Tidak semua cinta pertama berakhir dengan kebahagiaan. Bagi aruna, gadis yatim piatu yang hidup dari beasiswa dan kerja keras, jatuh cinta pada siswa paling populer di sekolah adalahawal dari mimpi buruk yang selama ini tak ingin dia miliki..dia bahagia, namun kebahagaan itu ternyata di bangun diatas sebuah taruhan konyol para anak orang kaya itu. Saat kebenaran terungkap, aruna kehilangan lebih dari sekedar cinta..penghianatan, perundungan, dan kehilangan yang tak tergantikan menghancurkan hidupnya hingga dia memilih menghilang dari masa lalu. Bertahun-tahun kemudia, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini, pria yang dulu menghancurkan dunianya telah menjadi seorang pria yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan kesempatan kedua. Sayangnya, tidak semua luka dapat di sembuhkan dengan kata maaf… Penasaran?…yuk kepoin ceritanya….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon simnuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Akhirnya mereka keluar dari gudang itu dengan wajah puas.
“Selamat menikmati malam indah lo bitch..”seru olla sambil melambaikan tanganya kearah gudang itu.
Akhirnya mereka pergi dari sana meninggalkan aruna seorang diri di dalam sana.
__________________
Tiga gadis itu berjalan dengan riang menuju parkiran sekolah..sedangkan tak jauh dari mereka, liam sedang celingak-celingukan mencari keberadaan aruna..pria itu sudah mengunjungi perpustakaan dan kantin sebanyak dua kali..tapi keberadaan aruna masih belum terlihat.
“Gimana bro?..ada cewek udiknya?..”tanya aiden..liam manatap tajam pria itu.
“Sorry sorry..”aiden langsung mengangkat kedua tanganya melihat tatapan liam yang diarahkan padanya..sedangkan ketiga temanya yang lain hanya tertawa kecil.
“Ada yang marah ni gebetanya di katain udik..mulai suka deck..”sindir kai.
“Ngaur..”ucap liam yang berjalan menjauhi empat temannya itu.
“Hahaha..”tawa kai.
Dari kejauhan olla menyaksikan itu..dengan gaya centil dan manja dia mendekati liam.
“Liam..kamu kenapa masih disini?..baru selesai latihan atau lagi nungguin aku?..”tanya gadis itu kepedean..dia berusaha meraih tangan liam, tapi dengan cepat di tepis pria itu.
“Dih..pd banget lo..”seketika terdengar nada sinis dari si julid nathan..olla menatap nathan kesal, dan kembali fokus pada liam.
“Ayo pulang bareng..”lagi-ladi olla mencoba meraih lengan liam.
“Minggir..”ucap liam datar.
“Kamu kok gitu sih sama aku..aku jadi sedih tau..”ucap gadis itu dengan wajah sedih yang di buat-buat..kelakuan gadis itu lagi-lai membuat mulut julid nathan dan aiden ingin mengeluarkan kata-kata mutiara..sedangkan dua pria lainnya hanya menonton dalam diam.
“Gue bilang minggir..”ucap liam mulai kesal.
“Ih kamu kok gitu..”olla tetap keras kepala.
Liam semakin kesal..dengan kasar dia menepis tangan olla, membuat gadis itu hampir terjungkal kebelakang bila tak di tahan oleh vina dan sindy di kiri dan kanan..olla merasa marah saat diabaikan..liam tak menghiraukan kemarahan gadis itu..saat dia hendak kembali mencari aruna, perkataan olla membuat langkah pria itu terhenti.
“Kamu cari aruna kan?..dia sudah pulang tadi sama temannya yang juga udik itu..”ucap olla dengan nada marah..liam berbalik dan menatap gadis itu..pria itu tidak bicara, tapi tatapanya jelas ingin bertanya tentang kebenaran dari perkataan olla.
“Benar..aku sindy dan vina melihatnya tadi..siswa lain juga melihatnya..kalau kamu ga percaya tanya saja..tapi sayang nga ada lagi siswa yang masih disini..”ucap olla cepat..dia takut perbuatannya terbongkar.
“Benar yang olla katakan liam..”ucap sindy yang di tambah anggukan dari vina.
“Gimana bro?..lanjut cari kah?..”tanya ethan..liam terdiam sebentar.
“Ada yang punya nomer hp diana?..”tanya liam.
“Ga ada..”jawab mereka kompak.
“Kenapa kamu ga percaya sih..ngapain aku bohong coba..”ucap olla yang sedikit cemas kalau liam tak mempercayainya..liam terdiam sebentar..dia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi aruna..panggilan itu terhubung tapi tidak diangkat.
