Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33

Pagi harinya, pukul 09.00 WIB, ruangan utama laboratorium mendadak terasa lebih tegap dan serius dari biasanya. Hari ini adalah rapat pleno perdana tim Joint-Research Rantai Pasok Industri ITB-Unpad. Di hadapan meja presentasi besar, Kenan berdiri mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung rapi, memperlihatkan pergelangan tangan kokohnya yang dihiasi jam tangan kulit hitam.

Di barisan kursi audiens, duduk para dosen pembimbing, perwakilan mahasiswa dari ITB, serta Hanni yang hadir mengenakan setelan jas formal warna abu-abu muda dengan gaya eksekutif muda yang sangat mendominasi.

"Berdasarkan simulasi awal pemodelan logistik yang kami rancang bersama tim Fikom Unpad," jelas Kenan dengan suara baritonnya yang tenang, mantap, dan terstruktur, "efisiensi distribusi barang antara pabrik di Cimahi dan gudang utama di Bandung bisa dipangkas hingga delapan belas persen menggunakan algoritma dynamic routing."

Beberapa dosen pembimbing mengangguk kagum melihat paparan data yang disajikan Kenan. Pemuda itu tidak hanya menguasai teori teknik industri, tetapi juga memahami aspek komunikasi publik yang diintegrasikan oleh data dari Unpad.

Namun, sebelum dosen koordinator sempat berbicara, Hanni mengangkat tangan kanannya dengan anggun. Gadis itu berdiri, memamerkan senyuman tipis penuh percaya diri. "Penjelasan teknis yang luar biasa, Koordinator Kenan," puji Hanni, sengaja menekankan kata jabatannya. Ia melangkah mendekati layar proyektor, lalu menunjuk salah satu variabel data dengan ujung bolpoin mewahnya. 

"Tapi sepertinya ada satu hal krusial yang terlewat oleh tim kalian. Variabel fluktuasi biaya transportasi logistik regional di wilayah Jawa Barat tidak dimasukkan dalam asumsi dasar anggaran hibah Maheswari Group."

Suasana di dalam laboratorium seketika bergeming. Beberapa mahasiswa tingkat atas saling berpandangan. Variabel yang disebutkan Hanni adalah data internal korporasi yang biasanya hanya bisa diakses oleh kalangan eksekutif tingkat atas.

Hanni menatap Kenan dengan kilatan kemenangan di matanya, seolah ingin menunjukkan bahwa dalam urusan dunia industri nyata, Kenan masih membutuhkan bantuan atau jaringan yang ia miliki.

Kenan tidak menunjukkan tanda-tanda panik sedikit pun. Pria itu merapikan kertas catatan di tangannya, lalu mendongak menatap Hanni dengan manik mata hitamnya yang setenang danau di pagi hari.

"Terima kasih atas koreksinya, Kak Hanni," jawab Kenan tenang, suaranya menggema jernih di seluruh ruangan. "Variabel fluktuasi regional yang Kakak maksud memang tidak kami masukkan dalam asumsi dasar... karena asumsi tersebut sudah kami cover menggunakan data real-time dari sistem otomasi logistik nasional yang diperbarui setiap satu jam sekali melalui server pusat."

Kenan menekan tombol remote proyektor, menampilkan grafik sinkronisasi data real-time yang terhubung langsung ke sistem pusat. "Artinya, sistem kami tidak butuh asumsi manual seperti yang ada di draf lama Maheswari Group, karena sistem kami bekerja secara otomatis menyesuaikan fluktuasi pasar tanpa membebani anggaran hibah."

Sekretaris dosen koordinator langsung bertepuk tangan pelan, disusul oleh anggukan setuju dari sang dosen pembimbing utama. "Luar biasa, Kenan! Integrasi sistem otomatisasi ini bahkan melampaui standar ekspektasi hibah korporasi."

Hanni yang berdiri di dekat layar proyektor mendadak membeku. Bibirnya yang berpoles lipstik nude sedikit terbuka, menahan rasa terkejut yang luar biasa. Ia tidak menyangka Kenan tidak hanya mampu mengantisipasi celah argumennya, tetapi juga meruntuhkannya dengan inovasi teknologi yang jauh lebih canggih.

Hanni kembali duduk di kursinya dengan wajah yang berusaha ia pertahankan agar tetap tenang, meskipun di dalam dadanya gejolak rasa penasaran, kagum, dan kesal bercampur menjadi satu. “Kenan ... Lo benar-benar tidak bisa ditebak”, batin Hanni gemas.

