Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 : Arga Mulai Curiga
Sulastri masih berdiri di tengah ruang tamu setelah panggilan dengan Benni berakhir. Ponsel yang berada di tangannya perlahan ia turunkan.
Wajahnya terlihat semakin gelisah. "Minggu depan..." gumamnya.
Ia berjalan menuju sofa lalu duduk dengan kasar. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Jika Benni benar-benar pulang, ia tidak bisa lagi mengendalikan keadaan seperti sebelumnya.
Apalagi Winarsih masih tinggal di Desa Sekar Sari. "Bagaimana kalau Benni bertemu dengannya?" Sulastri menggeleng cepat. "Tidak boleh." Ia menggigit bibirnya. "Benni tidak boleh bertemu Winarsih."
Selama ini Sulastri telah menceritakan berbagai kebohongan kepada putranya. Ia mengatakan bahwa Winarsih adalah wanita yang suka berselingkuh, selalu pulang malam dan pergi dengan laki-laki lain. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Sulastri-lah yang selama ini mempermainkan keadaan. Ia yang memfitnah Winarsih, menyebarkan berita palsu dan bahkan ia pula yang mengusir Winarsih dari rumahnya.
Semuanya dilakukan agar Benni menceraikan Winarsih secepatnya, karena Sulastri tidak ingin Winarsih menikmati uang kiriman dari Benni.
Namun sekarang keadaan berubah, Benni akan pulang dan jika mereka bertemu...
"Semua bisa terbongkar." Sulastri mengepalkan tangannya. "Tidak. Aku tidak boleh membiarkannya."
Sulastri masih berdiri di tengah ruang tamu dengan wajah penuh kecemasan. Ia berjalan mondar-mandir sambil sesekali memijat pelipisnya.
"Aku harus membuat Winarsih pergi dari desa ini," gumamnya.
Namun kali ini, ia tidak bisa lagi mengandalkan sekadar fitnah. Ibu Ratna sudah mengetahui sifatnya dan jelas tidak akan mudah dipengaruhi.
"Kalau Ibu Ratna tidak mau mengusirnya..." Sulastri berhenti melangkah. "Aku harus mencari cara lain."
Pikirannya mulai berputar.
Ia bisa menyebarkan gosip baru kepada warga. Bisa membuat Winarsih merasa tidak nyaman. Bahkan, jika perlu, ia akan membuat warga percaya bahwa keberadaan Winarsih hanya akan membawa masalah bagi desa.
Yang paling penting, semua itu harus dilakukan sebelum Benni pulang.
"Benni tidak boleh bertemu dengannya." Sulastri kembali duduk. "Kalau sampai Benni bertemu Winarsih dan mendengar cerita dari mulutnya sendiri, semua kebohonganku selama ini akan terbongkar."
Tangannya mengepal. "Dan kalau itu terjadi, aku yang akan kehilangan semuanya." Ia menatap kosong ke arah pintu. "Rumah ini... semua yang sudah Benni kirimkan... tidak boleh hilang."
Sulastri kemudian mengambil ponselnya. Ia mulai menghubungi beberapa orang yang selama ini sering menjadi tempatnya berbicara di desa.
"Aku harus membuat mereka percaya bahwa Winarsih memang wanita yang tidak baik." Senyum tipis muncul di wajahnya. "Kalau seluruh warga menjauhinya, dia pasti akan pergi sendiri."
***
Di Kota, malam telah tiba.
Arga baru saja selesai mandi dan kini bersandar di sofa kamar apartemennya. Pakaian santai melekat di tubuhnya, sementara rambutnya masih sedikit basah.
Namun pikirannya sama sekali tidak berada di situ. Bayangan Winarsih terus muncul di kepalanya. Arga mengembuskan napas panjang.
"Kenapa aku terus memikirkannya?"
Ia menatap langit-langit kamar. Beberapa detik kemudian, sebuah kesadaran perlahan muncul.
