Diana melihat suaminya mencium atasannya di mobil, kala hujan deras di depan rumah. Alih-alih minta maaf, Geo malah menceraikan Diana saat istrinya itu minta penjelasan. Bahkan kedua orang tua Geo menghina dan mengusir Diana dari rumah itu.
Tak hanya itu, Sandra wanita selingkuhan suaminya, yang ternyata adalah salah satu putri orang terpandang di kota itu, membayar orang untuk membakar toko orang tua Diana. Memaksa Diana mempercepat perceraian dan menyerahkan hak asuh anak mereka pada Geo.
Saat Diana merasa sangat putus asa dan terpuruk, karena tak punya sepeser pun untuk membayar biaya rumah sakit ibunya dan operasi ayahnya. Seorang pria datang mendekat dan berkata,
"Kamu Diana kan? mau menikah denganku? aku akan bayar semua pengobatan ayah dan ibumu. Juga mengambil kembali hak asuh putrimu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Berbanding terbalik, ya memang sangat jauh daripada apa yang saat ini tengah menimpa Geo dengan pernikahan barunya.
Diana bahkan tak punya kesempatan untuk mengeluh sama sekali tentang pernikahan dan semua yang telah disiapkan oleh Ravi. Semuanya bahkan lebih tinggi dari apa yang pernah dipikirkan Diana.
Rumah besar, semua pelayan dengan tugasnya masing-masing. Bahkan perawat khusus yang akan menjaga dan merawat ibu, ayahnya dan Kinan juga sudah disiapkan dengan cermat oleh Ravi.
Seperti seseorang yang memang sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk membuat kehidupan Diana menjadi sangat nyaman dan tanpa beban pikiran sama sekali.
Ravi juga terus mengatakan pada Diana, jangan khawatir tentang hak asuh anak. Setelah kedua orang tua Diana keluar dari rumah sakit, Ravi akan segera mengurus hak asuh Chia. Ya, tentu saja Diana paham. Dia juga tidak boleh serakah. Ravi juga punya urusan di perusahaan, bukan hanya mengurus dirinya dan keluarganya saja.
Dua hari setelah menikah, Ravi harus meninggalkan Diana untuk pergi keluar kota. Ada masalah penting yang diurus. Pagi itu, Ravi menghubungi Diana, dan mengatakan kalau dia akan kembali nanti malam.
"Apa katanya?" tanya Kinan yang masih berada di rumah sakit, tapi hari ini adalah hari dia kembali pulang. Dokter sudah memperbolehkan Kinan untuk pulang.
Diana yang baru menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas menoleh ke arah Diana.
"Dia akan pulang hari ini!" jawab Diana.
"Baguslah, pengantin baru tapi sudah harus pergi ke luar kota. Dia pasti rindu sekali, dari suaranya yang sangat bersemangat itu, di pasti akan memakan mu malam ini" Ujar Kinan sambil terkekeh.
Diana malah merasa begitu gugup. Benarkah apa yang dikatakan oleh Kinan itu. Sebenarnya dia agak canggung, dia sudah pernah menikah. Suaminya selingkuh, mungkin selain karena dia Sandra lebih kaya, juga karena Sandra lebih baik di atas ranjang daripada dirinya. Namanya wanita yang diselingkuhi, pikirannya jadi macam-macam kan?
"Kenapa bengong?" tanya Kinan.
Diana menggelengkan kepalanya. Kinan tahu, mungkin Diana masih trauma dengan yang namanya pernikahan karena pernah dikhianati.
"Diana..." Kinan menepuk punggung tangan Diana perlahan, membuat Diana segera menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Geo tidak baik, bukan berarti semua pria seperti itu. 7 tahun kamu dengan Geo... maksud ku, aku tidak mengatakan apa yang pernah dan tidak pernah dia berikan padamu. Bukan masalah materi, tapi seseorang yang benar-benar menghargai dan tulus padamu! tuan Ravi, aku rasa dia benar-benar tulus padamu!"
Diana mengangguk paham. Bahkan dia sendiri bisa merasakan ketulusan itu. Entah berapa banyak yang sudah Ravi berikan untuknya, padahal kalau dipikir lagi, mereka baru kenal satu bulan lebih. Belum sampai dia bulan.
Tok tok tok
"Nyonya, mobil sudah siap!" kata seorang penjaga anak buah John yang memang bertugas mengawal Diana kemanapun Diana pergi.
Diana mengangguk paham.
"Tolong bawa barang-barang Kinan..."
"Nyonya, tolong jangan pakai kata 'tolong' itu. Semua ini sudah menjadi tugas saya!" kata pria berkacamata itu.
Diana mengangguk dan tersenyum. Diana menggandeng tangan, memapah Kinan keluar dari kamar rawatnya. Mereka pun keluar dari ruang sakit dan kembali ke ruang Kinan.
Di dalam kamar Kinan, Diana mendapatkan pesan lagi dari Ravi. Yang menanyakan, apakah Diana ingin sesuatu untuk dibeli. Ravi mengirimkan beberapa foto perhiasan, karena kebetulan dia berada di pameran perhiasan yang di sponsori oleh perusahaannya.
