Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3.ABIYASA CEMBURU?

Acara gala dinner Mahendra Foundation berlangsung di ballroom salah satu hotel bintang lima paling bergengsi di Jakarta Pusat. Lampu kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan, memantul pada gaun-gaun malam para wanita elit dan setelan tuxedo para pengusaha terkemuka.

​Abiyasa berjalan di karpet merah dengan langkah mantap dan penuh percaya diri. Di sampingnya, Nadira berjalan perlahan, mencoba menyamai ritme langkah pria bertubuh jangkung itu. Tangan kanan Nadira dilingkarkan di lengan kekar Abiyasa—sebuah gestur wajib yang disyaratkan sang CEO sebelum mereka melangkah keluar dari mobil.

​"Jangan menunduk," bisik Abiyasa sangat pelan, tanpa mengubah senyum tipis profesionalnya saat menyapa beberapa relasi yang melewati mereka. "Tatap depan. Bahumu tegak."

​"Ini heels-nya ketinggian, Mas Abi," balas Nadira berbisik, giginya merapat menahan rasa pegal di kakinya. "Kalau saya tersandung terus jatuh, reputasi Mahendra Group yang hancur, lho."

​"Saya tidak akan membiarkanmu jatuh," jawab Abiyasa datar. Jemari tangannya yang bebas secara refleks menepuk pelan jemari Nadira yang menempel di lengannya, memberi pegangan yang kokoh. "Ikuti alur saya."

​Tiba-tiba, seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan setelan jas abu-abu menghampiri mereka membawa segelas sampanye. Di sampingnya, berdiri seorang wanita paruh baya bertubuh anggun dan perhiasan berlian yang berkilau.

​"Abiyasa! Selamat atas suksesnya akuisisi saham pekan lalu," sapa pria itu dengan suara berat yang ramah. "Dan... wah, siapa wanita cantik di sampingmu ini? Apakah ini putri dari relasi bisnismu?"

​Nadira merasakan tubuh Abiyasa sedikit mengeras. Namun, ekspresi wajah CEO muda itu tetap tenang tanpa cela.

​"Terima kasih, Pak Hendrawan," jawab Abiyasa seraya menjabat tangan pria itu. "Kenalkan, ini Nadira. Istri saya."

​Pak Hendrawan dan istrinya terperanjat seketika. Mata sang wanita paruh baya membelalak kaget, menatap Nadira dari atas ke bawah. "Istri?! Abiyasa, kamu sudah menikah? Kenapa tidak ada pesta besar? Media sama sekali tidak mencium berita ini!"

​"Kami memilih prosesi yang privat dan sakral, Ibu Hendrawan," potong Abiyasa tenang, alibi yang sudah dirancangnya dengan matang. "Nadira masih fokus menyelesaikan pendidikannya, jadi kami memutuskan untuk tidak mempublikasikannya secara berlebihan demi kenyamanan beliau."

​"Ah, begitu... luar biasa," gumam Pak Hendrawan, masih tampak takjub. "Senang bertemu denganmu, Nyonya Mahendra. Kamu kelihatan masih sangat muda dan segar."

​"Senang bertemu dengan Bapak dan Ibu juga," jawab Nadira mantap, mengulas senyum manis dan anggun sesuai petunjuk Abiyasa. "Terima kasih atas kebaikannya."

​Setelah beberapa menit berbincang ringan, Pak Hendrawan dan istrinya pamit untuk menyapa tamu lain. Nadira menarik napas lega yang cukup panjang, bahunya sedikit merosot.

​"Kamu melakukannya dengan baik," puji Abiyasa tipis.

​"Saya hampir lupa bernapas," gerutu Nadira pelan. "Ternyata akting jadi Nyonya Mahendra lebih susah daripada ujian praktik seni peran di sekolah."

​Abiyasa hendak membalas ucapan Nadira ketika seorang pelayan melintas membawa nampan berisi deretan gelas champagne dan jus buah. Abiyasa mengambil satu gelas jus jeruk dan menyerahkannya pada Nadira.

​"Minum ini," kata Abiyasa.

