kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Brak!
Jafar membanting pintu ruang kerjanya, berbalik menatap Dako dengan pendar mata yang berkilat tajam di balik masker. Ia melempar ponselnya ke meja.
"Dako... jelaskan padaku," desis Jafar dengan nada menekan yang amat dingin. "Kenapa istri siriku baru saja menghabiskan dua puluh miliar rupiah dalam waktu kurang dari lima menit?!"
Dako menelan ludah dengan susah payah. Asisten pribadi itu mengusap pelipisnya yang mendadak banjir keringat dingin. Ia sudah menduga bom ini akan meledak jam ini juga.
"T-Tuan..." gagap Dako buru-buru menunduk hormat. "Tim intelijen kita baru saja memverifikasi alur transaksinya. N-Non Nina tidak memakai uang itu untuk foya-foya..."
"Lalu untuk apa?!" pangkas Jafar cepat, alis tebalnya bertaut erat.
"Non Nina... baru saja membeli seluruh sisa saham Anggun Group, menyita sertifikat tanah , salon, dan mengambil alih kepemilikan atas rumah utama yang saat ini ditinggali oleh Tuan Faris dan Nyonya Anggun, Tuan!" terang Dako cepat. "Surat utang Hazel yang dijaminkan ke pihak Mr.R tadi pagi... semuanya dibeli habis oleh Non Nina melalui perantara pihak ketiga."
Ruang kerja yang megah itu mendadak hening total.
Jafar mematung di tempatnya berdiri. Sepasang matanya berkedip lambat di balik masker. Rasa terkejut yang bukan main menyergap benaknya. Pria irit bicara itu benar-benar dibuat bungkam oleh manuver cerdas dan tak terduga dari seorang gadis desa yang pagi tadi baru saja meratapi nasib sarapan tanpa nasi.
Jafar menyandarkan jemarinya di tepi meja marmer, mencerna fakta bahwa Nina baru saja menggulung seluruh kehidupan Faris dan Anggun hanya dalam satu kali gesekan Black Card.
"Jadi..." gumam Jafar dengan suara amat rendah, bayangan senyum tipis yang penuh kekaguman terukir samar di balik masker hitamnya. "Gadis polos itu baru saja mengusir ayahnya sendiri dari rumah mereka menggunakan uangku?"
"B-Betul, Tuan," sahut Dako pasrah. "Secara hukum, Non Nina sekarang adalah pemilik sah atas rumah dan seluruh sisa harta keluarga Faris."
Jafar menghembuskan napas panjang. Pria dingin yang dikenal tak berbelas kasihan itu mendadak menyunggingkan binar mata yang sangat puas.
"Menarik," bisik Jafar singkat, jemarinya mengetuk meja dengan irama beratur.
____
Di sebuah vila dan suite hotel bintang lima yang paling megah di kawasan Jakarta Selatan, suara denting gelas kristal beradu pelan.
Hazel bersandar di atas sofa bed empuk berbalut kain sutera, mengenakan jubah mandi mahal hasil dari gesekan kartu kreditnya yang baru. Di sekelilingnya, berhamburan puluhan kantong belanjaan dari merek-merek ternama dunia, mulai dari tas kulit edisi terbatas, perhiasan berkilau, hingga deretan gaun malam mewah.
Setelah berhasil kabur kabur karena ketakutan setengah mati usai menandatangani berkas utang, rasa panik Hazel mendadak menguap berganti menjadi euforia gila. Di otaknya yang dangkal, ia merasa sudah berhasil membawa kabur uang ratusan juta hasil dari dana awal investasi yang sempat ditransfer Nick ke rekening pribadinya semalam.
"Biarkan saja Faris dan Mama pusing di rumah," gumam Hazel sembari meneguk minuman bersoda dingin dari gelasnya, tertawa puas. "Siapa suruh Faris sok berkuasa di rumah ku sendiri dan menyalahkanku? Toh besok-lusa uang lima puluh miliar dari Mr R cair, aku bisa beli rumah mewah sendiri atas namaku tanpa ada yang bisa mengaturku lagi!"
Hazel sama sekali tidak tahu bahwa uang investasi sepuluh miliar itu hanyalah angin surga palsu, dan surat utang yang ia tanda tangani sudah resmi melahap seluruh sisa hidup orang tuanya.
Ponsel mahal Hazel yang tergeletak di atas meja terus bergetar tanpa henti. Nama "MAMA ANGGUN" menyala berulang kali di layarnya. Namun dengan wajah jijik dan muak, Hazel menggeser tombol daya lalu menonaktifkan ponselnya total. Ia tidak mau surga pribadi yang baru saja ia nikmati ini diganggu oleh jeritan panik dari rumah...
"Maafin Hazel mah...,Ini pelajaran buat mama yang terlalu Cinta mati sama Fariz ".
Sementara itu, neraka nyata sedang meledak di kediaman Faris dan Anggun.
Anggun menggenggam ponselnya dengan tangan gemetar hebat, mendengarkan nada mesin yang monoton..."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif..."
