Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galang Livy 31.
Matahari hari Senin pukul delapan pagi tidak pernah ramah, terutama setelah tiga puluh menit berdiri mendengarkan amanat pembina upacara yang membosankan.
Di tengah riuh rendah derap kaki ribuan siswa SMA Wijaya yang berhamburan membubarkan barisan menuju kelas, Galang justru melangkah berlawanan arah.
Jantungnya berdegup searah jarum jam, cepat dan memburu. Telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Di dalam kepalanya, hanya ada satu wajah, yaitu Livy.
Tepat satu bulan lalu, Livy berhenti. Gadis itu tidak lagi memandangnya saat berpapasan di koridor. Bahkan cemburu saat teman masa kecilnya hadir.
Dan saat itulah, kekosongan menghantam Galang seperti gada besi. Penyesalan datang terlambat, dan hari ini, sesuai niat curhatan nya pada minggu kemarin. Galang memutuskan untuk menjadi orang gila yang baru.
Galang menyelinap ke ruang pusat kendali suara yang pintunya sedikit terbuka karena Pak Danu, staf sarpras, sedang pergi ke toilet.
Mengunci pintu dari dalam, Galang menatap mikrofon perak di atas meja. Tangannya gemetar saat menyalakan sakelar utama.
CEK, KRESEK...
Bunyi denging statis yang nyaring mendadak menggema dari belasan speaker abu-abu yang menempel di setiap sudut dinding luar sekolah. Ribuan pasang kaki yang tadinya melangkah terburu-buru, mendadak berhenti di tempat.
"Tes... satu, dua. Ini saya, Galang. Galang Narendra dari kelas dua belas C"
Suara berat Galang bergema memenuhi lapangan, menembus kaca-kaca jendela kelas, bahkan membuat beberapa guru yang sedang berjalan ke ruang guru menghentikan langkah dengan dahi berkerut.
Di koridor lantai dua, Livy, yang sedang memeluk buku paket Kimia bersama Rayhan, Mayang dan Fanya ikut mendongak. Jantungnya melewatkan satu ketukan. Itu suara Galang.
"Saya tahu ini kedengaran bego, dan saya tahu saya bakal habis setelah ini," suara Galang di speaker terdengar agak bergetar, namun ada ketegasan yang putus asa di sana. "Tapi saya gak peduli. Ini buat Livy. Olivia Renata dari dua belas C."
Kasak-kusuk langsung pecah bagai tawon yang sarangnya diganggu. Murid-murid di lapangan saling pandang, beberapa mulai berteriak heboh.
Di ruang kendali, Galang memejamkan mata, meremas pinggiran meja besi. "Liv... satu bulan belakangan saya emang brengsek. Saya selalu bilang kamu cewek gila yang ganggu hidup saya. Tapi ternyata, setelah kamu pergi, saya yang gila. Saya kangen susu kotak stoberry yang selalu kamu taruh di kolong meja saya. Saya kangen cara kamu ngeliatin saya seolah saya satu-satunya cowok di dunia ini. Sekarang giliran saya, Liv. Saya mau ngejar kamu. Kamu mau... jadi pacar saya?"
Keheningan sempat mencekam selama tiga detik sebelum seluruh area sekolah meledak oleh sorakan, siulan, dan teriakan histeris dari para siswa.
Di koridor, Fanya menyenggol lengannya dengan heboh. Sisi Lain Rayhan langsung mengepalkan tangannya erat.
Livy hanya berdiri terpaku. Alih-alih tersipu atau menangis haru seperti di film romantis, Livy justru perlahan menggeleng-gelengkan kepala nya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang getir.
Rasanya dejavu. Satu tahun yang lalu, Livy pernah menembak Galang di tengah lapangan dengan membawa spanduk buatan sendiri saat jeda turnamen basket, dan Galang hanya melewatinya begitu saja sambil menatapnya jijik.
"Dasar Gila" gumam Livy sebelum akhirnya ia terkekeh sinis.
BRAKK! BRAKK!
"Galang! Buka pintunya! Kamu mau dikeluarkan dari sekolah HAH?!" Suara bariton Pak Bambang, kepala bagian Kesiswaan sekaligus guru BK paling ditakuti, terdengar menggedor pintu ruang kendali dengan brutal.
Galang menghela napas panjang. Ia mematikan sakelar mikrofon, merapikan seragamnya yang sedikit berantakan, lalu memutar kunci pintu. Begitu pintu terbuka, wajah merah padam Pak Bambang langsung menyambutnya dengan urat-urat leher yang menegang.
"Ikut saya ke ruang BK. Sekarang!"
Aroma ruangan itu selalu sama: kombinasi bau minyak kayu putih, kertas-kertas tebal berkas pelanggaran, dan hawa dingin AC yang menusuk. Galang duduk dengan punggung tegak di hadapan Pak Bambang yang sedang memijat pelipisnya.
"Kamu itu anak berprestasi, Galang. Kapten tim basket, nilai akademis bagus. Apa yang merasuki kamu sampai membajak fasilitas sekolah untuk urusan... asmara remeh begini?" Pak Bambang mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen.
"Saya cuma mau jujur sama perasaan saya, Pak," jawab Galang tenang, meski di dalam dadanya jantungnya masih berkejaran. "Dan saya siap menerima konsekuensinya."
