Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 35 — Rencana dari Balik Layar
Keriuhan lelang masih terasa berdengung di udara, menyisakan ketegangan akibat perseteruan harga yang gila antara Qu Jin dan pria bertudung misterius.
Di ruangan kelas atas paling kiri, Hu Aiming, tiba-tiba memecah keheningan di balkonnya sendiri. Ia tertawa pelan, namun tawanya cukup renyah untuk terdengar hingga ke balkon sebelah.
"Hahaha, bocah sombong memanglah bocah sombong! Tidak tahu seberapa tingginya langit," sindir Hu Aiming terang-terangan. Matanya yang tajam menatap ke arah balkon tempat Qu Jin berdiri, sengaja memprovokasi.
Mendengar sindiran itu, wajah Qu Jin yang baru saja memerah karena amarah kini semakin kelam. Urat di lehernya menegang.
"Apa yang kau katakan? Pak Tua Bajingan..." desis Qu Jin, tangannya mencengkeram erat pinggiran balkon hingga buku-buku jarinya memutih. Jika ini bukan tempat umum, ia pasti sudah memerintahkan kedua pamannya untuk menghabisi wali kota tua itu.
Tap.
Sebuah tangan mendarat di bahu Qu Jin dengan tekanan yang cukup berat. Jin Hai melangkah maju, wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Sudah cukup," ujar Jin Hai dingin. "Jangan terpancing lagi."
Qu Jin menelan ludahnya, menekan amarah yang bergejolak di dadanya. Ia segera menundukkan kepala. "Baik, Senior."
Namun, di dalam hatinya, Qu Jin mengutuk dengan kejam. 'Pak Tua sialan! Setelah pelelangan ini berakhir, akan aku beritahu Ayah. Kepalamu seharusnya dipenggal... Tidak! Sebelum itu, kau harus aku kencingi dulu, Pak Tua... sama seperti bajingan pelayan waktu itu.'
Mengingat momen saat ia dan teman-temannya menyiksa Huo Li di tebing Sekte Pedang Mendalam, seulas senyum meremehkan dan kejam terukir di wajah Qu Jin. 'Huh, pelayan sampah itu... dia sekarang pasti sedang menangis tersedu-sedu di neraka,' batinnya puas.
Di sisi lain, meski wajah Jin Hai tampak tenang, pikirannya bekerja cepat. Matanya yang tajam melirik ke arah Hu Aiming. Utusan Sekte Pedang Mendalam itu merasa ada sesuatu yang sangat aneh.
'Selama pelelangan berlangsung, Hu Aiming sama sekali tidak menawar barang apa pun,' batin Jin Hai menganalisis. 'Aku tahu sebagian besar harta di sini tidak terlalu berarti bagi seorang Wali Kota, tapi seharusnya ada beberapa herbal atau artefak tingkat 2 yang bisa menarik minatnya. Namun dia diam saja, seolah... hanya menunggu sesuatu.'
Mata Jin Hai sedikit menyipit. 'Apakah rahasia tentang Pecahan Manual Tingkat 3, Tubuh Emas Vajra, yang sangat diinginkan Keluarga Qu telah bocor dan diketahui oleh Wali Kota? Jika Hu Aiming berniat menyabotase lelang ini, Keluarga Qu bisa kehilangan manual itu.'
Jin Hai mengusap dagunya perlahan. 'Sepertinya kalau begini... aku harus bersiap untuk ikut campur. Jika Keluarga Qu gagal mendapatkan manual itu, Tetua Jin Peng pasti akan menumpahkan kemarahannya padaku karena dianggap gagal mengawal transaksi ini.'
Sementara itu, di balkonnya, Hu Aiming tidak memedulikan tatapan menusuk dari Qu Jin maupun Jin Hai. Pandangannya justru tertuju lurus ke bawah, menatap lekat pada sosok pria bertudung hitam yang duduk tak bergerak di bangku umum.
'Jadi, diakah yang dikatakan oleh Tuan Bertopeng Iblis itu?' batin Hu Aiming penuh harap, jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. 'Seseorang yang akan datang untuk mengacaukan dan menguras harta Keluarga Qu di pelelangan?'
Ingatan Hu Aiming melayang kembali ke kejadian mengejutkan kemarin sore.
*****
Di Kediaman Pribadi Wali Kota, Hu Aiming sedang berdiri di balkon kediaman paviliun bertingkat empat, menatap langit oranye Kota Sungai Hijau yang perlahan menggelap. Pemandangan itu seolah mencerminkan perasaannya terhadap kota yang ia pimpin: suram dan telah bobrok.
Sebagai seorang Wali Kota yang ditunjuk resmi di bawah perintah Penguasa Prefektur Naga Air, ia seharusnya memegang kendali penuh. Namun kenyataannya, pengaruh yang ia miliki terasa seperti semut di hadapan Keluarga Qu—keluarga kultivator lokal yang dilindungi oleh Sekte Pedang Mendalam, sekte tingkat 1 di prefektur ini.
Bukan hanya masalah pengaruh politik yang memusingkan kepalanya. Administrasi kota telah disusupi, pajak dimanipulasi, dan yang paling parah... beberapa komandan pasukan miliknya secara terang-terangan telah beralih pihak kepada Keluarga Qu demi kristal spiritual dan perlindungan.
