Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dewasanya Haruna

Sejak insiden lemparan batu itu, dunia Haruna perlahan menyusut menjadi seluas halaman gubuk mereka. Ia tak lagi berani melangkah keluar mencari teman-teman sebayanya, cukup puas dengan tanah becek di depan rumah dan langit yang terbentang luas di atasnya. Nek Lasmi memerhatikan perubahan itu dengan hati teriris, melihat cucunya yang dulu begitu bersemangat berlari menuju keramaian, kini memilih bermain sendiri di sudut yang sempit.

Namun bagi Nek Lasmi, itu masih lebih baik daripada harus melihat Haruna pulang dengan mata sembap dan hati yang terluka lagi.

Pagi itu, matahari baru saja meninggi, menyinari gubuk reyot mereka dengan hangat. Haruna keluar dari kamar mandi sederhana di belakang rumah, rambutnya masih basah, wajahnya segar penuh semangat.

"Nek, Haruna mau bantu bikin peyek, ya!" serunya riang, berjalan tertatih menuju dapur tempat Nek Lasmi sedang mengaduk adonan tepung.

"Nggak usah, Nak," jawab Nek Lasmi lembut, sambil tersenyum menahan getir. "Nanti tangan Haruna kena minyak panas. Main saja dulu, ya. Biar Nenek yang urus ini."

Haruna sedikit cemberut, namun tak lama senyumnya kembali merekah. Baginya, mendengar suara neneknya saja sudah cukup membuat harinya cerah. "Ya sudah, Haruna main di halaman saja, ya, Nek!"

"Boleh," sahut Nek Lasmi, menoleh sejenak dari kesibukannya, "tapi ingat, main di halaman saja. Jangan jauh-jauh ya, Nak."

"Iya, Nek!" Haruna mengangguk mantap, lalu berjalan keluar dengan boneka kain lusuh kesayangannya... hadiah dari Bu Inah beberapa bulan lalu tergenggam erat di tangannya.

Di halaman yang hanya berukuran beberapa meter itu, Haruna duduk di atas tanah, mulai bermain sendiri. Ia mengajak boneka kainnya bicara, membuat cerita-cerita kecil dalam kepalanya. Tertawa sendiri mendengar lelucon yang ia karang sendiri. Meski dunia di luar sana menolaknya, tapi dunia kecil yang ia ciptakan sendiri selalu menerima apa adanya.

Namun kebahagiaan sederhana itu tak berlangsung lama. Dari balik pagar bambu yang sudah rapuh, muncul sesosok anak laki-laki yang wajahnya sangat ia kenal... anak yang dulu melemparinya batu.

"Eh, ada anak cacat lagi main sendirian," ejek anak itu, menyeringai sambil melangkah masuk tanpa izin ke halaman Haruna.

Haruna refleks mendekap boneka kainnya erat-erat, tubuhnya menegang. "Jangan ganggu Haruna," ucapnya pelan, mencoba terdengar berani meski suaranya bergetar.

Namun anak itu tak menghiraukan permintaannya. Dengan sengaja, ia merebut boneka kain dari tangan Haruna, melemparkannya ke tanah becek, lalu menginjaknya berkali-kali hingga kotor penuh lumpur.

"Jangan! Itu punya Haruna!" jerit Haruna, air matanya langsung tumpah melihat boneka kesayangannya diperlakukan sekasar itu. Ia mencoba merangkak mendekat, berusaha meraih boneka itu, namun kakinya yang tak sempurna membuatnya kesulitan bergerak cepat.

Anak laki-laki itu malah tertawa mengejek, berlari mengelilinginya. "Anak cacat! Anak buangan! Nggak ada yang mau sama kamu, makanya orangtua kamu buang kamu!" teriaknya berulang-ulang, seakan menikmati air mata yang terus mengalir di wajah Haruna.

Tepat saat itu, Bu Inah yang kebetulan lewat membawa keranjang belanjaan mendengar keributan itu. Ia bergegas masuk, wajahnya memerah menahan amarah begitu melihat apa yang terjadi.

"Woy! Berani sekali kamu ganggu Haruna!" bentak Bu Inah, cepat-cepat menarik anak laki-laki itu menjauh dari Haruna yang masih terisak di tanah.

Tanpa banyak bicara lagi, Bu Inah menyeret anak itu keluar halaman, berjalan cepat menuju rumahnya untuk mengadukan perbuatannya kepada sang ibu.

"Bu, tolong lihat kelakuan anak Ibu ini," ucap Bu Inah begitu sampai di depan rumah anak itu, suaranya masih menahan geram. "Dia ganggu Haruna, injak-injak boneka anak itu sampai rusak, terus dihina-hina lagi. Kasihan Bu, anaknya sampai nangis kejer."

Namun bukannya meminta maaf, ibu anak laki-laki itu justru membela dengan wajah tak bersalah. "Ya namanya juga anak-anak, wajar kali kalau usil. Lagian, anak Nek Lasmi itu kan memang beda dari yang lain... kakinya kayak gitu. Ya wajar saja kalau anak saya risih main sama dia."

"Bu, ngomong apa, sih, Ibu ini!" Bu Inah tak bisa menahan kekesalannya. "Haruna itu juga anak kecil, punya perasaan sama kayak anak-anak lain! Bukan salah dia lahir begitu!"

"Sudahlah, saya nggak mau ribut. Lagian anak saya cuma bercanda kok, nggak usah dibesar-besarkan," jawab ibu itu ketus, sebelum akhirnya menutup pintu rumahnya begitu saja, meninggalkan Bu Inah yang berdiri mematung dengan amarah yang tak tersalurkan.

