Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Gilang mengayunkan detonator di tangannya perlahan.

"Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa kau adalah aktor utamaku."

"Dan setiap pertunjukan yang bagus harus memiliki akhir yang tragis."

Alena yang tidak mengerti sama sekali tentang obrolan mereka berdua mulai kehabisan kesabaran.

"Kalian bicara tentang sistem apa?!" teriak Alena marah.

"Reyhan, menjauh dari orang gila itu sekarang juga!"

Gilang menoleh ke arah Alena dengan wajah bosan.

"Kau benar-benar merusak suasana, Detektif."

"Karena kau sangat tidak sabaran, mari kita percepat babak akhir ini."

Gilang mengangkat detonator itu tinggi-tinggi.

"Teater ini akan runtuh dalam hitungan sepuluh detik setelah aku menekan tombol ini."

"Kalian semua akan mati bersamaku, dan Reyhan Mahardika akan dikenang selamanya sebagai pahlawan yang gugur melawan korupsi."

"Itu adalah naskah penutup yang paling sempurna!"

"Tidak!" teriak Kania histeris.

Reyhan tahu ia tidak punya pilihan lain lagi.

Ia harus bertaruh dengan nyawanya sendiri untuk menghentikan jari Gilang.

[Ding! Misi Darurat terpicu.]

[Misi: Hentikan detonasi C4.]

[Hadiah: Peningkatan atribut fisik permanen.]

[Kegagalan: Kematian mutlak.]

Wenggg.

Reyhan memusatkan seluruh tenaga pada otot kakinya berkat Ketahanan Fisik tingkat menengah yang ia miliki.

"Alena, tembak tangannya!" teriak Reyhan sekuat tenaga.

Brak.

Reyhan melompat menerjang tubuh Gilang dengan kecepatan penuh layaknya seekor macan tutul.

Dor! Dor!

Suara tembakan dari pistol Alena menggema memekakkan telinga.

Dua butir peluru melesat membelah udara di atas panggung.

Peluru pertama meleset dan menghantam lantai kayu panggung.

Namun peluru kedua berhasil menggores bahu kanan Gilang dengan cukup dalam.

Cras.

"Argh!" teriak Gilang kesakitan.

Namun rasa sakit itu tidak membuat jari Gilang berhenti bergerak.

Refleks ototnya yang terkejut justru membuat jempolnya menekan tombol merah detonator tersebut.

Klik.

Reyhan berhasil menabrak tubuh Gilang hingga mereka berdua jatuh bergulingan di atas lantai panggung.

Detonator itu terlempar dari tangan Gilang dan jatuh berderak ke sudut ruangan.

Namun semuanya sudah terlambat.

Tit. Tit. Tit. Tit.

Suara alarm kecil berbunyi dengan tempo yang sangat cepat dari balik pilar-pilar utama teater.

"Sialan, dia sudah menekannya!" teriak Reyhan panik.

Gilang yang berada di bawah tindihan Reyhan justru tertawa penuh darah.

"Sepuluh detik, Reyhan!"

"Tirai pertunjukannya sudah ditutup!"

Reyhan segera bangkit dan menarik kerah baju Gilang dengan kasar.

Ia mendaratkan satu pukulan keras tepat di wajah mantan temannya itu.

Bugh!

Gilang langsung jatuh pingsan akibat pukulan tersebut.

"Alena, Kania! Lari ke pintu keluar sekarang!" teriak Reyhan sambil mengangkat tubuh Gilang ke bahunya.

Meski ia sangat membenci pria ini, Reyhan tidak akan membiarkannya mati tertimpa reruntuhan.

Gilang harus hidup untuk diadili dan untuk membersihkan nama Reyhan di mata hukum.

Alena langsung menarik tangan Kania yang sudah kaku karena ketakutan.

"Ayo lari, Kania!" bentak Alena menarik jurnalis itu keluar dari pintu auditorium.

Delapan detik berlalu.

Reyhan berlari sekuat tenaga melompati kursi-kursi penonton yang rusak.

Beban tubuh Gilang di bahunya membuat langkah Reyhan sedikit terhambat.

Enam detik.

Suara alarm dari pilar gedung semakin melengking tinggi.

Reyhan bisa melihat Alena dan Kania sudah berhasil keluar dari pintu utama lobi teater.

Empat detik.

Napas Reyhan terasa membakar paru-parunya.

Lantai kayu di bawah kakinya terasa bergetar hebat.

Dua detik.

Reyhan melompat menerjang keluar dari pintu ganda lobi teater tepat saat waktu habis.

Bum! Duar!

Suara ledakan yang sangat dahsyat memekakkan telinga mereka semua.

Gelombang kejut dari ledakan C4 itu menghantam punggung Reyhan dan melemparkannya beberapa meter ke udara.

Bruk.

Reyhan mendarat keras di atas tanah berdebu bersamaan dengan tubuh Gilang yang masih pingsan.

Gedung Teater Harapan yang dulunya megah itu runtuh dalam hitungan detik, menelan semua rahasia kelamnya menjadi puing-puing dan kepulan asap tebal.

Debu pekat menyelimuti kawasan kumuh tersebut.

"Uhuk! Uhuk!"

Alena terbatuk-batuk sambil mencoba berdiri.

Ia berlari menghampiri Reyhan yang tergeletak tidak bergerak di atas tanah.

"Reyhan! Kau dengar aku?!" teriak Alena panik sambil menepuk pipi pemuda itu.

Reyhan membuka matanya perlahan.

Kepalanya terasa sangat pusing dan telinganya berdenging hebat akibat ledakan.

Namun ia masih hidup.

"Aku... aku tidak apa-apa, Detektif," gumam Reyhan susah payah.

Reyhan menoleh ke sampingnya dan melihat Gilang juga masih bernapas meski wajahnya penuh luka.

[Ding! Misi Darurat Berhasil Sebagian.]

[Evaluasi: Host gagal mencegah detonasi, namun berhasil menyelamatkan diri dan target kunci.]

[Hadiah didistribusikan: Peningkatan daya pemulihan fisik tingkat dasar.]

Reyhan menghela napas panjang merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya mulai mereda secara perlahan.

Kania yang berlari mendekat langsung jatuh berlutut sambil menangis lega.

"Kita selamat... kita benar-benar selamat."

Namun kelegaan mereka tidak berlangsung lama.

Ngiung! Ngiung! Ngiung!

Suara sirene puluhan mobil polisi tiba-tiba terdengar mendekat dari arah jalan masuk kawasan kumuh.

Cahaya lampu rotator biru dan merah menembus kepulan debu yang masih tebal.

"Mereka menemukan kita," ucap Alena dengan wajah tegang.

"Propam pasti melacak sinyal GPS dari mobil Kania."

Puluhan polisi bersenjata lengkap dengan tameng anti huru-hara turun dari mobil dan langsung mengepung mereka.

Dua buah helikopter polisi juga terlihat terbang rendah menyorotkan lampu ke arah Reyhan.

"Reyhan Mahardika dan Alena Prameswari!"

"Angkat tangan kalian dan menyerahlah!" terdengar suara peringatan dari megafon polisi.

Reyhan perlahan berdiri dibantu oleh Alena.

Ia menatap puluhan moncong senjata yang diarahkan padanya.

Malam ini, pertunjukan Gilang memang sudah berakhir dengan hancurnya Teater Harapan.

Tapi bagi Reyhan, masalah yang sebenarnya dengan pihak kepolisian dan negara baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!