Dengan pikiran rasionalnya, Hu Aiming tahu persis apa yang akan terjadi dalam waktu dekat. Begitu Patriark Qu Jiang berhasil menerobos ke Ranah Benih Spiritual, jabatan wali kotanya pasti akan direbut secara paksa. Ia tidak akan selamat; keluarganya akan dibantai atau diasingkan untuk menghilangkan jejak perlawanan.
Saat keputusasaan itu hampir menelannya bulat-bulat...
WUSH!
Embusan angin dingin menyapu balkon. Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang sangat serak dan berat terdengar.
"Langit sore yang indah... sayang sekali sebentar lagi akan tertutup awan mendung, bukan begitu, Wali Kota?"
Hu Aiming tersentak hebat dan segera berbalik. Di sana, hanya beberapa langkah di belakangnya, berdiri sosok misterius. Pria itu mengenakan jubah merah pekat bagai darah segar, dan wajahnya tertutup rapat oleh topeng logam hitam berpola iblis dengan garis emas yang tajam.
Huo Li telah menggunakan Langkah Ilusi Hantu miliknya untuk menembus pengamanan kediaman wali kota tanpa memicu satu pun formasi suara ataupun penjaga!
Hu Aiming merasakan aura menindas yang luar biasa pekat dari sosok itu. Udara di sekitarnya terasa seberat timah. 'Siapa... Siapa orang ini?!' jerit Hu Aiming dalam hati, kakinya nyaris goyah. "Kau! Siapa kau?" teriaknya mempertanyakan.
Sore itu, Huo Li tidak datang untuk membunuh. Ia menawarkan sebuah kesepakatan iblis. Sebuah rencana untuk menghancurkan monopoli Keluarga Qu dari dalam pelelangan dan secara bertahap memotong akar mereka di Kota Sungai Hijau.
"T-Tapi... Keluarga Qu dilindungi oleh Sekte Pedang Mendalam..." ucap Hu Aiming ragu-ragu saat itu, tubuhnya gemetar.
Di balik topeng iblisnya, Huo Li hanya mendengus meremehkan. "Sekte Pedang Mendalam? Di mataku, mereka tidak lebih dari sekumpulan semut yang kebetulan menemukan gundukan gula. 'Ikuti saja rencanaku itu', dan kau akan tetap duduk di kursi Wali Kota, melihat kota yang lebih bersih dari para serangga munafik."
Mendengar janji itu, Hu Aiming menerima kesepakatan tersebut dengan antusiasme yang didorong oleh keputusasaan.
*****
Kembali ke masa sekarang, di dalam aula pelelangan.
Peng Wu, yang masih sedikit pucat namun berusaha menjaga profesionalismenya, akhirnya mengetuk palu kayunya dengan keras.
"Baiklah, hadirin sekalian! Semua barang berharga telah menemukan pemilik barunya. Dan sekarang..." Peng Wu menarik napas panjang, merendahkan suaranya untuk menciptakan efek dramatis, "...Sebelum kita mencapai lelang puncak kita malam ini! Penjaga! Keluarkan!"
Dua orang penjaga elit berotot besar berjalan ke atas panggung dengan sangat hati-hati. Di antara mereka, melayang sebuah baki yang terbuat dari batu giok putih, dilindungi oleh lapisan formasi pelindung transparan. Di atas baki tersebut, tergeletak sebuah gulungan bambu usang yang memancarkan pendar energi emas yang sangat kuno dan berat.
Hanya dari pancaran auranya saja, para kultivator di barisan depan bisa merasakan dada mereka sesak, seolah ada gunung emas yang menindih paru-paru mereka.
Suara Peng Wu menggelegar, "Kami dengan bangga mempersembahkan... Sebuah keajaiban yang berhasil digali dari reruntuhan kuno. Ini adalah Pecahan Manual Tingkat 3: Tubuh Emas Vajra!"
BUM!
Seluruh aula meledak dalam teriakan keterkejutan.
"Manual Tingkat 3?!"
"Ya Dewa! Sekte tingkat 2 pun rela berperang untuk mendapatkan manual tingkat 3 yang utuh! Walaupun ini hanya pecahan, nilainya tak terbayangkan!"
"Pantas saja tokoh-tokoh besar itu datang! Mereka semua mengincar ini!"
Peng Wu mengangkat tangannya, meminta ketenangan. "Manual ini memang tidak utuh. Namun, bagian yang tersisa ini memuat fondasi teknik pernapasan dan penempaan tulang yang sangat krusial. Siapa pun yang mempraktikkannya, tubuhnya akan sekeras baja dan mampu menahan serangan mematikan tanpa tergores! Ini adalah jalan pintas menuju puncak kekuatan fisik!"
"Harga awal untuk Pecahan Manual Tingkat 3: Tubuh Emas Vajra ini adalah..." Peng Wu menatap seluruh ruangan, lalu berteriak keras.
sesuatu yg WAAAAH kah ??
hanya sebagai alat syarat sebuah kabupaten....!!
semua dkendalikan olh keluarga paling berpengaruh !!
layaknya negara konoha skrg ... wkwkwk
ngitulah kira³....🤣🤣
makn pake sumpit. minum pake pipit.. pipisnya dkloset...🤣🤣🤣