Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CELAH KECIL DAN UNDANGAN MISTERIUS
Sisa kehangatan dari cengkeraman erat tangan Raymond di pinggang rampingku seolah masih menempel pekat saat aku berhasil melangkah masuk dan menutup pintu kamar secara rapat-rapat.
Aku menyandarkan seluruh beban punggungku di permukaan daun pintu kayu yang dingin, menatap tinggi ke arah langit-langit kamar yang gelap dengan deru napas yang belum sepenuhnya teratur.
Jantungku masih berdegup kencang, membawa sensasi panas dari sentuhan fisik yang baru saja terputus di lantai bawah.
Di balik dinding kamar berperedam ini, aku masih bisa mendengar samar-samar suara langkah kaki berat milik Raymond yang melangkah santai menghampiri Ibu di koridor luar.
Tak lama kemudian, disusul suara bisikan manja dan rengetan halus dari Ibu yang mengeluh pusing akibat efek obat tidur, sebelum akhirnya suara pintu kamar utama mereka terdengar dikunci kembali dari dalam.
Suasana mansion megah itu kembali tenggelam dalam hening yang mencekam.
"Sedikit lagi..." bisikku sangat pelan pada kegelapan malam yang sepi, mengangkat tanganku untuk menyentuh pinggangku sendiri tepat di titik tempat jemari kokoh Raymond sempat menekan dalam dan posesif.
"Ibu tidak akan pernah menyadari kalau pria mature yang selalu pamerkannya di depan publik itu sebenarnya sudah mulai bertekuk lutut dan terobsesi padaku."
Keesokan paginya, suasana di dalam mansion berarsitektur modern itu terasa agak berbeda dari biasanya.
Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk secara leluasa menembus dinding-dinding kaca raksasa di lantai satu, memantulkan pendar kemewahan pada lantai marmer, tetapi ketegangan tipis yang tak kasat mata masih mengudara tebal di setiap sudut ruangan.
Aku melangkah turun menuju ruang makan dengan pakaian seragam kuliah kasual yang simpel namun sangat memikat sebuah kemeja putih bersih berpotongan tegas yang dipadu dengan rok lipat di atas lutut, memperlihatkan keindahan kaki jenjangku secara sempurna saat melangkah.
Di meja makan panjang berukir, aku mendapati Ibu sedang duduk sendirian sambil mengoleskan mentega pada selembar roti panggang dengan wajah yang diliputi rasa gusar.
Wajah cantiknya yang berkulit mulus dan selalu dipoles foundation mahal itu tampak sedikit pucat dan muram, sangat kontras dengan perhiasan berlian yang melingkar di jemarinya.
"Selamat pagi, Bu," sapa dingin tanpa beban, mengambil posisi duduk tepat di seberang meja dengannya.
Ibu melirikku sekilas dengan pandangan lesu, lalu mendesah sangat berat sambil meletakkan pisaunya.
"Raymond sudah pergi berangkat dari jam enam pagi tadi.
Ada urusan mendadak dan sangat penting di area tambang emas utama di Kalimantan.
Pria itu selalu saja sibuk dengan bisnisnya, bahkan tadi pagi dia sama sekali tidak sempat mampir ke kamar untuk menciumku sebelum berangkat."
Aku menyembunyikan senyuman tipis yang sarat akan kemenangan di balik cangkir teh hangat yang kuangkat perlahan menuju bibirku.
Raymond pergi pagi-pagi sekali tanpa berpamitan secara langsung pada Ibu sebuah indikasi dan tanda nyata bahwa ketenangan jiwa pria dingin itu sebenarnya sedang terusik hebat akibat kejadian panas semalam.
Pria berkuasa itu memilih melarikan diri sejenak ke luar pulau untuk menetralkan pikiran dan kepalanya yang mulai teracuni oleh keberadaan serta godaanku di mansion ini.
"Bukannya Raymond memang selalu sibuk dengan urusan bisnis tambangnya, Bu?" balasku santai dan tenang sambil mengunyah sepotong buah apel segar.
