Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terungkap

Zevanna terkejut melihat Meisya sedang berdiri dan menatapnya.

"Zevanna? Kamu ngapain di sini?" tanya Meisya lagi.

Zevanna terdiam sejenak. "Aku lagi cari sesuatu, Mbak."

Meisya mengerutkan kening. "Sesuatu apa?"

"MAINTENANCE-03," jawab Zevanna cepat.

Meisya tersentak kecil.

"Mbak Meisya tahu perangkat ini nggak?" tanya Zevanna.

Meisya menghela napas. "Aku tahu sedikit soal arsip pemindahannya."

"Termasuk data CCTV?"

Meisya mengangguk. "Sebagian."

Zevanna terdiam. Ia teringat dengan tulisan CCTV_BACKUP yang sebelumnya ia temukan di HP Zoyya.

Meisya menatap perangkat tersebut.

"Setelah insiden di lantai 6 pada 2023, beberapa perangkat lama dipindahkan karena sistem keamanan sedang diperbarui."

Zevanna mengernyitkan dahi. "Kenapa data lama nggak langsung dihapus?"

"Karena beberapa data masih dibutuhkan untuk arsip perusahaan." jawab Meisya.

Namun, ada bagian yang hilang.

Zevanna sadar—data yang hilang itu mungkin bukan kebetulan.

Ia langsung menyalakan MAINTENANCE-03 bersama Meisya.

Ternyata masih ada beberapa file lama yang belum terhapus.

Salah satunya adalah file dengan tanggal:

20 September 2023 — FLOOR 6.

Deg!

Zevanna langsung terdiam.

Tanggal itu adalah tanggal kematian Zoyya.

"20 September 2023..." gumam Zevanna pelan.

Meisya mengangkat alis. "Kenapa sama tanggal itu?"

"Itu tanggal Kak Zoyya meninggal."

Meisya melebarkan matanya. "Jadi datanya masih ada?"

Zevanna mengangguk. "Iya."

Sekarang mereka sadar bahwa perangkat tersebut menyimpan sesuatu yang sangat penting.

Zevanna kembali mencocokkan data yang ada di HP Zoyya dengan file yang tersimpan di MAINTENANCE-03.

Waktu pembuatan VIDEO_04 tercatat pada 18 September 2023.

Namun, file VIDEO_04 yang berada di HP Zoyya masih terkunci.

Zevanna tidak bisa membukanya.

Sebagai gantinya, ia menemukan salinan file dengan nama yang sama di dalam MAINTENANCE-03.

Zevanna membukanya.

Terlihat Zoyya merekam sesuatu yang bersifat pribadi dan rahasia tentang Alika dan Henry.

Zevanna terdiam.

Ia akhirnya memahami hubungan video tersebut dengan kejadian di acara pertunangan.

Video itu bukan rekaman kematian Zoyya.

Video tersebut adalah salah satu alasan mengapa HP Zoyya menjadi penting.

Seseorang kemungkinan mengambil HP tersebut setelah kejadian, kemudian menyalin file di dalamnya ke perangkat lain.

Itulah yang memungkinkan video tersebut muncul di acara pertunangan.

Jadi video pas di acara pertunangan itu berasal dari HP Kak Zoyya. Tapi siapa yang menyebarkan video itu?

Zevanna kembali membuka data tanggal 20 September 2023.

Ada catatan aktivitas Bisma di area lantai 6.

Zevanna mengernyit.

Ia kemudian membuka rekaman yang tersisa.

Rekamannya tidak lengkap. Bagian penting dari rekaman tersebut telah terputus. Namun, masih terlihat seseorang mengenakan seragam cleaning service berada di area lantai 6.

Zevanna langsung mengenali seragam tersebut.

"Itu seragam cleaning service," kata Zevanna.

Meisya menoleh. "Kamu kenal orangnya?"

"Mas Bisma."

Meisya tersentak. "Kamu yakin dia?"

