Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Fajar di Atas Puing-Puing
Malam telah merangkak naik ke titik tertingginya, membawa serta hembusan angin dingin yang menusuk tulang di sepanjang jalanan kota metropolitan yang basah. Di dalam kamar apartemen pribadi milik Lu Jingyan yang terletak di lantai paling atas menara komersial Lu Group, suasana terasa begitu sunyi dan mencekam. Lampu utama ruangan dimatikan, menyisakan pendar cahaya jingga dari kota yang menembus dinding kaca besar setinggi langit-langit.
Jingyan berdiri tegak di depan jendela, memegang segelas wiski tua yang belum ia sentuh sama sekali. Pikirannya berkecamuk hebat. Kejadian di kafe sore tadi—pelukannya dengan Meiying, isak tangis wanita itu, serta tatapan penuh selidik yang menyayat hati—terus berputar ulang di dalam kepalanya bagaikan rekaman film rusak yang tak bisa dihentikan.
Ia tahu tindakannya menyelamatkan Meiying secara terang-terangan telah melompati batas aman penyamarannya. Sisa-sisa faksi bawah tanah yang setia pada Zhao Tianming kini pasti menyadari bahwa Lin Meiying adalah titik kelemahan terbesar seorang direktur utama Lu Group. Risiko itu sangat nyata, dan waktu yang ia miliki semakin menipis.
Tinggal 363 hari.
Setiap detik yang berdetak di dalam dadanya adalah pinjaman waktu yang dihitung oleh takdir. Jika ia tidak bergerak lebih cepat untuk meruntuhkan sisa-sisa duri di dewan komisaris, keselamatan Meiying dan Anqi akan berada di ujung tanduk.
Pintu kaca ruang kerja diketuk pelan. Sekretaris Han melangkah masuk dengan langkah tenang namun tergesa, membawa sebuah map tebal berwarna merah tua.
"Tuan Muda," lapor Sekretaris Han dengan suara tertahan. "Semua orang suruhan yang menyergap Nyonya Meiying di kafe sore tadi sudah diamankan di fasilitas interogasi bawah tanah kita. Berdasarkan pengakuan mereka, perintah penyerangan itu bukan berasal dari Zhao Tianming yang sudah di dalam penjara, melainkan dari tangan kanan komisaris utama sendiri—Direktur Keuangan senior, Tuan Haryanto."
Mendengar nama Haryanto, rahang Jingyan mengeras seketika. Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut. Haryanto adalah salah satu petinggi tertua di dewan komisaris, orang kepercayaan kakek tirinya yang selama ini bersembunyi di balik topeng loyalitas palsu.
"Haryanto..." desis Jingyan dingin, suaranya bagaikan desiran es yang mematikan. "Tikus tua itu mengira dengan menyingkirkan Zhao Tianming, ia bisa mencuci bersih tangannya dari kasus korupsi proyek lantai 35."
"Benar, Tuan. Haryanto adalah dalang finansial yang mengatur seluruh perusahaan cangkang dan aliran dana suap sejak awal. Dan pagi besok, ia dijadwalkan memimpin rapat pleno darurat dewan komisaris untuk melengserkan kekuasaan Anda dengan dalih bahwa Anda telah menyalahgunakan wewenang perusahaan demi kepentingan pribadi—terkait perlindungan Anda terhadap Nyonya Meiying," jelas Sekretaris Han.
Sebuah seringai tipis terukir di bibir Jingyan. Alih-alih merasa terancam, matanya justru memancarkan kilat kemenangan seorang predator. "Mereka ingin menjebakku di ruang rapat pleno? Bagus. Kita akan datangi pesta perpisahan mereka."
Keesokan paginya, matahari menerobos masuk melalui celah-celah gedung tinggi, menyinari ruang rapat utama Lu Group di lantai 50. Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat tegang. Para anggota dewan komisaris dan direktur senior duduk berkelompok, berbisik-bisik dengan wajah tegang. Di ujung meja, Haryanto duduk dengan angkuh mengenakan jas abu-abu tua, memegang kendali penuh atas jalannya rapat pleno luar biasa tersebut.
Pintu ganda ruang rapat terbuka lebar.
