Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Waktu terasa berjalan begitu lambat dan menyesakkan di pos keamanan kampus.
Setelah melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan detik-detik penculikan tersebut,
Andy tidak membuang waktu sedetik pun. Berbekal potongan nomor plat kendaraan yang terekam kamera pengawas saat mobil itu menerobos gerbang, Andy segera menghubungi pihak kepolisian sektor setempat untuk melaporkan kasus penculikan secara resmi.
Tidak hanya itu, ia juga menghubungi beberapa rekan dosen dan kenalan terpercaya untuk membantu menggerakkan pencarian secepat kilat.
Di sisi lain, Puja yang terduduk lemas di kursi tunggu berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga dan keberaniannya.
Dalam kondisi gemetar hebat, ia merogoh ponselnya dan menghubungi keenam sahabat setianya: Dewi, Yuana, Sulfi, Ratna, Norma, dan Dwi, untuk menceritakan musibah yang menimpa suaminya.
Tidak berselang lama, kabar buruk itu menyebar di antara mereka.
Kecuali Norma yang saat ini sudah berada di Yogyakarta untuk melanjutkan kuliahnya, kelima sahabat Puja—Dewi, Yuana, Sulfi, Ratna, dan Dwi—langsung datang bergegas menuju kampus dalam waktu singkat.
Begitu tiba dan melihat keadaan Puja yang berantakan dengan mata sembab, mereka langsung menghambur memeluk sahabat mereka erat-erat.
"Puja, yang sabar ya. Kita semua ada di sini buat kamu," hibur Dwi dengan suara bergetar, mencoba menahan air matanya sendiri demi menguatkan Puja.
"Polisi sudah bergerak, Pu. Kita juga nggak akan tinggal diam," tambah Sulfi sambil mengusap punggung Puja penuh kasih, menyalurkan kehangatan di tengah kepanikan yang membekukan darah.
Dukungan dan pelukan hangat dari para sahabatnya sedikit banyak berhasil meredakan kepayahan di dada Puja.
Di sudut ruangan, Andy tampak sibuk berkoordinasi dengan petugas kepolisian yang baru saja datang ke pos.
Salah seorang petugas kepolisian bagian pelacakan digital segera mengambil alih situasi.
"Tenang, Ibu Puja, Saudara Andy. Kami sedang mencoba melacak keberadaan korban melalui sinyal ponsel terakhir milik Pak Jeffry," ujar petugas kepolisian tersebut sambil menatap layar laptopnya yang menampilkan peta digital.
Semua orang di ruangan itu menahan napas, memusatkan perhatian penuh pada layar monitor.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang pekat.
Garis-garis sinyal dan titik koordinat berkedip-kedip di atas peta wilayah pinggiran kota.
"Ketemu," ucap petugas polisi itu dengan nada tegas.
"Sinyal ponsel korban sempat terdeteksi aktif sesaat, sebelum akhirnya terputus di area perbukitan dan hutan pinus di sebelah utara kota. Wilayah itu cukup terpencil, dikelilingi bangunan-bangunan tua peninggalan perkebunan lama."
Mendengar informasi krusial tersebut, secercah harapan langsung membuncah di dada Puja.
Ia berdiri dari kursinya, menatap tajam ke arah peta digital di laptop polisi.
Ia tahu persis, di situlah tempat di mana Ningrum menyekap suaminya saat ini.
"Kita ke sana sekarang, Mas," ucap Puja penuh tekad, menatap Andy dan pihak kepolisian dengan sorot mata yang menyiratkan ketegasan seorang istri yang siap bertarung demi menyelamatkan suaminya.
Andy menggelengkan kepala dengan tegas begitu melihat kilatan tekad di mata Puja.
Ia melangkah mendekat, menghalangi jalan gadis itu dengan gestur melindungi sebagai sesama teman lama yang memahami risiko di lapangan.
"Jangan, Puja. Kamu nggak boleh ikut ke sana," cegah Andy dengan suara berat dan penuh penekanan.
"Wilayah perbukitan itu terpencil, jalurnya terjal, dan kita sedang menghadapi orang yang jiwanya sudah tidak stabil seperti Ningrum. Situasinya terlalu berbahaya buat kamu."
Pihak kepolisian yang berdiri di samping Andy turut mengangguk setuju.
"Benar, Bu Puja. Biarkan tim kepolisian bersama rekan-rekan yang profesional menyisir lokasi dan membebaskan suami Ibu. Kehadiran Ibu di lokasi justru bisa memecah konsentrasi kami jika terjadi hal-hal di luar kendali."
Mendengar larangan itu, dunia Puja seakan runtuh untuk kedua kalinya.
Di ambang keputusasaan yang menghimpit dada, air matanya kembali mendesak keluar. Namun, di balik kerapuhan itu, terselip baja yang ditempa oleh rasa cinta yang teramat besar dan kemarahan yang membakar.
Bayangan Jeffry yang kini tersiksa di tangan wanita psikopat itu membuat hatinya menolak keras untuk sekadar duduk berpangku tangan di tempat aman.
Puja melangkah maju, menepis keraguan dalam dirinya.
