Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17.Gelombang baru
Mobil sedan hitam mewah milik Arka berhenti tepat di depan loby utama Rumah Sakit Medika Prima. Arka melangkah keluar dengan mantel jas yang terkancing rapi, memancarkan aura wibawa yang membuat beberapa perawat dan pengunjung hospital refleks menoleh serta menundukkan kepala penuh hormat.
Di belakangnya, Raymond berjalan cepat membawa sebuah buket bunga segar berwarna putih dan keranjang buah-buahan kualitas premium.
Arka menyusuri koridor lantai VIP dengan langkah lebar yang tegas. Dua pengawal bertubuh tegap yang berjaga di depan pintu kamar langsung berdiri tegap dan membungkuk saat melihat kedatangan bos besar mereka.
"Bagaimana situasinya?" tanya Arka singkat.
"Aman, Pak Arka. Tidak ada pihak luar yang mencurigakan mendekati area kamar sejak tadi," jawab salah satu pengawal sigap.
Arka mengangguk puas, lalu mendorong pintu kayu jati tebal itu secara perlahan.
Di dalam ruangan yang harum oleh wewangian terapi tersebut, suasana terasa hangat dan penuh keharuan. Aira sedang duduk di samping tempat tidur, menyuapkan beberapa sendok bubur halus ke mulut Ny. Wahyuni dengan sangat sabar. Wajah Ny. Wahyuni masih pucat dan tampak kuyu, tetapi binar matanya yang redup kini telah hidup kembali, memancarkan rasa syukur yang tak terhingga saat menatap putri tunggalnya.
"Mas Arka?" Aira tersentak kaget dan buru-buru meletakkan mangkuk buburnya saat melihat Arka melangkah masuk.
Ny. Wahyuni mengalihkan pandangannya yang masih agak kabur ke arah pintu. Sosok pria tinggi besar, tampan, dan berbusana sangat rapi yang berdiri di depan pintu membuat Ny. Wahyuni menatap bingung sekaligus kagum.
Arka memberikan isyarat pada Raymond untuk meletakkan bunga dan buah di meja sudut, lalu pria 39 tahun itu melangkah mendekati tempat tidur. Dengan sikap yang sangat sopan dan penuh penghormatan—jauh dari kesan pengusaha dingin yang angkuh—Arka menundukkan tubuhnya sedikit dan meraih telapak tangan Ny. Wahyuni yang kurus, lalu menciumnya pelan.
"Selamat siang, Ibu Wahyuni," sapa Arka dengan suara beratnya yang melunak penuh kehangatan.
"Saya Arka."
Ny. Wahyuni mengerjapkan matanya, dadanya naik turun pelan karena emosi yang haru. Suaranya masih sangat serak dan terputus-putus, tetapi tatapan matanya penuh dengan pertanyaan.
"M-mas... Arka...?"
Aira buru-buru mendekat, menggenggam tangan ibunya yang sebelah lagi dengan jemari yang bergetar.
"Mama... ini Mas Arka Danuartha. Pria yang Aira ceritakan tadi... pria baik yang sudah membantu biaya operasi dan perawatan tempat Mama dirawat."
Aira sengaja tidak menyebutkan kata 'suami' atau 'kontrak dua miliar' di awal kesadaran ibunya, khawatir kejutan emosional akan mengganggu stabilitas tekanan darah dan jantung Ny. Wahyuni yang baru saja pulih dari koma.
Ny. Wahyuni menatap Arka lurus-lurus. Meskipun fisiknya sangat lemah, naluri seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan Aira tetap tajam.
Ia bisa melihat cara Arka berdiri di samping Aira, serta cara pria dewasa itu menatap putrinya dengan pandangan yang penuh rasa perlindungan yang dalam.
"T-terima... kasih... Nak Arka..." bisik Ny. Wahyuni dengan mata berkaca-kaca. "Sudah... menolong... Aira dan ibu..."
Arka menggeleng pelan, tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang sangat langka yang hanya ia perlihatkan pada Elano dan Aira.
"Ibu tidak perlu berterima kasih. Sudah menjadi kewajiban saya untuk memastikan Ibu mendapatkan perawatan medis terbaik hingga pulih total."
Arka kemudian menarik sebuah kursi dan duduk di samping Aira. Tangannya secara alami hinggap di sandaran kursi Aira, menciptakan jarak yang sangat dekat di antara mereka berdua di depan Ny. Wahyuni.
"Dokter sudah memberitahu saya bahwa perkembangan fisik Ibu sangat bagus," lanjut Arka menatap Ny. Wahyuni. "Setelah kondisi fisik Ibu stabil dalam dua atau tiga hari ke depan, saya akan memindahkan Ibu ke rumah pemulihan privat milik keluarga Danuartha agar Ibu bisa menjalani terapi fisik dengan suasana yang jauh lebih tenang dan nyaman."
