Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Retakan di Balik Topeng dan Obsesi yang Menular
Angin malam bertiup kian kencang di atas rooftop lantai lima belas, menerbangkan helai-helai rambut panjang Raisha yang terurai. Namun, hawa dingin yang mengelilingi mereka kalah membeku jika dibandingkan dengan atmosfer yang tercipta di antara dua insan yang saling terkunci tatap itu.
Cengkeraman jemari Aldo di pergelangan tangan Raisha terasa begitu kuat dan hangat, sebuah kehangatan yang kontras dengan aura dominatif dan raut wajahnya yang mendingin kelam.
Raisha tidak meringis, tidak juga mencoba menarik tangannya secara mendadak. Dia membiarkan pasang mata cokelat gelap milik Aldo mengunci pandangannya. Dengan sisa keberanian dan ketegasan yang masih bertengger di dadanya, Raisha menatap pria itu lekat-lekat, menembus topeng keangkuhan yang selama ini menyelimuti wajah tampannya.
"Lalu tujuan kamu mendekati aku apa, Al?" tanya Raisha dengan suara yang stabil, meski ada getar halus yang ditahannya di dalam tenggorokan.
"Kalau bukan karena instingmu melihat aku bersama pria lain? Kalau bukan karena obsesi anehmu yang cuma bergairah kalau lihat cewek udah berpemilik?"
Pertanyaan tajam itu mengudara di antara mereka, membelah keheningan rooftop bagaikan sembilu.
Aldo terdiam. Rahangnya mengeras kaku. Lidahnya yang biasa begitu lihai merangkai kata-kata manis mendadak terasa kelu, mengunci rapat-rapat jawaban di balik tenggorokannya. Untuk pertama kalinya di dalam hidup seorang Aldo Otavian, dia berada di titik di mana dia tidak mampu menyusun kebohongan atau kalimat manipulatif yang pas untuk menyanggah.
Kenyataannya, ada sebuah kebenaran membahayakan yang bahkan enggan diakui oleh Aldo kepada dirinya sendiri.
Selama ini, setiap kali wanita yang dikejarnya, seperti Mita, memutuskan kekasihnya demi dirinya, saklar di dalam otak Aldo akan seketika mati. Rasa tertariknya menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa hambar dan dingin yang spontan membuat pria itu mencampakkan mereka tanpa ampun. Namun, pada diri Raisha, ada yang cacat dari rumus psikologisnya sendiri.
Sejak awal, ketika Aldo sadar Raisha adalah cewek single yang menyimpan rasa padanya, Aldo tidak pernah bisa sepenuhnya memperlakukan Raisha sedingin dan sekejam wanita-wanita lain. Ada celah di dalam hatinya yang retak, sebuah bagian hampa yang dibentuk oleh benteng trauma masa lalunya, yang seolah tanpa disadari perlahan terisi oleh kehadiran Raisha. Caranya menatap Raisha saat tertidur di atas motor, dorongan spontan untuk mengusap kepalanya saat sakit, hingga rasa rindu yang tak beralasan saat Raisha menarik diri... itu semua bukan bagian dari permainan psikologisnya.
Tapi mengakui hal itu pada Raisha? Mengakui bahwa gadis bergaun sederhana di hadapannya ini telah berhasil meretas pertahanan emosionalnya tanpa perlu berstatus milik pria lain? Itu sama saja dengan menyerahkan senjata utama dan membiarkan egonya hancur lebur.
Aldo memilih tetap bungkam. Cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Raisha perlahan melonggar, lalu mengendur sepenuhnya hingga terlepas.
Raisha menghela napas panjang, mengusap bekas cengkeraman di kulitnya yang sedikit memerah. Diamnya Aldo adalah jawaban paling benderang bagi Raisha. Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Raisha membalikkan badan dan melangkah mantap menuju pintu rooftop, meninggalkan Aldo yang berdiri sendirian di bawah pendar redup lampu atap, menatap telapak tangannya sendiri yang kini terasa hampa.
Sementara di sisi lain gedung kantor, di sebuah apartemen studio di kawasan Jakarta Selatan, suasana di dalam kamar Mita terasa begitu mencekam.
Lampu kamar dibiarkan mati, hanya menyisakan pendar cahaya dari layar ponsel yang menyoroti wajah Mita yang pucat dan dipenuhi sisa-sisa air mata. Kekacauan di pantry tadi siang terus berputar di kepalanya bagaikan mimpi buruk.
Rasa malu karena dipojokkan oleh Raisha, ditambah ketakutan akan kebohongannya yang mulai terbongkar di hadapan rekan-rekan kantor, membuat jiwanya berada di ambang batas.
Namun, di atas semua rasa malu itu, ada satu racun yang jauh lebih membakar isi dadanya: obsesi pada Aldo.