Menyadari percuma berdebat lebih lanjut, Bu Inah akhirnya kembali menghampiri Haruna, menggendongnya dengan hati-hati. Boneka kain yang sudah kotor dan robek sedikit itu tetap digenggam erat oleh gadis kecil itu, seolah tak rela melepaskannya meski sudah rusak.

Dalam perjalanan pulang, Haruna menyandarkan kepalanya di bahu Bu Inah, suaranya lirih menahan sesenggukan. "Bu Inah... apa anak cacat kayak Haruna nggak boleh punya teman?"

Pertanyaan polos itu menghantam hati Bu Inah bagai tamparan keras. Sebagai tetangga yang menyaksikan sendiri bagaimana Haruna tumbuh sejak bayi... melihat kepolosan dan kebaikan hatinya dari hari ke hari, rasanya begitu perih mendengar keraguan seperti itu keluar dari mulut anak sekecil itu.

Bu Inah menahan air matanya sendiri, mendekap Haruna lebih erat. "Bukan begitu, Nak. Suatu hari nanti, Haruna pasti akan ketemu teman-teman yang baik, yang sayang sama Haruna apa adanya."

Sesampainya di gubuk, Nek Lasmi yang sedang menjemur pakaian langsung terkejut melihat Bu Inah datang menggendong Haruna yang masih terisak.

"Ya Allah, Haruna kenapa, Bu Inah?" Nek Lasmi bergegas menghampiri, wajahnya panik.

Bu Inah menurunkan Haruna perlahan, lalu menceritakan semua yang terjadi, dari boneka yang diinjak-injak, hinaan yang kembali dilontarkan, hingga sikap ibu si anak laki-laki yang justru membela kelakuan buruk anaknya.

Mendengar cerita itu, dada Nek Lasmi terasa sesak, seolah ada batu besar yang menghimpit dari dalam. Ia berjongkok, menatap wajah cucunya yang basah oleh air mata, lalu mendekapnya erat-erat.

"Maafkan Nenek, Nak," bisik Nek Lasmi, suaranya bergetar hebat. "Maafkan Nenek karena nggak bisa jaga Haruna dengan baik. Seharusnya Nenek nggak biarkan Haruna main sendirian."

Dalam pelukan itu, Haruna perlahan mengangkat tangannya yang kecil, menghapus air mata yang mengalir di pipi keriput neneknya. Meski usianya baru lima tahun, tatapan matanya menyiratkan kedewasaan yang tak sepadan dengan umurnya.

"Nggak apa-apa, Nek," ucap Haruna pelan, suaranya masih serak namun penuh ketulusan. "Biar saja seluruh dunia benci sama Haruna. Biar saja mereka semua hina Haruna. Asal Nenek selalu ada buat Haruna, Haruna nggak apa-apa."

Kata-kata sederhana itu justru membuat pertahanan Nek Lasmi runtuh sepenuhnya. Ia menangis dalam diam, mendekap cucunya erat-erat seolah tak ingin ada satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu memisahkan mereka.

Di tengah gubuk reyot yang sederhana itu, dua jiwa yang sama-sama terluka oleh dunia saling menguatkan satu sama lain, terikat oleh kasih sayang yang jauh lebih kuat daripada cemoohan atau lemparan batu mana pun.

1
Ilfa Yarni
nah lo saiing jatuh cinta nih kayaknya dan tuan bagas bisa ya dia mengenali haruna dan ingat wajah anknya yg dia buang setelah lahir
Ilfa Yarni
akhirnya ank kandung dan ank pungutnya bagas bertemu gmn kelanjutannya ya
Iffanaya 😽
nah kan ternyata anak angkat bahkan istri nya sendiri gk tau, kyk nya setelah buang Hanura ngangkat anak buat gantiin Hanura
Ilfa Yarni
akhirnya ank pungutnya satu universitas dgn haruna aku ingin lihat gmn reaksi bagas klo ketemu haruna apakah dia sadar klo itu ank yg dia buang
Muft Smoker
apa reynand ank yg di ambil Bagas setelah buang haruna ,, buat gantiin haruna???
Iffanaya 😽
apa setelah buang haruna, Larasati hamil lg tp umur nya 18 thn seumuran haruna 🤔
Ilfa Yarni
nah lo wmang enk ank kandung dibuang itu sireynan km pungut dmn
Iffanaya 😽
duuuh jd nangis aku Thor bacanya 😭😭 sedih bgt semangat haruna
Ilfa Yarni
aaa aku Baca ini nagis trus semangat ya haruna km bisa bumtikan pd dunia bahwa ketidaksempurnaan tubuhmu tidak akan menghalangi kesuksesanmu
Muft Smoker
semangat trus haruna ,,
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
Ilfa Yarni
aaaa sedih bamget aku sampe nangis bacanya aku benci sama kedua orangtua aruna yg tega membuangnya krn kakinya ga normal
Ilfa Yarni
huhuhu. sedih bamget
Muft Smoker
terkadang emnk kondisi seseorang yg di bilang parah ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,

semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
Muft Smoker
km bnr haruna ,, mimpi bisa menunggu tp nenek mu entah sampai Kpn bisa nunggu ,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
Muft Smoker
semangat haruna ,, di balik ini semua pasti ada kejutan besar buat dirimu ,,
Ilfa Yarni
knp tib2 begitu kan jadi pecah konsentrasi haruna
Ilfa Yarni
km sangat pintar haruna km pasti bisa mask universitas itu
Muft Smoker
semangat haruna ,, km pasti bisa sukses ,,
Ilfa Yarni
km pasti sukses haruna aku yakin itu
Muft Smoker
semangat haruna ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!