Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Mesin capit kaca berukuran besar itu memancarkan pendar lampu neon warna-warni yang mencolok. Di dalamnya, ratusan boneka beruang berbulu cokelat berdesakan pasrah, seolah menunggu diselamatkan.
Alea berdiri tegak di depan mesin, merogoh saku kemeja seragamnya dan mengeluarkan sekeping koin token khusus arcade yang tadi diberikan Arka, yang tentu saja langsung dicatat Alea sebagai bagian dari operating cost hari ini.
"Perhatiin baik-baik ya, Bos." ucap Alea dengan nada serius seorang ahli bedah saraf.
"Rahasia dari mesin capit ini bukan cuma soal skill, tapi soal psikologi mesin. Lo harus tatap cakar besi itu dengan penuh intimidasi supaya dia sadar siapa majikan sebenarnya."
Arka yang berdiri di sampingnya, melipat kedua tangan di dada dengan setelan kemeja seragam yang lengannya tergulung. Ia hanya mengamati dengan sorot mata geli. Bagi Arka yang bisa meretas jaringan satelit militer dalam tiga menit, mesin capit berpeluang curang 99% ini adalah lelucon matematis.
Namun, ia memilih diam. Menonton Alea berdebat secara batin dengan mesin arcade jauh lebih bernilai dari hiburan mana pun di dunia ini.
Alea segera memasukan koinnya lalu dengan sigap memegang tuas penggerak dengan teknik mencengkeram seperti menyetir truk Fuso di jalur Pantura. Matanya menyipit, mengunci sasaran: seekor boneka beruang mungil berbaju merah yang terselip di sudut paling mustahil di dalam kotak kaca.
"Geser... kanan dikit... stop! Turun!"
Cakar besi itu meluncur turun perlahan. Blep. Cakar itu mencengkeram leher si beruang merah, mengangkatnya setinggi setengah meter, lalu... lemas tak berdaya. Cakar terbuka, dan si beruang jatuh kembali menimpa tumpukan temannya dengan tragis.
Alea tertegun. Mulutnya setengah terbuka.
"Mesin ini curang!" tuding Alea langsung ke kaca mesin dengan tatapan menuduh.
"Tekanan hidrolik cakarnya disetting lebih lemah dari genggaman tangan bayi kelaparan! Ini pelanggaran hak asasi pemain arcade!"
Arka akhirnya terkekeh pelan, suara rendah yang sangat jarang keluar dari tenggorokannya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Alea, lalu mengulurkan tangan kanannya dari sisi bahu gadis itu untuk meraih tuas.
Jarak mereka mendadak menyusut drastis. Punggung Alea nyaris bersentuhan dengan dada bidang Arka. Aroma maskulin bercampur mint langsung mengurung indra penciuman Alea, membuatnya refleks menahan napas.
"Bukan masalah tekanan hidrolik," bisik Arka dekat telinga Alea. Suara bariton itu bergetar rendah, menciptakan sensasi hangat yang merayap di kulit leher gadis itu.
"Pusat gravitasinya salah. Lo ngincar yang di pojok, maka kailnya akan terlempar ke sudut. Seharusnya lo incarnya yang bagian tengah atas."
Tangan besar Arka menutupi tangan kecil Alea di atas tuas. Pergerakan mereka menyatu, terukur, dan tanpa keraguan.
Alea merasakan telapak tangannya hangat, dikelilingi oleh jemari panjang Arka yang kokoh. Otak kapitalisnya mendadak short-circuit selama tiga detik penuh, gagal menghitung berapa tarif interaksi fisik jarak dekat ini dalam satuan rupiah.
Koin kedua dimasukkan.
Tuas digerakkan dengan presisi militer. Cakar turun melesat, mencengkeram tepat di bagian punggung dan perut beruang cokelat berhelm oranye (bukan yang merah). Cakar mengunci erat, naik dengan stabil, meluncur ke lubang keluar, dan...
Brukk!
Boneka beruang itu jatuh sempurna ke wadah pengambilan hadiah.
Alea mengerjap, lalu menoleh cepat ke arah Arka yang kini sudah menarik tangannya kembali dan tersenyum tipis penuh kemenangan.
"Curang!" protes Alea, meski pipinya tanpa sadar sedikit merona.
