Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
garis batas
"perhatian..."
Suara lantang pria bersafari hitam itu kembali memecah keheningan di tepi lapangan latihan. Riuh rendah keluhan para kandidat langsung terputus seketika. Pria itu berdiri di atas sebuah panggung kayu kecil, memberikan pandangan mendominasi ke arah sisa-sisa pria yang mulai tampak gentar menatap rintangan di hadapan mereka.
"kalian hanya perlu melewati ini.. 50 terakhir maka kami gugurkan..." Pria itu menjeda kalimatnya, memberikan penekanan yang sangat dingin pada kata 'gugurkan'. Saringan kali ini akan membuang sepertiga dari total peserta yang tersisa tanpa ampun. Siapa yang lambat, dia yang tersingkir.
Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari mulut sang instruktur justru membuat bulu kuduk sebagian besar kandidat merinding. "tapi kalian juga bisa memilih mundur jika merasa tak mampu karna kami tak bertanggung jawab dengan keselamatan kalian..."
Pernyataan lepas tanggung jawab itu mempertegas bahwa trek semi militer di hadapan mereka bukan sekadar simulasi permainan outbond. Pagar kawat berduri, tebing besi yang tinggi, dan kolam lumpur itu menyimpan risiko cedera serius, atau bahkan sesuatu yang lebih buruk dari itu. Keluarga Antasena tidak sedang mencari menantu yang manja; mereka mencari seseorang yang siap mempertaruhkan nyawanya.
Tentu saja ada beberapa kandidat yg langsung balik kanan... Mendengar risiko keselamatan yang begitu tinggi, logika sehat beberapa pria dari kelas atas langsung mengambil alih. Bagi mereka, sekadar mengejar wanita cantik tidak sebanding dengan risiko cacat fisik atau kehilangan nyawa.
"kalian saja... aku masih mau hidup," kata salah satu kandidat yg memilih pulang. Ia melemparkan nomor urutnya ke tanah dengan tangan bergetar, lalu berjalan terburu-buru meninggalkan area latihan tanpa menoleh lagi ke belakang. Beberapa orang mengikutinya dari belakang, menyusutkan kembali jumlah saingan yang ada di lapangan.
Namun, bagi mereka yang memilih bertahan, ketakutan itu justru berubah menjadi adrenalin yang membakar semangat. Kegagalan di dunia luar sudah cukup membunuh mereka secara perlahan, jadi tidak ada gunanya mundur sekarang.
Namun para kandidat yg memilih maju mulai menanggalkan baju mereka... Suasana di tepi lapangan mendadak berubah menjadi sibuk. Satu per satu pria melepaskan kemeja mahal, jaket, dan pakaian formal mereka yang tidak akan berguna di medan berlumpur. Yah kini mereka memakai celana panjang dan kaos singlet ... Menampilkan bentuk-bentuk tubuh yang selama ini tersembunyi di balik pakaian rapi.
Rama pun melakukan hal yang sama. Ia melepaskan jaket kainnya yang tipis, menyisakan kaos singlet hitam yang melekat ketat di tubuhnya. Begitu pakaian luarnya ditanggalkan, barulah terlihat bagaimana spek fisik Rama yang sebenarnya. Di balik penampilannya yang sehari-hari tampak biasa dan sering dianggap mirip gembel karena rambut sebahunya, Rama memiliki postur tubuh yang sangat atletis, tegap, dengan otot-otot lengan dan dada yang terbentuk matang karena terbiasa hidup keras. Rambut sebahunya yang diikat kencang ke belakang kini mengekspos garis rahangnya yang kokoh dan tatapan mata yang mendadak tajam terkunci pada garis start.
Semua kandidat mengambil posisi di depan garis batas. Atmosfer di tempat itu mendadak menjadi sangat panas dan tegang. Setiap orang saling melirik, mengunci target untuk saling mendahului.
"siaaapppppp..." Instruktur mengangkat sebuah pistol suar ke udara. Semua otot di tubuh Rama menegang, bersiap melakukan ledakan gerakan.
"majuuuuuu!" kata orang itu bersamaan dengan dentuman keras yang menggema di langit taman belakang Antasena. Ratusan pria langsung melesat badai, menerjang medan latihan demi sejumput kemungkinan yang tersisa.