"Ya ampun, Diana. Suamimu itu, baru lima belas menit yang lalu loh..."
"Bukan! mas Ravi sedang berada di pameran perhiasan, dia menawarkan apa ada yang ingin aku beli, dia sudah memberikan banyak sekali hadiah untukku..."
"Kalau begitu, belikan dia hadiah!" celetuk Kinan.
"Hemm..."
"Diana, aku berani bertaruh. Jika kamu memberikan dia satu hadiah saja, dia pasti akan sangat senang. Kamu kan punya kartu darinya, gunakan itu saja!" kata Kinan sambil terkekeh.
Diana memang diberi kartu tambahan oleh Ravi. Bahkan ada kartu sekunder juga, semua pengeluaran Ravi. Bahkan Diana bisa tahu dari struk pembelian yang akan dikirimkan oleh John setiap minggunya.
"Diana, kamu istrinya. Pakai kartu itu juga tidak masalah. Berikan dia hadiah spesial, dia pasti akan terharu!"
Diana memikirkan ucapan Kinan itu. Benar juga, selama ini Ravi terus yang memberinya ini dan itu. Dia sama sekali belum pernah membelikan apapun untuk Ravi. Meski dari kartunya, bukankah itu juga tidak apa-apa.
"Baiklah, aku akan cari hadiah untuknya!"
"Beli di mall Star, disana banyak toko bermerek. Jangan membuat malu tuan Ravindra Wiratama ya, nyonya Wiratama. Aku tahu seleramu pasti bagus!"
Diana tersenyum, Kinan memberinya ide yang sangat bagus. Suaminya adalah orang hebat, pengusaha yang pastinya sering bertemu dengan orang penting. Dia benar-benar harus mencarikan sesuatu yang sama pentingnya seperti Ravi untuk pria itu.
Diana pergi dari rumah Kinan, orang tua Kinan kebetulan masih di pabrik. Tapi di rumah ada bibi Kinan yang akan menjaganya. Mobil Diana, maksudnya mobil yang diberikan oleh Ravi untuk Diana. Tapi tentu saja ada supir pribadi sekaligus pengawalnya. Melaju membelah jalan menuju ke mall Star yang tadi direkomendasikan oleh Kinan.
Sampai di tempat itu, Diana menuju ke sebuah toko pakaian khusus pria. Ada sebuah dasi yang dari jauh sudah mencuri perhatian Diana. Dasi bergaris warna biru tua, dengan sedikit aksen hitam membuat Diana berjalan menuju ke etalase dimana dasi itu di pajang.
"Selamat datang di toko kami. Pilihan nyonya memang jeli. Ini adalah dasi keluaran Kiton terbaru, ekslusif dikirim langsung dari Italia!"
Penjelasan pelayan toko itu membuat Diana terpana pada dasi pilihannya itu. Diana yakin kalau Ravi yang mengenakannya, akan sangat cocok.
"Aku mau yang ini..."
"Jangan berikan padanya, kalau kamu tidak mau direpotkan!"
Sebuah suara membuat Diana dan pelayan toko itu berbalik. Seorang wanita dengan perut yang sudah mulai terlihat membuncit, tapi masih pakai pakaian ketat. Menggandeng seorang pria dengan setelan jas mahal. Tampaknya baru naik jabatan, terlihat dari bagaimana tingginya pria itu mengangkat dagu.
"Maaf, tapi nyonya ini bilang..."
"Kalau dia bilang mau beli, tanya juga padanya. Apa dia tahu harga dasi itu. Asli dari Kiton, memang dia mampu bayar? jangan sampai membuat masalah untukmu sendiri!" kata Sandra.
"Diana, kenapa bergaya sekali. Lagipula ayahmu itu cuma penjaga toko, untuk apa dia pakai dasi?" tambah Geo.
Keduanya memang sangat cocok, sama-sama punya pikiran sempit dan isinya kedengkian saja.
Tapi mendengar ucapan Sandra dan Geo. Pelayan toko itu akhirnya jadi ragu juga pada Diana.
"Maaf nyonya, apa nyonya benar-benar punya uang?" tanya pelayan toko itu.
***
Bersambung...
mana pemilik nya lagi🤣
karyawan aja pada sok ngehina pemilik 🫣
ni orang kepalanya kepentok kali ya
Trus amnesia
eh liat kita sangkanya kita orang yg paling dicintainya 🤣🤣
lah kalau tetibaan dia inget lagi,gimana donk😔
pasti bingung..
ini orang ,mesti gimana ya balesnya?
pandai ny cuma mengeluh aj dy
hitung2 pembalasan dari diana
dia aja bisa seenaknya ngerebut ank lu dengan ga tau malu nya
bisa ngapain lagi ntar nya..
tebak aja
seruu kan hidup lo🤣🤣
marah?
lah emang fakta,gimana donk
udah mokondo ga tau malu lagi🫣🤣