Zevanna mengangguk. "Iya. Aku yakin."

"Tapi kan, cleaning service di sini bukan cuma dia aja," kata Meisya.

Zevanna kembali menatap rekaman tersebut. "Nggak, aku kenal postur tubuhnya."

Beberapa waktu setelah orang berseragam cleaning service itu terlihat di area tersebut, muncul seseorang lagi.

Data sistem menunjukkan kartu akses yang digunakan adalah milik Hesa.

Mata Zevanna membelalak. "Ada orang kedua ternyata."

Meisya mengerutkan kening. "Siapa?"

"Mbak Hesa."

"Hah? Berarti mereka berdua ada di lantai enam malam itu?"

"Kemungkinannya, iya."

Zevanna kembali menatap layar.

Rekaman tersebut berhenti tepat sebelum bagian yang paling penting.

Zevanna mengepalkan tangannya.

Sial. Kenapa bagian ini malah hilang?

Ia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Yang ia tahu hanya satu.

Bisma dan Hesa sama-sama berada di lantai enam pada malam ketika Kak Zoyya meninggal.

Tapi apa yang mereka lakukan di sana?

Zevanna belum memiliki jawabannya. Dan justru itulah yang membuatnya semakin penasaran.

Zevanna kemudian menoleh kepada Meisya.

"Mbak Meisya, aku mau tanya. Waktu itu aku dengar Mbak Meisya dan Mbak Elsa bicara. Mbak bilang, 'jangan sampai ada yang tahu'. Maksudnya apa?"

Meisya terdiam dan menghela napas. "Aku cuma takut masalah perusahaan semakin besar."

"Mbak Meisya tahu siapa yang terlibat sama kematian Kak Zoyya?" tanya Zevanna.

Meisya menggeleng cepat. "Nggak. Aku benar-benar nggak tahu soal kematian Zoyya."

Zevanna terdiam sejenak.

Berarti bukan dia pelakunya.

Zevanna kembali melihat layar di depannya.

HP Zoyya.

CCTV_BACKUP.

MAINTENANCE-03.

Lantai 6.

Bisma.

Hesa.

Semuanya mulai terlihat seperti potongan-potongan dari satu kejadian yang sama.

"Selama ini semua petunjuknya ada," kata Zevanna pelan.

"Tapi kamu belum tahu bagaimana semuanya berhubungan," timpal Meisya.

Zevanna mengangguk.

"Sekarang mulai kelihatan."

Ia kembali memperhatikan rekaman yang terputus.

Bagian ketika Zoyya dan seseorang berada di lantai 6 masih belum terlihat sepenuhnya.

Ada sesuatu yang hilang.

Sesuatu yang mungkin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Zevanna mengepalkan tangannya.

"Berarti Bisma mungkin terlibat," gumamnya.

Meisya menatap Zevanna.

"Dan Hesa?"

Zevanna mengalihkan pandangan ke data akses.

"Dia juga ada di sana."

"Tapi kamu belum tahu apa yang mereka lakukan?"

Zevanna menggeleng. "Belum."

Zevanna kemudian menyimpan beberapa informasi penting yang telah mereka temukan.

Ia belum mau mengambil kesimpulan terlalu cepat.

Masih ada bagian dari rekaman yang hilang. Masih ada pertanyaan yang belum terjawab.

Dan yang paling penting—

Zevanna belum tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Zoyya dan Bisma di lantai 6 malam itu.

"Aku harus cari tahu lebih jauh," kata Zevanna.

Meisya mengangguk. "Kamu hati-hati, Zevanna."

Zevanna menatap kembali layar MAINTENANCE-03.

"Iya."

Ia kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan penyimpanan tersebut.

Sebelum pergi, Zevanna kembali melihat HP Zoyya yang masih berada di tangannya.

VIDEO_04 memang sudah memiliki salinan di MAINTENANCE-03.

Namun, misteri kematian Zoyya masih belum terjawab.