​Nadira menerima gelas itu dengan senang hati, meneguknya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Namun, saat ia menundukkan kepala untuk menyesap jus tersebut, gaun biru navy berbahan sutra yang melekat di tubuhnya bergeser sedikit di bagian kerah.

​Di bawah sorotan lampu kristal yang terang benderang, Abiyasa yang berdiri tepat di samping Nadira mendadak membeku. Mata cokelat gelapnya terkunci pada satu titik di leher jenjang bagian kiri Nadira—sebuah bercak kemerahan berbentuk oval kecil yang cukup jelas di atas kulitnya yang putih bersih.

​Alis Abiyasa bertaut tajam. Tatapannya yang tadi tenang mendadak berubah keras dan dingin secara drastis.

​"Nadira," panggil Abiyasa dengan suara yang diturunkan satu oktav, memancarkan aura intimidasi yang membuat bulu kuduk Nadira berdiri.

​"Ya? Kenapa, Mas?" Nadira menurunkan gelasnya, menatap Abiyasa bingung.

​"Ikut saya sekarang."

​Tanpa menunggu persetujuan Nadira, Abiyasa menggenggam pergelangan tangan gadis itu dengan erat—tidak sakit, namun sangat kuat hingga Nadira tak bisa melepaskan diri. Ia menyeret Nadira melewati kerumunan tamu undangan, menuju koridor samping yang sepi di dekat area lounge VIP.

​"Eh, Mas Abi! Mau ke mana? Malu dilihat orang-orang!" protes Nadira setengah berlari menyamai langkah lebar Abiyasa.

​Abiyasa tidak menjawab sampai mereka tiba di sebuah sudut koridor yang terhalang pilar besar. Ia mendorong pelan tubuh Nadira ke dinding marmer yang dingin, lalu berdiri menyudutkannya. Kedua tangannya bertumpu di dinding di kiri dan kanan kepala Nadira, mengunci ruang gerak gadis itu sepenuhnya.

​"Mas Abi! Kamu kenapa, sih?! Tiba-tiba marah begini!" seru Nadira dengan napas memburu, dadanya naik turun karena panik dan bingung.

​Abiyasa tidak mengacuhkan pertanyaan Nadira. Matanya yang tajam bak elang menatap lurus ke leher kiri gadis itu. Dengan jemari tangannya yang hangat, Abiyasa menyibak tatanan rambut Nadira ke belakang punggung, lalu menyentuh pinggiran bercak merah di lehernya.

​Nadira meringis kaget. Kulitnya terasa seperti tersengat saat jemari Abiyasa menyentuh area sensitif tersebut.

​"Apa ini?" tuntut Abiyasa dengan suara dingin menusuk.

​"Hah? Apaan?" Nadira kebingungan.

​"Jangan pura-pura bodoh, Nadira," tekan Abiyasa, rahangnya mengetat keras. "Tanda merah di lehermu. Apa ini?"

​Seketika, ingatan Nadira melayang pada kejadian di sekolah tadi pagi. Percakapannya dengan Sheila, dan wajah penuh curiga sahabatnya itu. Jadi tanda merah ini benar-benar kelihatan?!

​"O-oh... itu!" Nadira tergagap, merasa sangat canggung. "Itu cuma..."

​"Cuma apa?" potong Abiyasa cepat. Pikiran liar dan kelam mulai berputar di otak rasional sang CEO. Ia teringat laporan dari Pak Maman bahwa Nadira selalu minta diturunkan dua blok dari sekolah. Apakah ada laki-laki lain? Rekan sekelasnya? Atau teman prianya? Rasa kepemilikan yang tersembunyi jauh di dalam diri Abiyasa mendadak mencuat keluar dalam bentuk cemburu yang destruktif. "Siapa yang menyentuhmu di sekolah?"

​Mata Nadira membelalak lebar mendengar tuduhan itu. "Apa?! Siapa yang nyentuh?! Nggak ada yang nyentuh saya!"

​"Lalu kenapa ada tanda bekas gigitan atau ciuman di lehermu?!" gertak Abiyasa, suaranya tertahan namun penuh dengan kemarahan yang meluap. "Kamu sadar statusmu sekarang, Nadira?! Kamu adalah istri saya! Bagaimana kalau ada relasi saya yang melihat tanda itu dan berpikir yang tidak-tidak?!"

