Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.
Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.
Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.
Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Kehancuran Liona prt. 1
Hari yang selama ini dinanti akhirnya tiba.
Sejak pagi, seluruh persiapan pernikahan Sagara Jeno Dirgantara dan Liona Sandra telah berjalan sesuai rencana. Gedung tempat acara digelar dipenuhi dekorasi mewah, para tamu mulai berdatangan, dan berbagai kamera telah disiapkan untuk mengabadikan momen yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi kedua mempelai.
Namun, Sagara tidak berada di antara para tamu.
Beberapa saat sebelum acara dimulai, pria itu justru berada di sebuah ruangan yang jauh dari keramaian. Tatapannya tertuju pada layar besar di hadapannya yang menampilkan suasana ballroom.
Satu per satu tamu mulai memenuhi ruangan.
Sagara berdiri dengan satu tangan berada di saku celana. Sementara tangan lainnya memegang sebotol alkohol yang sesekali ia teguk.
Tatapannya tetap tenang. Tidak ada kegembiraan di wajahnya.
Tidak pula terlihat sedikit pun antusiasme seperti seorang pria yang hendak menikah.
Beberapa detik kemudian, pandangan Sagara beralih kepada Liam yang berdiri di sampingnya.
“Liam, sudah siap semua?” tanyanya sambil kembali meneguk minumannya.
Liam mengangguk. “Sudah, Pak.”
Sagara menatap layar sekali lagi.
“Begitu Liona masuk ke ballroom, biarkan acaranya berjalan seperti biasa.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan,
“Tetapi sebelum ijab kabul, putar video itu.”
Liam mengangguk mantap. “Baik, Pak.”
Sagara terdiam. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Ia berbalik, lalu menyerahkan botol alkohol yang masih berada di tangannya kepada Liam.
“Pegang.”
Liam menerima botol tersebut tanpa bertanya.
Sagara kemudian berjalan menuju sebuah kursi di sudut ruangan. Di sana terdapat jaket kulit hitam yang sudah disiapkan.
Ia mengambilnya dan mengenakannya dengan tenang.
Bukan jas formal.
Bukan pakaian seorang pengantin pria.
Sagara merapikan bagian kerah jaketnya.
Tatapannya kembali jatuh pada layar yang menampilkan ballroom.
“Setelah ini,” gumamnya pelan, “semuanya akan tahu siapa Liona sebenarnya, dan aku memiliki alasan untuk tidak menikahi jalang itu.”
Jemarinya mengepal sesaat.
.
Sementara itu, di tempat lain, persiapan terakhir juga sedang dilakukan oleh Liona.
Di dalam kamar, wanita itu berdiri di hadapan cermin dengan gaun pernikahan yang telah dikenakannya. Mahkota yang beberapa hari lalu dikirimkan Sagara masih terpasang indah di atas kepalanya.
Di belakangnya, sang ibu tampak tersenyum kagum.
“Putrinya Ibu cantik sekali.”
Liona tersenyum lebar melihat pantulan dirinya di cermin.
“Iya, dong.”
Tangannya menyentuh salah satu sisi mahkota dengan hati-hati.
“Liona, ini...” Wanita itu menunjuk mahkota di kepalanya.
“Ini mahkota yang aku minta dari Mas Sagara.” Liona memiringkan kepala, memperhatikan pantulan dirinya. “Bukankah aku wanita yang beruntung? Ainun saja mana mungkin mendapatkan pria seperti Mas Sagara?”
“Kamu memang permata hati Ibu.” Wanita itu tersenyum. “Nggak sia-sia Ibu selalu membelamu serta memanjakanmu.”
Senyum Liona semakin lebar. Ia kembali menatap dirinya sendiri di cermin.
‘Sebentar lagi semuanya akan menjadi milikku.’
Pandangan Liona kemudian beralih kepada jam dinding.
Waktu sudah semakin dekat.
“Ayo kita berangkat ke lokasi, Bu.” Liona mengambil tas kecilnya. “Mas Sagara pasti sudah menunggu.”
Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara sang ibu.
“Tapi Ainun...?”
Liona mengibaskan tangan seolah nama itu tidak penting.
“Ainun sudah pergi jauh. Mana mungkin dia kembali, ibu lupa?”
“Ibu sudah agak tua, jadi lupa.”
Liona hanya tersenyum tipis.
Ia tidak ingin membicarakan wanita itu lagi. Hari ini adalah hari yang sudah lama ia nantikan. Tidak ada seorang pun yang boleh merusak kebahagiaannya.
Beberapa saat kemudian, Liona bersama ibunya keluar dari rumah.
Sebuah mobil milik Sagara sudah menunggu di depan kediaman.
Liona mengangkat sedikit bagian bawah gaunnya agar tidak tersangkut, kemudian masuk ke dalam mobil.
Pintu ditutup.