Ada sesuatu yang hilang dari rekaman itu.

Dan Zevanna bertekad menemukannya.

Ia kembali ke meja kerjanya.

Tisha mendongak dan menatap Zevanna. "Zev, lo habis dari mana?"

Zevanna menoleh ke arahnya. "Habis dari toilet tadi." Lalu ia duduk di kursinya, ia menopang dagunya dengan tangan.

Kok rekaman itu kepotong ya? Apa ada sesuatu yang terjadi?

***

Tidak terasa malam hari telah tiba, beberapa karyawan sudah pergi meninggalkan meja kerjanya masing-masing. Sementara Zevanna masih mengerjakan pekerjaannya.

"Akhirnya selesai juga kerjaan gue." Kata Zevanna sambil menghela napas. Ia menatap sekeliling kantor yang sudah sepi, hanya lampu kantor yang masih menyala.

"Udah pada pulang, Tisha juga. Tinggal gue sendirian di sini!" Gumamnya, ia mengambil tasnya dan hendak pulang. Namun ia teringat dengan rekaman yang dia lihat bersama Meisya di storage B tadi pagi.

Apa gue harus cari potongan video itu ya?

Zevanna terdiam sejenak. Iya gue harus cari potongan video itu, biar gue tau apa yang sebenarnya terjadi sama kak Zoyya.

Zevanna pergi ke ruangan penyimpanan data lama. Ia menatap sekitar memastikan tidak ada siapa-siapa.

Lalu ia membuka pintu perlahan, saat ia hendak masuk tiba-tiba—

Bugh!

"Akh!"

Zevanna mengerang karena punggungnya tiba-tiba di pukul dari belakang, kemudian ia terjatuh di lantai koridor kantor. Ia melihat seseorang sebelum matanya tertutup—ia pingsan.

Orang itu membawa Zevanna menuju gudang—tempat kerja Zoyya dulu.

Beberapa saat kemudian, Zevanna membuka matanya, tangannya terikat. Ia menatap sekeliling ruangan.

Ini kan gudang? Kok gue ada di sini? batinnya.

Zevanna menoleh dan menatap punggung seseorang yang sedang berdiri membelakanginya.

"Siapa lo?"

Ia berbalik badan dan tersenyum tipis. "Hai, Zevanna. Udah bangun kamu."

Deg.

Zevanna melebarkan matanya melihat Bisma. "Mas Bisma?"

Bisma menghampiri Zevanna sambil tersenyum licik.

Zevanna reflek mundur. "Lo mau ngapain hah? Kenapa lo bawa gue ke sini?"

Bisma berjongkok dan menatap Zevanna tajam. "Gue mau lo tutup mulut!"

Zevanna terdiam sejenak dan mengangkat alisnya. "Maksud lo apa?" Katanya. "Apa jangan-jangan lo yang menyebabkan kakak gue meninggal?"

Bisma terkekeh kecil lalu mengangguk. "Iya. Tapi gue nggak pernah niat bikin kakak lo mati."

Zevanna tersentak. "Terus apa yang lo lakuin sama dia malam itu?"

Bisma terdiam sejenak. "Dia mau laporin gue ke polisi. Gue udah peringatin dia buat tutup mulut. Tapi dia nggak mau denger."

Flashback on.

20 September 2023.

Pukul sembilan malam, Zoyya sedang berada di ruangan kerjanya di lantai empat.

Ia menatap beberapa dokumen yang ada di mejanya.

"Ini udah selesai diperiksa." Katanya, matanya menoleh ke arah map di sampingnya.

"Eh? Ini belum aku periksa ya?" Zoyya memeriksa map tersebut, ada beberapa data yang belum lengkap.

"Belum lengkap datanya, aku harus ke lantai atas, kalau nggak diberesi nanti aku dimarahin sama Pak Henry." Gumam Zoyya, lalu ia pergi menuju lantai tujuh.

Ia masuk ke dalam lift.

Ting!