​Nadira membeku. Rasa terkejutnya seketika berubah menjadi rasa sakit hati yang mendalam. Ia menatap Abiyasa yang berdiri sangat dekat di hadapannya. Pria ini tidak sedang mengkhawatirkannya, melainkan hanya meragukan kesetiaannya dan mencemaskan nama baiknya sendiri.

​Air mata menumpuk di sudut mata Nadira, membendung kemarahan yang siap meledak.

​"Mas Abi mikir saya cewek gampangan?!" suara Nadira bergetar, namun matanya menatap Abiyasa tanpa rasa takut. "Mas Abi mikir saya selingkuh sama anak-anak di sekolah?!"

​Abiyasa tertegun sejenak melihat kilatan air mata di mata bening Nadira, namun genggaman tangannya di dinding belum melonggar. "Saya hanya minta penjelasan dari apa yang saya lihat."

​"Ini digigit nyamuk, Mas Abiyasa Mahendra yang terhormat!" jerit Nadira pelan dengan nada penuh penekanan dan kekesalan. "Nyamuk nakal di balkon kamar penthouse Anda semalam! Semalam saya nggak bisa tidur gara-gara kepikiran pernikahan gila ini, terus saya berdiri di balkon kamar saya! Nyamuknya banyak dan saya garuk terus-terusan sampai merah dan memar!"

​Abiyasa mengedipkan matanya beberapa kali, seolah-olah seluruh sistem algoritmanya yang canggih mengalami krisis mendadak. Nyamuk?

​"Kamu... digigit nyamuk?" ulang Abiyasa, suaranya mendadak kehilangan ketajaman.

​"Iya! Digigit nyamuk lalu saya garuk pakai kuku!" sembur Nadira emosi seraya mengusap air mata yang menetes di pipinya. "Tadi pagi Sheila juga nanya hal yang sama dan bikin saya malu setengah mati! Saya kira Mas Abi bakalan beda, ternyata Mas Abi malah tuduh saya yang enggak-enggak! Mas Abi pikir saya murahan banget sampai mau bikin tanda di leher sama cowok lain?!"

​Kesadaran itu menghantam Abiyasa seperti pukulan telak. CEO yang terkenal selalu rasional, dingin, dan penuh kalkulasi itu baru saja mempermalukan dirinya sendiri karena rasa cemburu buta yang tak beralasan.

​Ia kembali melihat bercak itu lebih dekat. Benar saja, di tengah bercak merah memar itu terdapat bekas garukan kuku kecil dan bentol tipis yang mulai mereda. Itu sama sekali bukan hickey atau tanda dari hubungan intim, melainkan murni reaksi kulit sensitif yang digaruk kasar.

​Keheningan yang canggung melingkupi mereka berdua. Abiyasa menghela napas panjang, menurunkan kedua tangannya dari dinding. Rasa bersalah yang asing menusuk dadanya saat melihat bahu kecil Nadira yang gemetar karena menahan tangis.

​"Nadira..." panggil Abiyasa pelan, kali ini suaranya melunak sepenuhnya.

​"Jangan sentuh saya!" Nadira menepis tangan Abiyasa saat pria itu mencoba meraih bahunya. "Mas Abi jahat. Saya memang cuma anak SMA yang dinikahi karena wasiat kakek, tapi saya punya harga diri! Saya nggak pernah terpikir buat ngelakuin hal semurah itu!"

​Abiyasa meremas jemarinya sendiri, merasa sangat bodoh untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Pria yang biasa mengendalikan rapat direksi beranggotakan puluhan pengusaha senior kini berdiri tak berdaya di hadapan seorang gadis berusia delapan belas tahun yang sedang menangis.

​"Saya... minta maaf," ujar Abiyasa pelan namun jujur. Kata 'minta maaf' adalah kosakata yang sangat jarang—bahkan hampir tidak pernah—keluar dari mulut seorang Abiyasa Mahendra.

​Nadira memalingkan wajahnya, menyapu air matanya kasar menggunakan punggung tangan, merusak sedikit riasan di pipinya.