"Ibu kan sejak awal sudah tahu kalau dia adalah pemilik utama konglomerasi tambang dunia, bukan pria biasa yang bisa terus-menerus menempel di samping Ibu."
"Kamu tidak usah berani-berani mengguruiku, Clarissa!" sentak Ibu dengan nada suara yang mendadak melengking tajam, menaruh pisau menteganya secara kasar hingga berdenting nyaring dengan piring porselen mahal.
"Ibu cuma merasa Raymond akhir-akhir ini bersikap makin dingin dan acuh.
Kamu... kamu tidak melakukan hal yang macam-macam kan di rumah ini waktu Ibu sedang tidur nyenyak?!"
Mata Ibu menyipit tajam, menatapku dengan pandangan yang dipenuhi kecurigaan dan rasa tidak aman.
Insting alami seorang wanita paruh baya yang sangat takut kehilangan aset berharga dan sumber kemewahan hidupnya mulai bekerja secara liar di dalam dadanya.
Aku menatap lurus ke dalam manik mata Ibu dengan raut wajah paling polos, polos, dan tanpa dosa yang bisa kubuat saat itu.
"Macam-macam bagaimana maksud Ibu?
Aku setiap hari sibuk dengan urusan perkuliahan.
Kalau Ibu merasa Raymond bersikap dingin, mungkin Ibu harus belajar lebih memperhatikan kebutuhan dan pikirannya, bukan cuma tahu cara meminta uang belanja dan membeli tas mahal."
Wajah Ibu seketika memerah padam menahan rasa malu dan amarah yang membakar akibat sindiran terbuka yang melemparku.
Sebelum ia sempat membuka mulut untuk membalas ucapan tajamku, aku sudah lebih dulu berdiri anggun dari kursi makan, merapikan lipatan rok pendekku, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan.
"Aku berangkat ke kampus dulu, Bu."
Di area kampus Universitas Nusantara, suasana seperti biasa dipenuhi oleh riuh aktivitas mahasiswa elit.
Karin yang mendengarkan cerita detailku di salah satu sudut kafenya yang agak sepi, hampir saja menyemburkan kopi dingin yang sedang diminumnya untuk kesekian kalinya akibat kaget.
"Demi apa pun, Ris?!" bisik Karin heboh dengan mata yang membelalak lebar, memajukan seluruh tubuhnya menyeberangi meja kaca.
"Dia beneran narik pinggang lu sampai nempel gitu?!
Di rumah yang sama tempat ibu lu lagi tidur di lantai atas?!"
"Ibu sempat terbangun dan memanggil namanya di pertengahan adegan itu," jawabku datar, memainkan sedotan di dalam gelasku tanpa ekspresi.
"Tapi Raymond mengendalikan situasi itu dengan sangat tenang dan dingin.
Ibu tidak curiga atau tahu apa-apa tentang apa yang baru saja terjadi."
Karin memegang dadanya sendiri, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah takjub bercampur ngeri.
"Gila... Raymond Perkasa itu bener-bener manusia es bermuka dua yang sangat dominan dan berbahaya.
Tapi respons spontan dia semalam... itu tandanya dia udah tertarik secara fisik dan seksual sama lu, Ris!
Tinggal menunggu waktu saja sampai benteng pertahanan moralnya yang keras itu jebol total."
"Dia memilih melarikan diri ke Kalimantan pagi-pagi sekali," batasku cepat, mengingatkannya pada fakta pagi ini.
"Dia tahu kalau dia hampir kehilangan kontrol dirinya semalam, jadi dia memutuskan untuk menarik diri dan memberi jarak."
"Justru itu tanda yang bagus banget, Ris!" sahut Karin penuh semangat, menepuk permukaan meja secara pelan.
"Itu namanya dia lagi ada di fase denial.
