Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Jahat di Balik Meja
Matahari pagi menyinari gedung pencakar langit tempat kantor pusat Wibowo Group berdiri. Suasana di dalam ruang rapat utama terasa begitu dingin dan mencekam. Meja kayu oval berukuran besar di tengah ruangan itu telah dipenuhi oleh belasan anggota Dewan Komisaris dan investor senior yang mengenakan jas formal mahal.
Di ujung meja, Pak Gunawan duduk dengan wajah penuh percaya diri. Senyum culas menghiasi bibirnya saat ia merapikan posisi dasi garis emas yang membebat lehernya. Di samping kirinya, Sisca duduk sambil memainkan pena bermerek, sementara Rian berdiri tepat di belakang mereka bersama dua orang pria berjas hitam yang membawa tas berkas tebal.
Pintu kaca ruang rapat mendadak terbuka.
Maya melangkah masuk dengan anggun, mengenakan blus formal berwarna biru tua yang dipadukan dengan rok pensil hitam. Rambut panjangnya disanggul rapi ke belakang,
memancarkan pesona seorang pimpinan muda yang tegas dan mandiri. Tepat di belakang Maya, Arka berjalan mengekor dengan tenang. Pria itu mengenakan kemeja polos berwarna abu gelap tanpa dasi, memegang sebuah map tipis berisi dokumen persiapan rapat.
Kehadiran Arka di dalam ruangan bernilai triliunan rupiah itu langsung memancing tatapan sinis dari beberapa komisioner senior.
"Lihat siapa yang datang," cemooh Sisca dengan nada suara yang cukup nyaring hingga terdengar ke seluruh penjuru ruangan. "Seorang calon pimpinan utama datang ke rapat strategis membawa suami gembel yang gajinya cuma seratus lima puluh ribu sehari. Apa kantor ini sudah kekurangan staf hingga harus membawa buruh serabutan ke sini?"
Beberapa komisioner tua terkekeh pelan, menyilangkan tangan di dada sambil menatap Arka dengan pandangan merendahkan.
Maya menghentikan langkahnya di sisi meja, menatap Sisca dengan pandangan mata yang sangat tajam dan dingin.
"Arka adalah suami sah saya secara hukum dan agama," tegas Maya dengan suara nyaring yang memotong tawa di ruangan tersebut. "Dia memiliki hak penuh untuk mendampingi saya di dalam setiap agenda resmi keluarga Wibowo. Kalau ada pihak yang merasa terganggu, pintu keluar ruangan ini selalu terbuka lebar."
Pak Gunawan mengetuk meja kayu dengan jemarinya yang gemuk, menghentikan perdebatan tersebut sebelum memanas.
"Sudah, tidak perlu membuang waktu untuk membahas masalah pria jalanan itu," potong Pak Gunawan sambil menyunggingkan senyum kemenangan. "Maya, silakan duduk. Rapat Umum Pemegang Saham akan segera dimulai."
Maya menduduki kursi utama pemegang saham yang terletak di sebelah kanan kursi pimpinan. Arka menarik kursi kayu di belakang Maya dan duduk santai di sana, meletakkan map tipisnya di atas paha. Pria berkaus polos yang kini mengenakan kemeja abu itu menyapukan pandangan matanya ke sekeliling ruangan, mencatat setiap wajah komisioner yang berada di pihak Pak Gunawan.
Pak Gunawan berdiri dari kursinya, berdeham keras untuk menarik perhatian seluruh peserta rapat.
"Para hadirin dan anggota dewan yang terhormat," buka Pak Gunawan dengan suara berat dan lantang. "Hari ini kita berkumpul untuk menentukan arah masa depan Wibowo Group. Kita semua tahu bahwa minggu lalu ada transaksi pergerakan saham secara masif dari Nusantara Group yang memberikan lima puluh persen saham pengendali kepada keponakan saya, Maya."
Para komisioner saling berbisik, menganggukkan kepala mereka setuju.
"Namun!" Pak Gunawan menaikkan nada suaranya secara drastis, menggebrak meja dengan telapak tangannya. "Sesuai dengan pasal empat puluh lima Anggaran Dasar Wibowo Group, seorang pemegang saham pengendali yang belum berpengalaman memimpin proyek skala nasional wajib melalui uji kelayakan operasional sebelum diberikan hak eksekutif penuh!"
Pak Gunawan memberi isyarat kepada dua pengacara di belakang Rian. Salah satu pengacara melangkah maju dan membagikan selembar berkas tebal ke hadapan seluruh peserta rapat, termasuk ke depan meja Maya.
Maya mengernyitkan alisnya, membuka lembaran berkas tersebut dengan cepat.
"Ini adalah proyek pembangunan kawasan industri Wibowo Park bernilai dua triliun rupiah yang sedang tertunda," lanjut Pak Gunawan penuh muslihat. "Jika Maya ingin klaim jabatan Direktur Utama disetujui oleh dewan, dia wajib mencairkan sisa dana pinjaman investasi sebesar lima ratus miliar rupiah dari Bank Konsorsium Nusantara sebelum akhir minggu ini!"
