Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
.
Raka masih berdiri di tempatnya, menatap karyawan yang baru saja menyampaikan laporan itu. “Aisyah meminta semua pembukuan toko?” ulangnya, seolah masih sulit mempercayai telinganya.
Karyawan itu mengangguk mantap. “Iya, Pak. Dan kata karyawan restoran, Bu Aisyah juga meminta laporan lengkap dari restoran.”
Raka mengusap dagunya merasa heran karena sebelumnya sejak kelahiran Fatimah Aisyah tidak pernah ikut campur sama sekali dalam kepengurusan toko ataupun restoran. Tapi Raka sama sekali tak ingin memikirkannya. Pria itu berpikir mungkin saja istrinya sedang mencari kesibukan, atau mencari pengalihan rasa dari luka akibat pernikahannya dengan Nabila.
Raka mengambil nafas pelan, kalau memang itu bisa membuat Aisyah sedikit lebih tenang, mungkin itu lebih baik.
“Berikan saja semua yang dia minta,” jawab Raka akhirnya, melambaikan tangan kemudian berjalan menuju ruang kerjanya.
Dalam hati ia berpikir, selama ini Aisyah terlalu banyak di rumah. Mengurus anak, memasak, membersihkan rumah, lalu menunggu dirinya pulang. Sekarang kalau wanita itu punya kegiatan sendiri, mungkin pikirannya tak akan terus terpaku pada pernikahannya dengan Nabila. Dan jika wanita itu sudah mulai tenang, mungkin hubungan mereka akan kembali membaik. Itulah yang ada dalam pikiran pria itu.
Sementara itu, di tempat lain...
Aisyah sedang dalam perjalanan pulang menjemput Fatimah dari sekolah.
Gadis kecil itu duduk di samping ibunya di dalam taksi sambil sesekali ia bercerita tentang kegiatan di sekolah hari itu, sementara Aisyah mendengarkan dengan senyum tipis.
“Ibu, tadi Fatimah dapat gambar bintang dari Bu Guru,” ujar Fatimah sambil menunjukkan selembar kertas yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya.
Aisyah menoleh dan tersenyum. “Wah, pintarnya anak Ibu.”
“Iya dong. Fatimah…” Fatimah langsung tersenyum bangga bahkan sambil menepuk dadanya.
Aisyah yang melihat itu tersenyum gemas sambil merangkul putrinya dan melabuhkan kecupan di puncak kepala gadis kecil itu yang tertutup hijab instan.
Setelah itu Aisyah kembali memandang keluar jendela.
Taksi yang mereka tumpangi terus melaju melewati deretan pertokoan yang cukup ramai. Jalan itu memang bukan jalan utama kota, tetapi lalu lintasnya cukup padat. Di kanan-kiri jalan berdiri berbagai macam toko, warung makan, apotek, minimarket, hingga beberapa kantor kecil.
Aisyah hanya memperhatikan pemandangan itu sambil.mendengar celotehan Fatimah tentang kegiatan yang dilakukan di sekolah. Sampai tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah bangunan di pinggir jalan. Sebuah ruko dua lantai dengan halaman kecil di depannya.
Bangunan itu terlihat kosong. Di bagian depan tertempel selembar kertas karton tebal bertuliskan DISEWAKAN dengan nomor telepon di bawahnya.
Aisyah spontan menoleh ke belakang bahkan sampai taksi yang ia tumpangi sedikit menjauh. Tiba-tiba ia teringat saldo tabungannya yang ingin ia gunakan untuk usaha sendiri.
“Pak, bisa berhenti sebentar?” pinta Aisyah tiba-tiba.
Sopir taksi melirik melalui kaca spion. “Berhenti di sini, Bu?”
“Agak mundur lagi bisa gak?” pinta Aisyah. “Tadi saya lihat ada ruko yang disewakan.”
Sopir tersebut mengangguk mengurangi kecepatan mobil yang ia kendarai lalu membuka jendela supaya bisa melihat situasi di belakang nya lalu bergerak mundur perlahan hingga sampai di depan ruko yang sudah mereka lewati.
Aisyah membuka pintu dan turun setelah berpesan pada Fatimah untuk menunggu di dalam taksi saja.
“Tunggu sebentar ya, Pak? Saya cuma mau tanya sesuatu.”
“Bisa, Bu.” sopir itu mengangguk.
Aisyah berjalan untuk bisa melihat bangunan itu dari dekat. Terlihat cukup terawat. Cat bagian depannya memang mulai kusam, tetapi kondisi keseluruhannya masih bagus. Pintu kaca di lantai bawah juga masih utuh dan tidak terlihat rusak.
