Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Pengawal berpakaian serba hitam mengantar Estella menyusuri lorong panjang di area belakang mansion. Bukannya diarahkan ke kamar tamu mewah berlapis karpet sutra, langkah kaki mereka berhenti di ujung lorong temaram lantai bawah area khusus tempat tinggal para pekerja rumah tangga.
KREEEKKK.
Pintu kayu sederhana berdecit pelan saat dibuka. Estella melangkah masuk dengan tubuh yang masih sedikit gemetaran akibat insiden minyak panas di aula tadi.
Ruangan itu teramat kecil dan sederhana. Hanya ada satu ranjang kayu berukuran single dengan kasur tipis, sebuah lemari pakaian berpintu tunggal, dan jendela kecil berjeruji besi yang mengarah ke dinding halaman belakang. Sangat bertolak belakang dengan penthouse megah lantai 35 atau kamar mandi marmer seluas lapangan sepak bola di rumah keluarga Aurora.
Pengawal itu menutup pintu dari luar dengan bunyi BAMM yang tegas, meninggalkan Estella sendirian dalam kesunyian.
Estella berdiri mematung di tengah kamar kecil tersebut. Ia menatap selimut tipis berlapis kain linen murah di atas ranjang, lalu menyunggingkan sebuah senyuman miring yang teramat getir.
"Anjir..." gumam Estella seraya memegangi pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. "Baru kemarin gue bangun tidur dinobatkan jadi anak sultan kaya raya yang punya Black Card sama mobil Porsche... Sekarang, dalam hitungan jam, status gue merosot tajam jadi pembantu pribadi seorang psikopat gila darah! Roda kehidupan berputarnya kagak main-main, langsung meluncur terjun bebas ke jurang!"
Estella mengumpat kesal dalam hati, membayangkan perubahan nasibnya yang begitu tragis dan di luar nalar.
Ia merebahkan tubuhnya secara asal-asalan ke atas kasur tipis itu, lalu menatap langit-langit kamar yang polos tanpa lampu kristal.
"Aishhh! Mana sisa hidup gue cuma tinggal tiga puluh hari lagi!" omel Estella heboh seraya meratapi takdirnya yang serba apes. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangisi nasibnya yang amat mengenaskan.
"Bayangin coba! Bukannya memanfaatkan sisa umur buat keliling dunia, belanja barang bermerek, atau makan steak berlapis emas sebelum mati... gue malah harus menikmati hari-hari terakhir gue dengan jadi babu! Nyapu, ngepel, nyiapin kopi buat cowok kulkas dua pintu yang siap memotong leher gue kapan saja!"
Estella melepaskan tangannya dari wajah, lalu menatap ke langit-langit dengan mata membelalak dramatis.
"Kurang sabar apa coba gue di dunia ini?! Dari hidup pertama sampai terlempar ke dunia novel, penderitaan gue kaga ada habisnya! Kenapa takdir gue begini amat, ya Tuhan?!"
"Aishhh, ssibal!" seru Estella meluapkan kekesalannya dalam bahasa Korea yang spontan meluncur dari bibirnya.
Ia menghentakkan kedua kakinya berkali-kali ke atas kasur tipis itu dengan penuh emosi, membuat dipan kayu di bawahnya berderit-derit riuh. Setelah puas merengek dan meluapkan kekesalannya pada kasur tak berdosa itu, Estella menghembuskan napas panjang yang amat berat. Ia memeluk bantalnya erat-erat, mempersiapkan mental untuk menghadapi hari pertamanya sebagai 'babu' sang Vex Noir esok pagi.
Kekesalan Estella pada dipan kayu yang berderit belum sepenuhnya mereda ketika ketukan tegas terdengar dari balik pintu kamarnya. Tiga ketukan beruntun, berjarak presisi, tanpa jeda emosi sedikit pun.
TOK. TOK. TOK.
Estella meloncat kaget dari kasur tipisnya. Ia membetulkan gaun tidurnya yang agak kusut, menetralkan napas, lalu memutar gagang pintu pelan-pelan.
Di balik pintu, berdiri Edwin—asisten pribadi Lucian. Pria berkacamata silindris itu berdiri dengan posisi tubuh sempurna, setelan jas hitamnya tidak menyisakan satu lipatan pun, dan ekspresi wajahnya sebeku es di dalam freezer.
"Nona Estella," panggil Edwin dengan suara bariton yang teratur. "Tuan Lucian memanggil Anda. Harap ikuti saya sekarang."
Estella berkedip bingung, melirik jam dinding di lorong yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat. "Sekarang? Jam segini? Mau ngapain malam-malam begini, Pak Asisten? Saya baru aja mau meratapi nasib sambil tidur, lho."
Edwin tidak merespons gurauan itu. Ia hanya miringkan tubuhnya sedikit, memberikan isyarat agar Estella berjalan di depannya. "Silakan, Nona. Tuan Lucian tidak menyukai orang yang membuat beliau menunggu."
Aura dingin yang dipancarkan Edwin membuat Estella menelan kembali omelan panjang yang sudah berada di ujung lidahnya. Mengingat nasib pelayan yang disiram minyak panas tadi siang, Estella memutus untuk patuh.
Dengan langkah gontai dan bahu terkulai loyo, Estella menyeret kakinya mengikuti Edwin menyusuri lorong temaram mansion, keluar melewati aula utama, hingga tiba di area pelataran parkir khusus. Di sana, sebuah sedan hitam mewah ber-kaca gelap sudah menyala halus, memancarkan derum mesin yang amat halus namun bertenaga.
Edwin membukakan pintu belakang untuk Estella.
Estella masuk ke dalam kabin mobil yang beraroma kayu cendana dan kulit mahal itu. Ia menyandarkan punggungnya yang pegal ke jok empuk, menatap barisan lampu taman mansion yang perlahan memudar saat mobil mulai melaju membelah kegelapan malam.
Setelah beberapa menit hening yang canggung, Estella tidak tahan lagi untuk tidak bertanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap bagian belakang kepala Edwin dari balik kursi kemudi.
"Pak Edwin..." panggil Estella pelan. "Lucian-nya mana? Kok kita cuma berdua di mobil? Kita mau ke mana sih malam-malam begini? Masak iya babu baru langsung diajak touring malam?"
Edwin menatap Estella lewat cermin tengah, matanya di balik kacamata memantulkan cahaya redup jalanan.
"Tuan Lucian sudah sampai lebih dulu di lokasi," jawab Edwin datar, mengembalikan pandangannya lurus ke jalan raya yang makin lengang. "Tugas Anda malam ini adalah mendampingi beliau. Saya menyarankan Nona untuk mempersiapkan mental dan menjaga sikap selama berada di sana."
"Lokasi? Lokasi apaan?" cecer Estella dengan kerutan makin dalam di dahinya. "Lokasi eksekusi mangsa baru? Atau pesta anak hits?"
"Anda akan tahu sebentar lagi, Nona Estella," pungkas Edwin singkat, menutup pembicaraan dengan nada tegas yang memutus ruang untuk bertanya lebih jauh.
Estella bersandar kembali ke kursinya dengan helaan napas berat. Jantungnya mulai berdegup kencang secara tidak teratur. Firasatnya mengatakan bahwa panggilan malam ini bukan sekadar tugas membersihkan debu atau membuat cangkir kopi biasa.