Zoyya keluar dari lift dan menuju ruangan penyimpanan data.

Ia mencari map.

"Nah, ketemu." Zoyya memeriksanya dan tersenyum kecil. "Akhirnya ketemu juga, aku harus cepet ini."

Zoyya berjalan keluar dan hendak kembali ke meja kerjanya.

Saat ia berjalan, ia berhenti sebentar. Zoyya melihat Alika masuk ke ruangan Henry.

"Itu kan, Mbak Alika. Ngapain dia malem-malem gini ke sini?" Zoyya melangkah maju dan mengintip dari celah pintu ruangan Henry.

Deg.

Zoyya melebarkan matanya saat melihat Alika dan Henry melakukan hubungan intim.

Aku nggak nyangka Mbak Alika dan Pak Henry kayak gitu.

Zoyya langsung merekam mereka berdua dengan diam-diam, lalu pergi dengan cepat menuju lift. Namun, tiba-tiba pintu lift tidak bisa terbuka.

"Ini kenapa? Rusak kah?" Katanya. "Ya udah lah, turun pakai tangga aja."

Zoyya berjalan turun menggunakan tangga.

Saat ia di lantai enam, Zoyya menghentikan langkahnya.

"Mas Bisma?"

Bisma menatapnya. "Zoyya, hapus video itu."

Zoyya mengerutkan keningnya. "Video apa?"

"Jangan pura-pura nggak tau kamu! Aku tau kamu videoin aku kan tadi." Kata Bisma.

"Video kamu yang memakai narkoba itu?" Jawab Zoyya. "Aku nggak akan hapus video itu, aku bakal laporin kamu ke polisi. Karena kamu salah, Bisma!"

Bisma tersentak. "Zoyya, jangan bikin masalah!"

"Masalahnya udah kamu buat sendiri!" Kata Zoyya hendak pergi.

"Zoyya berhenti!"

"Nggak mau!"

"GUE BILANG BERHENTI!" Bisma refleks mendorong tubuh Zoyya.

Cengkeraman kuat jari-jari Bisma di lengan Zoyya menyisakan luka goresan kuku yang memerah, sebelum akhirnya dorongan kasar itu membuat Zoyya kehilangan keseimbangan.

BRUK!

Tubuh Zoyya berguling beberapa kali melewati anak tangga semen yang keras. Suara hantaman itu memenuhi lorong tangga yang sepi, meninggalkan rasa nyeri luar biasa di sekujur badannya.

Brak!

Zoyya akhirnya terhenti di bordes tangga. Ringisan kesakitan keluar dari mulutnya saat ia berusaha mengatur napas. Dengan tubuh gemetar, Zoyya merintih pelan sambil memegangi lengannya yang terasa perih akibat goresan kuku Bisma tadi. Tubuhnya memang terasa remuk dan terancam lebam, tapi Zoyya masih sepenuhnya sadar.

Ia meringis pelan, mencoba mendongak menatap ke arah atas.

Di lantai enam, Bisma berdiri membeku dengan napas terengah-engah. Kedua tangannya yang baru saja mendorong Zoyya gemetar hebat. Saat tatapan matanya bertemu dengan pandangan Zoyya yang masih sadar dan menatapnya dari bawah, rasa panik mendadak menyerang Bisma hingga wajahnya pucat pasi.

Flashback off.

Zevanna terkejut mendengar itu semua. "Brengsek lo! Dasar bajingan lo Bisma! Sebenarnya yang mati lo bukan kakak gue!"

"Gue udah bilang, gue nggak sengaja dorong dia!" kata Bisma menatapnya tajam.

Tiba-tiba pintu terbuka.

Ceklek.

Zevanna menoleh dan melebarkan matanya melihat Hesa datang.

Hesa tersenyum kecil. "Udah cukup, Bis. Jangan cerita semuanya."

Zevanna langsung sadar. "Jadi lo juga terlibat?"