Sementara itu, di waktu yang sama, Kampus Unpad Jatinangor tampak cerah oleh terik matahari siang. Di ruang perpustakaan pusat Fikom Unpad, Kirana sedang duduk khidmat di meja baca sudut dekat jendela. Di hadapannya tertumpuk beberapa literatur tebal mengenai komunikasi strategis perusahaan.

Nabila berjalan mendekat membawa dua botol air mineral, lalu duduk di kursi sebelah Kirana.

"Kir, lu beneran gak cemas apa-apa gitu?" bisik Nabila antusias seraya meletakkan botol air. "Tadi anak-anak angkatan pada ngomongin kalau di ITB sana, si Hanni lagi-lagi mencoba nyari celah buat menekan suami lo lewat rapat pleno riset."

Kirana menutup buku catatannya dengan tenang. Ia tersenyum tipis, membuka tutup botol air mineral lalu meneguknya sedikit.

"Buat apa cemas, Nab?" jawab Kirana lembut namun penuh keyakinan. "Gue tahu betul kapasitas Kenan. Dia bukan tipe pria yang bisa dipengaruhi atau ditekan oleh siapa pun, apalagi cuma lewat trik argumen akademis."

"Tapi kan Hanni itu tipe cewek ambisius tingkat dewa, Kir! Dia kaya, cantik, punya kuasa, dan terang-terangan ngejar suami lo!" protes Nabila gemas.

Kirana tersenyum semakin manis,"Kecantikan, kekayaan, dan kuasa itu gak ada artinya kalau dasarnya bukan ketulusan, Nab," ucap Kirana bijak. "Kenan memilih gue bukan karena apa yang gue punya, tapi karena kami saling mengikat janji suci dibawah restu orang tua dan agama. Gue percaya sama suami gue."

Nabila mendesah pasrah, lalu tertawa kecil. "Iya deh, iya! Pengantin baru mah bebas ya, bucinnya tingkat nasional!" Kirana hanya terkekeh mendengarnya ledekan itu karena memang kenyataan nya. 

….

Pukul 15.30 WIB, aktivitas laboratorium di ITB Ganesha akhirnya usai. Para mahasiswa berangsur-angsur meninggalkan ruangan.

Kenan sedang membereskan laptop dan berkas-berkasnya ke dalam tas ransel ketika Hanni melangkah mendekati meja kerjanya. Suasana laboratorium sudah agak sepi, menyisakan mereka berdua di sudut barisan meja tersebut.

Hanni bersandar di tepi meja Kenan, menatap pria di depannya dengan pandangan yang terlihat kekalahan sekaligus kekaguman yang makin mendalam.

"Presentasi lo tadi... sangat luar biasa, Kenan," Ucap Hanni jujur, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. "Lo  berhasil mematahkan argumen logistik gue tanpa cela."

Kenan memasukkan laptopnya ke dalam tas tanpa terburu-buru. Ia menaikkan ritsleting tas, lalu menegakkan tubuhnya, menatap Hanni dengan tatapan dingin dan berjarak.

"Saya bekerja berdasarkan data objektif dan integritas tim, bukan untuk mencari pujian, Kak Hanni," jawab Kenan datar.

Hanni mendesah pelan. Gadis itu melangkah satu tapak lebih dekat, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Kenan. "Kenan... gue gak ngerti. Kenapa lo terus menolak semua potensi besar yang bisa gue tawarkan. Kalau lo mau bekerja sama dengan Maheswari Group di luar riset kampus ini, karir global lo di dunia industri internasional bakal terbuka dalam hitungan bulan. Kenapa lo harus membatasi diri dengan jalan hidup yang biasa-biasa saja?"

Mendengar kata-kata meremehkan yang ditujukan secara tidak langsung pada pilihan hidup dan pernikahannya, garis rahang Kenan mengeras seketika.

"Bagi Kak Hanni, kesuksesan itu diukur dari seberapa besar korporasi atau seberapa jauh jangkauan ambisi global," ucap Kenan dengan intonasi bariton yang sangat tegas dan membekukan. "Tapi bagi saya... puncak kesuksesan terbesar dalam hidup seorang pria adalah ketika ia pulang ke rumah dan mendapati istri yang dicintainya menyambut dengan senyuman tulus. Hidup saya tidak biasa-biasa saja, Kak. Hidup saya luar biasa karena saya memilikinya."