Mesin kendaraan menyala, lalu mobil perlahan meninggalkan kediaman menuju gedung pernikahan yang telah dipersiapkan dengan begitu megah.
Sementara itu, jauh dari kemeriahan gedung pernikahan, Ainun menghabiskan waktunya di rumah Laras.
Televisi di ruang tamu menyala. Perhatian Ainun tertuju pada layar yang sedang menayangkan siaran langsung pernikahan Sagara dan Liona.
Gedung pernikahan tampak begitu megah. Dekorasi bernuansa elegan memenuhi ruangan, sementara para tamu terlihat berdatangan mengenakan pakaian terbaik mereka.
Ainun terdiam beberapa saat.
Tidak ada rasa marah yang muncul di wajahnya. Ia hanya mengembuskan napas pelan, kemudian menundukkan kepala. Telapak tangannya mengusap perut yang mulai sedikit membuncit.
“Aku doakan, Mbak Liona dan Mas Sagara bahagia,” ucapnya lirih.
Senyum tipis terukir di bibir Ainun.
Ia tidak tahu apakah doa itu akan benar-benar menghapus semua luka yang pernah ditinggalkan Sagara.
“Ainun.”
Suara Laras membuatnya mengangkat kepala.
“Iya, Ras?”
Laras berjalan mendekat sambil membawa beberapa lembar uang.
“Aku lupa kasih ini tadi. Hitung dulu, takutnya kurang.”
Ainun menerima uang tersebut. Jemarinya menghitung lembar demi lembar sebelum akhirnya mengangguk.
“Cukup.”
“Oh, iya.” Ainun mengambil beberapa lembar uang dari hasil penjualan kuenya, lalu menyodorkannya kepada Laras. “Ini upah untukmu karena sudah membantu mempromosikan kue buatanku. Kalau bukan karena kamu, mungkin usahaku belum tentu bisa berkembang seperti sekarang.”
Laras mengangkat kedua tangan, tetapi akhirnya menerima uang tersebut.
“Aduh, jadi nggak enak sama kamu.” Ia terkekeh. “Tapi kebetulan uangku memang sedang habis Lumayan buat beli bensin sama isi rekening”
Ainun ikut tertawa kecil.
Laras kemudian duduk di sebelahnya.
“Ngomong-ngomong, usaha kamu sekarang sudah semakin lancar, kan?”
Ainun mengangguk.
“Bagaimana kalau kamu mulai mempekerjakan satu orang?”
Ainun terdiam. Ia menatap Laras dengan sedikit ragu.
“Tapi aku bingung bagaimana cara mengaturnya, Ras.”
“Gampang.” Laras menepuk bahunya ringan. “Nanti aku bantu. Mulai dari menghitung gaji sampai mengatur pekerjaannya.”
Ainun mempertimbangkan ucapan itu sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
“Baiklah. Kalau begitu, atur saja, Ras. Tapi siapa yang mau bekerja denganku?”
“Aku punya rekomendasi seseorang.” Laras tersenyum. “Memang masih muda, tetapi aku yakin dia bisa belajar dengan cepat.”
Kening Ainun sedikit berkerut. “Siapa?”
“Nanti kalau nggak lupa aku bawa orangnya pulang.”
Ainun mengangguk pelan. “Baiklah.”
Laras kemudian berdiri.
“Kalau begitu, aku berangkat dulu, Ai. Oh, iya, pesananku sudah kamu siapkan, kan?”
“Sudah.” Ainun menunjuk beberapa kotak yang tertata rapi di atas meja. “Tinggal aku masukkan ke dalam kardus.”
“Oke. Assalamu'alaikum.”
“Wassalamu'alaikum.”
Laras berjalan menuju pintu. Beberapa saat kemudian, suara pintu tertutup terdengar dari ruang tamu.
Klik.
Rumah kembali sunyi.
Ainun kembali menoleh kepada televisi.
Siaran pernikahan itu masih berlangsung. Kamera sesekali menyorot dekorasi megah, para tamu, serta pasangan pengantin yang menjadi pusat perhatian.
Tangannya sempat terulur hendak mengambil remote.
Namun, urung.
Ainun tidak mengganti saluran. Entah mengapa, ia ingin melihat prosesi pernikahan kakaknya sampai selesai.
“Mbak Liona cantik sekali,” gumamnya.
Tatapannya tertuju pada layar. Ada senyum kecil yang kembali menghiasi wajahnya.
“Beruntung sekali dinikahi Mas Sagara.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi setelah mengucapkannya, Ainun terdiam.
Tangannya kembali mengusap perut.
Ada kehidupan kecil yang kini menjadi alasan terbesarnya untuk terus melangkah.
Ainun menarik napas perlahan.
‘Semoga anakku nanti bisa tumbuh dengan bahagia. Meski tanpa campur tangan Mas Sagara.’
Tatapannya kembali tertuju pada layar televisi.