"Jangan-jangan..." Arga tersenyum kecil. "Aku memang sudah jatuh cinta kepada Mbak Winarsih."
Kali ini ia mengucapkan kalimat itu kepada dirinya sendiri. Aneh, ia tidak merasa takut. Justru ada perasaan hangat yang memenuhi dadanya. Namun rasa hangat itu segera berubah menjadi kekhawatiran.
"Bagaimana keadaan Mbak Winarsih sekarang?"
Arga teringat bahwa selama dirinya berada di kota. Winarsih akan pulang ditemani Rudi. Ia memang sudah meminta Juragan Warso memastikan wanita itu tidak pulang sendirian. Tetapi tetap saja, hatinya belum tenang.
"Besok setelah selesai mengurus surat tugas, aku harus segera kembali ke Desa Sekar Sari."
Arga mengambil ponselnya dan melihat kalender di layar. "Kalau semua urusan selesai pagi-pagi, aku bisa berangkat siang." Ia tersenyum tipis. "Aku ingin melihatnya."
Arga kemudian menghela napas dan menyandarkan kepalanya. "Semoga dia baik-baik saja."
Beberapa jam kemudian...
Suasana makan malam keluarga Pratama berlangsung cukup hangat. Pak Arman duduk di salah satu sisi meja makan, sementara Ibu Chintya berada di sampingnya. Arga juga sudah duduk di tempatnya.
Mereka baru saja mulai menikmati hidangan, tiba-tiba...
Ting tong!
Bel rumah berbunyi.
Ibu Chintya mengangkat wajah. "Siapa malam-malam yang bertamu?"
Seorang pelayan segera berjalan menuju pintu utama. Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Nyonya, ada Nona Clarissa."
Ibu Chintya langsung menoleh. "Clarissa?"
Belum sempat ia berkata lebih banyak, seorang wanita dengan penampilan elegan sudah memasuki ruang makan.
"Selamat malam, Om Arman, Tante Chintya."
"Clarissa?" Pak Arman mengangguk ramah.
Clarissa tersenyum manis. "Maaf aku datang tiba-tiba."
"Tidak apa-apa," jawab Ibu Chintya. "Kebetulan kami sedang makan malam."
Tatapan Clarissa kemudian berpindah, dan begitu melihat Arga... matanya langsung berbinar.
"Arga!"
Clarissa berjalan cepat menghampiri pria itu. Tanpa berpikir panjang, ia membuka kedua tangannya, berniat memeluk Arga.
Namun Arga langsung berdiri, satu langkah mundur. Kemudian satu langkah lagi, hingga akhirnya ia berdiri tepat di belakang tubuh Ibu Chintya.
"Ma..."
Ibu Chintya yang mendadak menjadi tameng hanya bisa menatap putranya dengan bingung.
Clarissa seketika berhenti, wajahnya berubah kaku. "Arga?"
Arga berdeham kecil. "Maaf, Clarissa."
"Kenapa kamu menghindar?"
Arga tersenyum canggung. "Aku hanya tidak terbiasa."
Clarissa menatapnya tidak percaya. "Tidak terbiasa?"
Arga mengangguk. "Iya."
Ibu Chintya yang melihat kejadian itu hampir tertawa. Ia tahu putranya memang sengaja menghindari Clarissa. Pak Arman bahkan berdeham untuk menyembunyikan senyumnya.
Clarissa kemudian memaksakan senyum. "Aku hanya ingin menyambutmu."
"Aku tahu."
"Arga..."
Clarissa mencoba mendekat lagi.
Namun Arga tetap berada di belakang Chintya. "Ma, aku duduk di sini saja."
Ibu Chintya menoleh kepada putranya. "Kenapa kamu seperti anak kecil bersembunyi di belakang Mama?"
Arga menjawab polos. "Karena di belakang Mama lebih aman."
Pak Arman akhirnya tertawa kecil.