Ia menatap lurus ke mata Andy dan petugas kepolisian dengan sorot mata yang menyiratkan ketegasan mutlak.
"Jangan larang aku, Mas Andy," ucap Puja dengan suara bergetar namun tajam, tidak memberikan ruang untuk dibantah.
"Dia suamiku. Orang yang selama ini melindungi dan berjuang buat aku. Kalau kalian melarangku ikut, sama saja kalian menyuruhku duduk diam menunggu kabar kematiannya."
Kelima sahabat Puja—Dewi, Yuana, Sulfi, Ratna, dan Dwi—yang setia mendampingi di belakang saling berpandangan, lalu mengangguk kompak memberikan dukungan penuh pada keteguhan sahabat mereka.
Andy tertegun menatap sorot mata Puja. Ia membaca ketegasan yang tidak bisa dilawan oleh argumen apa pun.
Menyadari bahwa menahan Puja hanya akan membuat gadis itu frustrasi, Andy akhirnya menghela napas panjang dan menyerah.
"Baiklah" ujar Andy pasrah sambil mengangguk pelan.
"Kamu boleh ikut di mobil bersama kami. Tapi ingat, Puja, kamu harus tetap berada di dalam pengawasan ketat dan tidak boleh bertindak gegabah di sana."
Puja mengangguk cepat. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menyambar tasnya, bersiap menyusul ke dalam barisan terdepan misi penyelamatan yang mempertaruhkan nyawa suaminya.
Di dalam ruang utama vila tua yang berdebu, suasana semakin mencekam hingga terasa menyesakkan dada.
Ningrum berdiri terpaku di hadapan Jeffry, napasnya memburu tak beraturan.
Ia menatap lekat-lekat mata suaminya itu, mencari setitik pun kelembutan atau keraguan yang bisa ia jadikan pegangan.
Namun, yang ia dapati hanyalah dinding penolakan yang dingin dan tatapan tajam penuh kebencian.
Alih-alih sadar bahwa perbuatannya adalah sebuah kejahatan, pikiran Ningrum yang sudah telak rusak justru memutarbalikkan kenyataan.
Di dalam otaknya yang diliputi delusi parah, penolakan keras Jeffry ia anggap sebagai sebuah "ujian cinta"—sebuah rintangan dramatis sebelum mereka akhirnya bersatu.
"Kamu masih mencoba menolakku, Mas?" bisik Ningrum dengan suara bergetar parah, tawanya pecah dalam isak tangis yang mengerikan.
"Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu hanya gengsi, kan? Kamu cuma dipelet oleh perempuan desa itu! Tapi tenang, aku akan buktikan seberapa besar pengorbananku buat kamu."
Di saat yang sama, di balik tubuhnya yang terikat kaku, kesadaran Jeffry berangsur-angsur pulih sepenuhnya.
Efek cairan bius dosis tinggi itu mulai meluntur, digantikan oleh rasa nyeri hebat yang menusuk sekujur otot-ototnya.
Menyadari dirinya tidak punya waktu banyak, Jeffry tidak tinggal diam. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mulai menggeser-geser posisi tubuhnya secara perlahan-lahan.
Ia memanfaatkan sudut kayu sandaran kursi yang kasar dan memiliki serpihan tajam, menggesekkan ikatan tambang yang melilit pergelangan tangannya ke permukaan runcing itu.
Sambil terus mengulur waktu, Jeffry menatap lurus mata Ningrum dengan sorot tajam penuh intimidasi, sengaja memancing emosi wanita itu agar terus berbicara dan tidak menyadari pergerakan tangannya.
Namun, situasi mendadak berubah menjadi jauh lebih mengerikan.
Melihat Jeffry tetap bungkam dan memandangnya dengan tatapan dingin, kewarasan Ningrum benar-benar lenyap tak bersisa.
Ia mundur beberapa langkah, lalu matanya menangkap sebuah pecahan botol kaca berserakan di lantai dekat tumpukan puing.
Tanpa ragu sedikit pun, Ningrum menyambar pecahan kaca yang tajam berkilau itu.
Dengan tangan gemetar hebat, ia melangkah mendekati Jeffry, lalu menempelkan ujung pecahan kaca yang tajam itu tepat di kulit lehernya sendiri.
"Kalau kamu terus menolakku, Mas. Kalau kamu tidak mau mengucapkan kata cinta itu sekarang juga!!" teriak Ningrum histeris, air matanya bercampur dengan seringai gila di wajahnya. Lehernya mulai berdarah tipis akibat tekanan ujung kaca yang tajam.
"Lebih baik aku mati di sini! Di hadapanmu! Biar kamu tahu rasanya kehilangan aku selamanya! Pilih aku, atau aku gorok leherku sekarang juga!"
Napas Jeffry tercekat. Meskipun ia sangat membenci apa yang dilakukan Ningrum, ia tidak ingin ada darah yang tumpah di tempat terkutuk itu, apalagi nyawa yang melayang.
Ia harus segera memutuskan ikatan tali di tangannya sebelum Ningrum benar-benar dikuasai oleh kenekatannya yang mematikan.