Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Malam Hari

Lampu kamar hanya menyala redup. Di dalam ruangan luas bernuansa gelap itu, seorang pria terbaring santai di atas kasur king size.

Namun tidak setenang biasanya.

Kaos hitam yang dikenakannya tergeletak begitu saja di lantai. Beberapa perban baru tampak melilit bagian lengan dan bahunya.

Altair menatap langit-langit kamar. Wajahnya tetap datar. Tetapi sorot matanya jauh lebih dingin dari biasanya.

Beberapa jam lalu seseorang mencoba menyerangnya. Bukan ancaman besar. Hanya cukup merepotkan. Namun tetap saja... Pria itu tidak suka disentuh.

Apalagi diserang.

Ponsel di atas nakas bergetar saat ia mengambilnya. Tanpa banyak basa-basi, pria itu menekan nomor yang sudah sangat dikenalnya. Tak sampai dua dering. Sambungan terhubung.

"Ya, Tuan." Suara Aron terdengar tenang dari seberang.

Altair memejamkan mata sejenak. "Loren Vance."

Aron langsung mengenali nama itu. Salah satu petinggi perusahaan investasi yang beberapa bulan terakhir diam-diam mencoba mengganggu beberapa jalur bisnis mereka.

"Perusahaan?" tanya Aron singkat.

Altair tersenyum tipis.

Tidak ada kehangatan sedikit pun dalam senyuman itu. "Vance Holdings."

Hening sesaat. Aron sudah paham. Sangat paham. Karena jika Altair sampai menyebut nama orang sekaligus nama perusahaannya...

berarti keputusan sudah dibuat. "Tidak perlu terlalu kasar."

Suara Altair terdengar santai. "Tapi pastikan dia mengerti konsekuensi membuat masalah denganku."

"Baik, Tuan."

Klik.

Sambungan terputus. Altair meletakkan ponselnya kembali.

Ruangan kembali sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar pelan.

Pria itu mengangkat salah satu tangannya lalu memandang luka kecil di buku jarinya.

Entah kenapa. Pikirannya malah melayang ke apartemen tadi malam.

Ke seorang gadis yang bahkan tidak mengenalnya dengan baik. Gadis yang panik. Bawel. Curiga pada semua orang. Dan terlalu mudah menunjukkan apa yang sedang dipikirkannya. Evelyn Danesha.

Altair mengingat bagaimana gadis itu sibuk mencari kotak P3K. Mengomel tanpa henti. Menyuruhnya duduk diam.

Bahkan sempat memarahinya karena tidak menjaga tubuh sendiri. Sangat aneh.

Karena kebanyakan orang justru akan takut berada di dekatnya. Namun Evelyn berbeda. Mungkin karena tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.

Atau mungkin memang sesederhana itu.

Pria itu menghembuskan napas pelan. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat.

Senyuman tipis. Sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

Matanya kembali terpejam.

Namun bayangan wajah Evelyn tetap muncul di pikirannya. Dan itu membuat senyuman kecil itu bertahan sedikit lebih lama.

------

Keesokan Paginya Pukul

08.49.

Universitas mulai ramai oleh mahasiswa yang lalu-lalang menuju gedung perkuliahan. Cuaca pagi cukup cerah. Angin sepoi-sepoi membuat suasana terasa nyaman.

Evelyn berjalan santai di trotoar kampus sambil membawa tas di bahu. Hari ini suasana hatinya lumayan bagus.

Tidak ada pembunuhan.

Tidak ada orang pingsan. Tidak ada berita mengerikan. Setidaknya sampai saat ini.

" "Sungguh pagi yang damai... gumamnya.

Namun baru beberapa langkah. Seseorang memanggilnya dari belakang.

"Evelyn!"

Gadis itu menoleh. Kemudian tersenyum. "Oh."

Devan berjalan menghampirinya. Berbeda dari biasanya, pagi ini pria itu terlihat jauh lebih cerah.

Senyumnya bahkan hampir tidak lepas sejak tadi.

Evelyn langsung

menyipitkan mata curiga. "Lo habis menang undian?"

Devan tertawa. "Bukan."

"Habis nemu harta karun?" Evelyn.

"Bukan juga." Devan.

"Habis jadian?" Evelyn.

Kali ini Devan hampir tersedak oleh ludah sendiri.

"Evelyn!"

"Apa?"

"Tebakan lo makin ngawur."

Evelyn terkekeh puas. "Nah berarti ada sesuatu."

Devan hanya menggeleng sambil tertawa kecil. Mereka kemudian berjalan berdampingan menuju gedung fakultas.

Obrolan ringan pun mengalir begitu saja. Mulai dari tugas kuliah. Dosen yang terkenal killer. Sampai kejadian-kejadian aneh yang terjadi beberapa hari terakhir.

"Elo udah baikan?" tanya Devan.

Evelyn langsung tahu maksudnya. Kejadian di toilet.

Ia mengangguk. "Udah kok."

"Masih pusing?"

"Kadang."

"Kalau ada apa-apa bilang aja."

Evelyn tersenyum kecil. "Oke, Pak Ketua Tim Penolong."

Devan tertawa lagi. Entah kenapa melihat Evelyn bisa bercanda seperti biasa membuatnya sedikit lega.

Mereka hampir sampai di gedung kelas ketika Devan tiba-tiba berdeham pelan. Seolah sedang mengumpulkan keberanian.

"Ehm..."

"Hm?" Evelyn menoleh.

Devan menggaruk belakang lehernya. Agak gugup. Sesuatu yang jarang terlihat darinya.

"Kelas lo selesai jam berapa hari ini?"

Evelyn berpikir sebentar.

"Jam sebelas tiga puluh."

Devan mengangguk pelan.

Lalu tersenyum.

"Kalau gitu... Mau makan siang bareng?"

Evelyn berkedip. Kemudian langsung menjawab santai.

"Boleh."

Lagipula dia memang harus makan siang. Dan Devan cukup menyenangkan untuk diajak ngobrol. Wajah Devan terlihat sedikit lebih cerah setelah mendengar jawaban itu.

"Kalau gitu nanti gue tunggu."

"Oke."

Mereka akhirnya sampai di depan kelas Evelyn. Gadis itu berhenti lalu membuka pintu kelas.

"Dadah, Kak Tingkat."

Devan langsung menghela napas. "Jangan panggil gue gitu."

"Kenapa?"

"Bikin tua."

Evelyn tertawa. "Padahal emang tua."

"Evelyn!"

"Bye!"

Tanpa memberi kesempatan membalas, gadis itu buru-buru masuk ke kelas. Meninggalkan Devan yang hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum pasrah.

Dan entah kenapa... pagi itu terasa jauh lebih menyenangkan daripada biasanya.

----

Pagi itu kelas masih belum dimulai.

Beberapa mahasiswa masih sibuk mengobrol, membuka laptop, atau sekadar bermain ponsel sambil menunggu dosen datang.

Evelyn masuk ke dalam kelas dengan langkah santai. Matanya langsung menemukan sosok yang sudah dikenalnya.

Celine. Seperti biasa. Sudah datang lebih dulu.

Gadis itu sedang mengetik sesuatu di laptopnya sambil sesekali menggigit ujung pulpen.

"Ehem." Evelyn menjatuhkan diri ke kursi di sampingnya. "Pagi, manusia rajin."

Celine menoleh. "Pagi juga, manusia yang hampir selalu telat."

"Eits." Evelyn mengangkat telunjuk. "Hari ini gue datang tepat waktu."

"Iya." Celine melirik jam dinding. "Selisih sebelas menit sebelum kelas dimulai."

"Itu tetap tepat waktu."

"Standar lo rendah banget."

Evelyn terkekeh lalu membuka tasnya. Namun beberapa detik kemudian ia seperti teringat sesuatu.

"Celine."

"Hm?"

"Kael itu jurusan apa sih?"

------

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Celine perlahan menoleh. Matanya membesar. Seolah baru saja mendengar pengakuan cinta nasional.

"..."

"..."

Evelyn langsung menghela napas.

"Nah."

"Nah kan."

"Gue tau bakal gini reaksinya."

Celine langsung meraih bahu Evelyn. "KENAPA NANYA KAEL?!"

"Pelan-pelan, anjir!"

"ΚΕΝΑΡΑ?!"

"Orang-orang liatin kita weh!"

