Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35_Tamu manis yang misterius
[2 hari setelahnya]
Aku berjalan pelan keluar dari rumah, matahari pagi menyinari seluruh kota, suara langkah kaki dan kereta kuda mulai terdengar ramai di kota.
Tapi di area kumuh, suasananya beda.
Semua orang sedang berkumpul dengan sesama ras mereka. Mereka berlutut melingkar di depan patung-patung kecil yang mereka buat sendiri dari batu sisa dan kayu patah.
Aku berhenti dan memperhatikannya.
Di sisi kiri, para dwarf berlutut di depan patung pria berjanggut dengan palu besar di punggungnya. Dewa mereka, Hermes, Dewa Perang.
Dan di sisi kanan, para manusia binatang — klan anjing, kucing, dan kelinci — mereka semua berlutut di depan satu patung yang sama.
Patung seorang pria bertubuh besar dengan tanduk rusa yang melingkar dan ekor panjang yang menjuntai sampai ke tanah. Di tangannya memegang benih yang bersinar redup. Akar-akar diukir menjalar dari kakinya ke tanah.
Dewa Alam, Gaia.
Aku ingat cerita Guru Yue dulu.
Yang keempat, Dewa Alam Gaia, dia yang menciptakan manusia binatang, mereka dianugerahi kekuatan yang bernama Qi.
Karena itulah di tubuh mereka mengalir Qi, dengan menyatukan Qi dan mana yang ada di tubuh mereka, mereka bisa menciptakan sihir yang berfokus pada serangan.
Seorang ibu dari klan kelinci memeluk anaknya erat sambil berbisik pelan ke patung itu.
"Dewa Gaia... tolong beri kami keberuntungan hari ini. Agar Qi kami tidak terputus di tengah jalan... agar rencana yang telah kami buat dapat berhasil..."
Semua manusia binatang di belakangnya ikut menundukkan kepala dalam-dalam. Telinga mereka turun. Ekor mereka melingkar gelisah.
*Duk.*
Dahi mereka menyentuh tanah becek itu bersamaan.
Di sisi tengah yang agak terpisah, para Elf berlutut dengan punggung tegak dan mata terpejam. Di hadapan mereka patung wanita berambut panjang seperti dedaunan, memegang buku dan tongkat bercabang.
Dewi Roh, Sylvia.
Dio memimpin dengan suara pelan.
"Dewi Sylvia... dengarkan sihir roh kami. Jangan biarkan pedang elemental kami padam lagi. Hari ini biarlah para roh membimbing kami ke jalan yang seharusnya."
*Ssshhh...*
Cahaya hijau tipis berdesir pelan di sekitar kaki mereka, lalu hilang.
Di samping mereka, para Dark Elf berlutut di depan patung wanita dengan lingkaran sihir berlapis di dadanya, tangannya terbuka seperti sedang memeluk.
Dewi Kehidupan, Olyvier.
Syia menunduk dalam, benar-benar berbeda dengan dirinya yang biasanya.
"Dewi Olyvier... beri kami pelindung yang lebih kuat hari ini. Kami tahu sihir pelindung kami rapuh, tapi biarkan hari ini ia cukup untuk menahan satu tebasan... demi teman kami."
*Wung...*
Lingkaran ungu kusam muncul sekilas di depan telapak tangan mereka.
Aku yang melihat itu ikut mengepalkan tangan tanpa sadar. Baru kali ini aku melihat mereka berdoa bukan karena takut, tapi karena berharap.
Aku berjalan ke arah mereka, ingin ikut berlutut di samping mereka.
Tapi saat itu juga—
*Bruk.*
Terdengar suara anak terjatuh di belakangku.
Aku langsung membalikkan badan dan menghampirinya.
"Kamu... tidak apa-apa?"
Air mata anak itu mulai ingin keluar, alisnya mengerut, dan bibirnya bergetar, dia mengusap-usap luka yang ada di lututnya.
"Sakit!"
Aku menjulurkan tanganku kepadanya.
"Sudah.. jangan menangis lagi."
Dia mengusap air matanya dan meraih tanganku, ketika dia sudah berdiri aku mengusap kepalanya dengan lembut.
"Jadi... Apa yang sedang kau lakukan disini? Dan bagaimana caramu masuk?"
Dia mengerutkan bibirnya, sambil menundukkan wajahnya.
"Anu... Aku tidak berniat jahat, hanya saja... Aku terpisah dengan orang tuaku"
Aku tersentak sambil menoleh ke arah semua orang.
_harusnya tidak ada manusia selain aku_
Aku terus menoleh ke arah sekitar.
Tapi anak itu terus menundukkan wajahnya sambil mengusap-usap telapak tangannya, aku yang melihat hal itu langsung berjongkok dan memandang wajahnya.
"Kamu.. bukan dari area ini kan?"
Dia mengangkat wajahnya, lalu mengangguk pelan.
"Hmm... Apa kau akan melakukan hal jahat kepadaku?"
Aku langsung mengusap kepalanya dengan lembut.
