Indonesia
NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Misi Menarik Perhatian

Keputusan Alee untuk pindah duduk ke pojok belakang ternyata tidak serta-merta menghentikan misinya. Jika berdekatan langsung secara fisik berisiko membuat mulut ceplas-ceplosnya keceplosan nembak Rama di tempat, maka Alee harus memutar otak mencari cara lain. Ia butuh strategi baru yang lebih halus tapi ampuh. Targetnya cuma satu: membuat Ramaditya notice keberadaannya setiap saat.

Langkah pertama Alee dimulai dari ponselnya. Malam itu, berbekal kontak yang ia dapatkan dari grup WhatsApp kelas 10 MIPA 1, Alee dengan jemari mantap menyimpan nomor Rama dengan nama 'Pak Ketua Es'

Alee menatap layar ponselnya sambil tersenyum miring. Tanpa buang waktu, ia mulai melancarkan aksi spam pesan dengan berbagai alibi tugas sekolah dan urusan kelas yang sebenarnya sudah diumumkan.

> Alee: Ram, halaman 45 nomor 3 itu pakai rumus vektor yang diturunkan atau langsung masukkan angka?

> Rama: Pakai rumus dasar aja, Lee. Ada di contoh halaman 42.

> Alee: Oke. Terus kalau nomor 4 gimana? Rumusnya sama?

> Rama:Sama. Tinggal diganti variabel Y-nya.

> Alee: Oke sip. Btw besok Pak Hartono masuk jam pertama kan? Jangan lupa bawa spidol kelas ya Pak Ketua.

> Rama: Iya, selalu saya bawa.

> Alee: Satu lagi, itu tugas kelompok Biologi dikumpul hari Jumat atau Sabtu?

> Rama: Hari Jumat sebelum istirahat pertama.

Alee tertawa kegirangan di atas kasurnya sambil memeluk bantal. Walaupun balasan Rama singkat, hemat, dan terkesan sangat formal, bagi Alee itu sudah lebih dari cukup. Yang penting nama "Aleea" muncul di layar ponsel Rama hampir setiap malam, memastikan cowok itu tidak akan pernah melupakan sosoknya.

---

Keesokan harinya di sekolah, taktik Alee meningkat ke tahap berikutnya. Berada di tempat duduk belakang tak menghalanginya untuk terus mencari perhatian sang Ketua Kelas. Setiap ada kesempatan di sela-sela pergantian jam pelajaran, Alee sengaja melancarkan interaksi-interaksi kecil.

Saat jam istirahat pertama berbunyi, Rama seperti biasa duduk tenang di bangkunya, membaca buku panduan pelajaran dengan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya.

Alee yang baru kembali dari kantin bersama Nara sengaja melintas di dekat meja Rama. Ia menepuk meja Rama pelan menggunakan buku tulisnya.

"Woi, Pak Ketua! Kacamata lu miring tuh, kedapetan lagi ngelamun ya?" goda Alee nyaring.

Rama mendongak pelan, membetulkan letak kacamatanya dengan telunjuk. Wajahnya tetap tenang, menatap Alee dengan pandangan teduh yang sabar.

"Nggak ngelamun, Alee. Ini lagi baca materi Fisika buat minggu depan," sahut Rama lembut.

"Dih, rajin amat. Awas otaknya meledak gara-gara kebanyakan rumus!" balas Alee sambil menjulurkan lidahnya tipis sebelum melangkah santai ke bangkunya di belakang.

Nara yang mengikuti di samping Alee hanya menggeleng-gelengkan kepala penuh heran. "Lee, lu kenapa sih dari kemarin nanya-nanya hal sepele ke Rama mulu?. Terus sekarang sukanya mengganggu dia baca."

Alee menyunggingkan senyum misterius sambil menopang dagu. "Gue cuma memastikan Ketua Kelas kita nggak kesepian di depan sana, Nar. Lagian seru aja liat muka datarnya kalau gue gangguin."

Nara menatap sahabatnya dengan penuh tanda tanya, merasa ada hal besar yang disembunyikan Alee, namun Alee tetap pandai mengunci rapat rahasia hatinya.

---

Melihat Rama yang selalu merespons interaksinya dengan sabar, Alee makin berani melancarkan rencana puncaknya ' ingin belajar main gitar'.

Saat bel pulang sekolah berbunyi dan murid-murid mulai berhamburan keluar kelas, Alee dengan sengaja memperlambat gerakannya merapikan tas. Ketika kelas tersisa mereka berdua dan Nara yang masih menunggu di dekat pintu, Alee melangkah maju mendekati meja Rama.

Rama yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas mendongak saat melihat Alee berdiri di samping mejanya.

"Ada apa, Alee? Ada tugas kelas yang ketinggalan dicatat lagi?" tanya Rama sopan.

Alee bersedekap dada, menaikkan dagunya dengan gaya sok gengsi namun matanya menatap Rama penuh harap. "Bukan tugas. Gue mau nanya hal lain."

"Nanya apa?"

"Lu kan jago main gitar tuh... kemarin pas nampil di NPE keren juga," ujar Alee, menahan kuat-kuat mulutnya agar tak kebablasan memuji berlebihan. "Gue mendadak pengin belajar main gitar. Lu mau nggak ngajarin gue?"

Rama sempat tertegun sejenak. Jari-jarinya berhenti merapikan tas, dan alisnya bertautan tipis menatap Alee yang tiba-tiba menyampaikan permintaan tersebut. "Belajar gitar? Kamu serius?"

"Ya serius lah! Masa gue bercanda!" sahut Alee cepat. "Tapi gue nggak punya gitar di rumah, dan gue juga nol besar soal kunci-kuncinya. Gimana? Lu mau kan ngajarin teman sekelas lu sendiri? Masa ketua kelas tega nolak anggotanya yang mau belajar seni?"

Rama memperhatikan raut wajah Alee yang penuh determinasi dan sedikit petantang-petenteng itu. Setelah diam selama beberapa detik memikirkan jadwalnya, Rama menghembuskan napas pelan lalu menyunggingkan senyum tipisnya yang khas.

"Boleh aja," jawab Rama tenang. "Tapi saya nggak punya banyak waktu luang kalau hari sekolah. Paling bisa pas Sabtu sore atau di jam kosong sekolah kalau ada yang bawa gitar."

Mendengar jawaban itu, dada Alee seketika bersorak riang. Misi pura-pura belajar gitarnya berhasil total!

"Oke! Sabtu sore beres!" seru Alee antusias, menunjuk Rama dengan jarinya. "Jangan alibi lupa ya Pak Ketua! Nanti gue *chat* WhatsApp lu buat atur tempat dan jamnya!"

Rama mengangguk pelan sambil menutup ritsleting tasnya. "Iya, Alee. Nanti dikabari aja."

Alee menyambar tasnya dan berjalan keluar kelas dengan langkah sangat ringan serta cengiran puas yang tak bisa ia sembunyikan. Walaupun alibi belajar gitar ini hanya akal-akalannya saja agar bisa dekat dengan Rama, yang terpenting Alee berhasil menciptakan alasan sah untuk terus berinteraksi dan membuat Ramaditya selalu;notice keberadaannya.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!