`KISAH CINTA YANG BERACUN`
Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.
Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.
Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.
Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.
Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`
Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.
Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.
Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.
Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34_Sangkar Emas dan Tatapan Dingin
...BAB 34_Sangkar Emas dan Tatapan Dingin...
Jauh dari hiruk-pikuk kota metropolitan serta bayangan ancaman yang mulai disuarakan oleh Teo Ozawa di kamar mewahnya, suasana di dalam penthouse megah milik Julian Edgar justru terasa jauh lebih menyesakkan, sunyi, dan dipenuhi oleh ketegangan yang teramat pekat.
Tempat itu bagaikan sebuah benteng pertahanan termutakhir yang menjulang tinggi di atas awan.
Lantai marmer berkilau, kaca anti-peluru selebar dinding yang memperlihatkan pemandangan langit malam tanpa batas, serta interior mewah bergaya kontemporer tidak mampu mengurangi rasa dingin yang mencengkeram ruangan tersebut.
Tempat itu bukanlah rumah; melainkan sebuah sangkar emas yang dibangun dengan tingkat pengawasan setara pangkalan militer, dirancang khusus untuk memastikan satu orang tahanan tidak akan pernah bisa melangkah keluar.
Di salah satu sudut ruang keluarga yang luas, Lea berdiri tegak menghadap dinding kaca raksasa.
Pantulan wajahnya sendiri tampak jelas di atas permukaan kaca yang gelap akibat malam, memperlihatkan sorot mata tajam yang menyiratkan perlawanan tanpa akhir.
Ia mengenakan pakaian santai berkualitas tinggi yang disediakan oleh staf Julian—pakaian mewah yang terasa seperti sebuah ejekan, mengingatkan bahwa tubuh dan kebebasannya kini sepenuhnya dikendalikan oleh pria itu setelah tertangkap basah bermesraan dengan Ethan di kafe.
Langkah kaki tegas yang menggema di atas lantai marmer memecah keheningan.
Lea tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik langkah tersebut. Aura dominan, dingin, dan menekan yang memenuhi udara di sekitarnya sudah cukup menjadi penanda kehadiran sang pemilik penthouse.
Julian Edgar berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pria berambut gelap itu mengenakan kemeja hitam dengan beberapa kancing atas yang terbuka, memperlihatkan kesan maskulin yang berbahaya sekaligus elegan.
Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara manik matanya yang sekelam malam mengamati setiap gerak-gerik gadis di hadapannya dengan tatapan penuh kalkulasi.
`"Kau tidak menyentuh makan malammu,"` suara Julian memecah keheningan. Nada bicaranya terdengar datar, tenang, namun menyiratkan otoritas mutlak yang tidak memberi ruang untuk membantah. `"Lea. Kau butuh tenaga jika ingin bertahan hidup di sini."`
Lea perlahan membalikkan tubuhnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan sarkasme.
Ia menatap lurus ke dalam manik mata Julian tanpa sedikit pun rasa gentar, menampilkan ketahanan mental yang justru membuat sang milyarder semakin terpikat sekaligus waspada.
`"Aku tidak mau hidup dengan cara seperti ini. Kamu memperlakukan pacarmu sendiri seperti penjahat. Aku tahu aku salah... kamu boleh menghukumku tapi tidak dengan cara mengurungku,"` bentak Lea, suaranya bergetar menahan amarah yang membuncah di dadanya.
Alih-alih tersulut emosi, Julian justru melangkah mendekat.
Jarak di antara mereka menyusut dalam hitungan detik hingga aroma maskulin dan wangi tembakau mahal milik pria itu menguar di sekitar Lea.
Pria itu berhenti tepat di hadapannya, cukup dekat bagi Lea untuk merasakan temperatur tubuhnya, namun tetap menjaga jarak bagaikan seorang predator yang sedang mengamati mangsanya dari dekat.
`"Kau masih berani membentakku setelah apa yang kau lakukan dengan si bajingan berambut pirang itu?"` Julian berujar pelan, suaranya merendah, bernada rendah yang berbahaya.
Ia mengangkat sebelah tangannya, mencengkeram dagu Lea dengan lembut namun dengan tekanan tegas yang memaksa gadis itu untuk tetap menatap matanya.
`"Kau menguji kesabaranku, Lea. Aku tidak mengurungmu untuk menyiksamu, tetapi agar kau belajar membedakan mana pria yang benar-benar bisa melindungimu dan mana pria bodoh yang hanya akan menyeretmu ke dalam kehancuran—termasuk Teo Ozawa yang kini mati-matian mencarimu."`
Mendengar nama Teo disebut, manik mata Lea menyipit tajam. Kilatan kebencian murni terpancar jelas dari sana.
`"Jangan sebut nama bajingan itu di depanku. Aku tidak butuh perlindungan dari siapapun, apalagi dari seorang pria egois yang mengurungku hanya karena cemburu buta."`
`"Cemburu?"` Julian mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang arogan.
`"Jangan terlalu percaya diri, Lea. Apa yang kulakukan adalah bentuk kontrol atas apa yang menjadi milikku. Dan di dalam penthouse ini, aturan yang berlaku hanya satu: kau adalah milikku, dan gerak-gerikmu berada di bawah kendaliku."`
Degup jantung Lea seakan berhenti sepersekian detik mendengar kalimat arogan itu. Kalimat yang memperlakukannya bukan sebagai kekasih, melainkan sekadar benda mati yang bisa diatur sesuka hati.
Tanpa mampu lagi membendung ledakan emosi yang merusak kewarasannya, tangan Lea terangkat dengan kecepatan penuh.
`Plakkk...!`
Suara tamparan keras itu menggema nyaring di penjuru ruangan yang sunyi. Wajah Julian terhempas ke samping akibat hantaman telak tersebut.
Untuk beberapa detik, ruangan itu berubah menjadi senyap total.
Julian perlahan memalingkan wajahnya kembali ke depan. Rahangnya mengeras kaku, dan di balik manik mata gelapnya tersimpan badai kemerahan yang siap meledak kapan saja.
Napas Lea memburu hebat, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Air mata kemarahan mendesak sudut matanya, namun ia menahannya mati-matian agar tidak terlihat lemah di hadapan sang milyarder.
Dengan suara parau yang bergetar hebat penuh luka dan keputusasaan, Lea menatap tajam pria di depannya.
`"Lepaskan aku jika kamu sudah tidak mencintaiku lagi... Jangan menahan ku seperti ini..."` jerit Lea di sela isak tangis yang tertahan, melampiaskan seluruh rasa frustrasi yang menghimpit dadanya.