demi membuka gembok kotak rahasia itu dan mengungkap siapa dalang sesungguhnya di balik pembunuhan ibunya, Eva tidak punya pilihan lain.

Eva mengulurkan tangannya, meletakkan telapak tangannya di atas genggaman Dominic. Jemari Dominic seketika melingkar erat, menyerap dinginnya jemari Eva ke dalam kehangatan telapak tangannya.

"Aku ikut bersamamu, Dominic," bisik Eva pelan.

Pukul 03.30 pagi.

Dua SUV serba hitam tanpa pelat nomor meluncur menembus kegelapan jalanan berkerikil di luar wilayah Blackwood Manor. Hujan rintik-rintik masih membasahi kaca depan kendaraan, membiaskan sorot lampu depan yang memotong kabut tebal perbukitan selatan Verona Heights.

Di dalam kabin belakang SUV utama, Dominic duduk di samping Eva. Sebuah papan kaca hitam tebal memisahkan kabin penumpang dari pengemudi di depan, memastikan tidak ada percakapan di kabin belakang yang dapat terdengar oleh pengawal mana pun.

Tas kulit berisi kotak kayu rahasia itu tergeletak di antara kaki Dominic, sementara senapan serbu ringkas tipe HK416 bersandar kaku di dekat pintu kanan pria itu.

Keheningan di dalam kendaraan terasa sangat pekat, beradu dengan deru mesin bermesin yang meraung halus menanjak tebing.

Eva menyandarkan kepalanya ke dinding kaca kendaraan, menatap bayangan pohon-pohon cemara yang melintas cepat di dalam kegelapan. Bahunya yang tergores masih terasa sedikit nyeri, namun ketegangan emosional di dalam dadanya jauh lebih melelahkan daripada cedera fisik tersebut.

Tiba-tiba, Eva merasakan genggaman hangat kembali mendarat di atas tangannya yang berpangku di atas pangkuan.

Eva menoleh. Dominic tidak menatapnya, pria itu tetap melempar pandangannya lurus ke arah kabut di luar jendela depan.

Namun jemarinya yang kekar menyelip di antara celah-celah jari Eva, menggenggamnya dengan tekanan yang sangat kuat dan posesif, seakan memastikan bahwa wanita di sampingnya itu tidak akan lenyap disapu kegelapan malam.

"Kau terlalu diam sejak kita meninggalkan manor, Evie," suara Dominic memecah keheningan, rendah dan teratur.

Eva menghela napas pelan, mengusap ibu jarinya di punggung tangan Dominic yang hangat secara refleks, sebuah gerakan wajar dari seorang istri yang mencari perlindungan, namun sekaligus gertakan halus untuk mencairkan kewaspadaan Dominic.

"Aku hanya memikirkan seberapa dekat kematian melintas di depanku malam tadi, Dominic," kata Eva datar, menyusun narasi kebohongannya secara sempurna. "Jika aku terlambat satu detik saja bersembunyi di balik tirai itu... kau mungkin hanya akan menemukan jasadku di atas lantai kamarmu."

Dominic memutar kepalanya secara perlahan, menatap wajah Eva dari jarak dekat di dalam remangnya lampu interior mobil.

Iris kelamnya yang selalu dipenuhi oleh hawa pembunuh kini memancarkan pendar kelembutan yang dalam dan rumit.

"Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi," bisik Dominic, menyentuhkan dahi tangannya ke pipi Eva yang dingin. Usapan lembut itu merayap naik, menyusuri garis rahang wanita itu hingga berhenti di belakang lehernya.

Dominic menarik tubuh Eva mendekat secara perlahan. Eva tidak melawan ketika pria itu memiringkan wajahnya dan mendaratkan ciuman hangat di sudut bibir Eva.

Ciuman itu tidak tergesa-gesa. Di dalam ruang sempit kendaraan yang bergerak menerobos badai kabut, Dominic menyesap bibir atas Eva dengan kelembutan yang menyengat saraf.

Ada ketergantungan yang makin mendalam dari sang penguasa mafia terhadap wanita yang dianggapnya sebagai pasangan hidupnya kini, sebuah ketergantungan yang makin mengaburkan batasan logikanya sendiri.

Eva menahan napasnya, membiarkan bibirnya terbuai dalam sentuhan panas tersebut selama beberapa detik sebelum perlahan menyandarkan dahinya di dada bidang Dominic. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu yang berpacu kencang di balik kemeja ketatnya.

"Kenapa kau begitu percaya padaku, Dominic?" bisik Eva pelan di balik dada pria itu, menyuarakan pertanyaan yang selalu menghantuinya sejak awal pernikahan buatan ini.

"Latar belakangku belum diverifikasi secara penuh oleh konsorsiummu. Kau bahkan tidak tahu pasti siapa aku sebenarnya sebelum aku masuk ke dalam kehidupanmu."

Dominic menyandarkan dagunya di atas kepala Eva, mengusap rambut cokelat wanita itu dengan jemarinya yang hangat.