"Mana mungkin, aku bukan orang jahat kok, tenang saja.."
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang keras dari perutnya, dia langsung memegang perutnya dengan kedua tangannya, pipinya berubah menjadi merah padam.
*Kruuuk...*
Aku langsung menggenggam tangannya dengan pelan, lalu menuntunnya ke arah semua orang, tangannya terasa sangat dingin, matanya juga nampak sayu.
Para perwakilan ras yang sudah selesai berdoa pun langsung menghampiriku, Stella yang melihatku sudah membaik langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangannya padaku "Sora! Apa yang kau sedang lakukan?"
Anak itu langsung bersembunyi di belakangku, sambil menggenggam bajuku dengan erat.
Stella dan Syia yang melihat anak itu langsung berlari ke arahku. Langkah Stella yang biasanya anggun jadi setengah berlari, sementara Syia langsung jongkok biar sejajar dengan Cecilia.
"Wah... lihat pipinya," bisik Stella sambil menahan napas, tangannya sudah gatal ingin mencubit tapi takut bikin takut.
Syia malah sudah meleleh. "Kakak boleh pegang tangannya sebentar nggak? Dingin banget... sini kakak hangatin ya."
Mira dari belakang sudah mengeluarkan sapu tangan kecil dari sakunya dan tanpa sadar mulai merapikan rambut Cecilia yang berantakan.
Aku menjulurkan tanganku ke samping untuk melindunginya. "Sepertinya kalian sudah terlalu berlebihan."
Mereka semua langsung terdiam dan menundukkan kepala mereka. "Kami minta maaf..."
Aku berbalik badan dan berjongkok sambil menatap ke arahnya. "Ouh iya, aku belum menanyakan namamu, bisa kau beri tahu kepadaku... siapa namamu?"
Dia mengangguk pelan kepadaku. "Etto... namaku, Cecilia..."
Aku tersenyum tipis kepadanya. "Cecilia ya... nama yang indah ya."
Senyum di wajahnya mulai terlihat, dan pada saat itu Roth, Dio, dan Mira akhirnya datang menghampiri kami yang sedang berkumpul.
Roth yang melihat anak itu langsung tersentak, lalu terdiam. Pupil matanya mengecil.
_Apa ini? Matanya... warna dan sorotnya mirip sekali dengan Sora waktu pertama kali kutemui. Tenang, tapi seperti menyimpan jurang di dalamnya. Instingku berkata untuk tidak membuat gadis kecil itu menangis, dia benar-benar berbahaya, sama seperti..._
Dia melirik ke arahku yang sedang memandangi gadis kecil itu.
Mira menepuk bahu Roth lalu menoleh ke arah wajahnya. "Kakak, apa kau tidak apa-apa?"
Roth langsung kembali sadar lalu menoleh ke arah Mira. "Ya... begitulah."
Mereka semua berjalan menghampiri gadis kecil itu.
Gadis itu sudah mulai melepaskan genggamannya dariku, dia mulai berjalan maju ke arah semua orang dengan bibir yang masih gemetar. "Anu... se-senang bertemu dengan kalian semua." Mata kecilnya menatap ke arah semua orang.
Para perempuan langsung leleh. Stella tanpa sadar menangkup kedua pipinya sendiri saking gemasnya, Syia menggigit bibir bawahnya menahan jeritan, dan Mira sudah jongkok dengan tangan terbuka.
"Kyaaa! Dia imut banget!"
Gadis kecil yang ketakutan itu langsung tersentak dan tanpa sadar berlari lagi ke arahku.
Sementara itu aku dan Dio sedang berbincang tentang strategi yang akan kami gunakan. "Setelah panjatan doa sudah selesai, kami mengirim beberapa kelompok untuk pergi menyampaikan rumor kepada para pedagang di setiap kota, untuk memusuhi gereja dan pemimpin daerah, agar bisa terbebas dari monopoli keuangan yang selama ini mereka lakukan..."
Aku mengerutkan dahiku. "Jadi? Bagaimana tentang alat itu..."
Dia langsung mengeluarkan sebuah botol kaca yang diisi sebuah kertas.
*Klink.*
"Maksudmu sihir formula yang dapat membuat ledakan yang cukup besar?" Dia mengangguk pelan. "Sepertinya berjalan lancar, karena aku baru saja mendapat kabar bahwa bukan hanya pedagang kota ini saja yang marah karena masalah ini tapi para penduduk juga."
Aku menatap ke arah langit sambil menghela napas. "Huhh... tidak kusangka, strategi yang kita buat akan berjalan lebih cepat dari perkiraan..."
Dia tiba-tiba saja menundukkan wajahnya, bibirnya bergetar. Aku yang menyadari tingkah anehnya langsung mengerutkan alisku. "Apa ada masalah? Jika ada katakan saja."
Dia mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak... bukan karena itu, hanya saja... setelah mendengar bahwa tubuh anda bisa diambil alih oleh pemimpin musuh, semua orang... langsung kehilangan semangatnya, bahkan kami juga."
