Indonesia
NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Aku Tidak Berutang pada Keluarga Prasetyo

Bara membuka pintu hanya selebar tubuhnya.

Reyhan langsung mendorong dari luar. "Minggir! Saya mau bicara dengan Arum!"

Bara menahan daun pintu tanpa bergeser. "Kamu masuk kompleks tanpa izin, menggedor rumah dinas, dan mengabaikan larangan petugas. Mundur ke teras."

"Anda menyembunyikannya!"

"Arum sudah menyatakan tidak ingin bertemu."

"Biarkan dia bilang sendiri!"

Dari jarak aman, Arum menjawab, "Saya tidak mau bicara lagi, Reyhan. Pergi."

Reyhan membeku sesaat, lalu mendorong pintu lebih keras. Bara membuka penuh agar engsel tidak rusak, tetapi tubuhnya tetap menutup jalan.

"Kamu sudah dipengaruhi dia," kata Reyhan. Air hujan menetes dari rambut ke wajahnya. "Ibu sendirian, Ayah ditahan, dan kamu bermesraan di sini!"

"Kondisi orang tuamu bukan alasan untuk masuk paksa."

"Diam!"

Reyhan mencoba melewati sisi Bara. Pada saat yang sama, Arum bergerak setengah langkah karena takut mereka bertabrakan. Reyhan melihat celah itu dan mengulurkan tangan.

"Arum, ikut aku sekarang."

Jarinya mencengkeram lengan atas Arum.

"Lepaskan!"

Bara bereaksi dalam satu gerak. Ia menangkap pergelangan Reyhan, memutar cukup untuk membuka cengkeraman, lalu menarik Arum ke belakang tubuhnya.

"Jangan sentuh dia."

Reyhan mengayunkan tangan bebas ke arah wajah Bara. Bara menangkis, mengunci lengan itu ke belakang, dan menekan tubuh Reyhan ke tiang teras.

"Berhenti melawan."

"Lepaskan saya!"

Reyhan menghentakkan kaki dan mencoba menyikut. Bara memindahkan tumpuan, tetapi kaki kanannya yang lama terluka tertarik oleh gerak mendadak. Nyeri menusuk paha. Kuncian sempat longgar.

Reyhan memanfaatkan celah untuk menerjang lagi ke arah Arum.

Bara mendorong bahunya menjauh. Dorongan itu tidak keras, tetapi lantai teras licin oleh air. Reyhan kehilangan keseimbangan, turun satu anak tangga, lalu jatuh dengan lutut menghantam tanah.

Ia menjerit sambil memegang lutut kanan.

Bara tidak mengejar atau menendang. Ia segera berdiri di antara Reyhan dan Arum, telapak terbuka, napas berat karena menahan sakit di kakinya sendiri.

"Jangan bergerak kalau lututmu sakit. Petugas sedang datang."

"Kaki saya patah! Dia menyerang saya!"

Pintu-pintu rumah sekitar terbuka. Bu Yanti dan beberapa istri prajurit berlari membawa payung. Dua petugas jaga tiba dari arah lapangan, disusul kendaraan Kapten Iwan.

"Semua tetap di tempat," perintah Iwan.

Ia melihat Reyhan di tanah, Bara berdiri dengan kaki kanan sedikit kaku, dan Arum memegangi lengan atasnya. Salah satu petugas memanggil tenaga medis, sementara yang lain memisahkan area agar warga tidak mendekat.

"Siapa yang menyentuh lebih dulu?" tanya Iwan.

"Dia menarik Arum," jawab Bara. "Lalu mengayunkan tangan. Saya buka cengkeraman, mengunci, dan mendorong ketika dia menerjang lagi. Dia jatuh di tangga basah."

Iwan tidak langsung menerima penjelasan itu sebagai kebenaran. Ia bertanya kepada Arum, lalu Bu Yanti, petugas pos, dan dua saksi yang melihat dari rumah seberang. Setiap keterangan dicatat terpisah.

"Saya sudah menyuruh Reyhan pergi dari sore," kata Arum. "Malam ini saya juga bilang tidak mau bertemu. Dia masuk dan menarik lengan saya."

Petugas medis memeriksa lutut Reyhan. "Kemungkinan terkilir. Tidak terlihat perubahan bentuk, tapi perlu pemeriksaan klinik."

"Saya mau melaporkan Bara!" teriak Reyhan.

"Kamu berhak memberi keterangan," jawab Iwan. "Kejadian malam ini akan dicatat lengkap, termasuk masuk tanpa izin, perusakan atau gangguan pintu, penarikan terhadap Arum, dan tindakan Mayor Bara. Jangan menentukan kesimpulan sebelum pemeriksaan."

Reyhan memandang kerumunan. "Kalian semua berpihak karena dia Mayor!"

Iwan menatap dingin. "Kalau kami berpihak pada pangkat, saya tidak akan meminta keterangan Mayor Bara dan memeriksa cederamu. Ikuti proses."

Arum berdiri di bawah teras. Bekas merah mulai muncul pada lengan tempat Reyhan mencengkeram. Bu Yanti hendak menutupinya dengan kain, tetapi Arum menggeleng.

"Biarkan dicatat dulu."

Iwan meminta petugas perempuan memotret bekas itu dengan persetujuan Arum. Pintu dan lantai licin juga didokumentasikan. Rekaman pesan Bara ke pos menunjukkan ia meminta bantuan sejak gedoran pertama.

Setelah semua keterangan awal terkumpul, Iwan berkata, "Dari saksi dan bukti awal, tindakan Bara berhenti setelah ancaman terpisah. Tidak terlihat serangan lanjutan. Kesimpulan resmi mengikuti pemeriksaan, tetapi untuk malam ini Reyhan dibawa ke klinik dan kemudian dimintai keterangan atas gangguan serta penarikan paksa."

Ia menoleh kepada Bara. "Senjata dinas?"

"Tersimpan di kamar terkunci. Saya tidak membawanya ke pintu."

"Baik. Petugas akan mencatat itu. Berapa kali kamu mendorong?"

"Satu kali, saat dia menerjang kembali."

"Setelah jatuh?"

"Tidak ada kontak. Saya menyuruhnya diam dan menunggu tenaga medis."

Iwan mengulang pertanyaan yang sama kepada dua saksi. Jawaban mereka sesuai. Salah seorang bahkan melihat Bara membuka telapak tangan setelah Reyhan jatuh, tanda bahwa ia tidak sedang melanjutkan serangan.

"Mayor Bara tetap membuat laporan tertulis malam ini," putus Iwan. "Cedera lama di kaki juga diperiksa. Saya tidak mau besok ada cerita bahwa kejadian ditutup karena pangkat."

"Siap."

Kepatuhan Bara membuat beberapa warga yang tadinya menunggu pembelaan keras justru terdiam. Seorang komandan pun tetap harus menjelaskan tenaga yang digunakannya. Perlindungan bukan alasan untuk bebas bertindak.

Arum memperhatikan semuanya. Inilah perbedaan paling jelas antara rumah lama dan hidup barunya. Di rumah Prasetyo, yang berkuasa selalu otomatis benar. Di sini, bahkan lelaki yang ia cintai harus menyerahkan tindakannya pada catatan, saksi, dan pemeriksaan.

"Saya tidak akan pergi sebelum Arum ikut!"

Arum melangkah ke batas teras. Suara hujan mulai mengecil, membuat kalimatnya terdengar oleh seluruh halaman.

"Dengarkan baik-baik, Reyhan. Saya tidak berutang apa pun pada keluarga Prasetyo."

Yatmi yang datang terlambat dari gerbang luar berhenti di belakang petugas. "Arum!"

Arum menoleh kepadanya.

"Delapan tahun saya bekerja di rumah Ibu. Uang ayah saya dipakai tanpa sepengetahuan saya. Perjodohan dibuat tanpa persetujuan saya. Hadiah Reyhan tidak membeli hidup saya. Hari ini semua utang yang kalian ciptakan sendiri selesai."

"Kami membesarkanmu!"

"Saya membesarkan diri saya sambil membersihkan rumah Ibu."

Wajah Yatmi berubah. Tak ada lagi Arum kecil yang bisa ditakuti dengan ancaman tidak diberi makan.

Reyhan mencoba bangkit, tetapi petugas medis menahannya agar lutut tidak bertambah cedera. Tusuk konde kayu jatuh dari sakunya ke tanah basah.

Arum melihat benda itu, lalu berkata, "Bawa juga kenangan itu. Saya tidak membencinya, tetapi saya tidak akan tinggal di dalamnya."

Seorang petugas mengambil tusuk konde dan memasukkannya ke kantong barang Reyhan.

Yatmi mulai menangis, meminta putranya tidak dibawa. Iwan menjelaskan bahwa Reyhan akan diperiksa di klinik dan dimintai keterangan, bukan dihukum di halaman. Bu Yanti mengajak para warga mundur agar proses tidak berubah menjadi tontonan.

Setelah Reyhan diangkat ke kendaraan, Bara akhirnya duduk di anak tangga. Kaki kanannya berdenyut hebat akibat kuncian tadi.

Arum berlutut di depannya. "Mas Bara terluka?"

"Luka lama tertarik. Tidak parah."

"Harus diperiksa juga."

"Ya."

Ia menerima tanpa membantah. Iwan memerintahkan kendaraan kedua membawa Bara ke klinik setelah dokumentasi selesai.

Di klinik, pemeriksaan awal menunjukkan lutut Reyhan terkilir tanpa tanda patah. Ia diberi penyangga sementara dan dianjurkan pemeriksaan lanjutan. Bara mengalami ketegangan pada otot sekitar luka lama, tanpa cedera baru yang serius.

Iwan datang membawa dua formulir. Reyhan menuliskan versinya sendiri. Bara mengisi laporan penggunaan tenaga dan menandatangani setiap halaman. Arum memberi keterangan didampingi petugas perempuan serta Bu Yanti.

"Apakah Saudari ingin membuat pengaduan atas penarikan dan gangguan berulang?" tanya Iwan.

Arum melihat Reyhan di balik tirai pemeriksaan. Dahulu ia mungkin akan berkata tidak demi menjaga wajah keluarga. Malam ini, ia memilih agar batasnya memiliki akibat yang jelas.

"Ya. Saya ingin semuanya dicatat. Saya tidak ingin dia mendatangi saya lagi tanpa persetujuan."

Iwan mengangguk. "Keinginan Saudari dicatat. Langkah lanjut akan dijelaskan setelah pemeriksaan."

Reyhan mendengar jawaban itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah. Lututnya sakit, ibunya menangis di luar, dan tusuk konde yang pernah ia kira mengikat Arum kini berada di kantong barang, tak lebih kuat dari sepotong kayu.

Mereka kembali ke halaman Blok C-3 menjelang tengah malam untuk mengambil barang dan menutup dokumentasi pintu. Hujan tinggal gerimis. Beberapa warga masih menunggu karena cemas, bukan lagi ingin menonton.

Sebelum berangkat, Bara menatap Arum. "Tadi aku tidak mengatakannya di depan Reyhan karena bukan aku yang menentukan. Sekarang, setelah kamu menutup semuanya sendiri, aku akan bertanya."

Arum menunggu.

"Maukah kamu berjalan menuju pernikahan denganku? Bukan malam ini, bukan karena takut, dan bukan karena semua orang melihat. Kita urus dengan benar ketika kamu siap."

Air mata kembali memenuhi mata Arum, tetapi senyumnya muncul lebih dulu.

"Saya mau, Mas Bara."

Bara berdiri meski harus menahan nyeri. Ia merangkul Arum dengan satu lengan, hati-hati agar tidak mengenai bekas cengkeraman.

Di hadapan petugas, Bu Yanti, dan para warga yang masih tersisa, ia berkata, "Mulai sekarang, dia calon istri yang kupilih. Siapa pun yang ingin bicara dengannya harus menghormati jawabannya."

Arum bersandar sesaat ke dadanya. Kali ini pengakuan itu bukan klaim sepihak, melainkan jawaban atas persetujuannya.

Bu Yanti mengusap mata dan tersenyum. Para petugas tetap menyelesaikan catatan, memastikan kebahagiaan baru itu tidak menghapus tanggung jawab malam tersebut.

Di bawah sisa hujan, keluarga Prasetyo kehilangan utang terakhir yang selama ini mereka ikatkan pada Arum.

Dan Arum memilih sendiri masa depan yang hendak ia masuki.

1
Sayekti 0519
mungkin lain kali bc lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!