ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Napas Luna terengah-engah, paru-parunya terasa panas seolah habis ikut lomba lari maraton. Ia berhenti tepat di depan sebuah bangunan apartemen yang jauh dari kata mewah.
Sederhana, catnya sedikit mengelupas di beberapa sudut, namun terlihat cukup tenang dan nyaman untuk ukuran tempat persembunyian.
Ia menyandarkan punggungnya ke tembok, mencoba mengatur napas agar jantungnya yang berdegup *jedag-jedug* kembali normal.
Antara adrenalin karena baru saja menendang seseorang dan rasa takut dikejar, Luna merasa otaknya hampir meledak.
"Sialan," gerutunya pelan sambil menyeka keringat di dahi. "Kalau bukan karena ide perjodohan kolot Papa, aku nggak bakal berakhir di tempat antah-berantah begini. Awas saja ya, Pa!"
Dengan tekad yang sudah bulat dan sisa tenaga yang ada, ia memantapkan langkah masuk ke dalam lobi apartemen tersebut.
Di saat yang hampir bersamaan, pria yang tadi ditendang Luna muncul di persimpangan jalan menuju arah apartemen.
Langkahnya terhenti, sedikit pincang karena tulang keringnya masih terasa berdenyut nyeri. Ia mengedarkan pandangan dengan tajam, napasnya tersengal-sengal penuh amarah.
"Sial, ke mana perginya gadis gila itu?" makinya dengan suara rendah.
Matanya sempat tertuju pada bangunan di depannya yang memiliki papan nama bertuliskan **"Apartemen Cemara"**.
Ia diam sejenak, menimbang-nimbang apakah gadis berpakaian mahal tadi masuk ke tempat sesederhana itu.
Namun, logikanya membantah; rasanya mustahil gadis dengan barang-barang bermerek seperti itu mau tinggal di sini.
Dengan dengusan kesal dan tatapan yang masih memancarkan amarah, ia memutuskan untuk berbalik arah.
"Urusan kita belum selesai gadis gila, awas saja kalau ketemu lagi," desisnya sebelum menghilang di kegelapan malam.
Sementara itu, di dalam gedung, Luna baru saja menyelesaikan urusan administrasi kilat. Ia membayar tunai untuk satu bulan ke depan—menggunakan uang simpanan daruratnya agar tidak terlacak oleh papanya.
Begitu pintu unit kamarnya terbuka, Luna terpaku sejenak. Kamar itu kecil. Mungkin hanya seukuran kamar mandi di rumah mewahnya.
Kasurnya hanya *single bed* dengan sprei katun biasa, bukan sutra yang biasa ia pakai. Tidak ada lampu kristal, tidak ada balkon luas, hanya ada sebuah jendela kecil yang menghadap ke arah gang.
*Brukk!*
Luna merebahkan tubuhnya ke kasur yang terasa agak keras itu. Ia menatap langit-langit kamar yang polos tanpa dekorasi.
"Gila, Luna. Kamu benar-benar nekat," gumamnya pada diri sendiri.
Meskipun punggungnya protes karena kasur yang tidak empuk, ada secuil rasa lega di hatinya. Di tempat ini, tidak ada yang akan memaksanya menikah dengan anak kolega ayahnya.
Namun, bayangan wajah pria tampan namun sangar yang ia tendang tadi mendadak melintas di pikirannya.
Luna bergidik, lalu menarik selimutnya tinggi-tinggi. "Semoga besok pagi semuanya lebih baik."
Matahari pagi yang menembus jendela kecil Apartemen Cemara tidak disambut dengan senyuman oleh Luna.
Ia duduk di pinggir kasur dengan rambut yang mencuat ke segala arah—benar-benar berantakan.
Biasanya, saat ia membuka mata, aroma susu dan sarapan bergizi sudah tersedia di meja makan berkat asisten rumah tangganya. Kini? Jangankan sarapan, ia bahkan bingung harus menyeduh air di mana.
"Oke, Luna. Jangan manja. Ini kan mau kamu sendiri," gumamnya sambil mengacak rambut, mencoba mengusir rasa frustasi yang mulai merayap.
Setelah bergelut dengan rasa malas dan keterbatasan fasilitas, Luna akhirnya berhasil berpakaian rapi.
Meskipun bajunya tidak disetrika dengan licin seperti biasanya, ia tetap terlihat menonjol. Ia memutuskan untuk menahan lapar sampai tiba di kampus nanti.
Langkah Luna melambat saat ia melintasi pos terbengkalai itu. Bayangan kejadian semalam kembali terputar di kepalanya—tatapan dingin pria itu, cengkeraman tangannya, dan anting-anting peraknya.
Ia bergidik ngeri, bulu kuduknya berdiri seketika.
"Semoga saja aku nggak akan bertemu dengannya lagi." desisnya sambil mempercepat langkah hingga sampai di penghujung jalan.
Sesampainya di pinggir jalan raya, Luna tampak kebingungan. Ia menatap deretan bus yang lewat dengan papan tujuan yang baginya terasa seperti kode rahasia.
Bus jurusan mana yang menuju kampusnya? Daripada harus berdesakan di bus yang pengap, Luna memilih jalan pintas yang menurutnya lebih efisien: taksi online.