Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Keraguan yang Tak Kunjung Reda
Viktor
Ekaterina melewatiku seperti badai.
Mama langsung mengejarnya tanpa ragu.
Tentu saja.
Aku tetap berdiri di sana.
Bersama Papa.
Keheningan di antara kami lebih buruk dari pertengkaran apa pun.
Dia menatapku.
Serius.
"Kau yakin, Viktor... anak itu bukan darahmu?"
Aku tak menjawab.
Karena menjawab berarti aku harus berpikir.
Dan berpikir sekarang...
adalah hal terakhir yang ingin kulakukan.
Aku berjalan melewatinya.
Lurus.
Tanpa menoleh ke belakang.
Kepalaku berdenyut.
Seolah sebentar lagi meledak.
Karena untuk pertama kalinya...
sebuah keraguan menyelinap masuk.
Keraguan itu tak mau melepasku.
Ia ikut masuk ke mobil bersamaku.
Duduk di sampingku.
Berembus di telingaku.
Aku membanting pintu keras-keras dan menjatuhkan diri ke jok, memejamkan mata sesaat, mencoba menata isi kepalaku.
Tapi malah makin kacau.
Kenangan itu datang berkeping-keping.
Kabur.
Aku mengusap wajah, kesal, memaksa ingatanku bekerja.
Malam yang kedua...
Aku mencoba mengingat detailnya. Kamar itu. Malam itu. Apa yang terjadi setelahnya.
Tapi semuanya buram.
"Sial..."
Tanganku mengepal.
Aku meninju kemudi.
"Brengsek!"
Suaranya menggema di dalam mobil.
Lalu...
satu detail kembali.
Kecil.
Tapi cukup untuk membuatku tercekat.
Pagi setelahnya...
Aku ingat pernah melihatnya.
Sebuah kondom bekas.
Cuma satu.
Keheningan di dalam mobil terasa memekakkan.
Karena itu tak menjawab apa pun.
Malah memperburuk segalanya.
Aku membuka mata perlahan, menatap kekosongan di depan.
Rahangku mengeras.
Napasku berat.
Karena sekarang...
keraguan ini tak lagi kecil.
Ia tumbuh.
Bersarang dalam diriku.
Dan untuk pertama kalinya...
aku tak begitu yakin.
Aku melihatnya.
Mama menaikkan gadis itu ke dalam mobil.
Tanpa berpikir dua kali, kunyalakan mesin.
"Tidak. Urusan ini belum selesai."
Aku membuntuti.
Kujaga jarak, tapi mataku tak lepas dari mobilnya. Setiap tikungan, setiap kali dia menginjak rem... aku mengikuti.
Aku akan menuntaskan cerita ini.
Kami keluar dari kawasan elite.
Jalanan mulai berubah.
Rumah-rumah mengecil... lalu makin sederhana... lalu makin usang.
Sampai akhirnya kami tiba di pinggiran kota.
Aku kenal tempat semacam ini.
Berbahaya.
Terlupakan.
Mobil itu berhenti.
Aku memperlambat laju, mengambil jarak lebih jauh.
Kulihat dia turun.
Si pirang.
Sendirian.
Dia menuju sebuah rumah petak sederhana, membuka gerbang besi kecil, lalu mengetuk pintu.
Seorang wanita membukakan.
Mereka bertukar beberapa kata yang tak bisa kudengar.
Aku sempat berpikir untuk keluar.
Menghampiri.
Mengakhiri semua ini sekarang.
Tapi kemudian
sesuatu menahanku di tempat.
Seorang anak.
Kecil.
Paling banter lima... enam tahun.
Berambut pirang.
Dia berlari dan memeluk wanita itu erat-erat, seolah sudah menantikan kedatangannya.
Tubuhku membeku.
Pemandangan itu terlalu... biasa.
Terlalu akrab.
Si pirang tersenyum dengan cara yang belum pernah kulihat.
Ringan.
Tulus.
Dia berterima kasih pada wanita itu lalu menggandeng tangan si kecil.
Keduanya melangkah pergi menyusuri trotoar.
Sederhana.
