Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.
Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.
Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akses Ditolak
Setelah Adrian meninggalkan kamar...
Tatapan Silvia perlahan jatuh pada USB hitam yang masih digenggam erat di telapak tangannya.
Tanpa ragu, ia segera membuka laptopnya.
USB itu langsung dicolokkan ke port perangkat.
Begitu tersambung...
Layar laptop tiba-tiba berubah menjadi hitam.
Beberapa detik kemudian...
Sebuah program kecil berjalan dengan sendirinya.
Lalu...
Suara yang sangat dikenalnya kembali terdengar.
“Hei, Si Bodoh.”
Tubuh Silvia langsung membeku.
Detik berikutnya...
Layar perlahan menyala.
Di dalam video itu...
Chris mengenakan kemeja putih. Wajahnya masih dihiasi senyum santai yang sama seperti biasanya.
Seolah-olah, apa pun yang akan dihadapinya hanyalah masalah sepele.
Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada.
“Aku sudah tahu...”
“Kamu pasti tidak akan menurut.”
“Kamu tetap saja mencolokkan USB ini.”
Sesaat kemudian ia tersenyum semakin lebar.
“Untungnya aku sudah mengantisipasi hal ini.”
Program yang tadi terus berputar mendadak berkedip beberapa kali.
Lalu muncul sebuah tulisan.
[Akses Ditolak]
Nada bicara Chris terdengar begitu lembut.
“Jadilah anak baik.”
“Tunggu sampai kamu benar-benar mampu melindungi dirimu sendiri.”
“Barulah kembali.”
“Kalau tidak...”
Tatapann Chris berubah dipenuhi rasa enggan untuk berpisah.
“Isi dalam USB ini, hanya akan menyeretmu ke dalam bahaya.”
Layar kembali berkedip.
Kemudian otomatis berpindah ke halaman pemindaian wajah.
[Identitas terverifikasi]
[Menganalisis ekspresi mikro wajah...]
Silvia mengernyit menatap deretan tulisan yang terus bermunculan.
Beberapa detik kemudian...
Hasilnya muncul.
[Evaluasi : Gagal]
[Alasan : Kondisi emosi tidak stabil]
[Hak akses ditolak]
Suara Chris kembali terdengar.
“Hei, Si Bodoh.”
“Kamu tidak akan pernah bisa membohongiku. Aku jauh lebih mengenal ekspresi kecilmu daripada dirimu sendiri.”
Kali ini wajah Chris sudah tidak muncul lagi.
Hanya suaranya yang terdengar memenuhi ruangan.
“Saat kamu benar-benar sudah mampu melindungi dirimu sendiri, aku akan menyerahkan semua jawabannya dengan tanganku sendiri.”
Setelah kalimat itu berakhir...
Layar laptop langsung mati total.
Pantulan wajah Silvia yang penuh kekecewaan tampak samar di layar hitam tersebut.
Silvia mencabut USB itu dengan sangat hati-hati. Ia menatap kembali dua kata yang tertulis di permukaannya ‘JANGAN DIBUKA’
Silvia menghela napas panjang, “Chris...kamu memang menyebalkan.”
Ia membuka laci meja, lalu menyimpan USB itu dengan sangat hati-hati di dalamnya.
“Nyonya Muda.” Suara mekanis Fray terdengar di balik pintu, “Waktunya makan malam.”
Silvia membuka pintu, hal pertama yang dilihatnya adalah layar wajah Fray yang dipenuhi mata berbentuk bintang.
Robot itu bertanya penuh harap, “Nyonya Muda, malam ini Tuan Muda pulang jam berapa?”
Silvia langsung terdiam, pupil matanya sedikit mengecil.
Fray masih melanjutkan dengan penuh semangat, “Tuan Muda berjanji akan membawakanku kartu koleksi dari luar negeri.”
Silvia perlahan mengusap kepala robot itu. Dengan suara pelan ia berkata, “Kita tidak usah menunggunya, aku sudah lapar.”
Senyum di layar Fray langsung berubah menjadi wajah murung, “Baiklah...”
Di ruang makan...
Adrian sudah duduk di kursinya, jarinya terus mengetuk layar ponsel, seolah sedang mengurus sesuatu yang penting.
Silvia melihat ke sekelilling, lalu bertanya pelan, “Dimana Nelia?”
Bibi Clara keluar dari dapur sambil membawa semangkuk sup hangat. Senyum ramah masih menghiasi wajahnya, “Nona Nelia tadi menerima telepon. Lalu langsung buru-buru pergi.”
Silvia mengernyit, ia menggulingkan sumpit di atas meja.
Adrian akhirnya meletakkan ponselnya, “Laki-laki yang menjemputnya...sepertinya adalah Kelvin Pollis.”
Tangan Silvia perlahan mengepal, tatapannya berubah serius.
Adrian melanjutkan dengan tenang, “Kalau dibandingkan harus menikah dengan putra keluarga Hudsen yang terkenal suka bermain dengan perempuan di bar. Kelvin jelas pilihan yang terbaik yang bisa dibandingkan dengan keluarga Sillus. Selama ini, ia hampir tidak pernah terseret skandal, memang orangnya agak kaku dan sedikit membosankan. Tapi, ia cocok dengan Nona Nelia.”
Adrian menatap Silvia, “Setidaknya, Kelvin buka tipe pria yang akna mengkhianati istri. Di luar sana juga tidak punya banyak perempuan asing.”
Tiba-tiba...
Fray meluncur cepat menghampiri Silvia, “Nyonya Muda! Berarti sebentar lagi Anda akan menjadi adik ipar Nona Nelia!”
Silvia hanya tersenyum tipis, lalu mengetuk pelan kepala bulat robot itu.
“Pergi isi daya bateraimu. Jangan mengganggu waktu makanku.”
“Baiklah...” Fray berjalan pergi dengan layar penuh ekspresi sedih.
Sambil terus bergumam pelan, “Tuan Muda...Kapan Anda pulang...”
Silvia memandang punggung robot itu, lalu bertanya kepada Adrian dengan suara kecil, “Adrian, bisakah kamu masuk ke dalam sistem Fray?”
Adrian menghentikan makannya. Ia melirik robot yang sedang berjalan menjauh itu. Kemudian mengusap sudut bibirnya dengan tisu, “Aku tidak yakin. Seluruh sistem Fray dirancang oleh Chris sendiri. Aku bahkan tidak tahu apakah aku mampu menembus kode keamanannya.”
Silvia menundukkan kepalanya, “Begitu ya...Terima kasih.”
Malam itu...
Kotak masuk email Silvia tiba-tiba dipenuhi puluhan pesan baru.
Ia membuka beberapa diantaranya. Semuanya berisi informasi mengenai universitas di luar negeri.
Silvia bersandar lemas di pelukan boneka beruang raksasa. Matanya menatap layar dipenuhi tanda notifikasi merah. Hingga kedua matanya mulai terasa perih.
Silvia mengambil ponselnya, begitu layar menyala...
Puluhan pesan baru langsung bermunculan. Silvia membuka ruang obrolannya dengan Nelia.
Pesan terakhir yang baru saja dikirim berbunyi...
[Sil! Tolong aku!!]