Indonesia
NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 : Hembusan Nafas Terakhir

Cahaya matahari pagi yang biasanya membawa kehangatan dan kehidupan justru terasa begitu menusuk di tanah lapang perbatasan selatan Roma. Udara di sekitar wilayah kerja paksa tambang batu dipenuhi dengan debu kering, bau keringat para budak, serta suara derit roda gerobak kayu yang ditarik oleh sapi-sapi kurus. Di tempat inilah kesengsaraan menemukan rumahnya, jauh dari kemegahan pilar-pilar marmer putih istana dan alunan musik harpa kaum bangsawan.

Callista berdiri di tengah barisan panjang para budak yang baru tiba. Perjalanan darat selama berhari-hari tanpa makanan yang layak, di bawah terik matahari yang membakar kulit serta rantai besi berat yang melingkari kedua pergelangan kakinya, telah meremukkan fisik gadis itu. Bibirnya pecah-pecah, wajahnya pucat pasi, dan napasnya tersenggal-senggal di setiap ayunan langkahnya. Namun, penderitaan fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai kehancuran yang bergemuruh di dalam batinnya.

Panglima pengawal lapangan, seorang centeng berbadan besar dengan bekas luka sayatan di wajahnya, mengayunkan cambuk kulit ke udara dengan suara cemeti yang memecah keheningan pagi.

"Cepat bergerak, kalian para budak tak berguna!" bentak centeng itu dengan suara menggelegar. "Di sini tidak ada tempat untuk bermalas-malasan. Ambil palu kalian dan mulailah memecah batu-batu besar itu sebelum matahari tepat di atas kepala!"

Callista menundukkan kepalanya, menahan beban berat palu perunggu kasar yang diserahkan kepadanya. Saat ia mencoba mengangkat palu tersebut untuk menghantam bongkahan batu pertama, rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menghantam dadanya. Pandangannya mendadak kabur, berputar hebat, dan warna-warni dunia di sekitarnya perlahan-lahan memudar menjadi gelap gulita.

Bruk!

Tubuh lemah Callista ambruk menghantam tanah berdebu, membuat palu di tangannya terpental jauh. Darah segar perlahan menetes dari sudut bibirnya, mengalir ke atas tanah gersang. Para pengawal yang melihatnya langsung mendengus kesal, mengira gadis itu hanya berpura-pura pingsan untuk menghindari pekerjaan.

"Bangun, budak! Jangan membuat alasan!" teriak pengawal sambil melangkah mendekat, mengangkat cambuknya tinggi-tinggi untuk memberikan hukuman cambuk cambukan pertama.

Namun, sebelum cambuk itu sempat menyentuh tubuh Callista, suara derap ratusan kuku kuda yang berlari kencang mengguncang tanah perbatasan selatan, memecah kesunyian dan menghentikan seluruh aktivitas di area tambang. Debu mengepul tebal di kejauhan, membentuk barisan pasukan berkuda berzirrah hitam dengan panji-panji kekaisaran yang berkibar megah di bawah angin. Di barisan paling depan, sesosok pria berbalut jubah perang merah darah memacu kudanya bagaikan dewa kematian yang turun dari singgasana.

Putra Mahkota Marcus.

Pria itu melompat turun dari kudanya bahkan sebelum hewan berbadan tegap itu berhenti sepenuhnya. Wajah Marcus tampak sangat mengerikan—pucat, matanya merah menyala penuh amarah, dan napasnya memburu tak beraturan. Ia telah mengabaikan seluruh perintah istana, melompati batas wilayah kekuasaan senat, dan memimpin pasukan pribadinya untuk menyusul karavan pengasingan Callista.

"Yang Mulia Putra Mahkota...!" teriak kepala pengawas tambang terkejut, langsung berlutut bersama seluruh pasukannya. "Apa yang membawa Anda ke tempat terkutuk ini?"

Marcus tidak mempedulikan sapaan itu. Pandangannya langsung terpaku pada sosok sesosok tubuh rapuh yang tergeletak tak berdaya di atas tanah berdebu. Jantung Marcus seakan berhenti berdetak. Ia berlari kencang menerobos kerumunan pengawas, mengabaikan debu dan lumpur, lalu menjatuhkan diri berlutut di samping Callista.

"Callista...!" teriak Marcus tertahan. Ia mengangkat tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, mendekapnya erat ke dada bidangnya. Wajah Callista sangat dingin, dan napasnya begitu lemah, nyaris tak tertangkap oleh indra pendengaran.

Callista mengerjap perlahan. Mendengar suara yang paling ia rindukan di dunia ini, ia memaksakan seulas senyuman tipis di bibirnya yang berlumuran darah. Tangannya yang dingin terulur lemah, menyentuh pipi sang pangeran untuk terakhir kalinya.

"Kau... datang..." bisik Callista terbata-bata, suaranya nyaris hilang ditelan desau angin padang pasir. "Aku tahu... kau akan datang..."

"Aku di sini, Callista. Aku di sini bersamamu," air mata Marcus tumpah membasahi pipinya, jatuh menimpa wajah pucat sang kekasih. Pria itu mendekap tubuh Callista semakin erat, seolah ia bisa menahan jiwa gadis itu agar tidak terlepas dari raganya. "Bertahanlah... tabib istana sedang dalam perjalanan. Kita akan kembali ke Roma. Aku akan melindungimu dari siapapun!"

Callista menggelengkan kepalanya pelan. Napasnya terasa semakin pendek, dan pandangannya mulai kabur oleh bayangan kegelapan abadi. Ia bisa merasakan bahwa batas waktunya di dunia ini telah habis. Tubuhnya menyerah pada kejamnya takdir era Romawi, namun jiwanya tetap utuh, mencintai pria di hadapannya tanpa keraguan sedikit pun.

"Jangan menangis, Marcus..." ucap Callista dengan sisa-sisa tenaganya, suaranya berbisik bagai hembusan angin terakhir. "Cinta kita... tidak pernah mati. Di kehidupan selanjutnya... di era yang berbeda... temukan aku lagi..."

Jemari yang tadinya menyentuh pipi Marcus perlahan melorot jatuh ke atas tanah. Hembusan napas terakhir Callista terlepas dari bibirnya yang pucat, bersamaan dengan pejam mata indahnya untuk selama-lamanya di pelukan sang pangeran.

Jedar!

Petir tiba-tiba menyambar di langit cerah perbatasan selatan, menciptakan suara menggelegar yang memecah angkasa, seolah alam semesta itu sendiri ikut meratapi kematian tragis sang wanita.

Marcus meraung kencang, sebuah jeritan kepedihan yang sangat memilukan hingga membuat seluruh prajurit yang hadir menundukkan kepala ketakutan. Ia mendekap jasad wanita yang dicintainya erat-erat, merengkuh keheningan kematian di tengah padang pasir yang gersang.

Di detik-detik kehancuran jiwa sang pangeran, sebuah kutukan waktu berakar kuat di tempat itu—mengikat takdir roh mereka dalam siklus reinkarnasi abadi. Marcus bersumpah di dalam kebisuan hatinya, di atas jasad Callista, bahwa ia akan terus mencari wanita itu melintasi ratusan tahun, melintasi batasan era dan kematian, hingga takdir lelah menguji cinta mereka dan memberikan akhir bahagia yang telah lama dirampas oleh dunia.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!