Pria dewasa dan berkuasa yang terbiasa memegang kontrol penuh atas segalanya pasti bakal panik saat sadar ada satu hal di hidupnya yang nggak bisa dia kendalikan—yaitu rasa penasaran gila dia ke sosok lu.
Biarkan saja dia mendekam di Kalimantan beberapa hari, jangan pernah hubungi dia duluan."
"Aku memang tidak punya alasan atau kepentingan apa pun untuk menghubungi dia lebih dulu," balasku dingin dan tegas.
Namun, dugaan Karin dan skenario yang sudah kususun sedikit terdistorsi pada sore harinya.
Saat aku baru saja melangkah keluar dari area gedung fakultas menuju gerbang utama kampus, sebuah mobil Alphard hitam berpelat nomor khusus VIP sudah terparkir rapi di area yang seharusnya dilarang berhenti.
Seorang pria bersetelan jas serba hitam yang sangat kurang mengenali wajahnya yang merupakan sekretaris pribadi kepercayaan Raymond bernama Pak Herman langsung melangkah keluar begitu melihatku, lalu membukakan pintu penumpang dengan sikap yang sangat cekatan.
"Selamat sore, Nona Clarissa," sapa Pak Herman sambil membungkukkan badannya dengan sangat hormat di hadapan puluhan pasang mata mahasiswa lain yang melintas di sekitar kami.
Aku menghentikan langkah kakiku dengan kening yang berkerut dalam.
"Ada apa ini, Pak Herman?
Apakah Ibu yang menyuruh Bapak untuk menjemputku sore ini?"
Pak Herman menggelengkan kepalanya dengan sopan dan tenang.
"Sama sekali bukan perintah dari Ibu Siska, Nona.
Tuan Raymond sendiri yang memerintahkan saya secara langsung melalui telepon dari Balikpapan untuk menjemput Nona dan membawa Nona ke sebuah acara khusus."
Pak Herman kemudian menyodorkan sebuah amplop tebal berwarna hitam berlogo emas eksklusif kepadaku.
Aku menerimanya dengan ragu lalu membuka isi amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah kartu undangan resmi untuk acara pameran dan lelang perhiasan langka bernilai tinggi yang akan diadakan di ballroom hotel bintang lima malam ini serta sebuah tiket pesawat first class atas namaku untuk penerbangan menuju Bali lusa mendatang.
"Tuan Raymond meminta Nona untuk hadir di acara lelang malam ini mewakili nama beliau," terang Pak Herman dengan nada suara yang sangat profesional.
"Dan Tuan Raymond juga sudah menyiapkan gaun malam khusus yang harus Nona kenakan untuk acara tersebut.
Gaun itu sudah tersimpan rapi di dalam mobil."
Aku menatap surat undangan berlogo emas dan tiket penerbangan di tanganku dengan detak jantung yang berdesir hebat di dalam dada.
Raymond yang berada ratusan kilometer jauhnya di tengah pedalaman Kalimantan, secara terencana dan privat mengirimkan sekretaris pribadinya hanya untuk mengatur kehadiran serta penampilanku malam ini tanpa melibatkan atau memberitahu Ibu sedikit pun.
Di seberang jalan, aku sempat melirik sekilas ke arah Karin yang sedang berdiri menungguku di dekat area parkiran motor.
Sahabatku itu memberikan isyarat acungan dua jempol dengan raut wajah semringah dan antusias.
Aku melirik kembali pada Pak Herman yang masih membukakan pintu mobil, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan kemenangan dingin.
Pria berusia 35 tahun itu mengira ia bisa melarikan diri dan menghindar dariku dengan pergi ke luar pulau, tetapi pada kenyataannya, pikiran dan fokusnya tetap tertambat sepenuhnya padaku di Jakarta.
"Baiklah kalau begitu, Pak Herman," ucapku dengan suara halus dan memikat, melangkah masuk ke dalam interior mewah Alphard hitam tersebut.
"Mari kita lihat gaun malam seperti apa yang sudah disiapkan oleh ayah tiriku khusus untukku malam ini."