Mita sudah benar-benar jatuh dan tenggelam ke dalam pesona manipulatif Aldo. Baginya, dicampakkan secara mendadak oleh Aldo setelah dia mengorbankan hubungannya sendiri adalah sebuah penolakan yang tidak sanggup diterimanya. Logika Mita sudah sepenuhnya rusak oleh manipulasi yang ditanamkan Aldo.
Di dalam kepalanya yang kalut, Mita merajut sebuah analisis yang membengkok. Dia ingat betul alasan Aldo mencampakkannya dulu: karena Mita sudah tidak berpasangan lagi. Dan dia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Aldo belakangan ini mendadak kembali beringas mengejar Raisha tepat setelah rumor Raisha dekat dengan pengusaha kaya itu beredar.
Jadi itu kuncinya... batin Mita dengan mata membelalak liar di dalam kegelapan kamar. Jemarinya meremas sprei kasur dengan kuat.
'Dia cuma mau cewek yang udah punya cowok. Kalau aku punya cowok lagi, dia pasti bakal lirik aku lagi. Dia pasti bakal kejar aku lagi kayak dulu!'
Pikiran gila itu mendadak menguasai seluruh kewarasan Mita. Rasa desperasi untuk mendapatkan kembali perhatian Aldo mendorongnya ke arah keputusan yang sangat ekstrem dan tanpa arah.
Dengan tangan gemetar, Mita membuka aplikasi kencan di ponselnya. Dia menyapu layar dengan cepat, memindahkan profil demi profil tanpa peduli rupa, latar belakang, atau kepribadian pria-pria di dalam aplikasi tersebut. Targetnya malam ini hanya satu: menemukan pria mana pun yang mau diajak berpacaran secara kilat.
Bagi Mita, pria baru itu nantinya tak lebih dari sekadar barang pajangan, sebuah alat bantu atau 'syarat sah' agar statusnya kembali berpasangan di mata Aldo.
Dia rela menumbalkan pria asing mana pun demi memenuhi syarat aneh Aldo, berharap pria tampan di lantai lima itu akan kembali menatapnya dengan binar gairah yang sama seperti dulu.
Mita menyunggingkan senyum miring di tengah kegelapan kamar saat salah satu usapannya membuahkan hasil match.
"Tunggu aku, Al," bisiknya pelan dengan nada suara yang bergetar penuh obsesi beracun.
"Aku bakal buktiin kalau aku bisa memenuhi permainan kamu..."
Keesokan paginya, dinamika di lantai lima berjalan dalam ketegangan yang tersembunyi.
Raisha tiba di kantor dengan raut wajah yang jauh lebih tenang. Pengakuannya di rooftop kemarin sore seolah menjadi garis batas yang tegas bagi hatinya. Meski ada bagian kecil di dalam dadanya yang masih terasa perih akibat rasa cinta yang dipaksa padam, Raisha merasa legah. Dia tidak lagi membiarkan dirinya mengambang di atas awan ilusi.
Di meja kerjanya, tidak ada lagi cangkir kopi caramel macchiato atau catatan manis dari Aldo.
Aldo sendiri duduk di kubikelnya dengan sikap yang berubah total. Pria itu tidak lagi mendatangi meja Raisha, tidak lagi memamerkan perhatian terang-terangan di depan rekan kantor, dan memilih membenamkan diri di balik tumpukan dokumen.
Namun, setiap kali Raisha berdiri atau berjalan melewati lorong, tatapan mata cokelat gelap Aldo akan secara otomatis mengikutinya, bukan lagi tatapan memburu seorang pemburu pada mangsanya, melainkan tatapan berjarak yang dipenuhi perang batin yang membakar dari dalam.
Reno yang baru saja kembali dari ruang rapat melangkah menghampiri meja Raisha, menepuk pelan sudut meja sahabatnya itu seraya berbisik, "Suasana di lantai lima kok mendadak dingin banget ya hari ini? Si Aldo kayak patung, si Mita dari tadi bolak-balik toilet mukanya ditekuk. Lu aman kan, Ra?"
Raisha menoleh pada Reno, lalu menyunggingkan senyum tipis yang tulus dan tenang.
"Aman banget, Ren. Permainannya udah selesai."
Namun, di sudut ruangan dekat lemari arsip, Mita sedang berdiri seraya menggenggam ponselnya erat-erat. Matanya melirik tajam ke arah Aldo, lalu beralih ke layar ponselnya yang menampilkan pesan dari seorang pria baru dari aplikasi kencan. Sebuah bidak catur baru telah dipasang oleh Mita, tanpa menyadari bahwa lingkar obsesi di lantai lima ini justru akan terseret ke dalam kekacauan yang jauh lebih besar dan berbahaya.