Aku menepuk bahunya dengan keras sambil mengerutkan dahiku dan menatap tajam ke arahnya. "Dengar! Aku ingin kita terus melanjutkan rencana ini... aku tidak peduli apapun yang terjadi padaku, aku hanya... ingin mengakhiri takdirku ini."
Aku melepaskan genggamanku dari bahunya. "Aku mohon padamu, kali ini saja... tolong percayalah kepadaku, aku akan bisa mengatasinya."
Dia membusungkan dadanya secara perlahan-lahan.
_jangan bercanda. Apa yang kau lakukan benar-benar gila. Tiba-tiba meminta kami berkumpul tanpa Stella dan memberitahu kondisi tubuhnya. Tentu saja kami marah dan sedih. Tapi... dia masih berdiri tegak di depan kami, seolah-olah dia bisa mengatasinya sendiri. Rencana untuk menghapus kesadarannya sementara dan melawan dari dalam itu mustahil... tapi kalau dia yang bilang, aku ingin percaya. Bahwa itu berhasil_
Dio langsung menatap ke arahku dengan dahi yang mengerut. "Aku percaya..."
Tiba-tiba saja gadis kecil itu langsung memelukku dengan erat, dia mulai mengusap wajahnya di bajuku, Dio yang melihat itu langsung menatap ke arahku "hei.. sebenarnya, siapa anak ini? Dan bagaimana dia bisa masuk ke sini"
Aku mengelus kepalanya dengan lembut "sebenarnya aku tidak tahu, saat aku hendak berjalan ke arah kalian, tiba-tiba saja gadis kecil ini muncul di belakangku"
Dio langsung menatap ke arah gadis itu sambil mengerutkan dahinya _mustahil! Bagaimana bisa sora yang bisa merasakan hawa kehadiran seseorang, bisa sampai tidak sadar seperti itu_
Gadis itu menatapku, matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar "seram! Kakak-kakak itu benar-benar sangat seram!" Dia menunjuk ke arah syia "apalagi kakak yang itu!"
Syia yang mendengar hal itu langsung tersentak, matanya membelalak "aku! Bagaimana mungkin?"
Aku langsung berjongkok di hadapannya, lalu mulai menarik cincin yang telah kudapat dari Mira, lalu memberikannya kepada anak itu "ini, aku berikan untukmu, seharunya cincin ini bisa menyesuaikan bentuk tubuh penggunanya"
Dia langsung tersenyum lebar melihat cincin itu, ketika dia hendak mengambilnya aku langsung menariknya dengan cepat "tapi, aku ingin kau akrab dengan yang lainnya, selama kau tinggal disini, kau mengerti?"
Dia mengangguk pelan kepadaku, setelah melihat itu aku langsung memberikan cincin itu kepadanya, anak itu langsung tersenyum dan langsung memasangkan cincin itu ke jari tengah nya
*TING!*
Tiba-tiba saja cincin itu bersinar, dan mulai mengubah warna rambut gadis kecil itu dari yang warnanya putih menjadi hitam seperti diriku, gadis itu langsung berlari ke sebuah genangan air dan mulai bercermin di atasnya
Wajahnya tampak bahagia, dengan senyum lebar yang terus muncul di wajahnya tersebut
Mira pun datang menghampiri ku sambil menyilangkan kedua tangannya, dia menoleh ke gadis kecil itu "hohh.. jadi, kamuflase yang didapat gadis tersebut adalah perubahan pada rambutnya, ya"
Aku menoleh ke arah Mira "tunggu dulu, maksudmu cincin itu memberikan efek kamuflase yang berbeda-beda tergantung dengan pemakaiannya?"
Mira mengangguk pelan kepadaku "tentu saja, apa aku tidak bilang kepadamu?"
Aku langsung mengerutkan dahiku "tidak! Kau tidak pernah bilang apa-apa!"
Roth, syia dan Stella datang menghampiri kami, Stella langsung tersenyum tipis "tenang saja sora, penyamaran mu sempurna, walau bukan fisik mu yang berubah, tapi hawa kehadiran mu benar-benar sangatlah berbeda saat itu"
Aku langsung menghela nafasku sambil mengelus dadaku "huhh.. syukurlah"
Gadis itu berlari ke arahku dan berdiri di depanku, sambil tersenyum lebar "terimakasih, aku benar-benar sangat menyukai cincin nya, papah!"
*Hening.*
*Tuk.*
Permen di tangan Stella jatuh.
*Grep.*
Roth refleks pegang gagang pedang.
Suara kereta kuda dari jalan utama seolah hilang.
Stella terpaku, matanya membelalak dengan senyum di wajahnya, Syia menganga sangat besar, sementara Mira hanya menggelengkan kepalanya
Roth yang dari tadi waspada, tangannya refleks menyentuh gagang pedangnya.
Aku sendiri terpaku. Matanya yang hitam itu... sorotnya... mirip sekali denganku.
_Tunggu... rambut hitam... warna mata itu... kenapa? gadis kecil ini sangat mirip terhadapku?_