"Kalau gue nggak ada malam itu, menurut lo siapa yang bantuin Bisma?" Kata Hesa.

Flashback on.

Bisma membawa Zoyya ke ruangan yang sepi.

Tiba-tiba pintu terbuka, Hesa masuk ke dalam.

"Lo ngapain sih, Bisma?" Tanyanya.

"Gue nggak sengaja dorong dia soalnya dia mau laporin gue ke polisi." Jawab Bisma. "Terus ini gimana, Sa? Gue nggak mau masuk penjara!"

"Lo sih nggak hati-hati sampai dia rekam lo!" Sentak Hesa.

"Kok lo nyalahin gue sih? Gue udah bilang, gue nggak sengaja dorong dia."

"Aduh diem, kalau lo nggak dorong dia. Mungkin ini nggak akan jadi masalah!" Kesal Hesa.

Zoyya membuka matanya dan menatap Hesa. "H-hesa... tolongin a-aku..." Katanya terbata bata.

Hesa menoleh ke arah Zoyya. "Gue bakal tolongin lo, Zoyya."

Bisma mengerutkan kening. "Lo mau tolongin dia?"

Hesa terkekeh kecil. "Ya nggak lah, ngapain gue nolongin dia."

"Terus lo mau ngapain? Apa kita bunuh dia pakai pisau aja?" Kata Bisma.

Hesa menggeleng cepat. "Jangan, kalau kita lakuin itu. Yang ada kita bakal di cari. Mending kita bunuh dia secara perlahan-lahan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun!"

Zoyya yang mendengar ucapan Hesa yang ingin membunuhnya, menggeleng. "J-jangan bunuh aku, Sa."

Hesa mengelus kepala Zoyya. "Tenang aja, gue nggak bakal bunuh lo. Gue cuma bikin lo tidur selamanya." Katanya sambil tersenyum licik.

Zoyya mengambil ponselnya. Namun Bisma dengan cepat mengambilnya.

"Lo mau ngapain? Mau nelpon orang buat bantuin lo?" Sentak Bisma.

Zoyya mendongak. "Balikin hp aku."

Bisma mengabaikannya dan memasukkan HP-nya ke saku celananya.

"Nggak akan!"

Zoyya hendak bangkit, tapi tangannya dicegah oleh Hesa.

"Mau kemana lo? Lo nggak bisa kabur, Zoyya." Kata Hesa.

"Lepasin aku." Zoyya menepis tangan Hesa.

Hesa mencengkram erat lengan Zoyya. "Nggak, lo harus mati. Zoyya, biar orang-orang nggak tau rahasia kita berdua!"

Hesa dengan cepat mengeluarkan sebuah botol kecil. "Bisma, pegangin tangan dia."

Bisma memegang kedua tangan Zoyya.

"Lepasin aku! To—"

"Diem! Nggak ada yang denger suara lo!" Hesa langsung memasukkan obat tersebut ke mulut Zoyya.

Zoyya menangis, seketika tubuhnya merasakan nyeri sebelum matanya tertutup rapat.

Bisma menatap Hesa. "Sa, lo beneran lakuin ini? Kalau kita ketahuan gimana?"

"Nggak mungkin ada yang tau, udah cepet kita bawa dia ke toilet." Kata Hesa.

Bisma mengernyit dahi. "Ke toilet? Ngapain kita bawa dia ke toilet?"

Hesa mendengus. "Lo goblok atau gimana sih? Kalau kita langsung ninggalin dia di sini yang ada nanti, kita dicurigai sebagai pelaku! Emang lo mau apa masuk penjara?"

Bisma menggeleng cepat. "Nggak mau."

"Ya makanya jangan banyak protes lo!"

Bisma menghela napas, lalu mereka berdua membawa tubuh Zoyya ke toilet.

Saat sampai di toilet, Hesa dan Bisma merebahkan tubuh Zoyya di dalam toilet.

"Beres, ayo cepet kita keluar sebelum ada yang liat kita berdua."

Hesa menutup pintu toilet kantor.

Mereka berdua berjalan cepat meninggalkan toilet kantor.

Flashback off.

"Brengsek lo berdua! Gue bakal laporin kalian berdua ke polisi!" Murka Zevanna menatap mereka berdua tajam.

Bisma dan Hesa cuma tertawa kecil.

"Laporin kita ke polisi? Emang lo bisa hah? Emang lo punya buktinya kalau kita yang bunuh kakak lo?" Kata Hesa.

Zevanna terdiam, ia berusaha melepaskan ikatan tali dari tangannya. "Gue bakal berusaha cari bukti itu dan laporin kalian berdua!"

Hesa menjambak rambut Zevanna dan menatapnya tajam. "Denger ya adiknya Zoyya, lo nggak bakal bisa laporin kita ke polisi karena bentar lagi lo bakal nyusul kakak lo yang di sana!"

Zevanna terkejut mendengarnya. "Dasar gila kalian berdua!"

Hesa terkekeh dan menoleh ke arah Bisma. "Mana obat itu?"

Hesa menerima sebuah botol kecil dari tangan Bisma.

Zevanna langsung mengenali benda itu dari percakapan mereka.

"Jangan-jangan itu..."

Hesa tersenyum tipis. "Kali ini kita nggak akan bikin kesalahan yang sama."

Saat Hesa hendak meraih rahang Zevanna.

Zevanna berhasil melepaskan ikatan lalu menendang Hesa sampai terhuyung.

Bugh!

"Awh..." Ringis Hesa.

Zevanna langsung berlari menuju pintu.

"Mau kemana lo, Zevanna?" Kata Bisma, menahan lengannya.

Zevanna menoleh ke arahnya, dan langsung menghajar wajah Bisma.

Bugh!

Bisma mundur satu langkah. "Sialan lo!"

Bisma hendak kembali meraih tangan Zevanna. Namun, Zevanna dengan cepat menendang perut Bisma hingga terjatuh di lantai gudang.

Bugh!

"Lo yang lebih sialan, anjir!" Sentak Zevanna.

Hesa yang melihat itu, langsung mengambil kayu.

Zevanna dengan cepat menoleh dan menendang perutnya hingga Hesa menabrak beberapa rak yang penuh dengan dokumen lama.

Bugh!

Brak!

Zevanna melihat mereka berdua yang meringis kesakitan, langsung keluar dari gudang.

Koridor kantor gelap dan sepi. Ia berlari sambil terengah-engah.

Dia mau mengambil HP—

Nggak ada.

Ia baru ingat—HP-nya diambil Bisma.

Ia panik, ia nggak tahu harus mencari siapa.

Lalu dari ujung koridor...

Ravenzo dan Arvin keluar dari lift.

Ravenzo langsung berhenti saat melihat Zevanna. Kondisinya berantakan dan wajahnya panik.

"Zevanna?"

Zevanna menoleh. "Pak..."

Ravenzo langsung menghampirinya. "Kamu kenapa?"

Zevanna berusaha bicara. "Bisma... Pak..."

Ravenzo mengernyit dahi. "Apa?"

"Bisma sama Hesa..."

Arvin mengerutkan keningnya. "Mereka kenapa?"

"Mereka mau bunuh saya!" Jawab Zevanna membuat Ravenzo dan Arvin tersentak.

"Hah? Bunuh kamu? Serius?" Kata Arvin.

Zevanna mengangguk. "Iya, cepetan telepon polisi, Pak."

Ravenzo langsung menelpon polisi.

Tak butuh waktu lama, akhirnya polisi datang ke Verion Group.

Bisma dan Hesa masih berada di dalam gedung.

Suasana gedung sudah sangat sepi karena hampir semua karyawan sudah pulang. Hanya ada beberapa orang yang bertahan untuk lembur, membuat jumlah saksi di sekitar tempat kejadian bisa dihitung dengan jari.

Ravenzo berdiri bersama Arvin. Sedangkan Zevanna berada di belakang mereka.

Bisma melihat polisi. Ekspresinya berubah.

Hesa juga mulai panik.

"Berdasarkan laporan dan bukti awal yang kami temukan di lapangan, kami perlu membawa Anda berdua ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait kematian Saudari Zoyya dan dugaan aktivitas ilegal yang melibatkan Anda sekalian," ujar petugas polisi itu tegas sambil menatap Bisma dan Hesa bergantian. "Tolong kooperatif dan ikuti kami sekarang."

Hesa menggeleng cepat. "Nggak, Pak. Saya tidak bersalah!"

"Pak, kita nggak melakukan itu!" Kata Bisma membela diri.

"Nanti jelaskan di kantor polisi, sekarang ikut kita!" Petugas polisi tersebut memborgol tangan Bisma dan Hesa.

"Pak jangan tangkap kita, kita nggak salah apa-apa!" Kata Bisma.

"Pak lepasin kita!" Ucap Hesa.

Petugas polisi mengabaikan protesan Bisma dan Hesa.

Saat mereka berdua keluar dari gudang.

Hesa menoleh dan menatap Zevanna tajam. "Zevanna, awas lo! Gue bakal balas perbuatan lo!"

Zevanna, Ravenzo dan Arvin tersentak mendengar kalimat Hesa.

Zevanna membalas tatapan Hesa lebih tajam. "Sebenarnya gue yang bales perbuatan lo karena gara-gara lo. Kakak gue sampai meninggal dunia!"

Hesa tersenyum kecil. "Gue benci sama kakak lo, sebenarnya yang jadi sekretaris di sini itu gue bukan Zoyya!"

Zevanna mengepalkan tangannya hendak menghajar wajah Hesa, tapi Ravenzo menahannya.

"Sabar, jangan gegabah!" Kata Ravenzo singkat, lalu ia menatap petugas polisi. "Bawa mereka berdua cepat!"

"Baik, Pak."

Hesa tersenyum tipis saat dibawa keluar oleh petugas polisi.

Zevanna menatap punggung Hesa dan Bisma yang menghilang di balik pintu mobil polisi.

Zevanna menatap punggung Hesa dan Bisma yang menghilang di balik pintu mobil polisi.

Beberapa saat kemudian, mobil polisi mulai meninggalkan halaman Verion Group.

Zevanna masih berdiri diam. Semua yang terjadi malam ini terasa begitu cepat.

Ravenzo menatapnya. "Kamu yakin nggak apa-apa?"

Zevanna menggeleng pelan. "Saya nggak tahu, Pak. Tapi setidaknya sekarang mereka sudah diamankan."

Arvin yang sejak tadi berdiri di samping Ravenzo tiba-tiba menerima informasi dari salah satu petugas polisi.

Ia mengernyitkan kening.

"Zevanna," panggil Arvin.

Zevanna menoleh.

"Ada satu hal lagi."

"Apa?"

"Polisi menemukan nama seseorang yang pernah berhubungan langsung dengan Zoyya pada malam kejadian."

Zevanna mengerutkan kening. "Siapa?"

Arvin belum sempat menjawab ketika seorang perempuan berjalan mendekati mereka.

Zevanna terdiam. Ia mengenali perempuan itu.

"Mbak Vera?"

Vera mengangguk pelan. "Iya."

Zevanna menatapnya bingung. "Kenapa Mbak Vera ada di sini?"

Vera menghela napas. "Tadi polisi menghubungi aku. Mereka bilang ada perkembangan baru soal kasus Zoyya." Jawabnya.

Mata Zevanna langsung tertuju pada Vera. "Mbak Vera tahu sesuatu?"

Vera terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. "Ada sesuatu yang selama ini nggak pernah aku ceritakan."

Zevanna mendekat. "Apa itu?"

Vera menatap Zevanna dengan wajah serius.