​Abiyasa merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah sapu tangan kain sutra berwarna putih bersih. Tanpa meminta izin lagi, ia melangkah maju dan dengan sangat lembut mengusap sisa air mata di pipi Nadira. Gerakannya begitu pelan, bertolak belakang dengan sikap kasar yang ditunjukkan beberapa menit lalu.

​Nadira sempat hendak menghindar, tapi kehangatan dan kelembutan dari jemari Abiyasa membuatnya mematung.

​"Saya salah," bisik Abiyasa tepat di depan wajah Nadira. Mata cokelat gelapnya menatap lurus ke dalam iris mata Nadira dengan ketulusan yang langka. "Saya terlalu cepat mengambil kesimpulan dan bicara kasar padamu. Saya minta maaf, Nadira."

​Nadira menelan ludah, dadanya masih berdesir oleh kejengkolan, namun ketulusan di mata suaminya melunakkan sedikit amarahnya. "Mas Abi cemburu?" tanya Nadira tiba-tiba, sebuah pertanyaan polos yang meluncur tanpa disaring.

​Pertanyaan itu membuat tubuh Abiyasa kaku seketika. Tenggorokannya mendadak terasa kering. "Saya... saya hanya menjaga reputasi."

​"Alasan," cibir Nadira pelan sambil memutar matanya, walau sebuah sunggingan tipis tanpa sadar muncul di bibirnya melihat reaksi canggung sang CEO. "Muka Mas Abi merah, tuh."

​"Itu karena pencahayaan koridor ini," kelit Abiyasa cepat, berdeham keras untuk menutupi salah tingkahnya. Ia merapikan kembali posisi jasnya. "Ayo kembali ke ballroom. Kita tidak boleh menghilang terlalu lama."

​"Nanti dulu!" cegat Nadira. "Baju saya gimana? Tanda merah ini masih kelihatan."

​Abiyasa diam sejenak, lalu tangannya bergerak melepaskan pin bros emas berlogo Mahendra Group yang tersemat di kerah jas mewahnya. Ia mendekat ke arah Nadira, lalu dengan hati-hati menyesuaikan posisi kerah gaun biru navy milik Nadira ke atas, menyematkan pin bros emas tersebut di lipatan kain gaun sehingga posisi kerah terangkat sempurna menutupi seluruh leher kirinya.

​Jarak mereka yang begitu dekat membuat Nadira bisa merasakan deru napas hangat Abiyasa di kulit dadanya. Tangan pria itu terasa sangat terampil dan stabil saat menyematkan jarum bros.

​"Selesai," ujar Abiyasa setelah merapikan lipatan kain gaun tersebut. Kini, bekas gigitan nyamuk itu tertutup rapat oleh perhiasan mahal dan desain gaun yang tampak makin modis.

​Nadira menyentuh pin emas itu dengan jemarinya. "Ini... bros mahal, kan?"

​"Sangat mahal," sahut Abiyasa datar. "Jadi jangan sampai hilang. Dan besok, saya akan minta orang untuk memasang kelambu atau obat nyamuk elektronik di kamarmu."

​Nadira tak bisa menahan tawa kecilnya yang akhirnya pecah. Suara tawa renyah itu seperti musik merdu yang mencairkan seluruh ketegangan di antara mereka. Abiyasa menatap tawa itu, dan tanpa ia sadari, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat yang jujur.

​"Yuk balik ke dalam, Mas Abi," ajak Nadira seraya menggamit kembali lengan kekar suaminya.

"Nanti dicariin sama kolega bisnis Mas yang galak-galak itu."

​Abiyasa menepuk pelan tangan Nadira yang melingkar di lengannya. "Mereka tidak galak. Kamu yang terlalu penakut."

​"Penakut apa?! Saya tadi berani marahin CEO Mahendra Group, ya!" balas Nadira bangga.

​Abiyasa menggelengkan kepala pelan, menahan senyumnya saat mereka kembali melangkah masuk ke dalam ballroom yang megah. Malam itu, di antara kilauan lampu kristal dan dentingan gelas mahal, sebuah retakan kecil mulai muncul di tembok es tempat Abiyasa mengurung hatinya selama ini.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!