Hanni terdiam seribu bahasa. Kalimat telak yang meluncur dari mulut Kenan menjatuhkan harga dirinya sebagai wanita paling diinginkan di kampus ITB. Tidak ada sedikitpun pun celah keraguan di mata Kenan, pria itu benar-benar sangat setia.

Sebelum Hanni sempat merespons, Kenan menyampirkan tas punggungnya di bahu kanan, lalu membungkuk formal. "Permisi, Kak Hanni. Istri saya sudah menunggu saya di Jatinangor."

Kenan memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan laboratorium, membiarkan Hanni berdiri terpaku di antara deretan meja komputer yang sunyi.

….

Pukul 17.15 WIB, di kawasan Dago Atas.

Udara sore Kota Bandung terasa sangat sejuk diselimuti kabut tipis yang turun dari pegunungan. Sedan hitam Kenan memasuki halaman rumah dua lantai mereka dengan tenang.

Begitu pintu utama terbuka, aroma harum masakan rumahan langsung menyapa Indra penciuman Kenan. Di meja makan kecil dapur terbuka, Kirana sedang menata dua piring nasi hangat lengkap dengan sop tahu dan ayam goreng mentega kesukaan suaminya. Kirana mengenakan apron katun warna biru muda di atas kemeja kerjanya.

Mendengar suara langkah kaki di lantai kayu, Kirana menoleh. Senyuman paling manis langsung merekah di wajah cantiknya.

"Udah pulang, Sayang?" sapa Kirana lembut, berjalan menyambut suaminya.

Kenan meletakkan tas kerjanya di atas sofa ruang tengah, lalu merentangkan kedua tangan tegapnya. Kirana langsung menghambur masuk ke dalam dekapan hangat suaminya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenan.

Kenan memeluk tubuh istrinya erat-erat, seolah ingin melunturkan seluruh sisa kepenatan dan ketegangan hari di kampus lewat kehangatan tubuh Kirana. Ia mencium pucuk kepala istrinya lama, menghirup aroma vanila yang menenangkan.

"Capek ya, Sayang?" bisik Kirana lembut, tangannya mengusap punggung tegap Kenan.

"Gak capek sama sekali sekarang..." jawab Kenan tulus dengan suara bariton seraknya. Ia melepaskan pelukan sebentar untuk menatap wajah cantik Kirana. 

"Begitu sampai rumah dan liat kamu nyambut aku kayak gini, semua rasa lelah di ITB langsung hilang."

Kirana tertawa halus, merapikan kerah kemeja Kenan yang sedikit bergeser. "Tadi di lab ITB ada insiden apa lagi? Cerita sama aku."

Kenan tersenyum tipis, menggenggam jemari Kirana lalu menuntun istrinya duduk di meja makan. Sambil menikmati makan malam yang hangat dan sederhana, Kenan menceritakan seluruh jalannya rapat pleno, koreksi argumen dari Hanni, hingga jawaban telak yang ia berikan pada gadis itu.

Kirana mendengarkan cerita suaminya dengan binar mata penuh kebanggaan. Ia tahu betul betapa cerdas dan berintegritasnya Kenan Alister.

"Kamu emang paling pintar kalau urusan analisis data gitu, Suamiku," puji Kirana tulus seusai mereka selesai makan malam dan duduk bersantai di sofa ruang tengah.

Kenan menarik Kirana agar duduk di pangkuannya. Tangan tegapnya melingkar erat di pinggang ramping istrinya, sementara dagunya bersandar nyaman di bahu Kirana. Di luar jendela rumah, rintik hujan mulai turun membasahi kaca, menciptakan suasana malam Dago yang semakin romantis.

"Aku cuma mempertahankan apa yang jadi prinsip aku, Sayang," bisik Kenan di dekat telinga Kirana. "Dan prinsip hidup aku cuma satu, menjaga kamu, membahagiakan kamu, dan berjalan bersama kamu selamanya."

Kirana memutar tubuhnya menghadap Kenan, melingkarkan kedua tangan halusnya di leher tegap suaminya. Tatapan mata mereka bertemu dalam pendar cinta yang begitu pekat dan dalam.

"Aku juga punya satu prinsip, Kenan..." bisik Kirana dengan suara bergetar halus penuh rasa cinta. "Di mana pun kamu berada, di tengah tekanan atau sanjungan setinggi apa pun... rumah aku selamanya adalah kamu."

Kenan tidak kuasa menahan gejolak rasa di dadanya lagi. Ia menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang sangat mesra, dalam, dan penuh gairah hangat.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!