"Hazel! Angkat, Nak! Tolong angkat!" jerit Anggun histeris, melemparkan ponselnya ke atas sofa. Tangisnya pecah seketika saat berbalik menatap ruang tamu rumahnya yang mendadak dipenuhi oleh belasan pria bertubuh tegap berkemeja hitam.
Bukan Nina yang datang menyeret mereka keluar. Nina cukup cerdas untuk menjaga jemarinya tetap bersih di depan publik. Atas perintah Nina lewat bantuan eksekutor profesional Tania, sebuah tim hukum dan petugas pengambilalihan aset resmi berdiri di tengah ruang tamu dengan membawa dokumen tebal berstempel basah.
"Nyonya Anggun, Tuan Faris," ujar pria berjas rapi yang memimpin tim eksekusi aset dengan suara dingin dan formal. "Kami datang untuk menyampaikan pemberitahuan pengosongan bangunan. Seluruh sertifikat tanah, rumah ini, beserta sisa saham Anggun Group telah resmi berpindah tangan kepada klien kami."
Faris yang baru saja tiba di rumah dengan wajah kusam langsung merampas berkas itu. Matanya membelalak parah hingga berurat merah saat membaca nama pemilik baru yang tertera di sana, sebuah nama lembaga investasi privat anonim yang dibeli penuh menggunakan dana Black Card.
"T-TIDAK MUNGKIN!" teriak Faris histeris, meremas kertas-kertas mahal itu. "Ini rumah saya! Rumah ini dibeli dari hasil keringat saya dan istri saya! Kalian tidak berhak mengusir kami!"
"Tuan Faris," sela petugas hukum itu tanpa belas kasihan, memberi isyarat pada para pria bertubuh kekar di belakangnya. "Putri Anda, Hazel, telah menandatangani penyerahan jaminan atas utang pribadi yang gagal dibayar. Klien kami telah melunasi seluruh utang tersebut dan membeli hak kepemilikan penuh atas aset ini. Anda punya waktu tiga puluh menit untuk mengemas barang-barang pribadi, atau kami akan mengeluarkannya secara paksa."
"FAARIIISS!" Anggun menjerit pilu, tersungkur di atas lantai marmer sembari mencengkeram kaki Faris. "Bagaimana ini?! Kita mau tinggal di mana?! Hazel mana?! Kenapa Hazel tega berbuat begini sama kita?!"
Para petugas mulai mengangkuti koper-koper dan mengawal Faris serta Anggun keluar melewati pintu depan. Tetangga di sekitar perumahan elite itu mulai keluar rumah, berbisik-bisik dan mengabadikan momen kejatuhan pasangan pengusaha yang terkenal angkuh tersebut.
Faris berdiri tertegun di tepi jalan, menggenggam satu koper pakaian lusuh sementara Anggun menangis meraung-raung di sampingnya di atas trotoar. Pria yang dulu merasa paling berkuasa itu kini benar-benar telah menjadi gelandangan di atas tanahnya sendiri.
Di dalam mobil mewah yang terparkir seratus meter di ujung jalan, Jafar duduk bersandar di kursi belakang. Dari balik kaca mobil yang gelap, ia menyaksikan pemandangan dramatis tersebut.
Jafar melirik gadis desa yang bersembunyi di pos satpam...Nina hanya menatap Faris dan Anggun dengan pandangan yang sangat tenang—l, tanpa ada sorot rasa kasihan, namun juga tanpa dendam yang meledak-ledak. Ketenangan yang amat matang.
"Kamu tidak mau melihat dari dekat?" suara berat Jafar memecah keheningan di dalam PS satpam...
Nina menoleh pelan, terkejut bukan main..
"Tu-tuan... Sejak kapan anda di sini?"... Tanya Nina sedikit takut.
"Sejak kamu mengintai seperti pencuri"
Nina melotot tajam , karena terkejut di katakan seorang pencuri... "Lebih baik Anda kembali saja Tuan...Ini urusan ku".
"Apa perlu Saya turun tangan?" tawar jafar dengan nada dingin.
"Tidak perlu, Tuan. Murni karena benih kejahatan mereka sendiri pohon ini tumbang. Nina hanya memastikan badainya datang tepat waktu."
Jafar menatap Nina lekat-lekat di balik masker hitamnya. Sudut matanya mengendur, menyembunyikan rasa kagum yang makin menggelembung terhadap kebijaksanaan dan kecerdikan istri sirinya ini.
"Lalu..." desis Jafar pelan, memajukan tubuhnya hingga auranya yang mendominasi mengurung Nina. "Bagaimana dengan Hazel yang saat ini sedang bersenang-senang di hotel?"
Nina menyunggingkan senyum misterius yang amat manis.
"Biarkan dia menikmati mimpinya sedikit lebih lama, Tuan..." bisik Nina lembut. "Karena begitu dia bangun besok pagi, tagihan kenyataan akan membayarnya sepuluh kali lipat lebih menyakitkan."
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