Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Mental, Siapa Takut?
Gelap.
Bukan cuma mati lampu biasa, tapi pemutusan total. Udara di dalam paviliun sayap timur mendadak terasa seberat timah dan pengap.
Sudah dua jam aliran listrik dan air diputus paksa dari pusat. Menyisakan keheningan mencekam yang seolah menekan gendang telinga.
Di ruang tengah yang gelap, Aira berdiri tegak. Panel kontrol rumah pintar di dinding berkedip merah lemah. Ponselnya mati total tanpa sinyal. Kode otorisasi Alpha—9 rupanya sudah memblokir seluruh pergerakan digitalnya.
Evan benar-benar niat ingin membunuhnya lewat rasa bosan.
Aira melipat kedua tangan di dada. Alih-alih menangis ketakutan menghadapi neraka sepi yang dirancang suaminya, seulas senyuman menantang justru terukir di bibirnya.
"Dia pikir gue bakal nangis-nangis terus berlutut di kakinya? Mimpi kali!" gumam Aira. Suaranya bergema pelan di ruangan hampa.
Matanya menata panel biometrik pintu yang terkunci paksa. Berani-beraninya pria angkuh itu mengira mentalnya selemah cewek menye-menye di drama televisi.
"Kalau lo mau ngajak perang mental begini, gue jabanin sampai tuntas, Evan Aryasatya Wirasena!"
Dari Bi Sumi, Aira tahu kalau Kakek Baskara berangkat ke Swiss untuk pemeriksaan medis rutin. Tapi sedikit pun Aira tidak berniat untuk mengadu atau mencari perlindungan. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menjadi pengecut yang berlindung di balik punggung orang tua.
Evan mungkin pintar memanipulasi sistem digital rumah ini. Tapi pria robot itu lupa satu hal: dinding punya telinga, dan pelayan punya hati.
Tiga hari berlalu dalam pengasingan tak kasatmata. Aira bertahan dengan sangat tangguh.
Dia tidak sudi menyentuh satupun fasilitas mewah yang masih berfungsi di area lain mansion. Dan tentu saja, dia tidak pernah meminta makanan dari koki pribadi yang sengaja diperintahkan Evan untuk mengabaikannya.
Tidur dengan selimut tipis, mandi dengan sisa air di dasar ember, Aira tetap tegak. Dia menolak untuk kalah.
Sore itu, Surya melangkah masuk ke dalam ruang keluarga utama setelah pulang dari perjalanan bisnis luar kota yang melelahkan. Setelan jas abu-abunya masih rapi, namun suasana rumah yang aneh langsung mengusik ketenangannya.
Terlalu sunyi. Tidak ada denting porselen atau obrolan ringan staf. Setelah mendengar selentingan kabar dari pelayan yang tampak gelisah, Surya langsung meminta Bi Sumi memanggil Aira ke ruang tengah.
Begitu Aira melangkah masuk, Surya langsung menatap menantunya dengan pandangan cemas. Ada lingkaran hitam tipis di bawah mata Aira, bukti kurang tidur, namun postur tubuhnya tetap tegak lurus.
"Aira, Papi mendengar dari staf kalau akses paviliunmu sempat bermasalah beberapa hari ini? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Surya lembut.
Aira tersenyum sangat santai. Dia tahu permainan Evan: kalau dia mengadu sekarang, Evan pasti akan menuduhnya manja dan tidak bisa beradaptasi.
"Tenang saja, Papi Surya. Nggak susah pusing mikirin hal kecil," jawab Aira dengan nada datar namun meyakinkan.
"Semuanya aman kok. Kayaknya sistem rumah pintarnya lagi error gara-gara update semalam. Lampu sama air jadi susah nyala. Tapi nggak papa, saya udah biasa ngatasi masalah teknis gitu di bengkel. Nanti juga balik normal sendiri."
Surya menatap sinar mata Aira yang jujur dan berani. Ketangguhan, bukan keluhan. Sang komisaris utama itu akhirnya mengangguk perlahan, merasa sedikit lega meskipun ganjalan di hatinya belum sepenuhnya hilang.
"Baguslah kalau begitu. Papi pegang kata-katamu. Kalau ada apa-apa, langsung bilang Papi."
Di sofa seberang, Helena yang baru saja meletakkan cangkir tehnya mendadak mendengus sinis. Sorot mata itu menatap Aira dengan pandangan dingin dan memojokkan.
Begitu Aira berpamitan untuk kembali ke paviliunnya yang gelap, Helena langsung mencibir.
