Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Bau anyir darah seketika mengalahkan aroma parfum mahal di dalam aula utama itu.
Jeritan ketakutan dari para tamu undangan perlahan mulai mereda dan berganti menjadi isak tangis tertahan.
Pasukan elit bayangan milik Kenji bergerak dengan efisiensi yang sangat mematikan.
Trang. Brak.
Mereka melumpuhkan anggota klan Naga Hitam satu per satu tanpa ampun di setiap sudut ruangan.
Anya masih berjongkok di lantai panggung sambil meremas ujung jas putih Kenji dengan tangan bergetar.
"Apa kau terluka?" tanya Kenji pelan sambil melirik ke bawah tanpa menurunkan kewaspadaannya.
"Aku tidak apa-apa," jawab Anya dengan suara serak.
"Bagus, tetap berlindung di belakangku sampai aku bilang aman."
Di atas balkon lantai dua, wajah Paman Haris kini terlihat sepucat kertas melihat pasukannya dibantai.
Pria tua itu membuang senapan mesinnya ke lantai dengan kasar.
Klotak.
"Sialan, dari mana anak ingusan itu mendapatkan pasukan sebanyak ini?" umpat Paman Haris panik.
"Kita harus mundur sekarang juga, Leon!" teriak Paman Haris pada keponakannya.
Namun saat Paman Haris berbalik untuk lari menuju pintu darurat balkon, sebuah bayangan tinggi sudah menghalanginya.
Sret.
Bima berdiri di sana dengan sebilah pisau tempur panjang yang berlumuran darah menetes di tangan kanannya.
"Anda mau pergi ke mana sebelum acara tiup lilin selesai, Tuan Haris?" tanya Bima dengan nada yang sangat sopan namun mengerikan.
Paman Haris melangkah mundur dengan gemetar.
"Bima, aku akan membayarmu sepuluh kali lipat dari yang Kenji berikan, biarkan aku pergi!" mohon Paman Haris putus asa.
Bima hanya tersenyum tipis lalu menendang perut pria tua itu dengan sangat keras.
Bugh.
"Ugh!" Paman Haris memuntahkan air liur dan langsung jatuh berlutut sambil memegangi perutnya.
"Loyalitas saya tidak bisa dibeli dengan uang kotor Anda, Tuan," ucap Bima dingin.
Di lantai bawah, Leon melihat pamannya sudah dilumpuhkan dengan sangat mudah.
Wajah tampan pria berambut pirang itu kini dipenuhi dengan keringat dingin dan keputusasaan.
Leon menyadari bahwa dia sudah kalah telak malam ini.
Tapi dia tidak mau mati di tangan saudara tirinya begitu saja.
Leon melihat seorang wanita muda dari keluarga tamu undangan bersembunyi di dekat meja prasmanan.
Sret.
Leon langsung menarik rambut wanita itu dengan kasar dan menyeretnya berdiri.
"Kyaaa! Tolong lepaskan aku!" jerit wanita itu histeris.
Leon menodongkan pistolnya tepat ke pelipis wanita malang tersebut.
"Semuanya berhenti menembak atau otak wanita ini akan berceceran di gaun mahalnya!" teriak Leon sekencang mungkin.
Suara tembakan di dalam aula perlahan berhenti satu per satu.
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan yang kini berantakan seperti kapal pecah itu.
Kenji berdiri tegak di atas panggung dan menatap tajam ke arah Leon.
"Lepaskan sandera itu, Leon, kau sudah tidak punya jalan keluar lagi," ucap Kenji dengan suara berat.
Leon tertawa sumbang yang terdengar sangat dipaksakan.
"Jangan mencoba memerintahku, Kak Kenji, aku yang memegang kendali sekarang!"
Leon menyeret sandera itu mundur secara perlahan menuju pintu keluar utama yang sudah dijebol.
"Perintahkan anjing-anjing bayanganmu untuk membuka jalan, atau reputasi klan kita akan hancur karena membiarkan tamu penting mati terbunuh!" ancam Leon lagi.
Kenji mengeraskan rahangnya mendengar ancaman licik dari saudara tirinya tersebut.
Membunuh tamu undangan yang tidak bersalah memang akan menjadi bencana politik bagi klan Bratadikara.
Kenji memberi kode dengan tangannya agar pasukannya menahan tembakan.
Anya yang masih berada di belakang Kenji mengintip dari balik bahu lebar pria itu.
"Ini buruk, Leon benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya," batin Anya panik.
[Peringatan Kritis: Waktu pemindaian termal tersisa tiga puluh detik.]
Anya teringat bahwa dia masih bisa melihat suhu panas tubuh orang-orang di ruangan ini.
Dia menajamkan pandangannya ke arah Leon yang berjarak sekitar lima belas meter dari panggung.
"Tunggu, warna merah di lengan kanan Leon terlihat berkedip tidak stabil," batin Anya menyadari sesuatu.
"Otot lengannya mengalami kram parah karena dia terlalu lama memegang pistol dengan tegang."
Anya menarik pelan ujung lengan jas Kenji untuk meminta perhatian pria itu.
Kenji menunduk sedikit tanpa melepaskan pandangannya dari Leon.
"Ada apa?" bisik Kenji sangat pelan.
"Lengan kanannya kram berat, dia tidak akan bisa menembak dengan akurat dalam beberapa detik ke depan," bisik Anya cepat.
"Kalau kau bisa mengalihkan perhatiannya sebentar saja, kau bisa menembak tangannya."
Kenji tidak bertanya dari mana Anya mengetahui informasi sangat detail tersebut.
Pria itu memilih untuk sepenuhnya mempercayai perkataan tunangannya saat ini.
"Leon!" teriak Kenji tiba-tiba memecah ketegangan.
"Apa kau tahu kenapa Paman Haris membiarkanmu berada di lantai bawah sementara dia bersembunyi di balkon atas?"
Leon menghentikan langkah mundurnya dan mengerutkan kening karena bingung dengan pertanyaan itu.
"Apa maksudmu?" balas Leon curiga.
"Karena sejak awal dia sudah merencanakan untuk menjadikanmu tumbal jika kudeta ini gagal."
Kenji melangkah turun dari panggung perlahan sambil menurunkan ujung pistolnya ke lantai.
"Dia sengaja mengorbankanmu agar dia bisa kabur lewat atap dengan selamat."
"Itu bohong! Paman Haris tidak mungkin mengkhianatiku!" teriak Leon marah.
Namun konsentrasi Leon jelas sudah terpecah karena ucapan Kenji barusan.
Ujung pistol yang ditodongkan ke kepala sandera itu sedikit menurun karena lengannya yang memang sudah bergetar kelelahan.
Celah sekecil itu sudah lebih dari cukup bagi seorang penembak jitu seperti Kenji.
Dor.
Satu tembakan tunggal yang luar biasa cepat melesat dari moncong senjata Kenji.
Jleb.
"Arghhh!" jerit Leon kesakitan saat peluru itu menembus pergelangan tangan kanannya dengan telak.
Pistol di tangan Leon terlempar jatuh ke lantai dengan suara nyaring.
Trang.
Sandera wanita itu langsung memanfaatkan kesempatan untuk melepaskan diri dan berlari menjauh sambil menangis.
Tiga orang pasukan bayangan Kenji langsung melompat maju dan menekan tubuh Leon ke lantai karpet.
Bruk.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku, keparat!" teriak Leon sambil meronta sia-sia di bawah tekanan sepatu laras panjang para penjaga.
Kenji menghembuskan napas panjang lalu memasukkan kembali pistolnya ke balik jas putihnya.