"Karena di dalam dunia tempatku tumbuh, semua orang memakai topeng untuk mendapatkan kekuasaan atau uang," jawab Dominic pelan, suaranya bergetar tipis di dalam hening kabin.

"Tapi mata hazel milikmu... saat pertama kali aku melihatmu di galeri seni itu... tidak menginginkan kekuasaanku. Kau menatapku dengan kebencian dan kebenaran sekaligus. Dan di rumah yang dipenuhi oleh kebohongan ini, kebenaranmu adalah satu-satunya hal yang terasa nyata bagiku."

Kebenaran?

Dada Eva terasa bagaikan dihantam pukulan tak kasat mata. Dominic mengira kebencian di mata Eva adalah bentuk kejujuran emosional dari seorang wanita bebas yang menolak didominasi oleh kekuasaan Blackwood.

Pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa kebencian murni di mata hazel tersebut lahir dari darah keluarga Cross, darah dari seorang putri yang disumpah untuk membunuhnya demi membalaskan dendam pembunuhan ibunya.

Dinding kebohongan di antara mereka makin tebal dan membakar. Di satu sisi, Dominic makin menyerahkan hatinya secara terbuka di balik tembok pelindung ironisnya, di sisi lain, Evangeline makin terjerat dalam rasa bersalah yang mematikan saat menyadari bahwa pria yang harus dihabisinya kini berjuang mempertaruhkan nyawa demi melindunginya.

"Kita hampir sampai," gumam Dominic pelan ketika laju kendaraan mulai melambat secara drastis.

Pukul 04.45 pagi.

Villa Mistral berdiri megah sekaligus terisolasi di puncak tebing karang yang menjulang tinggi di atas Samudra Selatan. Bangunan bergaya arsitektur batu alam abad ke-19 itu diselimuti oleh kabut putih yang sangat pekat, membuat dinding-dinding batunya tampak bagaikan benteng hantu yang muncul dari dalam lautan kabut.

Di bawah tebing, deru ombak yang menghantam karang terdengar bagaikan dentuman meriam yang tak pernah berhenti.

Dua SUV taktis berhenti di depan gerbang besi berukir mawar tanpa duri, lambang khas pribadi milik almarhumah Lady Vivienne.

Empat pengawal elit turun terlebih dahulu untuk memeriksa perimeter luar dengan pemindai biometrik dan termal. Setelah memastikan area aman, salah satu pengawal membukakan pintu mobil untuk Dominic dan Eva.

Hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyergap kulit Eva saat ia melangkah keluar dari kendaraan. Angin laut membawakan aroma garam yang pekat dan kelembapan kabut yang tebal.

Dominic merangkul pinggang Eva dengan protektif, membawa tas kulit berisi kotak rahasia di tangan kirinya seraya melangkah menuju pintu utama villa.

"Tuan Dominic," kata pimpinan pengawal yang menyusul di belakang mereka.

"Sekeliling luar sektor utara dan timur sudah diaktifkan dengan menara radar otomatis. Tidak ada akses darat yang bisa menembus tebing ini tanpa memicu alarm utama."

"Bagus," sahut Dominic pendek. "Kalian berpatroli di gerbang luar. Jangan ada yang mendekati area villa utama tanpa izin eksplisit dariku."

"Siap, Tuan!"

Dominic mendorong pintu kayu ek tebal Villa Mistral. Suara denting engsel tua bergaung di dalam ruang foyer yang gelap dan berdebu tipis.

Ketika lampu-lampu dinding bergaya klasik bertahap menyala secara otomatis, interior villa itu menampilkan keanggunan masa lalu yang terisolasi.

Perabotan kayu mahoni berukir halus, karpet Persia berwarna merah tua, dan lukisan-lukisan pemandangan pantai menghiasi dinding batu yang kokoh. Tempat ini tidak tersentuh oleh hiruk-pikuk konflik bisnis konsorsium selama lebih dari satu dekade.

Dominic menuntun Eva menuju aula utama yang memiliki perapian batu raksasa. Pria itu meletakkan tas kulitnya di atas meja kayu di tengah ruangan, lalu melangkah ke perapian untuk menyalakan kayu bakar yang telah tersusun rapi.

Denting api yang mulai membakar kayu kering menciptakan kehangatan dan pendar jingga yang remang di dalam ruangan besar tersebut.

Eva melangkah mendekati meja kayu, menatap tas kulit yang berisi kotak peninggalan Lady Vivienne.

"Kau mau membukanya sekarang?" tanya Eva pelan, memecah keheningan seraya melepas mantel wol abu-abunya dan menyampirkannya di sandaran kursi.

Dominic berbalik dari perapian, mengusap abu tipis di tangannya seraya melangkah mendekati Eva. Pria itu meraih tas kulit tersebut, membukanya, dan mengeluarkan kotak kayu berukir mawar tanpa duri itu ke atas meja.

