"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mual dan Telat
...Selamat Membaca...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Siang itu, Apartemen Asyara ramai oleh kehadiran Celine dan Rayna. Dua manusia itu tiba-tiba datang sambil membawa banyak makanan dan minuman. Tanpa meminta izin keduanya langsung masuk ke dalam apartemen karena sudah tahu passwordnya.
Asyara yang berkacak pinggang melihat kamarnya yang sudah penuh dengan makanan dan minuman. Ia yang baru keluar dari kamar mandi dikejutkan dengan kehadiran mereka. “Siapa yang ngizinin lo berdua ke sini?!”
Keduanya sama sekali tak menghiraukan. Celine? Ia langsung mengambil baju ganti di lemari Asyara dan menuju ke kamar mandi. Sama halnya dengan Rayna yang terlihat santai berbaring di atas kasur.
“Cel, gue ganti baju abis lo ya! Cepetan!” seru Rayna.
“Iyaaa,” sahut Celine dari dalam kamar mandi.
Asyara semakin dibuat menganga. “Sebenarnya yang punya kamar siapa ya? Kok jadi gue yang berasa tamu?” gumamnya kesal.
Seolah baru melihat Asyara, Rayna tampak terkejut dan langsung duduk di tepi kasur. “Eh, Hai sya. Sini…sini duduk. Gue sama Celine udah bawain makanan buat kita happy-happy di kamar lo!”
“Pasti lo berdua ada maunya kan? Gue tau ya, nggak mungkin lo berdua datang tanpa rencana,” ketus Asyara meski akhirnya ia tetap duduk di atas kasur.
Rayna nyengir, “Kalau itu, tanya Celine aja ya gue—”
“Ray, udah tuh. Gih ganti baju,” ucap Celine yang baru saja keluar.
Tentu saja Rayna memanfaatkan hal itu. Ia langsung beranjak dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi membuat Asyara semakin menekuk wajahnya kesal. “Tuh, tanya Celine aja, Sya.”
Celine yang di lempar ke Asyara tentu saja tersenyum kikuk, sampai akhirnya ia cengengesan karena Asyara sudah menatapnya seperti ingin memakan orang. Ia mengambil di tempat tepat di sebelah Asyara. “Calm…calm Sya. Gue sama Rayna, cuma…cuma mau main! Suer demi spongebob!”
Asyara melipat tangannya di dada, menaikkan sebelah alisnya menandakan bahwa dirinya sama sekali tak percaya sama Celine dan Rayna.
“Suer! Kita cuma mau main. Abisnya lo ngehindarin kita terus!” kata Celine lagi, “Janji deh kita, nggak bakal ngeledekin lo lagi soal papa.”
“Oke,” ucap Asyara. “Awas kalau lo berdua bahas itu lagi, gue bakal langsung usir lo berdua. Terus gue viralin! Gue cut off, gue—”
“Iya janji!” kata Celine sambil tersenyum.
Lima belas menit setelah Rayna keluar dari kamar mandi, mereka bertiga akhirnya memilih melanjutkan acara girls time mereka di kamar Asyara. Makanan yang dibawa Celine dan Rayna sudah tertata.
Mereka bertiga memilih duduk di lantai membentuk lingkaran. Satu persatu mulai mengambil makanan yang mereka suka. Namun saat giliran Asyara mengambil bakso dan membukanya, ia mengernyit kecil.
tangannya kembali meletakkan bakso tersebut. Lalu melihat sekeliling dengan wajah berkerut, “Kok bau ya, kaya amis gitu.”
Celine langsung menghentikan acara makannya, lalu melihat Asyara. “Amis? Nggak kok. Wangi kuah sop lho baksonya. Ini kan bakso favorite kita Sya.”
“Nggak! Baunya aneh! Nyengat banget di hidung gue, bikin mual.” Asyara menutup hidungnya rapat-rapat. Menjauhkan bakso itu dari hadapannya. “Gue nggak mau deh, bau banget!”
Rayna yang sedang asik memakan batagornya pun dibuat bingung. “Apa sih Sya, itu bakso urat kesukaan lo kok. Nggak pake seledri, tanpa mie, kaya biasa.”
“Masa sih? Tapi kok bawaannya bikin mual ya?” gumam Asyara.
Celine menatap Asyara intens. Lalu turun ke perut gadis itu. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat menahan mulutnya untuk menyeletuk di depan Asyara atau gadis itu pasti akan kembali mengomel pada mereka.
“Ray,” panggil Celine berbisik.
Rayna menoleh, “Apa?” sahutnya tanpa suara.
“Asyara mual-mual, sensitif, suka mangga, lo curiga nggak sih?” tanya Celine masih berbisik di saat Asyara terlihat termenung.
Rayna melihat Asyara, lalu mengangguk, “Kayanya iya,” balasnya berbisik.