Pak Bambang mengembuskan napas berat. "Bagus kalau kamu sadar. Saya tidak akan memanggil orang tua kamu kali ini karena rekam jejakmu yang bersih. Tapi, tindakan kamu mengganggu ketertiban sekolah." Pak Bambang mengeluarkan sebuah kunci kuningan besar dari laci.
"Bersihkan gudang lama di belakang laboratorium fisika. Semuanya. Debu, kursi patah, susun kardus-kardus bekas instrumen yang berantakan. Jangan kembali ke kelas sebelum jam istirahat kedua selesai. Paham?"
"Paham, Pak."
Gudang belakang lab Fisika adalah definisi dari tempat yang terlupakan. Udara di dalamnya pengap, berbau kayu lapuk dan debu tebal yang langsung membuat Galang terbatuk kecil begitu membuka pintu. Cahaya matahari hanya masuk samar-samar melalui celah ventilasi yang tinggi.
Galang melepas dasi dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Ia mulai mengangkat satu per satu kursi kayu yang sudah patah kakinya, menumpuknya di sudut ruangan. Keringat mulai bercucuran dari pelipis dan membasahi punggungnya. Kulit tangannya mulai kotor oleh debu hitam.
Setiap kali ia mengangkat barang, otot-otot lengannya menegang, namun fisiknya yang lelah tidak sebanding dengan otaknya yang terus berputar.
Pintu gudang tiba-tiba berderit terbuka, memotong lamunan Galang.
Siluet seorang gadis berdiri di ambang pintu, menghalangi cahaya matahari luar.
Galang mengerjapkan mata, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.
Itu Livy.
Gadis itu berdiri di sana dengan melipat kedua tangannya di dada. Tidak ada lagi binar penuh puja di matanya seperti dulu. Yang ada hanya tatapan menilai, dingin, namun ada riak emosi tersembunyi yang coba ia tekan rapat-rapat.
"Bagus ya, pangeran sekolah sekarang jadi marbot gudang," sindir Livy, suaranya terdengar datar namun menggema di ruangan yang sepi itu.
Galang menghentikan aktivitasnya. Ia menjatuhkan sebuah kardus kosong ke lantai, lalu berjalan mendekat ke arah Livy, menyisakan jarak sekitar dua meter. Ia tidak ingin debu di tubuhnya mengotori seragam Livy yang bersih.
"Kamu... ngapain ke sini?" tanya Galang, suaranya mendadak serak.
Livy maju satu langkah, menatap lekat-lekat mata Galang yang tampak lelah namun penuh harap. "Saya cuma mau mastiin, otak kamu gak beneran geser kan, Lang? Aksi di speaker tadi... kamu sadar gak sih seberapa memalukannya itu?"
"Saya sadar," potong Galang cepat. Tatapannya mengunci manik mata Livy. "Tapi itu satu-satunya cara biar kamu mau ngeliat saya lagi, Liv."
Livy tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan di telinga Galang. "Terus kamu pikir, setelah semua penolakan kamu dulu, setelah kamu bikin saya kayak orang tolol di depan satu sekolah berulang kali, saya bakal langsung bilang 'iya, saya mau jadi pacar kamu' cuma karena kamu teriak di speaker?"
Livy melangkah lebih dekat. Kali ini, amarah yang selama ini ia pendam mulai merembes keluar melalui nadanya. "Dulu saya mohon-mohon sama kamu cuma buat dihargai, Lang. Sekarang kamu dengan gampangnya minta saya balik, di saat saya baru aja berhasil menata hati saya yang kamu acak-acak."
Mendengar itu, dada Galang terasa seperti dihantam sesuatu yang sangat berat. Praktis saja membenarkan ucapan Livy.
Dia egois. Dia hanya memikirkan penyesalannya tanpa memikirkan proses penyembuhan luka yang sedang dijalani gadis itu.
Galang menunduk sejenak, melihat sepatu sekolahnya yang penuh debu, lalu kembali menatap Livy dengan mata yang kini berkaca-kaca—sebuah pemandangan yang belum pernah Livy lihat dari seorang Galang yang angkuh.
"Saya tahu saya egois, Liv," kata Galang, suaranya merendah, sarat akan penyesalan yang tulus. "Saya gak minta kamu buat nerima saya sekarang. Saya cuma mau kamu tahu... posisi kita sekarang udah berubah. Saya tidak akan berhenti. Saya yang bakal ngejar kamu, sampai kamu percaya kalau saya gak main-main."
Livy tertegun. Detak jantungnya yang sempat ia tenangkan kembali berdegup tidak karuan. Ia melihat ketulusan yang telanjang di mata Galang, sesuatu yang dulu sangat ia dambakan namun kini terasa membingungkan bagi logikanya.
Livy menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan gemuruh di dadanya, lalu berbalik memunggungi Galang.
"Selesaikan hukuman kamu, Galang. Jangan pingsan di sini karena bau debu," ucap Livy dingin sebelum melangkah keluar dari gudang.
Namun, sebelum pintu benar-benar tertutup, Galang bisa melihat samar-samar daun telinga Livy yang memerah.
Dan bagi Galang, itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi bahan bakarnya membersihkan seluruh gudang ini dengan senyuman tipis di bibirnya.
......................
...****************...
Tbc,