Aisyah berdiri di depannya sambil kembali memperhatikan lingkungan sekitar. Di sebelah kanan ruko terdapat sebuah warung kecil. Di sebelah kirinya ada toko fotokopi yang cukup ramai. Apalagi tempat itu tak jauh dari lokasi sekolah anak-anaknya.
Aisyah kemudian berjalan ke warung yang tak jauh dari situ untuk mencari informasi.
“Permisi, Bu,” sapa Aisyah kepada seorang perempuan paruh baya yang sedang melayani pembeli.
Perempuan itu menoleh. “Iya, Bu?”
“Maaf, saya mau bertanya. Ruko yang di sebelah itu memang sedang disewakan?”
Perempuan tersebut mengikuti arah pandangan Aisyah lalu mengangguk.
“Iya. Sudah beberapa lama dipasangi tulisan itu soalnya pemiliknya dijemput anaknya dan dibawa tinggal di luar kota,” ujarnya memberi keterangan sesuai yang ia tahu.
Aisyah tersenyum sopan. “Ibu tahu pemiliknya?”
“Ya tahu. Beliau itu baik sama warga sini.”
“Oh begitu? Kalau begitu terima kasih, Bu.” Aisyah kembali melihat ke depan ruko tersebut dan mengambil ponselnya untuk mencatat nomor kontak yang tertera di bawah tulisan DISEWAKAN.
Selesai mencatat, Aisyah kembali memandang ruko itu sesaat sebelum kemudian kembali masuk ke dalam taksi.
“Kenapa Ibu lihat-lihat rumah ini?” tanya Fatimah polos begitu ibunya sudah kembali duduk di sampingnya..
Aisyah tersenyum kecil. “Ini bukan rumah, Sayang. Ini ruko.”
“Buat apa?” tanya Fatimah lagi.
Aisyah terdiam sejenak. Ia sendiri belum tahu pasti. Tadi ketika melihat bangunan itu dan tulisan DISEWAKAN, tiba-tiba keinginan untuk memulai sesuatu kembali muncul.
Sudah selama lima belas tahun, hampir seluruh keputusan dalam hidupnya selalu berkaitan dengan Raka. Rumah, toko, restoran, kebutuhan keluarga. Semuanya ia jalani sesuai keinginan Raka. Kalau itu dulu dirinya tidak akan terpikir terlalu jauh. Karena apapun yang mereka dapatkan semuanya Raka curahkan hanya untuk dirinya dan anak-anak.
Tapi sekarang tidak lagi. Karena sekarang Raka bukan lagi hanya berpikir tentang dirinya dan anak-anak. Ada Nabila yang kemungkinan akan membuat semuanya berubah.
*
Sore hari Aisyah sedang berada di halaman belakang bersama dengan Fatimah dan Rangga. Mereka merawat tanaman sayur sambil yang tumbuh subur. Aisyah membiarkan saja ketika melihat Rangga dan Fatimah bukannya menyiram tanaman malah bermain semprot-semprotan air. Wanita itu malah tertawa melihat kebahagiaan anak-anaknya. Hingga kemudian mereka dikejutkan oleh kedatangan Raka.
“Wah… seru sekali kalian mainnya?”
Bagaikan dikomando, semua gerakan, tawa, dan senyum yang menghiasi wajah mereka bertiga seketika terhenti.
“Sini berhenti dulu mainnya,’ seru Raka sambil mengangkat paper bag yang ada di tangannya. “Ayah bawakan martabak coklat kesukaan kalian.”
“Yeaah… Ayah bawa martabak…” Fatimah secara spontan membuang selang yang berada di tangannya dan berlari ke arah Raka.
Raka dengan tertawa senang langsung merendahkan posisi tubuhnya, merentangkan tangan dan menangkap tubuh gadis kecil itu.
Sementara itu, Rangga hanya berdiri melihat tanpa niat untuk mendekat. Entah kenapa anak berusia sepuluh tahun itu tak lagi antusias melihat kedatangan ayahnya.
Aisyah yang melihat hal itu segera mendekati ke arah Rangga lalu meraih tangan putranya. Rangga mengangkat kepalanya menatap wajah ibunya yang terlihat tersenyum.
“Ayo sana, hargai apa yang dilakukan oleh Ayah.” Aisyah berucap pelan sambil menatap wajah putranya dengan sorot matanya yang begitu teduh.
Rangga menganggukkan kepalanya kecil lalu melangkah perlahan meskipun sebenarnya ia tak suka.
Aisyah menghela nafas lemah. Sedikitnya dia memahami apa yang dirasakan oleh Rangga. Tetapi walau bagaimanapun Raka adalah ayahnya. Dan Aisyah tidak ingin Rangga menjadi anak durhaka.
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...