Pendar api perapian memantul di atas empat roda angka kuningan berukir simbol-simbol kuno di bagian gembok kotak tersebut.

"Nenek bilang gembok ini memiliki mekanisme penghancur internal," kata Dominic, matanya meneliti empat roda angka tersebut dengan tajam.

"Jika salah memasukkan kombinasi simbol sebanyak tiga kali, kapsul asam pekat di dalam gembok akan pecah dan melarutkan seluruh dokumen di dalamnya menjadi abu."

Eva menahan napasnya seraya menatap gembok kuningan itu.

Ia tahu kombinasi simbol yang benar dari lagu pengantar tidur ibunya, Mahkota-Bulan Meredup-Burung Gagak-Jam Pasir. Ia bahkan sudah sempat memutar kombinasi itu dan membuka gembok tersebut sewaktu insiden penyerangan di manor terjadi!

Namun jika Eva memutar kombinasi tersebut di hadapan Dominic sekarang tanpa alasan yang logis, Dominic yang memiliki kecerdasan taktis luar biasa akan langsung menyadari bahwa 'Evie Thorne' memiliki pengetahuan tersembunyi yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang putri dokter biasa!

Identitas aslinya sebagai Evangeline Cross akan terbongkar seketika di tempat terisolasi ini.

"Kau punya petunjuk tentang arti simbol-simbol ini?" pancing Eva hati-hati, berusaha mengukur sejauh mana pengetahuan Dominic.

Dominic menggelengkan kepalanya pelan, jemarinya menyusuri ukiran mawar di tutup kayu kotak itu. "Ibu tidak pernah meninggalkan catatan kombinasi ini di dalam dokumen resminya. Satu-satunya petunjuk yang ditinggalkannya adalah catatan singkat di buku harian pribadinya..."

Dominic menarik sebuah lipatan kertas tua yang sudah menguning dari dalam saku mantelnya, lalu membukanya di atas meja di samping kotak kayu.

Eva memicingkan matanya untuk membaca tulisan tangan anggun bertinta hitam pada kertas tersebut:

"Sandi rumah ini tidak ditulis dengan darah atau kekuasaan, melainkan disembunyikan di dalam bait lagu yang dinyanyikan oleh wanita yang menjaga perbatasan St. Jude..."

Jantung Eva berdentang keras.

Wanita yang menjaga perbatasan St. Jude, catatan Lady Vivienne secara eksplisit merujuk pada ibunya, Clara Cross.

Dominic menatap catatan itu dengan dahi berkerut tajam. "Aku sudah menyuruh tim intelijen mencari nama-nama sukarelawan medis atau perawat yang bekerja di klinik perbatasan St. Jude tahun 2012. Tetapi seluruh arsip nama staf klinik tersebut telah dibakar dan dihapus dari basis data kota empat belas tahun lalu."

Dominic memutar tubuhnya menatap Eva lurus, sepasang iris kelamnya memancarkan binar frustrasi yang pekat. "Seseorang telah memusnahkan identitas wanita perbatasan itu dari sejarah Verona Heights."

Eva mengepalkan jemarinya di balik punggungnya. Wanita yang kalian cari adalah ibuku, Dominic. Dan putrinya kini berdiri tepat di hadapanmu.

"Mungkin..." suara Eva meluncur begitu tenang, meski batinnya bergolak hebat, "...kita tidak perlu mencari di dalam arsip data, Dominic. Mungkin petunjuk itu tersembunyi di dalam tempat ini sendiri."

Dominic memiringkan kepalanya. "Maksudmu?"

"Lady Vivienne membangun villa ini sebagai tempat perlindungan pribadinya," kata Eva seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling aula batu yang remang.

"Jika dia mempercayakan sandi ini pada wanita dari St. Jude itu, pasti ada barang, lukisan, atau catatan pribadi di rumah ini yang menghubungkan mereka berdua."

Dominic menatap Eva selama beberapa detik yang panjang, seolah sedang menilai logika berpikir wanita di depannya. Sebuah senyum tipis yang sarat akan rasa kagum perlahan terukir di bibirnya.

"Pikiran yang sangat tajam, Nyonya Blackwood," bisik Dominic pelan. Pria itu melangkah mendekati Eva, mengulurkan tangannya dan merengkuh pinggang Eva kembali, menarik tubuh wanita itu rapat ke dalam pelukannya di depan hangatnya pendar api perapian.

"Kita akan memeriksa seluruh isi ruang kerja ibu di lantai dua besok pagi," kata Dominic seraya menyandarkan dahinya di ceruk leher Eva, mengembuskan napas hangat yang membuat seluruh tubuh Eva berdesir. "Tapi untuk malam ini... biarkan aku memelukmu di sini. Hanya ada kau dan aku di tebing ini, Evie."

Eva merespons pelukan tersebut secara perlahan, melingkarkan kedua lengannya di bahu kekar Dominic.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!