**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mungkin Takdir?
Haselyn kembali mengayuh sepedanya. Setelah mengantarkan semua pesanan kepada pelanggan dan beberapa toko yang sengaja ia titipi makanan nenek Imah, barulah ia mengubah arah menuju sekolah.
Sementara teman-teman seusianya baru bersiap memulai hari, Haselyn sudah menyelesaikan putaran pertama perjuangannya sejak matahari belum sepenuhnya meninggi.
Haselyn duduk di bangkunya sambil memandangi pemandangan di luar jendela kelas. Cahaya matahari pagi menerobos masuk, menyinari wajahnya yang tampak tenang. Di tengah riuhnya suara teman-teman yang masih bercanda, Haselyn memilih diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. “Selamat pagi, anak-anak,” sapa Bu Rani sambil melangkah masuk membawa setumpuk kertas di tangannya.
“Selamat pagi, Bu,” jawab seluruh siswa serempak.
Haselyn hanya melirik sekilas ke arah gurunya, lalu kembali memandang keluar jendela.
Bu Rani memperhatikan Haselyn beberapa detik sebelum mengembuskan napas pelan. Ia sudah terbiasa melihat murid itu tampak lelah hampir setiap hari.
“Hari ini Ibu akan membagikan hasil ulangan semester ganjil kalian,” ucap Bu Rani sambil mengangkat setumpuk lembar jawaban.
Randi, siswa yang paling cerewet di kelas, langsung mengangkat tangan. “Bu, siapa yang nilainya paling tinggi?”
Bu Rani tersenyum tipis. “Itu,” jawabnya sambil menunjuk ke arah Haselyn yang masih duduk menghadap jendela.
Serentak seluruh kelas menoleh. “Hasel lagi?”
Beberapa siswa langsung menghela napas panjang. “Ya ampun, dia lagi yang paling tinggi.”
“Bisa ya dia juara kelas terus?”
“Perasaan nggak pernah belajar.” Randi menggeleng tidak percaya, dan teman-teman yang lain ikut mengangguk setuju.
Namun, Haselyn tetap diam. Ia sama sekali tidak tertarik menanggapi komentar-komentar itu.
Yeni yang duduk tidak jauh darinya tampak kesal melihat sikap Haselyn yang begitu tenang. “Hasel, serius deh. Kamu kok bisa dapat nilai bagus terus?” tanyanya penasaran. “Padahal kamu lebih sering tidur di kelas daripada baca buku.” Yeni ingat betul Haselyn lebih sering tertidur di dalam kelas dari pada serius mendengarkan pelajaran biarpun untuk nilai dan tugas sekolah, Haselyn selalu mendapat nilai terbaik dan Yeni melihat secara langsung jika Haselyn benar-benar mengerjakan sendiri tugas-tugasnya.
Haselyn mengedikkan bahunya. “Entahlah.” Ia tersenyum tipis. “Mungkin takdir.” Jawabnya dengan begitu santai
“Huuh!” Satu kelas langsung bersorak protes.
Mereka mengira Haselyn hanya bercanda. Padahal tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bagaimana kehidupan Haselyn sebenarnya.
Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam ia bekerja hingga larut untuk mengurus pesanan, mencatat pembukuan, dan menyiapkan dagangannya. Tidak ada yang tahu bahwa ia belajar di sela-sela mengantar makanan, menunggu pelanggan, atau saat perjalanan pulang dengan sepeda miliknya.
Dalam sehari, Haselyn sering kali hanya tidur tiga atau empat jam. Ia memaksa dirinya tetap menyelesaikan tugas sekolah, menjaga nilai, dan mempertahankan mimpinya. Akibatnya, tubuhnya kerap menyerah. Ia sering tertidur di kelas karena kelelahan.
Namun, meski matanya beberapa kali terpejam saat pelajaran berlangsung, Haselyn hampir tidak pernah mendapat hukuman. Karena setiap kali guru mengajukan pertanyaan, ia selalu mampu menjawab dengan tepat, seolah semua materi telah tersimpan rapi di kepalanya tanpa harus mendengar penjelasan orang lain.
Bu Rani menepuk meja pelan. “Sudah, jangan ribut lagi.”
Suasana kelas perlahan kembali tenang. “Ingat, dua bulan lagi kalian akan menghadapi ujian kelulusan SMA. Jadi mulai sekarang, persiapkan diri kalian dengan baik untuk ujian kalian.”
Ia kemudian memandang Haselyn dengan tatapan lembut. “Dan untuk kamu, Hasel…”
Haselyn mengalihkan pandangannya dari jendela. “Ibu tahu kamu memang pintar. Tapi cobalah lebih banyak berbaur dengan teman-temanmu, jangan terlalu sibuk dengan duniamu sendiri.”
Haselyn mengangguk pelan. “Baik, Bu.” Jawabannya singkat, tenang, dan sopan.
Namun, di balik ketenangan itu, hanya Haselyn yang tahu bahwa ia tidak menjaga jarak karena merasa lebih pintar. Ia hanya terlalu sibuk bertahan hidup.
*
*
*
Sepulang sekolah, seperti biasa Haselyn tidak langsung pulang ke rumah. Ia lebih dulu mengambil kotak-kotak makanan yang sejak pagi dititipkannya di beberapa tempat langganan, kemudian mengayuh sepedanya menuju toko yang akan segera dibuka dua hari lagi.
Toko itu adalah hasil perjuangannya selama bertahun-tahun dengan mengumpulkan setiap pundi-pundi uang yang ia kumpulkan dengan keringatnya sendiri.
Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi ditata dengan konsep yang berbeda dari toko-toko di sekitarnya. Lebih menyerupai minimarket modern dengan suasana yang hangat. Di sana tersedia berbagai kebutuhan sehari-hari, makanan siap saji, camilan, minuman, serta produk-produk usaha kecil yang selama ini ia bantu pasarkan.
Di salah satu sudut toko, Haselyn sengaja menyediakan area membaca lengkap dengan rak buku, meja kecil, dan akses Wi-Fi gratis. Ia ingin tokonya bukan sekadar tempat berbelanja, melainkan tempat di mana orang bisa beristirahat, belajar, atau sekadar menghabiskan waktu dengan nyaman.
“Sore semuanya,” sapa Haselyn sambil melangkah masuk.
Para pegawai yang masih sibuk menata dekorasi langsung menoleh dan tersenyum. “Sore, Nona,” jawab mereka serempak.
Haselyn tersenyum sopan. “Bagaimana? Sudah selesai semua?”
“Sudah, Nona,” jawab Ardan, pegawai yang paling lama bekerja bersamanya. “Tinggal dekorasi panggung untuk acara pembukaan untuk lusa.”
Haselyn mengangguk, lalu berjalan mengelilingi toko. Matanya mengamati setiap rak, pencahayaan, tata letak produk, hingga hiasan-hiasan kecil yang dipasang untuk menarik perhatian para pelanggan.
Semuanya tertata rapi. Ia mengangguk puas. “Bagus sekali.”
Tatapannya beralih kepada kelima pegawainya. “Terima kasih atas kerja keras kalian.” Ucapan itu keluar dengan tulus.
“Kalian sudah membantu mempersiapkan toko ini dengan sangat baik.”
Ia mengangkat beberapa kantong besar yang sejak tadi dibawanya. “Sekarang, istirahat dulu. Aku sudah belikan makanan, camilan, dan minuman buat kalian semua.”
“Terima kasih, Nona!” seru mereka bersamaan. Haselyn mundur beberapa langkah agar mereka bisa mengambil makanan yang diinginkan.
Ardan menghampirinya sambil membawa satu kotak makanan dan segelas jus buah. “Nona juga harus makan. Jangan cuma nyuruh kami makan tapi bosnya malah tidak makan.”
Haselyn tertawa kecil. “Terima kasih, Kak Ardan.” Ia menerima makanan itu, lalu duduk di kursi panjang yang telah disiapkan di dekat area membaca.
Kasih, yang bertugas sebagai kasir, menatapnya dengan wajah haru. “Nona repot-repot sekali. Padahal siang tadi juga sudah kirim makan siang buat kami.”
“Iya, Nona,” sahut Beno. “Makan siangnya juga banyak banget.”
Haselyn membuka kotak makanannya sambil tersenyum. “Kalau siang tadi makan buat mengisi tenaga, sekarang makan buat ngobrol santai.”
Ia menatap mereka satu per satu. “Aku tahu kalian pasti capek. Beberapa minggu terakhir kalian hampir setiap hari lembur buat bantu aku mempersiapkan pembukaan toko.”
Suasana mendadak menjadi hangat. Bagi Haselyn, orang-orang yang bekerja bersamanya bukan sekadar pegawai. Mereka adalah keluarga. Orang-orang yang memilih bertahan dan percaya pada mimpinya ketika belum ada siapa pun yang yakin bahwa seorang gadis belasan tahun mampu membangun usahanya sendiri.
Sarah menundukkan kepala. “Yang kami lakukan ini tidak seberapa dibandingkan dengan bantuan Nona selama ini.”
Matanya mulai berkaca-kaca. “Kalau bukan karena Nona, saya mungkin sudah tidak bisa membiayai hidup anak saya setelah saya berpisah dari ayahnya.”
Haselyn langsung menggeleng. “Kita sama-sama saling membantu, Kak.” Jawabannya sederhana, tetapi penuh ketulusan.
Ia kemudian menoleh ke arah sebuah ruangan yang masih dalam tahap penyelesaian. Beberapa pekerja konstruksi tampak memasang lantai dan mengecat dinding. “Nanti kalau ruang bermain anak sudah selesai, Kak Sarah bisa sesekali bawa anak kakak ke sini.”
Sarah mengangkat wajahnya. “Benarkah?”
“Iya.” Haselyn tersenyum.
“Kalau Ibu Kakak tiba-tiba ingin istirahat di rumah, Kakak nggak perlu bingung cari tempat buat nitip anak. Biar main di sini saja dan kakak bisa mengawasinya lebih mudah.” Ruangan itu memang sengaja ia rancang untuk anak-anak pelanggan maupun pegawainya. Ia ingin semua orang merasa diterima di tempat itu.
“Terima kasih banyak, Nona.”
“Ah…” Haselyn melambaikan tangan dengan ekspresi pasrah.
“Kenapa sih ikut-ikutan Kak Ardan manggil aku Nona?”
Ia tertawa geli. “Aku ini bukan anak konglomerat. Nggak usah dipanggil Nona segala.”
Rahma, pegawai termuda yang baru berusia delapan belas tahun, langsung menyahut. “Kalau dipanggil Nyonya, ketuaan. Jadi panggil Nona saja. Lagian Nona masih enam belas tahun, belum genap tujuh belas.”
Sontak semua orang tertawa. Tawa renyah memenuhi toko yang sebentar lagi akan menjadi saksi awal perjalanan baru mereka.
Haselyn ikut tertawa. Untuk sesaat, semua lelah yang ia rasakan sejak pagi seolah menghilang.