“Mungkin dia sibuk kerja..dia kan banyak tuh kerjaanya..”ucap vina yang beberapa kali pernah melihat aruna bekerja mengantar makanan.
Liam terdiam..didalam hati membenarkan perkataan vina..apalagi selama dekat dengan aruna dia tau detail pekerjaan gadis itu setiap harinya.
“Cabut..”ucap liam yang berjalan terlebih dahulu meninggalkan keempat temanya..sedangkan olla tak lagi mengejar pria itu, dia takut nanti liam berubah pikiran dan kembali curiga pada kebohongannya.
Setelah kepergian lima pemuda itu olla bernafas lega.
“Untung aja ga ketahuan..”ucap vina mengusap dadanya pelan.
“iya..mana nyeremin banget lagi..”ucap sindy.
“Balik..semakin lama kita disini mereka bisa kembali curiga..”ucap olla yang diangguki dua gadis itu..akhirnya mereka pun pergi dari sana.
.
.
.
Hari Sudah gelap, sedangkan di sisi gudang, aruna mengerjabkan matanya perlahan..gelap..hanya kegelapan yang gadis itu lihat..aruna meringis pelan sambil mengusap belakang kepalanya.
“Ughh..”dia mencoba mengangkat tubuhnya.
“Dimana ini?..”gumam aruna pelan sambil menatap sekeliling..tapi hanya ada kegelapan..mungkin sedikit cahaya dari ventilasi diatas sana.
Aruna fikir dia sedang bermimpi..tapi tiba-tiba dia teringat saat seseorang memukul kepalanya dengan kencang di perpustakaan.
“Aku diculik?..”tanya aruna mulai panik..di maraba-raba lantai di sekitarnya..tapi tak menemukan sesuatu..dia mencoba bangun dan mulai meraba-raba lingkungan di sekitarnya.
“Dimana ini?..”tanya aruna mulai takut..dia sedikit takut pada kegelapan, saat gelap dia selalu merasa dadanya sesak dan sulit untuk bernafas..lampu kecil disana tak hidup karna belum di hidupkan..aruna juga tak tau dimana letaknya tombol penghidup lampu itu.
Saat berjalan sambil meraba-raba, aruna menabrak sesuatu..tubuhnya terjatuh ke lantai..tapi gadis itu tak menyarah..dia kembali bangun dan kembali mengalami hal yang sama beberapa kali..dada gadis itu mulai terasa sesak dan sedikit kesulitan bernafas..tapi untung saja setelah lama berputar-putar dia kegelapan aruna menemukan tas miliknya..dengan cepat gadis itu meraih dan mulai merogoh isi dalamnya.
“Ini dia..”ucap aruna saat menemukan ponsel jadulnya.
Aruna menghidupkan senter..cahaya terang itu membuat aruna sedikit bernafas lega..tapi sayanganya batrai ponsel itu kurang dari 5 persen dan mungkin akan mati sebentar lagi..gadis itu selalu tak pernah membawa charger kesekolah karna setiap pulang dia akan mencasnya di rumah..kebiasaan inilah membuatnya merasa tak berguna di kondisi sekarang ini.
Aruna mulai mencari cara supaya bisa keluar..dia juga beberapa kali berteriak dari balik sela pintu..tapi tak ada respon sama sekali di luar sana..siapa yang bisa mendengar kalau semua orang sudah pulang.
Ting..
Dua panggilan tak terjawab tiba-tiba masuk ke ponselnya.
“Liam..”ucap aruna..panggilan itu sebenarnya sudah ada dari tadi sore..tapi memang ponsel aruna kentang..pesan panggilan tak terjawab itu baru masuk saat hari sudah gelap.
Aruna akhirnya memilih untuk menelpon balik pria itu, tapi sayangnya saat bib kedua berbunyi ponsel aruna langsung padam.
“Loh mati..”ucap aruna cemas..sekitar yang awalnya terang kembali gelap gulita..aruna kembali di serang rasa sesak di dadanya.
“Tolong..”aruna kembali berteriak, tapi hasilnya lagi-lagi nihil.
“Tolong..”setelah beberapa kali berteriak, suara gadis itu menjadi lirih dan berat..sedangkan sang pemilik suara sudah tergeletak lemas.
“Di tolong..”lirik aruna.
“Liam..tolong..”ucap gadis itu lagi.
.
.
.
TO BE CONTINUE……….