When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Langkah Kaki yang Ringan
Angin sore berembus kencang, menerbangkan kelopak-kelopak bunga yang tumbuh subur di tepi kolam kaca Kediaman Rosenberg.
Evelyn duduk santai di atas bangku kayu panjang, menikmati paparan sinar matahari sebelum malam turun.
Di pangkuannya, sebuah buku catatan dipenuhi garis-garis skema aliran dana rahasia Perusahaan Asteria.
Setelah dramanya di pesta minum teh dua hari lalu, Julian makin bertindak protektif.
Ksatria itu bahkan memerintahkan dua prajurit untuk menjaganya dimanapun ia berada.
Sore ini, suasana sangat tenang. Hanya ada suara gemericik air kolam dan derit halus daun-daun yang bergesekan.
Sampai sebuah suara langkah kaki yang sangat ringan terdengar mendekat dari balik deretan semak bunga.
"Permisi... apakah saya mengganggu waktu istirahat Lady Evelyn?"
Suara itu terdengar amat bening, lembut, dan renyah bagaikan dentang lonceng di pagi hari.
Evelyn mendongak pelan, jarinya refleks menutup buku catatannya.
Seorang gadis berdiri di sana. Gaunnya terbuat dari kain katun putih sederhana dengan renda tipis di bagian lengan, sangat kontras dengan gaun-gaun bangsawan lainnya.
Rambut pirang keemasannya yang bergelombang diikat setengah, jatuh indah di bahunya.
Matanya yang berwarna biru jernih berbinar hangat, dipadu kulit kemerahan alami yang tampak begitu sehat dan segar.
Rosalia.
Original Female Lead dari novel The Crown of Fallen Stars. Tokoh utama wanita yang dalam alur aslinya digambarkan sebagai sosok suci, polos, penuh kebaikan tanpa cela, dan dicintai oleh seluruh pemeran pria—mulai dari ksatria kerajaan, Putra Mahkota, hingga sang villain utama, Cassian.
Anak dari seorang bangsawan kelas bawah yang baru saja diterima bekerja sebagai asisten peracik obat herbal khusus untuk keluarga Rosenberg atas rekomendasi Dokter Tristan.
"Ah... Anda pasti Rosalia, kan?" tanya Evelyn lembut, memasang raut wajah ramah seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku.
Rosalia membungkuk dengan gerakan yang agak canggung namun terlihat amat manis. "Benar, Lady Evelyn. Saya Rosalia. Dokter Tristan meminta saya membawakan seduhan ramuan bunga chamomile dan akar valerian hangat untuk Anda sore ini."
Gadis berambut pirang itu melangkah mendekat.
Di kedua tangannya, ia membawa nampan kayu berisi cangkir yang masih mengeluarkan uap.
Evelyn memperhatikan tiap detail gerakan Rosalia. Dalam novel aslinya, Rosalia adalah tipe karakter yang membuat siapa saja yang melihatnya ingin melindungi dirinya.
Kepolosannya, rasa empatinya yang tinggi, serta aura "gadis suci" yang dibawanya selalu berhasil meluluhkan hati karakter paling keras sekalipun.
"Taruh di atas meja saja, Rosalia. Terima kasih ya," ucap Evelyn sambil tersenyum hangat.
Rosalia meletakkan nampan itu di atas meja kayu di samping bangku Evelyn.
Begitu cangkir ditaruh, bukannya langsung membungkuk pamit seperti pelayan atau asisten pada umumnya, Rosalia justru berlutut kecil di samping bangku Evelyn.
Tangannya terulur menangkup sebelah tangan Evelyn.
Gerakan mendadak itu membuat Evelyn sedikit tersentak.
"Lady Evelyn..." ucap Rosalia dengan nada suara yang bergetar penuh rasa iba. Mata birunya yang jernih mendadak berkaca-kaca.
"Saat pertama kali mendengar kondisi Anda dari Dokter Tristan, hati saya rasanya hancur sekali. Wajah Anda tampak begitu pucat... Pasti sangat berat ya, harus menghabiskan masa muda hanya di atas tempat tidur sambil minum obat tiap hari?"
Evelyn tertegun sejenak.