Celine mencoba untuk tetap biasa saja. Ia menawarkan Asyara makanan lain yang mereka bawa, “Kalau gitu nih cobain sempol gue sya, atau lo mau ayam penyetnya?”
Asyara melihat ayam penyet yang disodorkan Celine. Awalnya ia mulai selera, sampai akhirnya bau terasi masuk ke hidungnya dan lagi-lagi perutnya terasa bergejolak. Dengan cepat ia menutup mulut dan lari ke kamar mandi.
Celine dan Rayna saling tatap, lalu ikut ke kamar mandi. Di dalamnya, Asyara berdiri di depan wastafel, terlihat berusaha memuntahkan isi perutnya. Celine memegangi rambut panjang Asyara, sementara Rayna mengusap tengkuk Asyara lembut.
“Muntahin semua Sya, nggak papa,” ucap Celine, “Kita di sini.”
*hueek…hueek*
Asyara terlihat berusaha memuntahkan isi perutnya, tapi yang keluar hanyalah cairan bening. Setelah merasa sedikit lebih baik, Asyara mencuci mulutnya dan menghela nafas. Ia memegangi perutnya yang terasa sangat tidak enak.
“Udah?” tanya Rayna.
Asyara yang tidak punya tenang untuk menjawab hanya bisa mengangguk saja. Wajahnya yang biasa selalu merona, kini mulai terlihat pucat. Celine dan Rayna langsung membantu Asyara untuk berbaring di kasur.
“Mau ke dokter sya?” tanya Celine hati-hati.
“Nggak, kayaknya gue cuma masuk angin deh, Telat makan,” jawab Asyara pelan.
Rayna mengangguk sambil menatap Celine. “Yaudah, lo istirahat aja. Gue olesin minyak kayu putih di perut lo ya? Biar mualnya reda.”
Asyara mengangguk.
Nyatanya, mual yang dialami Asyara tidak berhenti di situ. Selang satu jam berlalu, Asyara kembali berlari ke kamar mandi dan kembali muntah-muntah di wastafel. Ternyata, hal itu dipicu oleh aroma kuah bakso yang memang baru datang karena Celine memesan satu lagi.
Saat Celine ingin ke kamar mandi, Asyara lebih dulu keluar dari kamar mandi. Lalu menatap mangkok berisi bakso di lantai. “Jauhin pleasee, gue mual banget cium baunya,” pinta Asyara lemas. Ia memegangi perutnya sendiri, “Gue nggak tau, tapi baunya beneran bikin mual.”
“Oke..oke.. kita makan di ruang tamu aja. Lo istirahat di kamar,” balas Rayna cepat. “Ayo cel, kita pindahin semua makanannya ke ruang tamu.”
“thanks guys, sorry. Gue malah sakit,” ucap Asyara pelan.
“Nggak apa-apa Sya! Kita yang minta maaf karena ngerecokin di apart lo,” Celine memeluk Asyara yang masih tampak lemas. “Lo istirahat ya, gue sama Rayna di luar. Kalau ada apa-apa, panggil kita, oke?”
Asyara mengangguk. “Heem, thanks.”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Sementara di kamarnya, Asyara yang kini tengah berbaring tak bisa berhenti memikirkan alasan mengapa ia bisa mual hanya karena sebuah terasi dan kuah bakso. Padahal benar kata Celine, bakso itu adalah makanan yang bisa ia makan dengan mereka.
Tanpa sadar, tangan Asyara turun ke bagian perut. Perlahan tapi pasti, tangannya mulai bergerak pelan-pelan mengusap perutnya dengan gerakan memutar. “Gue kenapa sih?”
Hamil.
Itu yang kembali terlintas di benaknya. Dari semua kejadian yang telah dia alami, ntah kenapa Asyara merasa jika semuanya tertuju pada kenyataan itu. Telat datang bulan, tiba-tiba menjadi suka dengan mangga muda dan kedondong. Padahal makan jeruk yang terasa sedikit asam saja dia tidak mau, lalu sekarang? Mual hanya karena bakso.
“Kalau beneran hamil gimana?” gumam Asyara cemas, “Masa iya gue nikah beneran sama pak Aksa? Dosen pembimbing gue sendiri?!”
Asyara tidak munafik. Memang, Aksa itu tampan, usianya masih tergolong muda, mapan, tapi TETAP SAJA kan?! Masa iya jadi ibu tiri Celine?! Sebisa mungkin Asyara masih tetap memikirkan kemungkinan kecil jika dirinya hanya sakit, atau masuk angin.
“Ini haid gue ngapa belum dateng juga sih?” Asyara menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, “huwaaa…pleasee…tuhan, tolongin gue! gue cuma stress kan? Ayo yakinin gue, kenapa sampe sekarang gue belom datang bulan?!” Asyara mencak-mencak di atas kasur. Merasa frustasi dengan semuanya. “Pleasee, tuhan. Tolong berpihak sama gue, kali ini!”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡...