Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
“Selamat ulang tahun Kaiser!”
Sorak sorai langsung terdengar ketika jarum jam berada tepat di angka 12. Confetti berterbangan, bahkan Chelsea bisa mendengar kembang api menggelegar di luar sana.
Tapi adiknya belum kembali. Kemana anak itu?
Di tempat lain, Ophelia yang masih mempertahankan ciumannya melirik ke arah Yelena yang terlihat tidak peduli dan berjalan keluar sembari terus menelpon seseorang.
Dia sudah pergi?
Ophelia mundur, memisahkan bibir mereka secara perlahan.
“Maaf,” ujarnya sebelum berlari ke arah pintu ganda itu dan meninggalkan Aidoneus yang masih berdiri kaku.
Ketika keluar dari mansion, puluhan kembang api yang meledak di angkasa menyambut Ophelia. Ia hampir tidak bisa mendengar apapun, penglihatannya juga terganggu oleh cahaya-cahaya itu.
Kemana Ibu angkatnya pergi?
Ophelia mencoba berlari ke sisi lain mansion—ke arah taman bahkan sampai ke parkiran, tapi ia tidak bisa menemukan Yelena dimanapun.
Ia menghela napas, mengutuk kembang api yang seakan tertawa diatas sana.
Rencananya berantakan.
...****************...
Hangat.
Rasa manisnya masih terasa walau gadis itu sudah pergi entah kemana.
Ini bukan pertama kalinya Aidoneus berciuman, tentu. Sekalipun keluarganya memiliki tradisi yang agak kolot soal menempelkan bibir begitu, tapi biasanya Aidoneus tidak peduli.
Walau sebelumnya dia mencium seseorang hanya untuk keperluan bisnis belaka.
Ini pertama kali ada perempuan yang melakukan itu lalu pergi begitu saja. Terlebih lagi dia meminta maaf, seakan yang dia lakukan adalah kesalahan.
Ha.
Aidoneus ingin tertawa.
“Kamu habis darimana? Puncak acaranya sudah terlewat,” tegur Ibunya ketika Aidoneus kembali ke aula.
“Iya kah?” Dia menghampiri Kaiser dan menepuk pundaknya pelan. “Selamat ulang tahun. Semoga kamu dan Airin cepat menikah.”
Adiknya terlihat tidak masalah dengan keterlambatan Aidoneus, tapi terlihat sedikit kesal. “Urutannya mesti kakak dulu.”
“Di jaman sekarang sudah biasa lho adik yang melangkahi kakaknya begitu. Lagipula aku tidak keberatan.”
“Hentikan.” Arga—kakak pertama Airin yang ada di sana langsung bicara. “Adikku masih terlalu muda untuk itu.”
“Kenapa? Tidak terima kalau dirimu yang dilangkahi soal pernikahan? Makanya perbaiki dulu tempramenmu itu agar bisa punya pacar.”
Melihat Arga yang mulai kesal, Arjuna langsung menengahi. “Sudah-sudah. Jangan membuat keributan di tengah pesta begini.”
Aidoneus tersenyum puas.
“Bibir kakak kenapa?” Airin yang ada di samping Kaiser bertanya tiba-tiba. “Pakai lipstik?”
“Oh.”
Aidoneus mengusap bibirnya pelan dan menatap seorang gadis bergaun merah muda yang terlihat baru memasuki aula juga.
“Mungkin begitu?”
Chelsea adalah orang pertama yang menghampirinya ketika kembali. Ekspresinya agak khawatir. “Kamu habis darimana? Kenapa lipstikmu begitu?”
Ah iya.
Dia menyentuh bibir. Ophelia memakai lipstik yang mudah transfer ke benda lain, jadi mungkin terlihat agak berantakan sekarang.
“Sebentar lagi pesta dansanya dimulai, kita benerin make up-mu dulu.”
Chelsea membawanya ke toilet dan mengeluarkan alat-alat make up dari tas kecil yang ia bawa. Dengan perlahan, layer demi layer dia mengusapkan lipstik baru pada Ophelia.
“Bahkan sampai keluar bibirmu begini,” tegurnya. “Kamu habis apa sih? Mencium seseorang?”
“Emangnya keliatan?”
Chelsea langsung terdiam.
“Hah?”
Kenapa dia terlihat kaget begitu?
“Kamu beneran... habis ciuman? Sama siapa? Cowok yang mengajakmu berdansa ada di aula dari tadi, pastinya bukan dia.”
Sepertinya kakaknya ini akan pingsan kalau Ophelia bilang dia mencium Aidoneus Mahawirya.
“Tidak bisa disebut ciuman juga, cuma menempel beberapa detik.”
Chelsea mengusap dahinya. “Itu juga termasuk! Siapa? Kamu punya pacar sekarang?”
“Kulakukan cuma buat menutup mulutnya,” ujar Ophelia tenang. “Dia agak bawel.”
“Kalau itu pake tangan juga bisa.”
“Tanganku juga dipegang.”
Chelsea menghela napas. “Itu bukan ciuman pertamamu ‘kan ya?”
“Itu yang pertama, aku belum pernah menempelkan bibir pada siapapun sebelum ini.”
Kakaknya kembali terlihat kaget.
“Kenapa ekspresi kakak begitu dari tadi?” tanya Ophelia pelan.
“Ya kamu bereaksi sedikit kek! Ciuman pertamamu hilang cuma-cuma!”
Ophelia mengerutkan dahi. Memangnya sepenting itu?
Pengumuman langsung terdengar setelahnya, mereka meminta para tamu untuk berkumpul di aula dansa.
“Kita mesti ke sana.”
Chelsea menatap adiknya sembari menggeram. “Jangan coba-coba lagi keluar sama laki-laki sendiri begitu. Bahaya.”
Ophelia mengangguk. “Oke.”
Mereka datang ke aula dansa seakan tidak ada yang terjadi. Ophelia sempat ingin menanyakan siapa yang akan dipilih Chelsea untuk menjadi pasangan dansanya, tapi ia membelalak kaget ketika melihat Aidoneus sudah berdiri di depan sana.
Seakan menunggu sesuatu.
Pria itu tersenyum dan berjalan ke arah mereka, kemudian berhenti tepat di depan Chelsea dan mengulurkan tangan. “Boleh aku memimpin dansamu malam ini?” tanyanya.
Chelsea terlihat agak kaget, tapi menerima uluran tangan itu. “Dengan senang hati.”
Ophelia membelalakkan mata. Lipstiknya! Aidoneus sama sekali tidak membersihkan bekas lipstik Ophelia di bibir pria itu.
“Ophelia?” Keenan berdiri sampingnya. “Kamu tidak apa-apa?”
“Ah? Ya.”
Gawat. Apa akan ada yang sadar?
Semoga tidak.
Ophelia hanya bisa berdiri, menunggu dansa Kaiser dan Airin dimulai sembari mencuri pandang pada Chelsea dan Aidoneus di sana. Sudahlah. Mengkhawatirkan itu tidak akan ada gunanya. Ia masih punya masalah lain.
Keenan mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Ophelia. Mereka pergi ke tengah aula dan berdansa sesuai dengan lagu yang sedang diputar.
Tapi pikiran Ophelia jatuh ke hal lain.
Kalau selingkuhan Ibu angkatnya bukan Aidoneus, terus siapa?
Apa selingkuhannya berubah karena Ophelia mengubah masa depan? Tapi Yelena bahkan sudah berselingkuh ketika Ophelia pertama kali datang ke kediaman Pratama.
Apa yang terjadi sebenarnya?
“Kamu tiba-tiba menghilang tadi, kukira ada sesuatu,” ujar Keenan. “Kamu juga keliatan terus melamun. Ada masalah?”
“Aku cuma keluar sebentar. Berada di kerumunan terlalu lama membuatku agak pusing.”
Pemuda itu tersenyum. Seakan tau kalau Ophelia berbohong tapi tidak mau memaksanya untuk bicara terus terang. “Begitu.”
“Aku bertemu dengan orang yang membuat lemon tart di pesta ini tadi, jadi sekarang aku tau kenapa bisa seenak itu.” Keenan memutar tubuh Ophelia pelan.
“Memangnya bagaimana?”
Pembicaraan mereka akan lemon tart berlanjut hingga dansanya selesai. Ophelia bersandar di salah satu tiang besar sembari menghela napas.
Rencananya benar-benar berantakan.
Sekarang ia tidak tahu siapa selingkuhan Yelena dan bahkan tidak memiliki bukti untuk itu.
Semua perubahan yang terjadi adalah karena Ophelia melakukan sesuatu. Hanya Aidoneus. Hanya pria itu yang masa depannya berubah walau Ophelia baru bertemu dengannya hari ini.
Kenapa cuma dia?
Ketika akan mengambil minuman, Chelsea yang sudah selesai akan dansanya juga berjalan ke arah Ophelia. Awalnya dia terlihat tenang, tapi begitu mereka berdiri bersebelahan kakaknya itu langsung berbicara dengan nada rendah.
“Dari sekian banyak orang, kenapa kamu harus mencium Aidoneus Mahawirya?”