Ny. Wahyuni tertegun mendengarnya. Perhatian dan fasilitas yang ditawarkan pria ini jauh melampaui kebaikan seorang penolong biasa.
Ny. Wahyuni perlahan menatap Aira, lalu beralih menatap Arka kembali.
"Nak Arka... ma-maafkan ibu... tapi... sebenarnya... apa hubungan... Nak Arka... dengan putri ibu...?"
Pertanyaan yang keluar dari bibir Ny. Wahyuni membuat Aira seketika menegang di tempat duduknya. Wajah gadis itu berubah pucat karena panik. Aira bingung bagaimana harus menjelaskan situasi pernikahan kontrak mereka tanpa membuat ibunya syok atau berkecil hati.
Aira baru saja hendak memotong dan memberi penjelasan diplomatis, namun Arka sudah lebih dulu menggenggam jemari Aira yang gemetar di atas pangkuan. Genggaman tangan Arka begitu hangat, erat, dan memberikan rasa kepastian yang mutlak.
Arka menatap mata Ny. Wahyuni dengan keteguhan seorang pria sejati.
"Ibu Wahyuni," ujar Arka dengan nada suara yang sangat mantap dan penuh kejujuran. "Aira adalah istri saya. Kami sudah menikah secara sah di hadapan hukum dan agama beberapa minggu lalu."
Deg.
Dada Aira berdesir hebat. Napasnya seakan tertahan di tenggorokan. Ia menoleh menatap wajah Arka dari samping, terpaku oleh ketegasan pria itu yang mengakui dirinya sebagai istri di hadapan sang ibu tanpa ada keraguan sedikit pun.
Ny. Wahyuni melebarkan matanya yang layu, terkejut luar biasa.
"M-menikah...?"
"Iya, Bu," sambung Arka tenang, tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Aira.
"Saya meminta izin dan restu dari Ibu secara langsung hari ini. Maafkan saya karena proses pernikahan kami berlangsung sangat cepat saat Ibu masih belum sadarkan diri, demi mengamankan posisi Aira dan memastikan pengobatan Ibu berjalan tanpa hambatan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab."
Arka memajukan tubuhnya sedikit, menatap mata Ny. Wahyuni dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. "Saya berjanji di hadapan Ibu hari ini... saya akan menjaga, menghormati, dan melindungi Aira serta Ibu dengan segenap kemampuan dan kehormatan hidup saya."
Air mata Ny. Wahyuni menetes membasahi bantalnya. Bukan air mata kesedihan, melainkan keharuan yang membuncah luar biasa. Sebagai seorang ibu yang selama ini hidup menderita akibat kekejaman mantan suaminya, impian terbesar Ny. Wahyuni hanyalah melihat putri tunggalnya yang polos mendapatkan pria yang bertanggung jawab, kuat, dan mampu melindungi hidupnya.
Ny. Wahyuni perlahan menggerakkan tangannya yang lemah, mengisyaratkan Arka dan Aira untuk mendekatkan tangan mereka yang sedang bergenggaman. Dengan sisa tenaganya, Ny. Wahyuni meletakkan telapak tangannya di atas genggaman tangan Arka dan Aira.
"Jaga... putriku... Nak Arka..." tangis Ny. Wahyuni pecah dalam suara serak yang sangat tulus. "Aira... anak yang sangat baik... dia sudah banyak menderita..."
"Saya tahu, Bu. Saya janji," balas Arka dalam dan mantap.
Aira tak kuasa menahan air matanya lagi.
Gadis itu menunduk dan menangis haru di dada ibunya, sementara tangan kiri Arka terangkat mengusap punggung Aira dengan lembut untuk menenangkannya.
Di dalam ruang VIP yang tenang itu, ikatan di antara mereka berdua yang awalnya dimulai dari sebuah kertas perjanjian dingin bernilai dua miliar rupiah... kini telah bertransformasi menjadi janji suci di hadapan seorang ibu.
Dua jam kemudian, setelah Ny. Wahyuni tertidur kembali akibat efek obat pemulihan, Arka dan Aira melangkah keluar dari kamar VIP.
Aira berjalan menyusuri koridor rumah sakit di samping Arka dengan perasaan yang campur aduh. Kebahagiaan atas kesadaran ibunya dan kepastian dari pengakuan Arka tadi masih membakar dadanya dengan kehangatan yang manis.
"Mas Arka..." panggil Aira pelan saat mereka berada di dalam lift privat yang sedang bergerak turun.
Arka menoleh, merapikan jasnya.
"Ya?"