Celine tidak peduli.BMatanya masih berbinar seperti wartawan yang baru menemukan gosip artis terbesar tahun ini.

Evelyn langsung memijat pelipisnya. "Ya ampun. Gue baru nanya jurusan doang."

"Tapi kenapa harus Kael?"

"Nah itu dia."

Evelyn menunjuk wajah temannya. "Makanya gue jelasin dulu."

Karena kalau tidak, Celine pasti akan membuat teori konspirasi sendiri. Dan biasanya teori buatan Celine jauh lebih berbahaya daripada kenyataan.

Akhirnya Evelyn menceritakan kejadian semalam. Tentang bagaimana ia menemukan Kael dalam kondisi terluka di parkiran apartemen. Bagaimana ia menyeret pria itu ke unitnya. Bagaimana ia mengobati lukanya. Dan-

"Tunggu." Celine mengangkat tangan. "Maksud lo... Lo bawa Kael ke apartemen lo?"

"Iya."

"Berdua?"

"Iya."

"Di malam hari?"

"Iya."

Celine langsung memegang dada. Seolah terkena serangan jantung.

"Ya Tuhan..."

"Celine."

"Ya Tuhan..."

"Celine."

"Gue iri."

BRAK.

Evelyn langsung memukul meja. "FOKUS WOI!"

Beberapa mahasiswa menoleh ke arah mereka.Namun kedua gadis itu sudah terbiasa menjadi pusat perhatian tanpa sengaja.

Celine langsung terkikik. "Oke oke lanjut."

Evelyn menghela napas panjang. "Terus pas gue mau ngobatin dia..."

Celine langsung mencondongkan badan. "Mau ngobatin..."

"Iya."

"..."

"Kenapa makin dekat?"

"LANJUT!"

Evelyn menahan keinginan melempar buku. "Karena luka di bahunya, hoodie dia dilepas."

Mata Celine langsung membulat lagi. "HOODIENYA DILEPAS?!"

"Ya Tuhan... SUARA LO!"

"Terus?"

"Terus apanya?!"

"Sixpack nggak?" ucap Celine agak berbisik.

Evelyn terdiam. Lalu tanpa sadar mengingat pemandangan semalam. Tubuh atletis. Bahu lebar. Lengan berotot. Dan

"Pokus Evelyn."

Celine langsung menepuk meja. "ANJIR BERARTI ADA!"

"Woi!" Wajah Evelyn

langsung memerah. "Bukan itu poin ceritanya!"

Celine tertawa sampai hampir jatuh dari kursinya.

Sementara Evelyn sudah ingin pindah universitas.

Setelah cukup lama

menggoda, akhirnya Evelyn melanjutkan cerita sampai bagian hoodie Kael yang tertinggal di apartemennya.

"Oh."

Celine langsung tenang.

itu?" "Jadi lo mau balikin hoodie

"Nah."

"Ini baru poin utamanya."

Celine mengangguk.

"Oke masuk akal."

"Tuh kan."

"Gue kira lo mulai jatuh cinta."

Evelyn menatap datar.

"Kalau gue jatuh cinta, orang pertama yang gue kasih tau bukan lo."

"Kok?"

WA." "Karena lo bakal bikin grup

sih." Celine terdiam. "...iya juga

"NAH KAN!"

Mereka berdua tertawa.

Setelah suasana kembali tenang, Celine akhirnya menjawab pertanyaan awal Evelyn.

"Kael itu anak TI sih."

Evelyn langsung mengangguk.

"Oh."

"Dia tingkat atas."

"Pantes."

"Kalau nggak salah kelasnya ada di gedung Teknik bagian timur."

Evelyn tersenyum puas. "Bagus. Nanti antar gue ya..."

Celine langsung menyeringai.

"Ohooo..."

"Nggak."

"Buat balikin hoodie."

"Ohooooo..."

"Celine."

"Siap. Gue antar. Tapi Kalau ternyata kalian saling tatap terus jatuh cinta gimana?"

Evelyn mengambil buku.

Celine langsung kabur sambil tertawa.

"WOY JANGAN LEMPAR!"

Dan seperti biasa... kelas pagi itu belum dimulai. Tapi keributan antara Evelyn dan Celine sudah lebih dulu dimulai.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!