Narasinya begitu sempurna. Raut wajah prihatinnya kelihatan sangat tulus.
Kontak fisiknya terasa pas untuk membangkitkan rasa simpati. Tapi saat mata Evelyn beradu lurus dengan manik biru Rosalia dari jarak sedekat itu... Ia menangkap sesuatu yang tidak beres.
Sesuatu yang membuat bulu kuduk Evelyn meremang.
Mata biru Rosalia memang berbinar, tapi binar itu terlalu statis. Tidak ada kejutan emosi di matanya.
Raut wajah iba itu terpasang dengan sangat sempurna—seolah-olah gadis ini sudah melatih senyuman ini sebelum melangkah ke taman ini.
Ini bukan sekadar kebaikan polos seorang gadis desa. Ini adalah akting.
"Saya cuma agak lemah sedikit kok, Rosalia," jawab Evelyn pelan, menarik tangannya perlahan dari genggaman Rosalia.
"Semua orang di rumah ini merawat saya dengan sangat baik, jadi saya nggak merasa terlalu menderita."
Senyum Rosalia tidak pudar sedikit pun saat tangannya dilepas. Ia berdiri, merapikan bajunya.
"Tapi tetap saja, Lady," ujar Rosalia seraya memiringkan kepalanya manis. "Seorang gadis secantik dan selembut Anda tidak seharusnya terkurung di rumah besar yang sepi ini. Kalau Anda izinkan, setiap sore saya mau menyeduhkan teh khusus dan membacakan dongeng-dongeng buat menemani Anda. Saya ingin sekali jadi teman terdekat Anda di rumah ini."
Teman terdekat?
Evelyn menahan kekehan sinis di dalam tenggorokannya.
Di novel asli, Rosalia memasuki Kediaman Rosenberg lewat jalur asisten obat, lalu perlahan menempel pada Evelyn yang lemah.
Dari hubungan "persahabatan" itulah Rosalia mendapatkan akses penuh ke dalam keluarga Rosenberg, menarik perhatian Julian yang iba padanya, hingga akhirnya mendapat simpati dari Duke Richard.
Tapi ada satu hal yang salah. Di novel, Rosalia digambarkan sebagai gadis polos yang bergerak tanpa maksud implisit.
Namun sosok di depan Evelyn saat ini... memancarkan kalkulasi yang amat dingin di balik topeng malaikatnya.
"Kamu ramah sekali, Rosalia," puji Evelyn, matanya tetap menyipit ramah. "Tapi pekerjaanmu dari Dokter Tristan pasti banyak. Saya nggak mau menyita waktumu hanya untuk membacakan dongeng."
"Sama sekali tidak menyita waktu, Lady!" potong Rosalia cepat, suaranya naik setengah nada—terdengar agak terlalu antusias, hingga terkesan memaksa.
"Membantu dan membuat Anda tersenyum adalah kebahagiaan terbesar buat saya. Sungguh!"
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang berat memecah percakapan mereka.
Julian berjalan cepat melangkah masuk ke area kolam dengan mata yang langsung tertuju pada sosok asing di samping adiknya.
Tangannya menyentuh gagang pedang di pinggang secara refleks.
"Evelyn? Siapa dia?" tanya Julian tegas, suaranya yang berat memotong keheningan.
Rosalia terperanjat pelan. Ia berbalik badan dengan gerakan yang mendadak kelihatan agak panik dan serba salah.
"M-maafkan saya, Lord Julian..." cicit Rosalia dengan suara yang bergetar ketakutan. "Saya... saya cuma asisten Dokter Tristan. Saya cuma membawakan teh hangat buat Lady Evelyn... Saya nggak bermaksud mengganggu..."
Gaya bicara Rosalia berubah. Sikap percaya dirinya berganti jadi kepolosan yang ringkih.
Evelyn memperhatikan perubahan akting itu dengan takjub dalam hati.
Wah... hebat banget transisinya. Dalam tiga detik langsung berubah dari 'sahabat penyayang' jadi 'korban yang terintimidasi'.
Julian mengernyitkan dahi, menatap Rosalia dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang tajam.
Di novel asli, di momen inilah Julian seharusnya merasa bersalah karena sudah menakut-nakuti gadis polos nan suci ini, lalu mulai menaruh simpati padanya.
Namun kali ini, jalurnya berbeda.
Julian yang selama beberapa minggu terakhir sudah dibuat pusing setengah mati oleh Evelyn dan urusan bisnis rahasia Asteria, sama sekali tidak terpancing oleh getaran suara Rosalia. Tatapan Julian justru makin dingin.
"Asistent?" ulang Julian seraya melangkah mendekati meja Evelyn. Ia mengambil cangkir teh yang dibawakan Rosalia, mencium aroma uapnya sekilas dengan kening berkerut. "Lain kali, kalau mau bawa teh buat adik saya, serahkan dulu ke pengawal di depan koridor buat diuji racun. Jangan nyelonong masuk sendiri ke taman pribadi."
Rosalia mendongak kaget, mata birunya membelalak tak percaya. Reaksi dingin Julian jelas di luar skenario yang ia bayangkan.
"S-saya... saya minta maaf, Lord Julian... Saya tidak tahu aturan itu..." bisik Rosalia dengan mata yang mulai meneteskan air mata.
"Ya sudah. Sekarang kamu boleh kembali," potong Julian datar.
"Evelyn harus minum obat utamanya sebentar lagi."
Rosalia menggigit bibir bawahnya pelan, menahan kebingungan yang berkecamuk di dadanya. Ia membungkuk dalam-dalam pada Julian dan Evelyn. "Baik... Lord Julian, Lady Evelyn... Saya permisi dulu."
Dengan langkah kaki yang pelan dan terkesan lesu, Rosalia berbalik dan berjalan meninggalkan area kolam.
Namun tepat sebelum ia menghilang di balik rimbunnya semak, Evelyn sempat menangkap lirikan mata Rosalia yang berbalik sekilas.
Lirikan itu bukan lirikan gadis polos yang terluka. Ada kilatan kekecewaan yang sangat dingin dan ketidakpuasan yang tajam tercermin di sana selama beberapa detik.
Evelyn bersandar kembali ke bangkunya, menghela napas panjang.
Gadis itu... bukan sekadar tokoh utama yang polos, batin Evelyn, otaknya berputar cepat menghubungkan titik-titik anomali. Dia sadar betul dengan pesonanya. Dia menggunakan kepolosannya sebagai senjata buat memanipulasi orang-orang di rumah ini.
"Kamu Nggak apa-apa, Lyn?" tanya Julian, mendudukkan dirinya di bangku. "Gadis itu bikin kamu pusing? Kalau kamu nggak suka ada dia di sini, Kakak bisa suruh Dokter Tristan ganti asisten lain hari ini juga."
Evelyn tersenyum, menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya meraih cangkir teh hangat yang dibawakan Rosalia, memutar-mutarnya tanpa berniat meminumnya.
"Nggak usah diganti, Kak. Biarkan saja dia di sini," kata Evelyn pelan.
Julian mengernyitkan dahi. "Lho? Kenapa? Kakak lihat tadi kamu kelihatan kurang nyaman sama sikapnya."
"Mustahil kita bisa mengawasi pergerakan musuh kalau musuhnya kita usir jauh-jauh, kan?" bisik Evelyn manis seraya meletakkan kembali cangkir itu.
Julian menatap adiknya dengan tatapan kaget. "Maksudmu... gadis pelayan obat itu... musuh?"
"Belum pasti," sahut Evelyn santai, jarinya mengetuk-ketuk meja kayu. "Tapi ada yang salah sama dia. Caranya bicara, caranya menatap... semuanya terlalu mencurigakan. Kita simpan dia di dekat kita, Kak Biar kita tahu sebenarnya apa tujuan dia masuk ke Kediaman Rosenberg."
Julian menarik napas, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. "Kadang-kadang Kakak bingung... kamu ini sebenarnya adik kecil Kakak yang sakit-sakitan, atau bukan sih."
Evelyn tertawa halus. "Evelyn cuma gadis yang mau hidup tenang dan kaya raya bersama keluarga, Kak."
semangat nulisnya 💪