Seperti orang biasa lainnya.
Aku tetap di dalam mobil, mengamati.
Tak paham kenapa aku tak sanggup keluar.
Mereka berhenti di rumah lain.
Lebih buruk.
Jauh lebih buruk.
Dia membuka gerbang tua dan masuk bersama si kecil. Sebelum menutup pintu, dia menoleh ke belakang.
Seolah tahu.
Seolah merasa sedang diawasi.
Jantungku berdetak lebih keras.
Tapi aku terlalu jauh.
Dia tak melihat apa pun.
Lalu menutup pintu.
Keheningan kembali.
Aku tetap di sana.
Diam.
Menatap rumah reyot yang nyaris runtuh itu.
Mencoba menyusun semuanya.
Gadis di bar itu.
Wanita yang baru saja dipeluk seorang anak.
Semuanya tak cocok.
Tak ada yang masuk akal.
Dan itu...
itu jauh lebih mengusikku dari apa pun.
Karena untuk pertama kalinya...
aku tak tahu dengan siapa aku berurusan.
Dan mungkin...
justru itulah yang paling berbahaya...
Aku tetap terpaku di sana.
Mesin mati.
Kaca sebagian berembun oleh napasku sendiri.
Dan tak terjadi apa-apa.
Rumah itu tak berubah. Lingkungan itu tetap sama; kumuh, sunyi, dengan firasat bahwa bayangan mana pun bisa berubah jadi masalah. Aku mengawasi berjam-jam, nyaris tak bergerak. Hanya sedikit membetulkan posisi duduk, mempertajam pandangan sesekali.
Lampu rumah itu menyala lalu padam entah kapan; aku tak menghitungnya.
Kemudian padam lagi.
Seolah kehidupan di dalam sana berjalan tanpa terburu-buru, tanpa rasa bersalah, tanpa tahu sedang diawasi.
Seharusnya aku pergi.
Aku tahu itu.
Tapi ada yang menahanku di jok mobil, seolah gerakan sekecil apa pun akan memaksaku menghadapi jawaban yang belum siap kuterima.
Ponselku bergetar.
Kulihat.
Papa.
Layarnya menerangi mobil sesaat, menyeret dunia nyata kembali seperti bilah pisau.
Aku tak mengangkat.
Kubiarkan berdering.
Sekali.
Dua kali.
Sampai berhenti.
Dan keheningan kembali, kali ini lebih berat.
Aku mengusap wajah, muak pada diriku sendiri.
"Sial..."
Kubisikkan.
Kunyalakan mobil.
Perlahan.
Memutar balik tanpa buru-buru, tapi juga tanpa tujuan.
Aku pergi dari sana.
Bukan karena aku sudah memecahkan sesuatu.
Tapi karena berdiam di sana pun takkan menyelesaikan apa-apa.
Jalanan melintas di bawah lampu depan seperti sapuan garis yang tak putus.
Aku harus melupakan.
Harus menghapus adegan itu dari kepalaku, meski ia terus kembali.
Aku sudah tahu cara termudahnya.
Minuman keras.
Bar.
Apa pun yang bisa menyeretku keluar dari diriku selama beberapa jam.
Tanganku mencengkeram kemudi kuat-kuat.
"Aku harus melupakan..." kataku sendiri, suaraku kering.
Dan bayangannya kembali lagi di kepalaku.
Ekaterina.
Senyumnya.
Anak itu, dalam pelukannya.
Semua bercampur aduk, semua salah, semua tak pada tempatnya.
Rahangku mengeras.
"Perempuan murahan... Aku takkan mengakui anak orang lain..." gumamku.
Kata-kata itu keluar lirih, sarat amarah dan kebingungan, lebih sebagai tameng ketimbang keyakinan.
Aku menekan gas lebih dalam.
Kota mulai muncul di kejauhan.
Cahaya.
Kebisingan.
Terlalu banyak orang untuk membiarkanku berpikir.
Dan aku menuju ke sana.
Karena sekarang, satu-satunya cara agar aku tak meledak...
adalah menghilangkan diriku lebih dulu.