"Kenapa sih Papi peduli banget sama anak itu? Biarkan saja dia merasakan hidup mandiri di paviliun," cibir Helena sambil memainkan cincin berliannya.
"Biar dia terbiasa seperti di jalanan dulu dan tidak melunjak setelah kita beri fasilitas mewah sekelas Wirasena. Menantu di rumah ini harus tahu batasannya, jangan dimanja!"
Surya langsung menatap istrinya dengan pandangan yang tegas. Wibawanya keluar sepenuhnya.
"Cukup, Helena. Aira adalah menantu sah di rumah ini atas pilihan Papa Baskara. Jangan pernah membeda-bedakan status sosialnya lagi. Kalau kamu terus bersikap seperti ini, kamu yang akan kehilangan respek di mata keluarga ini."
Helena langsung bungkam dengan wajah kesal, meneguk tehnya dengan kasar. Ia tahu suaminya tidak sedang bercanda.
***
Gadis oli itu bekerja dengan sangat penuh semangat. Seluruh energi negatif dari paviliun timur menguap begitu saja saat tangannya memegang kunci pas. Suara mesin, bau oli, dan teriakan teman-temannya adalah obat penyembuh luka paling ampuh.
Sean datang lagi pagi ini. Dia duduk santai di atas tumpukan ban bekas sambil meminum es teh plastikan. Di dekatnya, Jaka dan Rian baru saja melompat duduk untuk ikut beristirahat setelah menyelesaikan servis motor sport hijau.
Jaka mengelap wajahnya yang belepotan oli hitam dengan punggung tangan, lalu menoleh ke arah Sean.
"Gue dari kemarin kepikiran deh, Mas. Mas Sean kan anak konglomerat, udah gitu karir balapnya lagi naik daun di sirkuit internasional. Kok bisa-bisanya milih jadi pembalap beneran yang taruhannya nyawa gitu? Nggak takut patah tulang apa ya? Padahal kan tinggal duduk manis nunggu warisan perusahaan aja."
Sean tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan jujur itu. Dia membenarkan kacamata hitamnya dengan gaya percaya diri.
"Hahaha! Justru itu seni hidupnya, Jaka! Menaklukkan kecepatan di lintasan balap itu obat buat batin gue yang stres ngeliat angka saham tiap hari. Jiwa otomotif gue berontak kalau cuma disuruh duduk diam dengerin presentasi bisnis di ruangan! Di sirkuit, gue bebas. Di sini, gue hidup."
"Wah, mantap! Alasan orang kaya emang beda kelas ya, Jak!" timpal Rian ikut terbahak-bahak, menyenggol bahu Jaka dengan akrab.
Aira yang sedang sibuk mengalibrasi karburator ikut tertawa lepas. "Dasar anak konglomerat nyasar. Tapi ya udahlah, selama lo nggak nabrak tembok bengkel ini, silakan aja jadi pembalap," ledek Aira renyah.
Kebahagiaan yang mengalir begitu saja. Di dalam ruangan kantor yang pintunya terbuka, Pak Beni yang sedang memeriksa pembukuan harian tampak mencuri pandang ke arah mereka.
Mendengar obrolan seru dan melihat tawa bahagia anak buahnya bersama putra konglomerat itu, Pak Beni hanya bisa tersenyum. Melihat Aira tersenyum lagi adalah kemenangan kecil baginya.
Namun, di balik tawa renyahnya bersama Aira, sepasang mata Sean diam-diam meredup sesaat.
Pembalap muda itu menatap coretan oli tipis di pipi cantik Aira dengan batin yang sarat akan amarah tersembunyi pada kakaknya. Dia tahu apa yang terjadi di paviliun.
Berani-beraninya Kak Evan berbuat sekejam itu, batin Sean bergemuruh hebat. Rahangnya mengetat diam-diam hingga otot-otot wajahnya menegang.
Cewek sekeren, secantik, dan setulus Kak Aira malah diabaikan dan diisolasi kayak hantu. Dia cuma butuh dihargai, bukan dipenjara di rumah sendiri. Bener-bener robot sialan yang gak punya hati!
Sean mengepalkan tangan di atas pangkuannya, menyembunyikan kemarahannya agar tidak terlihat oleh Aira.
Awas aja lo ya, Kak. Kalau sampai lo nyesel nanti karena udah nyakitin dia, gue nggak akan bantu lo nutupin kesalahan lo. Gue pilih Kak Aira.