Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keangkuhan sang Pangeran Cabang
Tawa Dion meledak nyaring di sepanjang koridor direksi. Pria muda berjas perak itu memegang perutnya seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol sepanjang hidupnya.
"Mencoret namaku dari silsilah?!" seru Dion seraya menyapu air mata fiktif di sudut matanya. "Hei, montir gembel! Kamu tahu sedang bicara dengan siapa?! Aku ini Dion Nusantara, darah murni keluarga cabang utama! Siapa kamu sampai berani mengancamku dengan silsilah keluarga besar Nusantara Group?!"
Dion menoleh ke arah dua pengawal tegap di belakangnya. "Kalian dengar itu? Pria yang cuma bisa pakai kemeja murah ini mau mencoret namaku!"
Kedua pengawal itu hanya bungkam. Berbeda dengan Dion yang buta karena keangkuhan, kedua pengawal elit tersebut justru mulai membasahi bibir mereka yang kering. Sebagai mantan personel militer yang disewa keluarga cabang, mereka merasakan sesuatu yang sangat menakutkan—sebuah aura dominasi tempur tingkat tertinggi yang memancar tanpa cela dari tubuh Arka.
Maya melangkah maju ke samping Arka, menatap Dion dengan pandangan murka.
"Tuan Dion!" tegas Maya dengan suara nyaring dan bermartabat. "Ini adalah area privasi Wibowo Group! Jika Anda datang untuk urusan bisnis resmi Nusantara Group, silakan bicara lewat jalur sekretariat. Tapi jika Anda datang hanya untuk menghina suami saya dan melontarkan kata-kata tidak bermoral, silakan keluar sekarang juga!"
Senyum di wajah Dion perlahan memudar, berganti menjadi cengiran licik yang penuh intrik.
"Maya, Maya..." bisik Dion seraya menggelengkan kepala. "Kamu ini cantik dan berbakat, tapi sayang sekali matamu buta. Kamu malah memilih mempertahankan pria jalanan yang cuma modal otot ini ketimbang menyambut uluran tangan calon penguasa masa depan Nusantara Group!"
Dion melipat kedua tangannya di dada, menatap Arka dengan tatapan meremehkan yang sangat pekat.
"Kamu pikir karena Pak Wijaya bersikap sopan padamu, kamu sudah jadi bagian dari dewan atas?!" ejek Dion tajam. "Aku sudah dengar dari desas-desus. Kamu cuma bekas pengawal elite kepercayaan yang kebetulan memegang dokumen jaminan! Di mata keluarga inti Nusantara Group seperti aku, kamu tidak lebih dari seorang pelayan yang dibayar!"
Arka tidak membalas cercaan itu dengan emosi. Tatapannya tetap sedingin telaga es. Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang amat misterius.
"Tiga detikmu sudah habis, Dion," kata Arka pelan.
Arka merogoh ponsel pintarnya, menekan satu tombol panggilan cepat berenkripsi khusus. Hanya dalam dua detik, panggilan itu terhubung.
"Pak Wijaya," kata Arka pendek tanpa menyebut salam formal.
Dari speakerphone yang sengaja Arka hidupkan dengan volume sedang, suara Pak Wijaya—Direktur Utama Nusantara Group yang ditakuti seluruh konglomerat—terdengar begitu gemetar dan penuh rasa hormat yang mendalam.
"Tuan... Tuan Arka! Mohon petunjuk Anda! Ada hal penting apa yang bisa saya laksanakan?"
Dion tersentak pelan. Alisnya berkerut mendengar nada suara Direktur Utama-nya yang terdengar seperti seorang prajurit melapor pada jenderalnya.
"Dion dari cabang ketiga berada di kantor Wibowo Group," kata Arka datar seraya menatap lurus mata Dion. "Dia mengancam akan mencabut investasi Wibowo Park dan bertindak tidak sopan pada istriku."
Di ujung telepon, napas Pak Wijaya mendadak tertahan. Suara ketakutan yang teramat sangat terdengar jelas dari balik saluran.
"Dion?! Pria tidak berguna itu berani bertindak lancang pada Anda dan Nona Maya?!" bentak Pak Wijaya di telepon dengan napas memburu kencang. "Tuan Arka, mohon ampuni kelalaian pengawasan saya! Saya akan segera membereskan sampah keluarga cabang itu detik ini juga!"
Tut... tut... tut.
Sambungan telepon terputus.
Dion berdiri mematung. Wajah tampannya yang tadinya memancarkan kesombongan kini sedikit berubah tegang, namun keangkuhannya kembali mendominasi.
"Hah! Sandiwara apa lagi ini?!" gertak Dion seraya menunjuk Arka. "Kamu pikir aku bakal percaya kamu baru saja menelepon Pak Wijaya?! Kamu cuma pura pura menelepon temanmu yang menirukan suara Pak Wijaya, kan?!"
Belum sempat Dion menyelesaikan kalimatnya, ponsel pintar di saku jas peraknya mendadak berdering kencang dengan nada panggil khusus darurat kementerian dan internal konsorsium.
Dion merogoh ponselnya. Saat melihat nama "Kakek Utama - Dewan Pembina Nusantara" tertera di layar, jantung Dion serasa melompat keluar dari dadanya.
Dengan tangan gemetar, Dion menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Ka... Kakek?" sapa Dion gagap.
Suara raungan amarah dari seorang pria tua berwibawa di ujung telepon mendadak meledak begitu nyaring hingga bisa terdengar oleh Maya dan Arka.
"DION KEPARAT! BISA-BISANYA KAMU MEMBUAT MASALAH DI KOTA ITU?!" jerit sang Kakek Utama dengan nada panik yang tak tertahan. "Detik ini juga, seluruh hak waris cabanggmu dibekukan! Seluruh fasilitas kartu kredit, mobil dinas, dan jabatanmu di Konsorsium Nusantara dicabut total!"
Dion membelalakkan matanya hingga hampir melompat keluar. Tubuhnya gemetar hebat.
"Ka... Kakek! Kenapa?! Apa salahku?!" jerit Dion histeris. "Aku cuma datang ke Wibowo Group!"
"KAMU BARU SAJA MENYENGGOL SOSOK YANG TIDAK BOLEH DISENTUH OLEH SIAPA PUN DI DUNIA INI!" raung sang Kakek Utama. "Pulang ke ibu kota sekarang dan berlutut di aula leluhur! Jika sosok itu tidak memaafkanmu, keluarga cabangmu akan diusir permanen dari silsilah Nusantara Group!"
Brak!
Sambungan telepon dimatikan secara sepihak dari pusat.
Ponsel mahal di tangan Dion terlepas, jatuh menghantam lantai marmer hingga kacanya retak berhamburan.
Dion menatap Arka dengan wajah yang kini pucat pasi bagaikan kertas. Seluruh persendian di kakinya mendadak kehilangan tenaga. Pria muda yang tadinya begitu angkuh itu tersungkur berlutut tepat di atas lantai koridor, menatap Arka dengan ketakutan yang teramat dahsyat.
Siapa sebenarnya pria berkemeja sederhana di hadapannya ini?! Hanya dengan satu telepon pendek tanpa emosi, Kakek Utama dari dewan pembina pusat langsung menghancurkan seluruh hidup dan hak warisnya dalam hitungan detik!
Kedua pengawal Dion langsung menundukkan kepala mereka sembilan puluh derajat ke arah Arka, tidak berani berkutik sedikit pun.
Arka melangkah mendekati Dion yang sedang berlutut lemas. Ia menundukkan sedikit tubuhnya, berbisik dingin tepat di samping telinga Dion.
"Lain kali jika kamu ingin memamerkan nama keluarga Nusantara," bisik Arka dengan suara yang sanggup membekukan darah, "ingatlah siapa yang mendirikan pilar pertamanya."
Dion menelan ludah yang terasa bagaikan duri tajam. Ia mengangguk-angguk cepat dengan mata berkaca kaca dipenuhi penyesalan dan ketakutan sengsara.
Arka berdiri tegak kembali, menoleh menatap Maya yang masih berdiri terpana dengan bibir sedikit terbuka karena syok.
Arka mengulas senyum tipisnya yang hangat, merengkuh lembut jemari Maya.
"Ayo masuk ke ruanganmu, Maya," ajak Arka tenang. "Sampahnya sudah dibersihkan."
itu.