"Terima kasih untuk yang tadi," kata Aira tulus, matanya yang sedikit sembab menatap pria di sampingnya. "Mas Arka tidak perlu sampai mengaku seperti itu di depan Mama... tapi Mas Arka melakukannya dengan sangat indah. Mama jadi tenang sekali."
Arka membalikkan tubuhnya menghadapi Aira sepenuhnya. Lift kaca yang terus bergerak turun itu memantulkan bayangan mereka berdua.
"Saya tidak berbohong di depan ibumu, Aira," kata Arka dengan nada suara yang dalam, melipat kedua tangannya di dada.
"Kamu memang istri saya. Pengakuan itu bukan sandiwara."
Aira menundukkan pandangannya, meremas kardigannya.
"Tapi... kita kan punya batas waktu kontrak, Mas. Nanti kalau waktunya selesai..."
Arka mengikis jarak di antara mereka, menghentikan kalimat Aira dengan mengusap dagu gadis itu pelan, memaksa Aira untuk kembali menatap matanya.
"Apakah kamu masih menginginkan kontrak itu berakhir, Aira?" tanya Arka dengan tatapan mata hitamnya yang begitu tajam dan mengunci jiwa.
Aira terpaku. Pertanyaan Arka bagaikan petir yang menyambar sudut hatinya yang paling dalam. Haruskah ia jujur bahwa dadanya kini telah sepenuhnya dipenuhi oleh sosok Arka? Bahwa ia tidak pernah lagi membayangkan hidup tanpa pria ini dan Elano?
Sebelum Aira sempat memberikan jawaban, pintu lift terbuka dengan bunyi denting yang lembut di lantai dasar.
Raymond sudah berdiri di depan pintu lift dengan raut wajah yang sangat serius dan terburu-buru. Pria kepercayaan Arka itu memegang sebuah tablet digital dan langsung membungkuk sedikit.
"Pak Arka, maaf mengganggu," potong Raymond dengan nada berbisik yang amat mendesak. "Ada situasi darurat di dewan direksi dan media."
Alis tebal Arka bertaut tajam. Kehangatan di matanya seketika menguap, berganti dengan sikap profesionalnya yang dingin.
"Ada apa?"
Raymond menggeser layar tabletnya dan memperlihatkannya pada Arka. "Seseorang baru saja membocorkan dokumen transaksi keuangan pelunasan utang keluarga Aira sebesar dua miliar rupiah ke situs berita investigasi bisnis. Narasi yang dibangun oleh pihak pembocor adalah... Pak Arka menggunakan dana perusahaan Danuartha Group untuk membeli istri di bawah umur dan melakukan tindak pidana pencucian uang."
Deg.
Aira yang berdiri di samping Arka dapat mendengar dengan jelas ucapan Raymond. Wajah gadis itu seketika menjadi sepucat kertas. Tubuhnya gemetar hebat. Dania! Ini pasti perbuatan Dania dan pihak keluarganya!
Media massa mulai ramai mempublikasikan berita hoaks dan fitnah yang merusak nama baik Arka serta menghancurkan harga diri Aira secara tragis di depan publik.
Arka membaca judul-judul berita di layar tablet itu dengan mata menyipit tajam. Aura kegelapan dan intimidasi yang sangat pekat memancar dari tubuh pria 39 tahun itu, membuat udara di sekitar hall lantai dasar rumah sakit mendadak membeku.
Namun, alih-alih panik atau marah pada Aira, Arka justru melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Aira, menarik tubuh gadis yang sedang ketakutan itu merapat ke samping tubuhnya dalam sebuah dekapan perlindungan yang tak teroyakkan.
"Raymond," panggil Arka dengan nada suara yang sangat tenang namun mengandung ancaman kehancuran bagi musuh-musuhnya.
"Saya, Pak?"
"Kumpulkan seluruh pemegang saham utama dan gelar konferensi pers darurat di gedung Danuartha Tower dalam waktu dua jam dari sekarang," perintah Arka dingin.
Arka menunduk menatap Aira yang bersandar ketakutan di dadanya. Pria itu mengecup puncak kepala Aira dengan hangat di depan Raymond dan para pengawal.
"Dan pastikan Aira mendampingi saya berdiri di podium utama," lanjut Arka tanpa ragu sedikit pun.
"Sudah waktunya saya menghancurkan Dania dan siapa pun yang berani menyentuh keluarga saya sampai ke akar-akarnya."
Aira mendongak menatap raut wajah Arka yang kokoh bagaikan karang di tengah badai. Ketakutan yang sempat melumpuhkan jiwanya perlahan meluap berganti rasa percaya diri yang kuat. Selama pria perkasa ini berdiri di sampingnya, Aira tahu... tidak ada badai apa pun di dunia ini yang sanggup merubuhkan mereka.
_Bersambung