Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Mendengar pengakuan jujur yang keluar dengan nada melas dari bibir Alesia, kilatan amarah di mata abu-abu Dante perlahan surut. Keterkejutan di wajahnya berganti dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca.
Kungkungan lengannya yang kekar di sisi kepala Alesia perlahan mengendur. Dante mengembuskan napas pendek, lalu menegakkan kembali tubuh tegapnya, memberikan ruang bagi Alesia untuk bernapas lega.
Namun, pandangan Dante langsung turun, menatap pergelangan kaki Alesia yang masih terbalut perban elastis tipis hasil racikannya beberapa jam lalu.
"Apakah kakimu masih sakit?" tanya Dante, suaranya terdengar serak khas orang baru bangun tidur, namun ada nada kepedulian yang samar-samar terselip di sana.
Alesia yang masih sibuk menetralkan detak jantungnya yang menggila, buru-buru membetulkan posisi kaus putih kebesaran yang dikenakannya.
Ia menunduk tidak berani menatap mata Dante. "Sedikit, Pak..."
Tanpa basa-basi dan tanpa memberikan peringatan apa pun, Dante langsung membungkukkan tubuhnya. Ia menyusupkan satu lengan kekarnya di bawah tekukan lutut Alesia, dan lengan satunya lagi di balik punggung gadis itu. Dalam satu gerakan kuat yang sangat mudah, Dante langsung menggendong tubuh kecil Alesia ke dalam pelukannya.

"Eh—Pak?! Pak Dante! Turunkan saya, Pak! Saya bisa jalan sendiri!" pekik Alesia panik setengah mati.
Ia refleks mengalungkan kedua tangannya di leher tegap Dante agar tidak terjatuh. Wajahnya yang sudah merah padam kini terasa semakin terbakar karena dadanya menempel langsung pada dada bidang Dante.
Dante sama sekali tidak memperdulikan protes histeris dari karyawannya itu. Dengan langkah tegap dan santai, ia membawa Alesia keluar dari kamarnya yang gelap.
Jika Alesia memperhatikan wajah bosnya dengan jeli di bawah temaram lampu koridor, ia akan melihat sudut bibir Dante yang berkedut hebat. Pria itu sedang sekuat tenaga menahan tawa gengsinya agar wibawa dinginnya tidak runtuh akibat insiden salah masuk kamar yang sangat konyol ini.
Dante menuruni koridor lantai dua, lalu membuka sebuah pintu kayu putih yang merupakan kamar mandi utama lantai atas yang benar. Ia menurunkan Alesia perlahan di depan pintu masuk.
"Ini toilet yang benar. Jangan salah masuk lagi," ucap Dante datar, meskipun binar geli di matanya tidak bisa disembunyikan.
"I-iya, Pak! Terima kasih!" cicit Alesia, langsung melompat masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan cepat sebelum Dante sempat berkata apa-apa lagi.
Begitu pintu kamar mandi terkunci rapat, Alesia langsung bersandar di balik pintu sambil memegangi kedua pipinya yang terasa sangat panas. Ia memandang pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang mewah, lalu menjambak rambutnya sendiri dengan gemas karena frustrasi.
'Alesia bodoh! Kenapa malah salah masuk ke kamar singa itu sih?! Mau ditaruh di mana coba wajahku besok pagi ?!' batin Alesia kesal, merutuki nasib sial dan perutnya yang tidak bisa diajak bekerja sama di waktu yang salah.
Setelah menghabiskan waktu beberapa belas menit di dalam kamar mandi untuk menenangkan perut dan jiwanya, Alesia akhirnya membuka pintu perlahan. Ia mengira Dante sudah kembali ke kamarnya untuk tidur. Namun, begitu ia melangkah keluar, mata bulatnya kembali membelalak.
Dante Luca Alessio ternyata masih berdiri tegak di depan pintu, bersandar pada dinding koridor dengan kedua lengan yang dilipat di depan dada, menunggunya dengan sabar. Pria itu kini sudah mengenakan sebuah jubah tidur sutra hitam (bathrobe) yang longgar.
"Eh... Pak Dante? Belum kembali tidur?" tanya Alesia gugup, meremas ujung kausnya sendiri.
Dante tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru memajukan langkahnya, kembali bersiap mengambil posisi untuk menggendong Alesia kembali ke kamar tamu.
Melihat gestur tersebut, Alesia langsung mundur satu langkah dengan panik, melambaikan kedua tangannya dengan heboh untuk menolak.
"Eh, tidak usah, Pak! Tidak perlu! Saya... saya bisa jalan sendiri ke kamar tamu, terima kasih banyak, Pak!" ucap Alesia buru-buru, berusaha menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya.
Dante menghentikan gerakannya, menatap Alesia yang tampak ketakutan setengah mati seolah-olah dirinya adalah monster yang akan menerkamnya.
Detik berikutnya, sisi jahil dari seorang Dante Luca Alessio yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun di kantor mendadak bangkit. Ia menaikkan sebelah alisnya, lalu melangkah satu langkah lebih dekat hingga memangkas jarak di antara mereka.
"Kenapa harus buru-buru kembali ke kamar tamu? Kamu tidak mau tidur di kamar saya saja?" ucap Dante dengan suara rendah yang terdengar seperti bisikan menggoda yang berbahaya.
Mendengar kalimat tak terduga itu langsung meluncur dari bibir sang CEO, seluruh sistem di otak Alesia seketika mengalami crash.
Matanya melotot sempurna. Tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung membalikkan badannya, mengabaikan rasa perih di pergelangan kakinya, dan berlari sekencang mungkin menuju kamar tamunya di ujung koridor.
Brak!
Alesia menutup pintu kamar tamu dengan keras, lalu menguncinya dari dalam. Ia langsung melompat ke atas ranjang dan menyembunyikan seluruh wajahnya di balik selimut tebal bulu angsa.
"Maksudnya apa coba ngomong kayak gitu?! Dasar bos mesum gila!" gerutu Alesia frustrasi di balik selimut, memegangi dadanya yang berdetak liar dengan ritme yang tidak masuk akal.
Dengan pikiran yang berkecamuk dan wajah yang masih panas, Alesia akhirnya terpaksa memejamkan matanya kembali, berusaha keras untuk tertidur hingga pagi menjemput.