Lu Jingyan melangkah masuk dengan langkah tegap, mengenakan setelan jas hitam legam tanpa cela. Di belakangnya, Sekretaris Han dan dua orang pengawal membimbing masuk dua orang pria berbadan kekar yang mengenakan pakaian tahanan—orang suruhan yang mencoba menculik Meiying kemarin sore, lengkap dengan rekaman pengakuan suara dan video digital di tangan mereka.
Haryanto menyipitkan matanya, berusaha menyembunyikan kepanikan yang mendadak merayap di dadanya saat melihat kehadiran Jingyan.
"Lu Jingyan!" seru Haryanto dengan nada suara dibuat-buat tegas, berdiri dari kursinya untuk memimpin serangan verbal. "Kau datang tepat waktu. Dewan komisaris hari ini akan meminta pertanggungjawabanmu atas tindakan indisipliner, penyalahgunaan aset perusahaan untuk kepentingan pribadi, dan skandal pribadi yang mencoreng nama baik keluarga Lu!"
Para direktur lain mulai bersorak mendukung ucapan Haryanto, menciptakan kehebohan di dalam ruang rapat.
Jingyan tidak berkata sepatah kata pun. Ia berjalan tenang menuju kursi utamanya, menarik kursi itu ke belakang, lalu duduk dengan postur dominan. Ia menautkan kedua tangannya di atas meja marmer hitam, menatap Haryanto tepat di matanya dengan senyum dingin yang mengerikan.
"Kepentingan pribadi, kau bilang, Haryanto?" suara Jingyan memecah kebisingan ruangan, berat dan berwibawa hingga seketika membuat seluruh isi ruangan terdiam seribu bahasa.
Jingyan memberi isyarat kepada Sekretaris Han. Layar proyektor raksasa di dinding ruang rapat mendadak menyala terang, menampilkan rekaman video pengakuan lengkap dari orang suruhan Haryanto, disertai dokumen transfer bank senilai dua miliar rupiah yang mengalir langsung dari rekening pribadi Haryanto ke sindikat penjahat tersebut untuk mencelakai Lin Meiying dan merebut dokumen proyek lantai 35.
Warna dari wajah Haryanto seketika lenyap tak bersisa. Keringat dingin langsung membanjiri sekujur tubuhnya, membuat lututnya lemas tak bertulang. Ia berteriak histeris, mencoba menyangkal bukti digital yang terbentang jelas di hadapan seluruh dewan komisaris.
"I-itu fitnah! Rekaman itu palsu! Dia merekayasanya untuk menjatuhkanku...!" teriak Haryanto panik sambil menunjuk ke arah Jingyan.
"Palsu?" Jingyan berdiri perlahan dari kursinya, melangkah mendekati Haryanto dengan aura pembunuh yang menekan udara di sekitarnya. "Kau memerintahkan orang untuk membungkam seorang wanita tidak bersalah demi menutupi kejahatan pembunuhan berencana yang kau lakukan bersama Zhao Tianming setahun lalu di proyek lantai 35. Dan kau menyebut semua bukti ini palsu?"
Haryanto jatuh terduduk di kursinya, tidak mampu lagi berkata-kata. Para direktur senior di sekitarnya menatap pria tua itu dengan tatapan jijik dan ngeri. Kepala kedua dari kawanan serigala di Lu Group telah resmi runtuh di hadapan mata mereka sendiri.
Di belahan kota yang berbeda, di bawah langit pagi yang mulai cerah, Lin Meiying duduk di teras kontrakan sempitnya. Di tangannya, surat peninggalan mendiang suaminya tergenggam erat bersama salinan berita penangkapan petinggi keuangan Lu Group pagi ini yang terpampang di layar ponselnya.
Ia menatap langit biru di atas sana, merasakan angin sepoi-sepoi menghapus sisa air mata di pipinya. Meskipun jalannya masih panjang dan rahasia besar tentang siapa sebenarnya pria berjas hitam itu belum sepenuhnya terungkap, Meiying tahu satu hal dengan pasti: keadilan yang selama ini ia tunggu-tunggu akhirnya mulai menemukan jalannya.
Dan di suatu tempat di dalam menara kaca yang menjulang tinggi, Lu Jingyan menatap bayangan dirinya di cermin, bersiap menuntaskan sisa hari-hari terakhirnya demi mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik keluarganya.