Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Udara di dalam bungker bawah tanah itu terasa sangat dingin dan lembap.
Wusss.
Anya merapatkan selimut tebal yang melingkari bahunya untuk mengusir hawa dingin.
Kenji duduk di kursi besi tepat di sebelahnya sambil membersihkan laras pistol dengan selembar kain.
Srek. Srek.
"Kau tidak tidur, Kenji?" tanya Anya dengan suara serak.
"Aku harus memastikan semua senjata kita tidak macet saat digunakan nanti malam," jawab Kenji tanpa menoleh.
Pria itu merakit kembali senjatanya dengan gerakan tangan yang sangat cekatan dan terlatih.
Klak.
"Kau sendiri kenapa bangun secepat ini?" tanya Kenji berbalik menatap Anya.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkan rencana penyusupan kita ke rumah Walikota."
Anya menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya ke dinding beton bungker.
"Aku takut informasi yang aku berikan ternyata tidak cukup untuk membuka brankas itu."
Kenji meletakkan senjatanya di atas meja lalu bergeser duduk lebih dekat dengan Anya.
Pria itu menarik kepala Anya dengan lembut agar bersandar di bahu lebarnya.
"Kau sudah melakukan hal yang luar biasa, berhentilah meragukan dirimu sendiri."
Anya memejamkan matanya menikmati kehangatan tubuh pria yang kini menjadi buronan nomor satu bersamanya itu.
"Tuan Muda, Nona Anya, maaf menyela waktu istirahat kalian."
Suara Bima tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk ruang utama bungker.
Anya segera menegakkan duduknya karena merasa sedikit canggung ketahuan sedang bersandar manja.
"Masuklah, Bima, apa kau sudah membedah sistem keamanan brankas itu?" perintah Kenji.
Bima melangkah masuk sambil membawa sebuah tablet elektronik layar sentuh.
Tap. Tap.
"Saya berhasil menyadap cetak biru sistem keamanan rumah Walikota melalui jaringan gelap."
Bima meletakkan tablet itu di atas meja besi di hadapan Kenji dan Anya.
"Pintu baja sepuluh sentimeter itu tidak menggunakan kunci kombinasi angka biasa."
"Lalu menggunakan apa?" tanya Anya penasaran sambil menatap layar tablet.
"Pintu itu menggunakan pemindai suara yang membutuhkan frasa sandi spesifik untuk terbuka."
Bima mengusap layar tabletnya untuk menampilkan barisan kode pemrograman yang rumit.
"Frasa sandi itu diganti setiap minggu, dan selalu berkaitan dengan nama proyek pencucian uang terbaru mereka."
Kenji mengerutkan keningnya mendengar sistem pengamanan yang sangat merepotkan tersebut.
"Jika kita salah mengucapkan frasa sandinya, alarm pusat akan berbunyi dan ruangan itu akan mengunci secara otomatis."
Anya menatap lurus ke arah layar tablet itu sambil memutar kembali ingatannya di ruang kaca kemarin sore.
Keterampilan pasif dari sistemnya tiba-tiba memberikan sensasi dingin di belakang kepalanya.
"Aku tahu apa frasa sandi untuk minggu ini," ucap Anya dengan nada suara yang sangat yakin.
Kenji dan Bima menoleh menatap gadis itu secara bersamaan dengan raut wajah terkejut.
"Apa kau yakin, Nona?" tanya Bima meminta kepastian.
"Sangat yakin, aku melihat draf dokumen promosi di atas meja kerja Nyonya Ratna."
"Dokumen itu adalah satu-satunya berkas yang diberi cap rahasia berwarna merah."
Anya menatap mata Kenji dalam-dalam untuk meyakinkan pria itu.
"Judul drafnya adalah SCRIPT VIDEO REVIEW TELUR AYAM - LUNARAMODE 20-30 DETIK."
Bima mengetikkan frasa tersebut ke dalam program simulasi peretasan di tabletnya dengan cepat.
Tik. Tik. Tik.
Layar tablet itu seketika berkedip hijau menandakan bahwa format frasa tersebut sangat cocok dengan algoritma brankas.
"Ini luar biasa, frasa ini memiliki probabilitas kecocokan sembilan puluh sembilan persen," lapor Bima takjub.
"Kau benar-benar senjata rahasiaku yang paling mematikan, Anya," puji Kenji sambil tersenyum miring.
Kenji berdiri dari kursi besinya dan meraih jaket taktis berwarna hitam legam.
"Siapkan tim elit kita sekarang, Bima, kita bergerak malam ini juga saat hujan turun."
"Kenji, aku ikut denganmu ke rumah itu malam ini," potong Anya tiba-tiba sambil ikut berdiri.
Kenji langsung menghentikan gerakannya dan menatap Anya dengan tajam.
"Tidak, ini misi penyusupan tingkat tinggi, kau tetap di bungker."
"Aku tahu persis letak setiap kamera pengawas di lorong rumah itu dari kunjunganku kemarin."
Anya tidak mau kalah dan melangkah maju menantang tatapan intimidasi Kenji.
"Frasa sandi itu juga butuh intonasi suara wanita untuk mengelabui sensornya karena Nyonya Ratna yang menyetelnya."
Kenji mengusap wajahnya dengan kasar merasa sangat frustrasi dengan sifat keras kepala tunangannya ini.
"Di luar sana ada ratusan polisi yang sedang memburumu, Anya."
"Dan di dalam rumah itu ada dokumen yang bisa membersihkan nama kita semua."
Anya meraih kedua tangan Kenji dan menggenggamnya erat.
"Aku adalah ratumu, biarkan aku bertarung di garis depan bersamamu."
Keheningan menyelimuti ruangan bungker itu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.
Kenji akhirnya menghela napas panjang tanda menyerah.
"Hanya karena kau tahu aku tidak akan pernah bisa menolak permintaanmu."
"Terima kasih, Kenji," ucap Anya dengan senyum lebar yang sangat manis.
[Misi Utama Tahap Kedua Tersedia: Curi dokumen korupsi dari brankas Walikota.]
[Risiko Kematian: Sangat Tinggi.]
Tengah malam pun tiba diiringi dengan hujan deras yang mengguyur seluruh kota.
Tik. Tik. Tik.
Suara rintik hujan menghantam atap mobil van hitam yang ditumpangi oleh kelompok Kenji.
Mobil itu berhenti di sebuah gang sempit tepat di belakang tembok tinggi kediaman Walikota.
"Kamera pengawas di dinding belakang sudah dimatikan sementara," lapor Bima dari kursi depan.
"Kita hanya punya waktu lima belas menit sebelum sistem keamanan mereka melakukan reset otomatis."
Kenji mengangguk pelan lalu memasang penutup wajah berwarna hitam.
Pria itu menoleh ke arah Anya yang juga sudah mengenakan pakaian taktis serba hitam.
"Ingat, jangan pernah melepaskan genggaman tanganmu dariku."
"Aku janji," jawab Anya mantap.
Mereka keluar dari mobil van dan memanjat tembok setinggi tiga meter itu menggunakan tali pengait.
Sret.
Kenji melompat turun ke halaman belakang rumah Walikota tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Tap.
Dia lalu menangkap tubuh Anya yang ikut melompat turun dari atas tembok.
Hap.
Hujan deras sukses meredam suara pergerakan mereka di atas rumput taman yang basah.