"Lo pakai cheat fisik! Tangan lo kepanjangan!
"Itu namanya efisiensi sistem, Alea," balas Arka ringan, merogoh kotak plastik dan mengambil boneka beruang oranye itu, lalu menyodorkannya ke depan dada Alea.
"Buat lo. Hadiah kecil sebagai penjaga aset."
Alea menerima boneka itu dengan ragu. Ia menatap boneka kecil di tangannya, lalu melirik Arka dari ekor matanya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari normal, bukan karena takut ancaman Tuan Besar, melainkan karena rasa asing yang menggelitik di dada kirinya.
"Sial," batin Alea panik. "Jangan-jangan deg-degan ini kena charge tambahan emosional?"
Sebelum situasi sempat bergeser menjadi terlalu melankolis bagi seorang rasionalis sejati, ponsel di saku celana Arka bergetar pelan.
Suara getarannya diredam, namun layar menyala menampilkan nama sandi: [KETUA BAYANGAN - KODE KUNING].
Wajah Arka yang tadinya santai berubah dingin dalam sepersekian detik. Topeng pangeran SMA kembali terpasang, digantikan ketegasan seorang eksekutor.
Ia melirik layar sekilas, lalu menatap Alea yang sedang merapikan tali ranselnya.
"Gue ada urusan sebentar," ucap Arka datar.
"Tunggu di sini di area kafe rooftop. Pesan aja apa yang lo suka. Gunakan kartu yang gue berikan kemarin untuk bayar."
Alea memicingkan mata, insting curiganya menyala.
"Urusan apaan, sih? Bolos sekolah kok malah sibuk meeting mendadak. Jangan-jangan lo mau kabur, ya?"
Arka mengusap puncak kepala Alea sekilas, gerakan cepat dan alami yang membuat Alea membeku di tempat, sebelum akhirnya berbalik melangkah cepat menjauh ke area koridor servis arcade.
"Hanya lima menit," seru Arka mengema samar di ujung lorong.
"Jangan ke mana-mana."
Alea berdiri sendirian di dekat mesin capit, memeluk boneka oranye pemberian Arka, sementara otaknya kembali berputar liar.
Di lantai dasar gedung tepatnya di sudut parkiran basement yang tersembunyi dari cahaya matahari, tiga pria berjas hitam rapi namun berwajah kaku berdiri menghadap Arka yang melangkah mendekat dengan aura membunuh yang kembali menguap dingin.
"Tuan Muda," sapa mereka dengan badan sedikit membungkuk hormat.
"Tim penyisir menemukan sisa rekaman CCTV di koridor kelas Nona Alexa. Orang yang menyelipkan amplop hitam itu bukan siswa biasa. Dia... salah satu kurir dari divisi internal Tuan Besar Hartawan."
Sorot mata Arka menajam setajam pecahan kaca.
"Kurir internal? Berarti ada pengkhianat di ring dua?"
"Bukan pengkhianat, Tuan Muda," lapor anak buah itu berhati-hati.
"Mereka... sengaja memancing Anda keluar dari zona aman. Dan laporan masuk... target di koridor lain mulai bergerak."
Arka terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Lima menit.
Ting.
Ponsel di saku Arka bergetar lagi. Pesan teks singkat dari nomor tak dikenal masuk.
'Kau terlalu sibuk bermain di atas awan, Tuan Muda Arka. Anak ayammu tertinggal di sarang.'
______________
Di lantai atas, di area kafe rooftop yang mulai sepi pengunjung, Alea yang duduk menunggu sambil meminum milktea tiba-tiba merasakan hawa di sekelilingnya berubah drastis. Pendingin ruangan seolah tidak berfungsi, digantikan oleh embusan angin buatan yang membawa bau logam asing.
Dua orang pria asing berwajah datar, mengenakan jaket bomber gelap, berjalan tenang melintasi pembatas kaca kafe, langsung mengunci jalur keluarnya.
Alea menurunkan sedotan milkteanya perlahan. Alisnya bertaut bukan karena takut, melainkan karena jengkel.
"Sales MLM jamannow agresif banget ya," gumam Alea datar, merogoh saku tasnya dan bersiap memegang botol spray alkohol antiseptik ukuran 500ml yang ia bawa untuk jaga-jaga.
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