"Malam itu Zoyya meninggal... aku menemukan dia di toilet kantor."

Deg!

Zevanna membelalakkan matanya. "Di toilet?"

Vera mengangguk. "Aku waktu itu masih berada di kantor. Aku nggak tahu apa yang terjadi sebelumnya. Aku cuma menemukan Zoyya dalam keadaan sudah sangat lemah."

Zevanna terdiam mendengarkan.

"Aku langsung panik dan berusaha membantunya. Aku menelepon keluarganya, lalu membawa Zoyya pulang menggunakan mobilku."

Zevanna mengepalkan tangannya. "Terus... Kak Zoyya masih sadar waktu itu?"

"Sebentar."

Vera menundukkan kepalanya. "Di perjalanan, dia sempat membuka mata."

Zevanna menahan napas. "Dia bilang apa?"

Vera menatap Zevanna. "Dia cuma menyebut dua nama."

"Nama siapa?"

Vera menjawab pelan. "Bisma dan Hesa.”

Zevanna terdiam. "Bisma... Hesa?"

Vera mengangguk. "Waktu itu aku nggak ngerti maksudnya. Aku kira dia sedang mencoba mengatakan sesuatu yang lain."

Vera menarik napas panjang. "Tapi setelah polisi menunjukkan informasi tentang Bisma dan Hesa malam ini, aku baru sadar kalau mungkin Zoyya sedang mencoba memberitahu siapa yang terlibat dan siapa yang menemukannya."

Zevanna menatap kosong ke depan.

Semua potongan yang selama ini ia cari mulai tersusun.

MAINTENANCE-03.

CCTV lantai 6.

Bisma.

Hesa.

HP Zoyya.

VIDEO_04.

Dan sekarang kesaksian Vera.

Semuanya saling terhubung.

Zevanna menundukkan kepala. "Jadi... Kak Zoyya memang sempat berusaha memberitahu seseorang."

"Iya," jawab Vera.

"Tapi waktu itu aku nggak mengerti."

Zevanna menghela napas panjang.

Selama ini ia terus mencari jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya.

Sekarang, untuk pertama kalinya, ia merasa sudah menemukan seluruh kepingannya.

Bisma terlibat dalam kejadian yang menyebabkan Zoyya jatuh.

Hesa datang setelah kejadian tersebut dan ikut membantu menutupi apa yang terjadi.

Mereka kemudian berusaha membuat kejadian itu terlihat seperti sesuatu yang tidak mencurigakan.

Sementara Vera adalah orang yang menemukan Zoyya setelah semuanya terjadi dan berusaha membantunya.

Zevanna menatap gedung Verion Group yang kini terlihat begitu sunyi.

Akhirnya ia mengetahui kebenaran yang selama ini ia cari.

"Kak..." gumam Zevanna pelan. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Maaf aku baru bisa menemukan jawabannya sekarang."

Ravenzo berdiri tidak jauh darinya, sementara Arvin dan Vera membiarkan Zevanna menenangkan dirinya.

Kasus kematian Zoyya akhirnya memiliki titik terang.

Tidak ada lagi nama yang perlu Zevanna kejar.

Tidak ada lagi rekaman yang harus ia cari.

Tidak ada lagi rahasia yang harus ia bongkar.

Kebenaran tentang malam terakhir Zoyya akhirnya terungkap.

Bersambung…

1
PengGeng EN SifHa
Baru sehari bambaaaaannnng
udah nanye kpn pulang bae sampean iku...hadeeeeehhhhh🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: pengen tak sambeli rasane thooorrr🤣🤣🤣
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
masa depan lebih penting drpd ego egeeee
PengGeng EN SifHa: semangat untuk berkarya thooorrr✊️✊️✊️✊️
total 2 replies
lannn_019
/Smile/
PengGeng EN SifHa
zoyya kah
PengGeng EN SifHa
bener² misterius
lannn_019: makasih sudah membaca😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!