Wajah Maya seketika berubah pucat. Ia menatap pamannya dengan rasa tidak percaya.
Pencairan dana pinjaman dari Bank Konsorsium Nusantara adalah hal yang hampir mustahil dilakukan dalam kurun waktu tiga hari. Konsorsium perbankan di bawah naungan Nusantara Group itu terkenal sangat ketat dan hanya bersedia meluluskan pinjaman jika pimpinan tertinggi mereka menandatangani berkas tersebut secara langsung.
"Ini jebakan, Paman!" bentak Maya sambil berdiri dari kursinya. "Paman sengaja mengajukan syarat ini karena tahu bahwa pihak perbankan Nusantara Group sangat sulit ditembus oleh pengusaha menengah seperti kita!"
Rian melangkah maju sambil tersenyum keji. "Kenapa takut, Maya? Bukannya minggu lalu kamu sangat dibanggakan oleh Pak Wijaya di depan umum? Bukankah kamu dapat hibah saham ratusan miliar dari pimpinan misterius Nusantara Group? Kalau kamu memang punya hubungan dekat dengan penyokong rahasiamu itu, mencairkan lima ratus miliar tentu cuma masalah sepele, bukan?"
Sisca tertawa geli di samping ayahnya. "Atau jangan-jangan cerita soal penyokong rahasia itu cuma karangan belaka? Kalau kamu gagal mencairkan dana itu sebelum akhir minggu, secara hukum hak suaramu akan dibekukan dan posisi Direktur Utama secara otomatis kembali ke tangan Paman Gunawan!"
Seluruh anggota dewan komisioner mengangguk-angguk setuju dengan usulan tersebut. Mereka yang sejak awal berada di pihak Pak Gunawan melihat ini sebagai celah sempurna untuk mendepak Maya dari jajaran kepemimpinan.
Maya merasa sudut-sudut ruangan itu seolah menyempit menghimpit tubuhnya. Jemarinya yang memegang tepi meja bergetar hebat. Ia terjebak dalam perangkap hukum yang disusun sangat rapi oleh pamannya.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat dan kokoh mendarat lembut di atas bahu Maya.
Maya tersentak pelan, menoleh ke belakang. Arka berdiri di samping kursinya dengan raut wajah yang teramat tenang. Sentuhan tangan suaminya itu menyalurkan rasa hangat dan keberanian yang mendadak melumpuhkan rasa paniknya.
Arka menatap Pak Gunawan dengan pandangan mata yang sangat dingin dan tajam.
"Kami terima syarat itu," suara Arka keluar sangat pelan, namun getaran ketegasannya sanggup mematikan seluruh tawa ejekan di ruangan rapat tersebut.
Pak Gunawan tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak seolah baru mendengar lelucon paling konyol sepanjang hidupnya.
"Apa kamu bilang, gembel?!" ejek Pak Gunawan sambil menunjuk wajah Arka. "Kamu bicara atas nama siapa di ruangan ini?! Kamu cuma buruh harian yang numpang hidup di rumah Maya! Kamu pikir kamu siapa sampai berani menerima syarat lima ratus miliar dari Bank Konsorsium Nusantara?!"
Arka mengulas senyum tipis yang sarat akan makna tersembunyi. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh bentakan tersebut.
"Saya bicara atas nama suami dari pemilik saham pengendali Wibowo Group," jawab Arka tenang. "Lima ratus miliar rupiah dari Bank Konsorsium Nusantara akan cair dan masuk ke rekening perusahaan sebelum tenggat waktu yang Bapak tentukan."
Maya membelalakkan matanya, berbisik panik ke arah Arka. "Arka! Kamu gila?! Jangan asal janji! Kita tidak punya akses sama sekali ke jajaran pimpinan bank itu!"
Arka hanya memegang jemari Maya dengan lembut, memberikan kedipan mata yang mengisyaratkan kepercayaan penuh.
Rian yang melihat keberanian Arka mendadak merasa panas dan terancam. Ia maju selangkah menantang Arka. "Bagus kalau begitu! Tapi bagaimana kalau dalam tiga hari dana itu tidak cair?! Apa taruhannya untuk pria serabutan sepertimu?!"
Arka menatap Rian dari atas ke bawah, pandangan matanya begitu pekat hingga membuat Rian secara refleks mundur setengah langkah.
"Jika dalam tiga hari dana itu tidak cair ke rekening perusahaan," ujar Arka dengan nada datar yang mengerikan, "saya sendiri yang akan bertekuk lutut di hadapan kalian semua, menyerahkan seluruh hak warisan Maya, dan pergi meninggalkan kota ini selamanya."
Seluruh peserta rapat tersentak mendengar pertaruhan yang begitu ekstrem dari seorang pria yang mereka anggap tidak punya apa-apa.
Pak Gunawan melebarkan senyum culasnya, memukul meja dengan penuh kepuasan. "Deal! Seluruh saksi di ruangan ini sudah mendengar janji suami gembelmu ini, Maya! Kita lihat saja bagaimana kalian berdua merangkak memohon ampun pada saya di akhir minggu nanti!"
Dua jam kemudian.
Maya melangkah keluar dari gedung kantor dengan pikiran yang sangat kacau. Ia berjalan cepat menuju area parkir belakang, diikuti oleh Arka yang membawa tas dokumennya.
Begitu sampai di samping mobil sedan putihnya, Maya berbalik badan secara mendadak. Amarah dan rasa cemas yang ditahannya sejak tadi akhirnya meledak.
"Arka! Kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan?!" seru Maya dengan suara bergetar. matanya memerah menahan air mata kekecewaan. "Lima ratus miliar rupiah itu bukan uang kecil! Bank Konsorsium Nusantara adalah lembaga keuangan paling ketat di negeri ini! Kenapa kamu nekat bertaruh soal warisan dan masa depan kita di depan Paman Gunawan?!"
Arka menghentikan langkahnya, menatap wajah cantik istrinya yang sedang diliputi kepanikan luar biasa. Ia melangkah mendekat, mengambil kedua tangan Maya yang gemetar dan menggenggamnya erat.
"Maya, lihat aku," panggil Arka dengan suara beratnya yang sangat menenangkan.
Maya menengadah, menatap lurus ke dalam sepasang mata gelap milik suaminya. Kehangatan cengkeraman tangan Arka perlahan-lahan meredakan gejolak amarah di dalam dadanya.
"Percayalah padaku," kata Arka pelan namun penuh dengan kepastian yang tak tergoyahkan. "Aku tidak sedang mempertaruhkan hidupmu. Aku sedang menyiapkan panggung untuk menghancurkan mereka."
"Tapi bagaimana caranya?" gumam Maya pasrah, suaranya melemah. "Kita bahkan tidak kenal dengan Direktur Bank Konsorsium Nusantara."
Arka mengulas senyum tipis di bibirnya, merapikan helai rambut Maya yang terurai di pipi.
"Kemarin waktu aku memperbaiki sepeda motor di daerah pusat perbankan," kata Arka dengan alibi polosnya yang biasa, "aku tidak sengaja membantu seorang pria tua yang ban mobilnya bocor. Pria itu ternyata salah satu manajer senior di Bank Konsorsium Nusantara. Dia memberiku kartu nama dan berjanji akan membantu kalau aku butuh bantuan perbankan."
Maya mengernyitkan alisnya rapat-rapat. Rasa curiga yang sempat surut kini kembali mencuat tajam.
Membantu pria tua yang ban mobilnya bocor? Dan pria itu kebetulan manajer senior di bank paling berkuasa di kota ini?
"Arka..." bisik Maya dengan pandangan menelisik yang teramat dalam. "Kenapa setiap kali kita terdesak, selalu ada kebetulan aneh yang melibatkanku dan kamu?"
Arka hanya tersenyum tenang tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Ia membukakan pintu mobil untuk Maya dengan sikap yang sangat sopan.
"Masuklah," ujar Arka lembut. "Kita pulang sekarang. Biarkan aku yang mengurus berkas permohonannya besok pagi."
Maya melangkah masuk ke dalam mobil dengan dada yang berkecamuk. Logikanya menolak percaya pada alibi konyol soal ban mobil bocor tersebut, namun kehangatan dan rasa aman yang dipancarkan oleh Arka membuatnya memilih untuk diam.
Saat mobil sedan putih itu melaju meninggalkan area gedung, Arka berdiri di samping selasar parkir. Ia merogoh saku kemeja abu-abunya, mengeluarkan ponsel genggam khusus berteknologi tinggi milik pimpinan Nusantara Group.
Arka menekan satu tombol panggilan cepat. Hanya dalam satu detik, suara Pak Wijaya terdengar di ujung telepon dengan nada sangat hormat.
"Selamat siang, Pak CEO," sapa Pak Wijaya dari balik telepon.
"Wijaya," kata Arka dengan nada suara yang seketika berubah sangat dingin, berwibawa, dan tanpa ampun. "Perintahkan Direktur Utama Bank Konsorsium Nusantara untuk menyiapkan pencairan dana pinjaman lima ratus miliar rupiah atas nama Wibowo Group sore ini juga."
"Baik, Pak CEO! Perintah dilaksanakan segera!" jawab Pak Wijaya tanpa ragu sedikit pun.
"Dan satu hal lagi," lanjut Arka sambil menatap bayangan mobil Maya yang menghilang di belokan jalan raya. "Blokir seluruh aset pribadi dan rekening milik Pak Gunawan serta Rian mulai detik ini. Buat mereka tahu bagaimana rasanya menjadi orang miskin sebelum akhir minggu tiba."
"Dimengerti, Pak CEO!"
Arka mematikan sambungan teleponnya, memasukkan kembali ponsel berteknologi tinggi itu ke dalam sakunya. Pria berkaus sederhana yang baru saja mempertaruhkan lima ratus miliar rupiah itu melangkah santai menuju motor bebek tuanya di sudut parkiran. Permainan di meja rapat baru saja dimulai, dan para serigala berjas itu tidak akan pernah tahu siapa yang sebenarnya sedang mereka lawan.
itu.