Sementara Clarissa hanya bisa mengepalkan jemarinya. Ia tidak menyangka Arga akan bersikap sedingin itu kepadanya. Namun ia segera menyembunyikan rasa kesalnya dengan senyum manis.
"Baiklah."
Clarissa menarik kursi dan duduk di dekat meja makan. Tatapannya sesekali mencuri pandang kepada Arga. Ia masih kesal karena Arga berusaha menjauhinya, sedangkan yang ia tahu di Desa Sekar Sari Arga bahkan mengejar wanita itu.
Arga yang sejak tadi masih duduk agak menjauh dari Clarissa akhirnya menatap wanita itu dengan tatapan tenang. Ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa dari kedatangannya malam itu.
"Clarissa."
Wanita itu mengangkat wajah. "Iya?"
"Untuk apa kamu datang ke sini?"
Clarissa terdiam sesaat.
Arga melanjutkan, "Bukankah kemarin kamu juga masih berada di Desa Sekar Sari?"
Tangan Clarissa yang sedang memegang sendok langsung berhenti, jantungnya berdegup kencang.
Celaka... bagaimana Arga tahu?
Ia berusaha tetap tenang dan memasang wajah seolah tidak terjadi apa-apa.
Arga menyipitkan mata. "Apa karena kamu tahu aku kembali ke kota, jadi kamu juga ikut kembali ke kota?
Clarissa tidak langsung menjawab.
Tatapan Arga membuatnya semakin gugup. Ia tidak menyangka Arga mengetahui keberadaannya di desa. Padahal setelah ia menemui Arga di puskesmas, Arga memintanya untuk kembali ke kota, tapi Clarissa tetap memilih di sana untuk memantau Arga.
Clarissa menelan ludah, namun Clarissa tidak mungkin mengakui semuanya. Kerena ia tidak ingin rencananya terbongkar
"Aku..."
Clarissa menggantung ucapannya. Kali ini wanita yang biasanya pandai mencari alasan itu justru terlihat kebingungan.
Arga terus menatapnya. "Kenapa kamu diam saja?"
Clarissa membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Clarissa hanya tersenyum tipis. "Aku memang kemarin masih disana, aku tidak langsung pulang setelah menemuimu di puskesmas. Karena menurutku udara di desa sangat sejuk, jadi kau memutuskan untuk menginap disana."
Clarissa mengatur napasnya pelan, agar tidak terlihat sedang gugup. "Tadi pagi aku berniat menemuimu di puskemas, tapi perawat di sana bilang. Kamu sudah kembali ke kota, ya sudah aku memutuskan untuk ke sini."
Arga tidak bisa percaya begitu saja pada mantan kekasihnya itu, karena ia tahu Clarissa bukan tipe wanita yang suka alam pedesaan.
Namun sebelum percakapan mereka semakin jauh, Chintya akhirnya angkat bicara. "Sudahlah, Arga."
Arga menoleh kepada ibunya.
"Nanti saja kamu bicara dengan Clarissa," ujar Chintya lembut. "Kita sedang makan malam."
Arga terdiam, ia kemudian mengangguk kecil. "Iya, Ma." Arga kembali mengambil sendoknya. "Maaf."
Clarissa mengembuskan napas lega. Ia kembali menundukkan wajah dan berpura-pura menikmati makan malam.
Namun pikirannya masih kacau. Untung Tante Chintya menghentikan pembicaraan.
Ia melirik Arga dari sudut matanya.
Pria itu tampak tenang, tetapi Clarissa tahu tatapan Arga tadi bukan tatapan seorang pria yang percaya begitu saja, Arga mulai curiga.
Clarissa menggenggam sendoknya sedikit lebih erat.
Sementara itu, Pak Arman yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka hanya diam. Sebagai seorang ayah, ia bisa merasakan ada ketegangan yang tidak biasa antara putranya dan Clarissa, namun ia memilih tidak ikut campur.
Mereka kembali menikmati makan malam dalam suasana yang sedikit canggung.