Indonesia
NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: LEMBAH RACUN

Perahu kayu tua yang membawa Shen Rui, Lian Yue, dan Qing Luo terus melaju menembus kabut muara hingga akhirnya terdampar di pinggiran Lembah Racun—sebuah wilayah terlarang yang dipenuhi rawa-rawa hitam dan pepohonan purba beracun yang tak pernah tersentuh oleh hukum Paviliun Tianjian.

Udara di lembah ini sangat pekat. Kabut berwarna keunguan merayap pelan di atas air rawa yang menggenang, membawa aroma belerang dan pembusukan alami. Namun, bagi kaum siluman, tempat terisolasi ini adalah satu-satunya benteng pertahanan alami di perbatasan selatan yang sanggup mengacaukan indera pelacakan Pasukan Bayangan.

Di balik rimbunan akar pohon raksasa yang melingkar membentuk ceruk alami, Lian Yue berlutut di samping Shen Rui. Pria itu menyandarkan punggungnya pada akar kayu yang dingin. Jubah hitamnya telah dilepas, memperlihatkan beberapa luka tebasan dalam di bahu dan punggungnya yang memar akibat dampak energi dari pertempurannya melawan Tetua Mu di Kota Fengling.

Lian Yue merobek kain gaun sutra putihnya sendiri. Dengan jemari yang gemetar, ia menyapu perlahan darah kering di kulit tegap Shen Rui.

"Tahan sedikit," bisik Lian Yue halus, matanya yang berwarna perak dipenuhi oleh kecemasan yang amat mendalam.

Shen Rui menggeletuk gigi, namun tak ada jeritan kesakitan yang keluar dari bibirnya. Tangannya terangkat pelan, menggenggam jemari Lian Yue yang berdarah akibat merobek kain. Tatapan mata sang pemburu menatap lurus ke dalam netra Lian Yue dengan kelembutan yang tak tergerus oleh rasa sakit fisik.

"Luka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kepedihan yang kau tanggung selama seribu tahun," kata Shen Rui dengan suara rendah yang serak.

Qing Luo melangkah mendekat dari balik kabut rawa, membawa beberapa genggam dedaunan herbal berwarna hijau pekat yang telah dihancurkan. Tanpa banyak bicara, siluman ular hijau itu menempelkan racun herbal penawar pada luka-luka di punggung Shen Rui.

Szzz...

Uap tipis membubung saat ramuan herbal menyerap sisa-sisa qi pembunuh milik Tetua Mu yang tertinggal di dalam luka Shen Rui.

"Tetua Mu tidak mengejar kita ke dalam Lembah Racun ini," ujar Qing Luo seraya menyapu tangannya yang berlepotan getah herbal. "Kabut racun rawa ini menetralkan kompas pelacak mantra milik Tianjian. Untuk sementara waktu, kita aman di sini."

Shen Rui menghembuskan napas berat, merasakan getaran hangat ramuan herbal yang perlahan meredakan Perih di punggungnya. Ia menatap Pedang Zhaoyang yang tergeletak di sampingnya di atas akar pohon. Pendar merah pada bilah perunggu itu kini telah meredup sepenuhnya, menyisakan ukiran runik kuno yang tampak seperti bekas luka tua.

"Tetua Mu dan Pasukan Bayangan gagal membawaku kembali," kata Shen Rui tenang. "Itu artinya Guru Xuan He akan mengambil alih perburuan ini secara langsung saat bulan purnama tiba."

Lian Yue menunduk menatap pergelangan tangannya sendiri. Tanda bulan sabit perak di kulitnya berdenyut lambat namun pasti—sebuah penanda bahwa esensi jiwanya kian memulihkan wujud aslimu seiring bergulirnya hari.

"Hari ke-49 semakin dekat," bisik Lian Yue, suaranya hinggap di antara desis angin rawa yang dingin. "Apa yang sebenarnya terjadi jika wujud asliku pulih sepenuhnya, Qing Luo?"

Qing Luo menatap Lian Yue dengan raut wajah yang amat serius dan sarat ketegangan.

"Saat esensi jiwamu pulih sempurna pada hari ke-50," jawab Qing Luo dengan suara bergetar, "kekuatan asli Ular Putih Seribu Tahun akan terbangun sepenuhnya. Kau tidak lagi bisa menyembunyikan wujudmu di antara manusia. Dan yang paling berbahaya... gelombang energi kebangkitanmu akan merobohkan seluruh segel di benua ini—termasuk Segel Kuno di bawah Paviliun Tianjian."

Shen Rui mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rahasia itu semakin benderang di depan mata mereka: Guru Xuan He tidak pernah takut pada malapetaka dunia, melainkan takut pada runtuhnya kekuasaan Paviliun Tianjian jika Lian Yue dibiarkan hidup hingga hari ke-50.

"Jika begitu," ujar Shen Rui berdiri perlahan, memungut kembali Pedang Zhaoyang dan mengikatnya erat di punggungnya, "kita tidak akan lagi melarikan diri dari mereka. Kita yang akan membawa kebenaran ini langsung ke puncak Paviliun Tianjian."

Lian Yue mendongak, menatap Shen Rui yang berdiri tegap di tengah perembesan kabut keunguan Lembah Racun. Sebuah ikrar baru telah ditempa di antara mereka berdua—bukan lagi sebagai buronan yang bersembunyi di balik bayang-bayang, melainkan sebagai penantang takdir yang bersiap menghancurkan kebohongan seribu tahun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!