Dari ujian fisik yang sangat brutal di trek semi militer tadi, penyaringan berjalan begitu kejam. Ratusan pria bertumbangan satu per satu di sepanjang lintasan. Pada akhirnya, hanya 50 yg berhasil finis menembus garis batas yang ditentukan. Sisa kandidat lainnya benar-benar hancur lebur; malah ada yg harus ditandu karna kelelahan... tubuh mereka ambruk tak berdaya di atas rumput karena kehabisan napas dan dehidrasi berat.
Kondisi di sepanjang trek pun tampak kacau. Ada juga yg terjebak dilumpur.. berjuang mati-matian hanya untuk menarik kaki mereka keluar dari sedotan tanah basah yang tebal. Ada juga yg tak bisa naik tebing... jari-jari mereka gemetar dan kehilangan cengkeraman pada tiang besi vertikal hingga tergelincir jatuh ke bawah. Malah ada yg tersangkut di kuda kuda.. terjerembap saat mencoba melompat rintangan kayu setinggi dua meter. Di tengah pemandangan yang kacau itu, Rama berdiri di garis finis dengan napas yang memburu teratur. Kaos singlet hitamnya kini kotor penuh noda tanah, namun otot-otot tubuh atletisnya masih tampak kokoh tanpa tanda-tanda kram.
Melihat kondisi para peserta yang tersisa tampak sangat kepayahan, sang instruktur berpakaian safari hitam berjalan mendekati mereka dengan tatapan yang tetap dingin.
"kalian boleh ambil minum dulu," kata instruktur.. "kami sudah menyediakan.."
Ia menunjuk ke arah deretan meja panjang di tepi lapangan yang sudah dipenuhi oleh ratusan botol air mineral dingin. Kandidat yg tersisa langsung mengambilnya tanpa menunggu perintah dua kali. Tubuh mereka yang terbakar oleh terik matahari dan letihnya rintangan langsung menuntut kesegaran instan.
Namun jebakan nya ada disini.. Yah karna kehausan, banyak dari mereka yg minum dengan rakus... Mereka menenggak air dingin itu botol demi botol hingga tandas, membiarkan cairan tersebut membanjiri perut mereka yang sedang kosong dan syok setelah aktivitas berat.
Namun bagi rama... pandangannya tidak langsung tertuju pada air. Ia memperhatikan bagaimana sang instruktur dan para penjaga di sekitar lapangan tetap berdiri tegak tanpa ada tanda-tanda akan membubarkan barisan atau menyiapkan tempat istirahat yang layak. Insting nya mengatakan bahwa akan ada tes lanjutan.. Logika militernya berjalan; di dalam pelatihan sekeras ini, setiap fasilitas kemudahan yang diberikan secara mendadak pasti memiliki maksud tersembunyi. Minum terlalu banyak air dalam kondisi perut terguncang setelah berlari justru akan membuat lambung begah, memicu mual, dan melumpuhkan kekuatan otot inti.
Dia pun hanya minum sedikit dan menyimpan sisanya.. Rama hanya membasahi tenggorokannya yang kering dengan beberapa tegukan kecil, lalu menggenggam sisa botol airnya dengan tenang, membiarkan tubuhnya beradaptasi secara alami dengan rasa lelah.
Dan benar saja, dugaan Rama terbukti tepat dalam hitungan menit. Belum sempat para kandidat lain menyeka keringat atau meredakan napas mereka, suara lantang instruktur kembali menggelegar memotong waktu rehat yang super singkat itu.
Instruktur itu berjalan ke tengah lapangan dengan tatapan tajam, menatap perut-perut kandidat yang kini mulai tampak kembung karena terlalu banyak minum. "tes berikutnya... push up 100x!"
Pengumuman itu bagai petir di siang bolong bagi sebagian besar dari 50 kandidat yang tersisa. Terdengar erangan frustrasi dan keluhan tertahan dari barisan. Bagi mereka yang baru saja minum dengan rakus, perintah push-up dalam kondisi perut penuh air adalah sebuah siksaan yang mustahil.
"silahkan kalian berbaris. dimulai dengan arahan ku," kata instruktur itu tegas.
Rama segera melangkah, mengambil posisi di barisan depan dengan gerakan yang masih stabil. Ia meletakkan botol airnya di dekat kaki, lalu mulai menurunkan tubuhnya ke posisi siap di atas tanah. Rambut sebahunya yang terikat sedikit kotor oleh debu, namun fokus di matanya sama sekali tidak berkurang. Roda seleksi Keluarga Antasena tidak memberikan ruang untuk bernapas, dan Rama siap membuktikan bahwa motor matic-nya mungkin tua, tetapi mesin di dalam tubuhnya jauh lebih tangguh dari apa yang mereka kira.